<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679</id><updated>2012-02-16T04:22:24.805-08:00</updated><category term='kolom tamu'/><category term='ketika tinta tertumpah'/><category term='penjaga cinta'/><category term='kekeluargaan'/><category term='refleksi'/><category term='LOKALITAS'/><category term='penjaga masjid'/><category term='cerpen'/><category term='CAGAK BUDAYA'/><category term='aforisma'/><title type='text'>media cagak budaya</title><subtitle type='html'>"mengisi ruang antara ada dan tiada"
tempat menuang catatan jati diri, sosial budaya, agama, keseharian lokalitas wong penginyongan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>133</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-2269531508155931697</id><published>2011-12-17T15:37:00.000-08:00</published><updated>2011-12-17T15:45:46.975-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOKALITAS'/><title type='text'>Memproduksi Ciu Untuk "Tulak Mlarat"</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-5tZuEGqnwuM/Tu0plBq26DI/AAAAAAAAAPI/rWm6MhaXAu0/s1600/katini%2Bsedang%2Bmemelihara%2Bapi%2Bagar%2Btungku%2Bproduksi%2Bciu%2Bnya%2Btetap%2Bmenyala.jpg.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-5tZuEGqnwuM/Tu0plBq26DI/AAAAAAAAAPI/rWm6MhaXAu0/s320/katini%2Bsedang%2Bmemelihara%2Bapi%2Bagar%2Btungku%2Bproduksi%2Bciu%2Bnya%2Btetap%2Bmenyala.jpg.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5687247620518897714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(34, 34, 34); font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; background-color: rgba(255, 255, 255, 0.917969); "&gt;Bau khas menyengat tercium dari dapur salah satu rumah di Dukuh  Bantarmuncang, Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Banyumas. Sebuah tungku kayu bakar terlihat membara. Di atasnya sebuah panci berisi adonan cairan gula kelapa, ketan hitam dan singkong terus dimasak. Sementara di atas panci itu terpasang sebuah pipa yang tersambung dengan sebuah jembangan berisi air yang berfungsi sebagai pendingin.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(34, 34, 34); font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; background-color: rgba(255, 255, 255, 0.917969); "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(34, 34, 34); font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; background-color: rgba(255, 255, 255, 0.917969); "&gt;Di bawah ujung pipa terpasanglah sebuah toples kecil sebagai tempat hasil sulingan uap air. Tetes demi tetas uap air itu dikumpulkan oleh Tini, istri Kartasim perajin ciu dari Desa Wlahar. Puluhan tahun ia menyandarkan hidup dari kerajinan ciu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun usianya sudah senja suami istri  Kartasim (77) dan Tini (67) ini masih memproduksi arak tradisional tersebut. Pengelihatan Kartasim yang sudah lama berkurang tak menciutkan semangat hidup orang tua itu untuk menggantungkan hidup kepada anak-anaknya. Di rumah itulah suami istri renta itu menjalani setiap periode jaman dengan menggantungkan hidup dari kerajinan ciu warisan nenek moyangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah untuk "tulak mlarat" lah mas, kita membuat ciu. Kita bisanya kerja seperti ini dari jaman dulu hingga sekarang. Saya bisa menghidupi anak-anak, iuran lingkungan, membayar pajak juga dari sini. Yah walaupun kondisi saya seperti ini saya membuat ciu. Dengan meraba peralatan karena memang telah terbiasa sejak dulu" kata Kartasim yang memang sudah terganggu pengelihatannya sejak puluhan tahun lalu. Dengan kondisinya yang terbatas ia tetap memproduksi ciu bersama isterinya Tini (67) yang setia menemaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartasim sudah mengenal ciu sejak kecil. Bapak dan ibunya juga dulu pembuat ciu. Bahkan jaman 'Landa'&lt;br /&gt;(kolonial Belanda,Red) ayahnya ditangkap dan dihukum kerja paksa karena membuat ciu ini. Terpaksa bapak saya harus kerja paksa sesuai dengan keinginan Landa karena tidak sanggup membayar denda. Ibunyapun juga terpaksa dihukum satu bulan karena ketahuan membuat ciu tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(34, 34, 34); font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; background-color: rgba(255, 255, 255, 0.917969); "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(34, 34, 34); font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; background-color: rgba(255, 255, 255, 0.917969); "&gt; Di jaman penjajahan Belanda yang sengsara itu keluarganya ihidup dengan membuat ciu. Penangkapan perajin ciu dan perampasan peralatannya oleh Belanda disebabkan karena harga ciu yang lebih murah dibandingkan dengan minuman alkohol Junewer produksi Belanda. Produksi ciu dianggap membuat penurunan pemasaran minuman beralkohol kegemaran sebagian bangsa Landa waktu dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian serupa juga terjadi ketika pemerintah Jepang tiba. Para perajin ciu ditangkapi oleh pemerintah Jepang. Pembuatan ciu tersebut juga dibuat secara sembunyi-sembunyi. Tidak hanya itu penjualan ciu juga dilakukan dengan cara tertutup. Semua dilakukan agar tidak diketahui pemerintah Jepang. Kartasim mengaku sejak ayahnya meninggal di jaman Jepang ia mulai membuat ciu bersama ibunya. Dengan membuat ciu itulah ia bersama ibunya bertahan hidup. Waktu itu harga 1 liter ciu hanya sekitar 5 ketip atau 50 sen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya masih ingat saya sunat dengan berpakaian karung goni. Saat itu kita memang sangat kekurangan makan. Apapun kita lakukan agar bisa makan termasuk membuat ciu. Karena dilarang, dulu membuat ciu tersebut di hutan. Ketika datang Jepang, api langsung kita matikan. Sedangkan kalau menjual kita jual ke babah di Pasar Ajibarang. Kalau sedikit ciu kita tempatkan pada botol namun kalau banyak ciu kita tempatkan di impes (kantong kencing kerbau, Red) biar muatannya lebih banyak" cerita Kartasim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihitung sejak Jaman Jepang hingga sekarang, kakek 5 orang cucu telah menjadi perajin ciu sekitar 50 tahunan. Ia telah banyak mengalami peristiwa razia kerajinan ciu ini sampai dengan sekarang. Tak terkecuali peristiwa razia besar-besaran pada perajin ciu di Wlahar sekitar tahun 1993-1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ayah yang sudah pengelihatannya berkurang ia bersyukur bisa membesarkan anak-anaknya, walaupun dengan usaha membuat minuman yang dihukumi haram oleh agama yang dipeluknya. Namun tidak bisa dipungkiri tidak hanya Kartasim, puluhan perajin ciu di Wlahar juga menjadikan ciu sebagai topangan hidup di tengah kesulitan dan keterbatasan ekonomi yang membelit mereka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(34, 34, 34); font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; background-color: rgba(255, 255, 255, 0.917969); "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(34, 34, 34); font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; background-color: rgba(255, 255, 255, 0.917969); "&gt;Dibanding dengan juragan, tengkulak ataupun pedagang penampungnya, pendapatan perajin memang sangat jauh berbeda. Dengan produksi yang panjang hingga mencapai seminggu, ciu produksi perajin hanya bisa dihargai Rp 7.000-8.000 per liter. Sedangkan di pasaran harga miras oplosan yang berasal dari ciu bisa dihargai mulai dari Rp 20 ribuan. Bisa dibilang kehidupan perajin ciu dari dulu memang biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana perajin ciu yang lain iapun mengetahui bahwa pada dasarnya hasil kerajinanya itu melanggar aturan agama dan hukum positif. Namun memang dari keterbatasan pekerjaan, kemampuan dan keterampilan ia tak berdaya untuk bisa beralih ke pekerjaan lainnya. Sampai dengan sekarang dengan membuat ciu itulah ia bisa menghidupi dirinya dan keluarganya. Iapun menyatakan bahwa ciu hasil kerajinannya memang sebenarnya tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk hal negatif saja. Dengan dosis dan takaran tertentu, ciu bisa menjadi jamu yang menyehatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartasim juga mengalami pengalaman yang serupa dengan perajin ciu lain di desanya. Untuk memproduksi ciu, tidak jarang ia harus berhutang dulu kepada juragannya. Harga gula kelapa yang tinggi seringkali menjadi kendala pasokan bahan baku mereka. Selain gula kelapa, ia juga harus mencari ketan hitam dan singkong sebagai tambahan bahan baku pembuatan ciu tersebut. Proses perendaman adonan cair gula kelapa dan tape ketan hitam ini mencapai seminggu. Baru setelah seminggu itulah ia menunggu pembeli atau tengkulak yang memberinya modal. Posisi tawar mereka dalam menentukan hargapun rendah. Harga ditentukan oleh para tengkulak dan pedagang besar. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membuat dan membuat terus ciu untuk bisa menghidupi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mengherankan ketika harga miras melambung di pasaran, ciu menjadi salah satu alternatif pengganti miras yang dipandang murah. Melambungnya pasaran miras bermerek di pasaran melambung, produksi ciu cikakak itulah menerima dampaknya. Ciu produksi para perajin laris manis. Melihat harga ciu yang gila-gilaan itulah, perajin yang semula tak memproduksipun tertarik untuk memproduksi ciu lagi. Namun panen perajin ciu itu hanya sebentar, karena dua orang perajin tertangkap oleh pihak berwajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yyah memang seperti itulah pasang surut perajin ciu di sini sejak jaman dulu hingga sekarang. Sebagai perajin kita hanya hidup pas-pasan dari membuat ciu ini. Tapi mau tidak mau saya bisanya bergantung dari sini, karena dari sinilah dari dulu saya hidup. Membuat ciu adalah tulak mlarat bagi saya" pungkas Kartasim seperti menunjukkan kepasrahannya. Anehnya walaupun telah puluhan tahun ia memproduksi ciu, Kartasim mengaku belum pernah setetespun  ia merasakan ciu buatannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Desa Wlahar Kadiwan juga membenarkan bahwa tidak hanya Kartasim, sebagian warga Wlahar memang menggantungkan hidup dari pembuatan minuman beralkohol tersebut. Pemberian alat penyulingan dan pelatihan memproses  ciu menjadi bioetanolpun pernah diterima oleh para perajin di desa Wlahar. Namun memang dari pengalaman pembuatan dan hasilnya memang belum maksimal. Perbandingan penghasilan dari proses membuat ciu dan bioetanol memang selisihnya sangat sedikit. Padahal prosesnya memakan waktu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perbandingan dari hasil membuat ciu dan etanol ini memang tidak jauh berbeda. Perbandingan dari pembuatan ciu dengan etanol kemarin sekitar 2:1 padahal perlu proses dan waktu lagi. Harga etanolpun tentunya harus tidak jauh berbeda dengan harga BBM seperti bensin. Mungkin dari situlah para perajin belum bisa mempraktikkan hal itu. Sesuai informasi yang ada katanya dalam peraturan yang ada katanya pembuatan etanol ini tidak boleh menggunakan bahan makanan. Padahal di sini orang membuat ciu dengan gula jawa. Jadi perlu pencarian solusi yang tepat untuk permasalahan ini agar para perajin atau warga secara umum bisa terus hidup"jelas Sekretaris Desa Wlahar Kadiwan.  *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(34, 34, 34); font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; background-color: rgba(255, 255, 255, 0.917969); "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;::memory untuk mengenang perajin ciu yg telah tiada...::&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;17 Desember 2012&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-2269531508155931697?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/2269531508155931697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=2269531508155931697' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/2269531508155931697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/2269531508155931697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2011/12/memproduksi-ciu-untuk-tulak-mlarat.html' title='Memproduksi Ciu Untuk &quot;Tulak Mlarat&quot;'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-5tZuEGqnwuM/Tu0plBq26DI/AAAAAAAAAPI/rWm6MhaXAu0/s72-c/katini%2Bsedang%2Bmemelihara%2Bapi%2Bagar%2Btungku%2Bproduksi%2Bciu%2Bnya%2Btetap%2Bmenyala.jpg.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-4328566943162652737</id><published>2011-07-31T17:57:00.001-07:00</published><updated>2011-07-31T18:37:56.758-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CAGAK BUDAYA'/><title type='text'>Ribuan Pengikut Bonokeling Ikuti Unggah-unggahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-AR95GahOvJg/TjX_Yg7vP0I/AAAAAAAAAOo/oTU3X136nwg/s1600/berjalan%2Bmenuju%2Bmakam%2Bmbah%2Bbonokeling.jpg%2B%25281%2529.JPG"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-AR95GahOvJg/TjX_Yg7vP0I/AAAAAAAAAOo/oTU3X136nwg/s320/berjalan%2Bmenuju%2Bmakam%2Bmbah%2Bbonokeling.jpg%2B%25281%2529.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635691305346481986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-lCsW8NrQsiU/TjX8yctT6gI/AAAAAAAAAOY/YFSo-1vqEBM/s1600/22gunggah1-sus-sry.jpg%2B%25282%2529.JPG"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-lCsW8NrQsiU/TjX8yctT6gI/AAAAAAAAAOY/YFSo-1vqEBM/s320/22gunggah1-sus-sry.jpg%2B%25282%2529.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635688452353944066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ribuan pengikut Bonokeling mengikuti puncak prosesi upacara Unggah-Unggahan Jumat (22/7) kemarin di Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain warga pribumi, sekitar 500 orang kerabat Bonokeling juga datang dari sejumlah kecamatan Kabupaten Cilacap. Sebagian besar dari mereka menempuh jarak hingga 60 kilometer dengan kaki telanjang dan mengenakan pakaian adat Jawa. Namun ada sebagian pengikut Bonokeling yang sudah diperbolehkan naik angkutan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau daerah Daunlumbung, Cilacap mereka berangkat kemarin sejak pukul 03.00 pagi. Kalau kami yang berasal dari Adireja Kecamatan Adipala berangkat pukul 08.00 dan sampai di sini kemarin pukul 14.00," ungkap Harjo Suprapto (33) warga asal Cilacap yang mengaku berangkat dengan 393 warga lainnya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Fd6uDE1miAY/TjYAACXBsBI/AAAAAAAAAOw/-jEVV6P8Ka0/s1600/24gunggah-sus-sry.jpg.JPG"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Fd6uDE1miAY/TjYAACXBsBI/AAAAAAAAAOw/-jEVV6P8Ka0/s320/24gunggah-sus-sry.jpg.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635691984334204946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setiba di perbatasan Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang, mereka dijemput oleh warga pribumi. Barang bawaan yang mereka pikul berupa hasil bumi dan sayur mayur kemudian diserahkan ke penduduk setempat untuk diolah. Usai beristirahat dan bersilaturahim dengan kerabat Bonokeling lainnya. Para pengikut Bonokeling dari luar daerah melebur dengan penduduk setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai tengah malam tiba, para warga yang telah duduk berombongan terpisah lelaki dan perempuan tersebut mengikuti "Nedu" atau membaca dzikir dalam rangka memuji syukur ke hadirat Tuhan.  Mereka duduk berjajar di enam rumah adat Balai Pasemuan melafalkan dzikir dipimpin Kyai Bedogol yang juga berjumlah enam bersama juru kunci tertinggi dari pukul 02.00 hingga 05.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelum ada listrik, dulu kita hanya menggunakan dlepak atau lentera minyak klapa bersumbu potongan kapas. Dlepak dipasangkan di dinding dan berjajar. Sehingga suasana khusuk sangat terasa sekali. Namun sekarang karena berbagai pertimbangan kita juga memakai lampu, namuan dlepak juga tetap masih diadakan" ujar Sumitro, yang dipercaya sebagai humas adat Desa Pekuncen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementera para perempuan pribumi memasak nasi dan lauk untuk makanan slamten usai ziarah. Jumat (22/7) pagi kemarin, para bapak menyembelih 17 ekor kambing dan ratusan ayam.  Bersama dengan santan dan bumbu lainnya, mereka memasak daging tersebut di dapur umum dadakan di samping balai Pasemuan. Gulai kambing yang disebut 'becek' itu dimasak di dalam ratusan kuali, kendil dan panci dengan tungku batang pisang. Usai matang, 'becek' kemudian ditaruh dalam wadah janur dan daun pisang untuk dijadikan takir.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-FAr-sROL_jw/TjYBNDNKjII/AAAAAAAAAO4/37WMmvwKqoU/s1600/24gunggah5-sus-bms.jpg.JPG"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 243px; height: 183px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-FAr-sROL_jw/TjYBNDNKjII/AAAAAAAAAO4/37WMmvwKqoU/s320/24gunggah5-sus-bms.jpg.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635693307411205250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Dalam rangkaian upacara ini semua pria memang memakai blangkon, iket, baju warna hitam dan sarung. Sedangkan wanita memakai kemben yang sebagian berwarna putih," kata Sumitro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mengandung maksud.  Kata Sumitro, blangkon berarti ketika belum 'gamblang' (jelas) maka harus 'takon' (bertanyalah). Sementara untuk sarung, mempunyai maksud itu manusia jangan sampai 'kesasar' (tersesat) dan 'kedlarung' (terjebak) ke hal yang buruk. Sementara warna hitam dalam baju yang dikenakan itu menandakan 'teguh cekelan waton ' atau kuat memegang prinsip.&lt;br /&gt;Sedangkan untuk iket ialah mengandung arti, bahwa bentuk segi empat iket yang gelar menyimbolkan empat kiblat manusia dalam dunia dan menandakan pula empat saudara manusia. Setelah digelar maka akan iket dibuat segi tiga ketika harus dipakai dikepala. Itu berarti bahwa segitiga iket tersebut menandakan simbol dari kakang kawah atau kandungan tempat ketuban dalam rahim ibu tempat dilahirkannya manusia. Sehingga itu pemakaian iket menandakan penghormatan kepada ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat warga pribumi memasak dan mempersiapkan hidangan slametan, tamu kerabat Bonokeling yang berasal dari luar daerah melaksanakan prosesi unggah-unggahan. Setelah meminta ijin kepada juru kunci, dengan telanjang kai, para ibu dan remaja putri yang memakai kain, secara bergantian memasuki areal Makam Kyai Bonokeling. Usai masuk gerbang pertama mereka antre bersuci di mata air di kompleks sebelum melakukan ritual ziarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diri mereka suci maka mere&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-UcBD6lQmuLo/TjX9-HUUzII/AAAAAAAAAOg/8zZVrn-4iZM/s1600/pengikut%2BBonokeling%2Bhendak%2Bmenggelar%2Bslametan.jpg%2B%25283%2529.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-UcBD6lQmuLo/TjX9-HUUzII/AAAAAAAAAOg/8zZVrn-4iZM/s320/pengikut%2BBonokeling%2Bhendak%2Bmenggelar%2Bslametan.jpg%2B%25283%2529.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635689752282057858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;kapun secara bergantian naik menuju kompleks makam yang berada di atas bukit. Sebelum memasuki pintu gerbang makam ke dua, berulang kali mereka melaksanakan sembah pangabekti dengan duduk jongkok sungkem.Tak lupa sebagian peziarah juga menabur bunga dan membakar kemenyan dan mengucap permintaan sesampai di Makam Kyai Bonokeling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengikut Bonokeling ya Islam, karena mereka juga bersyahadat.   Mereka juga tidak menyembah kepada yang tidak ada, tetapi dengan ziarah mereka meminta ke Tuhan Yang Maha Esa," tegas Sumitro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya peziarah yang bergantian berdoa, membuat prosesi unggah-unggahan berlangsung hingga malam. Usai ziara selesai, dipimpin oleh Juru Kunci Makam Mbah Bonokeling, Kartasari prosesi doa bersama dan slametan dilaksanakan. Sambil menghadap takir berisi 'becek', mereka memanjatkan doa keselamatan dalam puncak upacara unggah-unggahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah slametan sebagai puncak acara unggah-unggahan, hari Sabtunya menjadi hari bagi ziarah umum bagi warga di sini, sambil membersihkan area makam seusai upacara dan slametan unggah-unggahan hari ini. Sedangkan hari Minggu kita mengadakan 'sad&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-auVSQGdx_H4/TjYCedUc49I/AAAAAAAAAPA/WhGuk58m00s/s1600/24gunggah4-sus-sry.jpg%2B%25281%2529.JPG"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-auVSQGdx_H4/TjYCedUc49I/AAAAAAAAAPA/WhGuk58m00s/s320/24gunggah4-sus-sry.jpg%2B%25281%2529.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635694705990493138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ranan' dengan cara masing-masing rumah membuat makanan yang nantinya didoakan oleh para Kyai Bedogol masing-masing. Selanjutnya makanan ini diberikan kepada Kyai Bedogol dan sanak kerabatnya yang ada. Sehingga makna dari sadranan ini dalarm rangka untuk menunjukkan garis keturunan kepada anak cucu" terang Sumitro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumitro menuturkan bahwa dalam sejarahnya awalnya upacara unggah-unggahan ini merupakan upacara pada saat mau menanam padi dan biasanya dilaksanakan di bulan Sadran. Namun seiring dengan masuknya Islam di Banyumas, upacara ini terakulturasi dengan adanya penyambutan bulan Ramadhan dengan cara berziarah ke Makam Mbah Bonokeling. Sehingga usai upacara unggah-unggahanpun, akan dilaksanakan kembali upacara Turunan yang dulunya berasal saat petani akan memulai panen padi. Dan ini dilaksanakan di bulan Syawal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Susanto- Untuk Suara Merdeka-Suara Banyumas 23 Juli 2011)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-4328566943162652737?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/4328566943162652737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=4328566943162652737' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/4328566943162652737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/4328566943162652737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2011/07/ribuan-pengikut-bonokeling-ikuti-unggah_31.html' title='Ribuan Pengikut Bonokeling Ikuti Unggah-unggahan'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-AR95GahOvJg/TjX_Yg7vP0I/AAAAAAAAAOo/oTU3X136nwg/s72-c/berjalan%2Bmenuju%2Bmakam%2Bmbah%2Bbonokeling.jpg%2B%25281%2529.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-1475076240964554812</id><published>2011-07-28T17:37:00.000-07:00</published><updated>2011-07-28T17:54:25.443-07:00</updated><title type='text'>Warga Saka Tunggal Gelar Ziarah Jelang Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-9gn_Y_l-pEI/TjIEeQfCA2I/AAAAAAAAAOQ/xYW3U3hSwO0/s1600/28gcikakak-sus-bms.jpg%2B%25281%2529.JPG"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-9gn_Y_l-pEI/TjIEeQfCA2I/AAAAAAAAAOQ/xYW3U3hSwO0/s320/28gcikakak-sus-bms.jpg%2B%25281%2529.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634571001661621090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-vQpdOSZ_J5E/TjID3G77hAI/AAAAAAAAAOI/JSObHWEe-8s/s1600/28gcikakak-sus-bms.jpg.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-vQpdOSZ_J5E/TjID3G77hAI/AAAAAAAAAOI/JSObHWEe-8s/s320/28gcikakak-sus-bms.jpg.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634570329083577346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERKUMPUL:Sejumlah warga terlihat duduk-duduk menunggu rombongan ziarah di luar kompleks Masjid Saka Tunggal, Desa Cikakak, Kecamatan Wangon Rabu (27/7) malam kemarin.&lt;/span&gt;  WANGON-Ratusan warga Desa Cikakak yang berada di sekitar kompleks Masjid Saka Tunggal Desa Cikakak mengikuti kegiatan ziarah kubur sebelum datangnya bulan Ramadhan 1433 Hijriyah, Rabu (27/7) malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juru rawat Makam Mbah Toleh, Turahmat (55) mengatakan kegiatan ziarah itu rutin dilaksanakan oleh warga Desa Cikakak menjelang akhir bulan Sya'ban. Ratusan peziarah akan bergantian melakukan ziarah dipimpin oleh tiga juru kunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami biasa melaksanakan kegiatan ziarah ini setiap Senin dan Kamis. Khususnya di akhir bulan Sya'ban memang sudah rutin dilaksanakan secara bersama," kata Turahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum melakukan ziarah, ratusan warga itu mensucikan diri terlebih dulu dengan berwudlu di Masjid Saka Tunggal. Setelah itu mereka menghadap kepada juru kunci yaitu Bambang Johari, Diman dan Sulam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan membawa bunga dan kemenyan sebagai perlengkapan ziarah warga secara bersama-sama naik menuju area kompleks Makam Mbah Toleh yang berada di sekitar bukit Jojok Telu. Untuk menerangi kegelapan malam beberapa diantara peziarah membawa lentera kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ziarah di malam hari ini biasanya dilaksanakan tiga kali secara bergantian. Mereka membaca wirid, tahlil dan doa mulai sekitar satu jam-an. Pertama ziarah ini dilaksanakan mulai pukul 21.00 hingga tengah malam nanti," jelas Turahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juru Kunci Makam Mbah Toleh, Sulam (46) mengatakan ziarah kubur itu sudah dilaksanakan secara turun temurun oleh warga setempat dan luar daerah. Tujuan dilaksanakan ziarah itu untuk mengingat mati dan memohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sedangkan Mbah Toleh ini memang dipercaya warga sebagai pendiri Masji d Saka Tunggal ini. Makanya selain berziarah ke makam leluhur masing-masing mereka juga berziarah ke Makam Mbah Toleh ini," jelas Sulam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai melaksanakan ziarah, para warga berkumpul di rumah tiga juru kunci setempat. Mereka kemudian bersama-sama menggelar slametan dengan menyantap hidangan dan tumpeng yang sudah disiapkan sebelumnya.(sus-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-1475076240964554812?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/1475076240964554812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=1475076240964554812' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1475076240964554812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1475076240964554812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2011/07/warga-saka-tunggal-gelar-ziarah-jelang.html' title='Warga Saka Tunggal Gelar Ziarah Jelang Ramadhan'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-9gn_Y_l-pEI/TjIEeQfCA2I/AAAAAAAAAOQ/xYW3U3hSwO0/s72-c/28gcikakak-sus-bms.jpg%2B%25281%2529.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-1418247532662735672</id><published>2011-07-22T04:21:00.000-07:00</published><updated>2011-07-22T05:13:16.146-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CAGAK BUDAYA'/><title type='text'>Ribuan Pengikut Bonokeling Ikuti Unggah-unggahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-s1wjq4952ts/TilodhR_FII/AAAAAAAAAOA/DsXDsntv4jM/s1600/DSC09969.JPG"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-s1wjq4952ts/TilodhR_FII/AAAAAAAAAOA/DsXDsntv4jM/s320/DSC09969.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5632147665362818178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ribuan pengikut Bonokeling mengikuti puncak prosesi upacara Unggah-Unggahan Jumat (22/7) kemarin di Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Selain warga pribumi, sekit&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;ar 500 or&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;ang kerabat Bonokeling juga datang dari sejumlah kecamata&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;n Kabupaten Cilacap. Sebagian besar dari mereka menempuh jarak hingga 60 kilometer dengan kaki telanjang dan mengenakan pakaian adat Jawa. Namun ada sebagian pengikut Bonokeling yang sudah diperbolehkan naik angkutan umum.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Wa9fqYywYgQ/TiljwFdmTYI/AAAAAAAAAN4/Kv3sSDwSQdY/s1600/DSC09976.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Wa9fqYywYgQ/TiljwFdmTYI/AAAAAAAAAN4/Kv3sSDwSQdY/s320/DSC09976.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5632142486754708866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"Kalau daerah Daunlumbung, Cilacap mereka berangkat kemarin sejak pukul 03.00 pagi. Kalau kami yang berasal dari Adireja Kecamatan Adipala berangkat pukul 08.00 dan sampai di sini kemarin pukul 14.00," ungkap Harjo Suprapto (33) warga asal Cilacap yang mengaku berangkat dengan 393 warga lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Setiba di perbatasan Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang, mereka dijemput oleh warga pribumi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Barang bawaan yang mereka pikul berupa hasil bumi dan sayur mayur kemudian diserahkan ke penduduk setempat untuk diolah. Usai beristirahat dan bersilaturahim dengan kerabat Bonokeling lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengikut Bonokeling dari luar daerah melebur dengan penduduk setempat.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Usai tengah malam tiba, para warga yang telah duduk berombongan terpisah lelaki dan perempuan tersebut mengikuti "Nedu" atau membaca dzikir dalam rangka memuji syukur ke hadirat Tuhan.  Mereka duduk berjajar di enam rumah adat Balai Pasemuan melafalkan dzikir dipimpin Kyai Bedogol yang juga berjumlah enam bersama juru kunci tertinggi dari pukul 02.00 hingga 05.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"Sebelum ada listrik, dulu kita hanya menggunakan dlepak atau lente&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;ra minyak klapa bersumbu potongan kapas. Dlepak dipasangkan di dinding dan berjajar. Sehingga suasana khusuk sangat terasa sekali. Namun sekarang karena berbagai pertimbangan kita juga memakai lampu, namuan dlepak juga tetap masih diadakan" ujar Sumitro, yang dipercaya sebagai humas adat Desa Pekuncen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sementera para perempuan pribumi memasak nasi dan lauk untuk makanan slamten usai ziarah. Jumat (22/7) pagi kemarin, para bapak menyembelih 17 ekor kambing dan ratusan ayam.  Bersama dengan santan dan bumbu lainnya, mereka memasak daging tersebut di dapur umum dadakan di samping balai Pasemuan. Gulai kambing yang disebut 'becek' itu dimasak di dalam ratusan kuali, kendil dan panci dengan tungku batang pisang. Usai matang, 'becek' kemudian ditaruh dalam wadah janur dan daun pisang untuk dijadikan takir.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam rangkaian upacara ini semua pria memang memakai blangkon, iket, baju warna hitam dan sarung. Sedangkan wanita memakai kemben yang sebagian &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;berwarna putih," kata Sumitro.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Semua mengandung maksud.  Kata Sumitro, blangkon berarti ketika belum 'gamblang' (jelas) maka harus 'takon' (bertanyalah). Sementara untuk sarung, mempunyai maksud itu manusia jangan sampai 'kesasar' (tersesat) dan 'kedlarung' (terjebak) ke hal yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara warna hitam dalam baju yang dikenakan itu menandakan 'teguh cekelan waton ' atau kuat memegang prinsip.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt; Sedangkan untuk iket mengandung arti, bentuk segi empat iket yang gelar menyimbolkan empat kiblat manusia dalam dunia dan menandakan pula empat saudara manusia. Setelah digelar maka akan iket dibuat segi tiga ketika harus dipakai dikepala. Itu berarti bahwa segitiga iket tersebut menandakan simbol dari kakang kawah atau kandungan tempat ketuban dalam rahim ibu tempat dilahirkannya manusia. Sehingga itu pemakaian iket menandakan penghormatan kepada ibu.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat warga pribumi memasak dan mempersiapkan hidangan slametan, tamu kerabat Bonokeling yang berasal dari luar daerah melaksanakan prosesi unggah-unggahan. Setelah meminta ijin kepada juru kunci, de&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;ngan telanjang kai, para ibu dan remaja putri yang memakai kain, secara bergantian memasuki areal Makam Kyai Bonokeling. Usai masuk gerbang pertama mereka antre bersuci di mata air di kompleks sebelum melakukan ritual ziarah.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diri mereka suci maka merekapun secara bergantian naik menuju kompleks makam yang berada di atas bukit. Sebelum memasuki pintu gerbang makam ke dua, berulang kali mereka melaksanakan sembah pangabekti dengan duduk jongkok sungkem.Tak lupa sebagian peziarah juga menabur bunga dan membakar kemenyan dan mengucap permintaan sesampai di Makam Kyai Bonokeling.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengikut Bonokeling ya Islam, karena mereka juga bersyahadat.   Mereka juga tidak menyembah kepada yang tidak ada, tetapi dengan ziarah mereka meminta ke Tuhan Yang Maha Esa," tegas Sumitro.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya peziarah yang bergantian berdoa, membuat prosesi unggah-unggahan berlangsung hingga malam. Usai ziara selesai, dipimpin oleh Juru Kunci Makam Mbah Bonokeling, Kartasari prosesi doa bersama dan slametan dilaksanakan.  Sambil menghadap takir berisi 'becek', mereka memanjatkan doa keselamatan dalam puncak upacara unggah-&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-OXDUT__Bk_k/TilfYSJl5OI/AAAAAAAAANo/8iSLjlsmXZc/s1600/22gunggah2-sus-bms.jpg.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-OXDUT__Bk_k/TilfYSJl5OI/AAAAAAAAANo/8iSLjlsmXZc/s320/22gunggah2-sus-bms.jpg.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5632137679797085410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;unggahan tersebut.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah slametan sebagai puncak acara unggah-unggahan, hari Sabtunya menjadi hari bagi ziarah umum bagi warga di sini, sambil membersihkan area makam seusai upacara dan slametan unggah-unggahan hari ini. Sedangkan hari Minggu kita mengadakan 'sadranan' dengan cara masing-masing rumah membuat makanan yang nantinya didoakan oleh para Kyai Bedogol masing-masing. Selanjutnya makanan ini diberikan kepada Kyai Bedogol dan sanak kerabatnya yang ada. Sehingga makna dari sadranan ini dalarm rangka untuk menunjukkan garis keturunan kepada anak cucu" terang Sumitro.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sumitro menuturkan awalnya upacara unggah-unggahan ini merupakan upacara pada saat mau menanam padi dan biasanya dilaksanakan di bulan Sadran. Namun seiring dengan masuknya Islam di Banyumas, upacara ini terakulturasi dengan adanya penyambutan bulan Ramadhan dengan cara berziarah ke Makam Mbah Bonokeling. Sehingga usai upacara unggah-unggahanpun, akan dilaksanakan kembali upacara Turunan yang dulunya berasal saat petani akan memulai panen padi. Dan ini dilaksanakan di bulan Syawal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( Susanto- for Suara Merdeka, Suara Banyumas, 22 Juli 2011)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-1418247532662735672?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/1418247532662735672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=1418247532662735672' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1418247532662735672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1418247532662735672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2011/07/ribuan-pengikut-bonokeling-ikuti-unggah.html' title='Ribuan Pengikut Bonokeling Ikuti Unggah-unggahan'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-s1wjq4952ts/TilodhR_FII/AAAAAAAAAOA/DsXDsntv4jM/s72-c/DSC09969.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-648262886804260320</id><published>2010-11-12T05:50:00.000-08:00</published><updated>2010-11-12T06:05:08.642-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>tak harus kau percaya…</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TN1JHlxOFsI/AAAAAAAAANU/Jfdr--_GygI/s1600/DSC05021.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TN1JHlxOFsI/AAAAAAAAANU/Jfdr--_GygI/s320/DSC05021.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538663511482046146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Ini cerita yang terjadi di sebuah negeri Sastradireja. Sebuah negeri yang tak mungkin kau temukan di peta manapun. Jika ke sana engkau akan menemui raja Sastranegara dan jika engkau lelaki sejati engkau pasti akan jatuh cinta dengan Puteri Sastrawati dan jika engkau perempuan sejati niscaya engkau akan jatuh hati akan seorang pangeran bernama Pangeran Sastrawarman. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Memang nama-nama mereka mirip dengan nama-nama tokoh sejarah kerajaan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;di negerimu mungkin? Tapi sudahlah. Perlu kau ketahui negeri ini konon hanya dapat ketahui ketika dirimu menjadi orang-orang terpilih. Untuk menjadi orang terpilih engkau harus menjadi orang yang punya fantasi gila dan otomatis dalam anggapan umum engkau akan dianggap orang gila. Dengan menjadi gila engkau kelak akan bisa mengunjungi negeri tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Tapi apakah engkau mau gila? Itu pertanyaanku kepada semua orang yang berhasrat untuk menapakkan jejak ke negeri Sastradireja. Aku yakin sebagian besar orang tak mungkin berani menjadi gila hanya untuk bisa masuk ke negeri yang tak ada dalam peta manapun walaupun di sana engkau akan menemui banyak cerita yang tak mungkin engkau lupakan dan tak mungkin sependek cerita yang nanti aku ceritakan nanti. Makanya aku berkeyakinan hanya orang-orang yang benar-benar gilalah yang mau dan dapat berkunjung ke negeri Sastradireja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Suatu hari aku berkunjung ke negeri itu sehingga orang tuaku dan tetangga-tetanggaku mengira aku hilang sehingga mereka mencariku ke hutan seberang desa. Yah mereka mengira aku telah raib &lt;i style=""&gt;diselong&lt;/i&gt; oleh jin, setan &lt;i style=""&gt;mrekayangan&lt;/i&gt; dan siluman penunggu hutan. Sungguh tak dapat disalahkan karena aku kecil senang sekali naik pohon Asemkamal sehabis pulang sekolah sampai petang. Bahkan tidak jarang aku ketiduran di dahan pohon yang serupa kursi sampai larut malam. Dengan susah payah bapak dan paman menurunkanku yang tidur dengan menggendongnya dengan sarung. Ketika aku sudah tidur aku memang susah sekali dibangunkan. Tidur seperti mayat. Setelah dua hari aku kembali ke rumah, semua orang menanyaiku dari mana dan kujawab dengan cerita ini tapi mereka tidak tidak percaya dan aku yang kecil dibilangnya sudah pandai berdusta. Entah kamu nanti mau mengatakan apa padaku setelah membaca ceritaku ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Akupun tak tahu kenapa aku bisa sampai bisa berkunjung ke negeri itu. Entahlah, yang pasti suatu petang aku naik pohon asem kamal dan aku ketiduran di sana dan tahu-tahu ketika aku sadar aku telah berada di sebuah beranda rumah khas Joglo jaman kuno dan orang-orang berpakaian kain khas Jawa seperti aku lihat dalam film Tutur Tinular. Dan akulah anak yang berpakaian paling aneh, pikiranku akulah anak yang datang dari masa depan menuju masa lalu. Lalu aku bertanya kepada orang-orang di sana namun ternyata aku tak terlihat oleh mereka. Suara tanpa rupa, tapi anehnya mereka tak mengiraku hantu. Hal itu sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Suara tanpa wujud bisa jadi adalah wangsit leluhur yang selalu mereka nanti-nantikan. Ketika aku lapar aku mengambil beraneka sesaji yang ada di setiap bangunan wajar dan pohon besar di sana.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Setelah lama aku berkeliling sebuah desa di negeri itu aku mampir di sebuah rumah dimana sekerumunan anak sedang duduk melingkar dengan seorang kakek tua duduk diantara mereka sambil bercerita tentang negeri mereka yang dulu tak seperti sekarang. Akupun dengan santainya duduk di antara mereka, &lt;i style=""&gt;toh&lt;/i&gt; mereka tak melihatku. Namun aneh, kakek tua itu melihat kedatanganku dan mempersilahkanku duduk diantara mereka dengan bahasa isyarat. Akupun mengikuti jalan cerita kakek tua itu dari awal sampai selesai. Dari situlah aku menjadi mengerti bahwa negeri itu adalah negeri Sastradireja dengan penduduk sebagian besar berpekerjaan sebagai pujangga. Pangan sandang dan tempat tinggal sudah bukan lagi masalah bagi mereka. Kegemaran mereka adalah bersastra. Tapi ternyata sebelum itu negeri sastra tertimpa sebuah krisis yang amat dahsyat akibat kemarau panjang. Krisis itu amat mengguncangkan persediaan pangan, sandang, papan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Namun yang tak kalah menjadi masalah justeru dalam kemarau itu mereka kekurangan krisis daun lontar. Daun lontar adalah media dimana mereka paling suka untuk menulis segala karya sastranya. Anehnya, kemarau itu tanaman lontar hanya bisa berbuah dan berpelepah tanpa daun. Padahal daunlah lontarlah yang menjadi amat penting bagi mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Akhirnya diselenggarakanlah konggres sastrawan di negeri Sastradireja. Semua sastrawan datang. Konon konggres itu diadakan di sebuah desa dengan alasan para sastrawan sudah bosan melakukan konggres di kotaraja. Terlebih dari itu tujuannya adalah untuk mengenal keindahan desa dan memperkenalkan sastra kota kepada orang desa. Di desa diharapkan para sastrawan bisa menemukan banyak kosakata, cerita, setting dan alur yang baru atau yang telah lama mereka tinggalkan. Begitulah bunyi seruan dalam poster-poster dan media masa yang tidak lain berupa rangkaian daun lontar yang tersebar di pelosok negeri itu. Entah siapa yang membuatnya dan menyebarkannya. Tapi yang pasti hal itu serentak terjadi pada hari yang sama tepatnya sejak sepekan sebelumnya, kongres sastrawan muda negeri itu telah dimulai. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Pendek cerita, berdatanganlah para pujangga ke desa itu. Mulai dari penyair muda, pujangga muda , penulis roman, suluk dan babad menampakkan batang hidungnya. Mereka berumur antara sepuluh samapi dupuluh lima tahun.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Umur itulah yang konon menurut data Badan Pusat Statstik negeri Sastradireja masuk kategori muda. Ada dari mereka yang dari mereka datang dengan kudanya , delmannya, gerobagnya bahkan dengan jalan kaki. Mungkin di sana belum (saatnya) ada mobil atau kendaraan bermotor lainnya, di sana hanya ada kendaraan berhewan. Penampilan merekaun bermacam-macam . ada yang memakai sepatu, sandal, ada juga yang telanjang kaki. Kebanyakan dari mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memakai ikat kepala baik itu yang berambut panjang diurai dan yang digelung. Saking bayaknya gaya merka aku tak dapat menguraikannya satu persatu, pokoknya mereka tak seperti aku lihat sebelumnya di jaman kita. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Satu persatu mereka daatang dari berbagai kota da n desa namun setelah sampai pada lokasi mereka kebingungan. Kngres sastrawan mud ibarat kongres dalam cerita, kongres fiktif. Di lokasi meeka tak pernah disambut panitia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahhkan tak pernah tahu sipa panitia. Tak ada administrasi untuk penyai atupun sastrawan muda. Mereka banyak meluapan darah mudanya. Berbicaara, meggerutu, mengupat dengan puisi, memarahi dengan syair, menggerutu dengan kidung lagu dan sajak entah pada siapa. Orang-ornag desa sekitar stu hanya melongo melihat tingkah mereka. Sampai suatu saat muncullah serorang pemuada muncul di tenagtah kekacauan itu. ‘selamat datang wahai para sastraawn muda di kongres sastrawa n muda di desa Sesaksajak ini’ suaranya demikian jernih padahal yang berkata itu hanyalah seorang anak kecil.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Para sastrawan muda yang telah datang hanya kaget dan tak mengira hanya disambut seorang anak kecil bertelanjang dada berambut ikal. Mendengar ucapan selamat datang , ereka haya diam sesaat namun stelah itu mereka memberondong anak lelaki kecil itu dengan berbagai pernyataannn.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;‘anak kecil kau mau apa disini, kalu kau tau dimana kami bisa bertemu dengan teman paitia kongres ini dan dimana kai tinggal selama tiga hari di di desa ini. Dimana kami makan, dimana tempat baca puisi membuat sajak merangkai syair, dimana, bagaimana…………dan seterusnya dan seterusnya mengapa semua ini terlihat kacau balau?’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Mendengar itu semua pertanyaan itu seorang anak kecil itu hanya duduk mematung. Beberapa saat kemudian para sastrawan muda itu puas memberondong pertanyaan itu, tubuh anak kecil yang tadinya mematung diam. Namun lama-kelamaan terlihat berbagai macam sajak cacian, syair kedengkian dan puisi kemuakan mengalirkan huruf-hurufnya masuk kedalam kepala anak kecil itu dan setelah itu anak kecil itu seperti berat menahan kepala hingga akhirnya rebah di tengah kerumunan kemarahan para sastrawan muda. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Akhirnya dimulailah kongres sastrawan muda dipimpin oleh seorang anak kecil bersuara jernih itu. Disebut-sebutlah bahwa anak kecil itu adalah titisan dari seorang pujangga negeri Sastradireja, bernama Sastraatmaja pendiri dari desa Sesaksajak yang moksa setelah lama meninggalkan kotaraja akibat tidak terima keitka sastra dipergunakan untuk konsprasi kuasa dan alat untuk menindas rakyat. Dialah pengusung genre &lt;i style=""&gt;sastra nglawan kuasa.&lt;/i&gt; Rupanya keturunannya yang dikira oleh kakek raja Sastranegra telah mati diburu itu masih hidup sampai sekarang. Entahlah kenapa para sastrawan muda itu begitu takjub dan patuh kepada anak kecil itu yang ternyata bernama Sastrapinunggul.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Sambil duduk santai di lelumutan kerak di bawah rumpun bambu ampel gading semua sastrawan berkumpul. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Anak kecil itu menjelaskan bahwa menjelaskan bahwa panitia penyeleggara kongres itu tak lain dia senridri tanpa orang lain. Semeentra para sastrawan muda selaama melakukan kongres dipersilahkan tingal di mana saja dan makan apa saja. Anak kecil itu tahu bahwa para sastrawan hanya berbekal puisi, cerita, dongeng , dan syair pada lembaran lontar dan pada mulut mereka yang telah dihafalkan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Dalam tiga hari itulah para sastrawan peserta kongres itu ada yang bertahan dan kabur karena tak yakin akan bisa bertahan hidup hanya berbekal karya sastra mereka. Daun lontar berisi sajak tak mungkin mengenyangkan mereka. Sedangkan para penduduk desa Sesaksajak sedang kekurangan pangan akibat kemarau panjang ini dan mereka telah muak dan trauma dengan sajak yang hanya berjejaring dengan penguasa lalim seperti dulu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Sastrawan muda yang tersisa hanya tinggal sebelas orang dari sekitar seratus sebelas orang. Mereka masih duduk di lelumutan kerak di bawah rumpun bambu ampel gading membahas masalah sastra dan kehidupan negeri Sastradireja. Anak kecil itu kemudian berkata dengan kidung lagu. Suaranya mirip dengan suara orang dewasa. Para sastrawan meyakini bahwa yang menyanyikan kidung mistis itu bukan anak kecil itu, melainkan eyang Sastraatmaja yang sedang merasuk ked alam jasad cucunya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Dalam kidung itu sastraatmaja menutrukan bahwa keamrau panjang iini tak lain karena kesalahan manusia sendiri yang membuat murka Dewata akibat telah menyalahgunakan sastra bukan lagi sebagai alat penyampai kebajikan namun telah menjadi alat pengadu domba manusia dan alat mencapai kekuasaan. Barangsiapa yang ingin wilyahnya makmur kembali maka merke ak harus berkerja keras tidak hanya menyembah raja lalim dan menjadikan sastra sebagau dewata baru. Begitulah pesan sastraatmaja yang dapat ditangkap waktu itu yang ditangkap dari anak kecil itu. Bersamaan nyanyian kidung selesai terjadilah gemuruh angin besar yang meluruhkan daun-daun kering ampel gading. Semua sastrawan menutup menoleh dan sontak menutupkan jemarinya untuk melindungi mata dari luruhan daun dan kepulan debu. Setelah itu anak itu telah hilang pergi bersama angin yang menyapu tempat itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Tanpa anak kecil itu kongres sastra terus berlangsung. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Sebalas sastrawan ituoupn menjalankan tirakat menugrangi makan minum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;selama kongres sastrawan berlangusng. Keitka siang mereka berkumpul di temapat tu, namun mketika malam datang mreka berpencar di berbagai tempat. Mencari inspirasi, duduk di pinggir kali menghayati keheningan tanpa suara gemericik air. Menghayati dingin malam kemarau panjang. Merenungi wangsit dan pesan eyang sastraatmaj tentang musibah kemarau panjang. Ada pula yang duduk bersila di tengah rekah tanah sawah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di bawah remang bulan sabit. Ada yang merangkai bait-bait syair dan lagu lewat suara miris tangis anak kecil yang tak lagi bisa menyusu karena air susu ibunya telah kering. Malam membuat mereka merenungi semua, memahami teka-teki sepi dalam kekeringan yang belum diketahui ujungnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Selama kongres tidak ada penduduk yang mengikuti dan melihat, mereka telah muak dengan sajak. Desa mereka telah sesak dengan sajak. Mereka tidak peduli dengan adanya pentas syair, puisi dan sajak dan apresiasi sastra apapun. Mereka akan menghargai sastra ketika sastra bisa berguna. Puisi dan syair akan lebih indah ketika mampu menghidupkan tanaman, sajak akan rancak berirama merdu mampu mengundang gemericik air kehidupan. Dan seterusnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan seterusnya……..sastra akan berguna ketika mampu memanusiakan manusia dan harmoni dengan alam semesta di sekitarnya. Selama itu belum terjadi mereka tidak akan percaya pada sastra.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Suatu siang setelah berdebat cukup lama akhirnya sebelas orang sastrawan itu bersepakat untuk bertaubat pada Dewata atas semua kesalahan yang pernah dilakukan. Menginsyafi kekeliruan dan kemusyrikan, menghindari bid’ah-bid’ah yang jelas-jelas merugikan umat manusia dan alam semesta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Malamnya, di bawah remang bulan sabit mereka berangkat menyusuri jalan penduduk desa menuju mata air Belik Banyumumbul mereka naik terus menuju sebuah bukit. Di atas bukit Pamujan tempat petilasan Eyang Sastraatmaja moksa itulah, akhirnya mereka bersebelas bersujud meminta wangsit Dewata untuk meminta petunjuk dan memanjatkan pinta agar kemarau panjang segera usai. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Siang terakhir akhirnya disepakati bahwa sastra yang baik adalah sastra yang menyuarakan kebenaran bukan sastra yang melindungi kepentingan penguasa yang lalim. Sebelas sastrawan menyetujui bahwa bersastra tidak harus berebut lewat media masa sebagai lahan satu-satunya penyair untuk hidup. Mereka bersepakat bahwa sastrawan sejati adalah semua orang mampu menggunakan bahasanya untuk kebenaran, kebaikan umat manusia dan alam semesta. Sastra harus &lt;i style=""&gt;memayu hayuning bawana&lt;/i&gt;. Semua orang bisa jadi sastrawan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Tersebutlah setelah beberapa tahun kemudian, bahwa kesebelasan sastrawan itu menjadi pelopor petani sastrawan, pandita yang pujangga, ahli tatanegara yang ahli sastra, pedagang yang benar menggunakan neraca dan bijak menggunaka katanya dan ada pula yang menjadi guru bahasa dan sastra yang tidak membebek pada kata penguasa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Tersebutlah Revolusi sastra negeri Sastradireja itu bermula. Dari desa Sesaksajak sebelas sastrawan itu bersusah payah membuat saluan air dari sambungan panjang batang bambu dari belik Banyumumbul menuju pemukiman penduduk. Penduduk yang awalnya enggan berangsur-angsur penduduk sadar akan kemanfaatan usaha para sastrawan itu. Mereka mulai belajar kembali sastra di jeda bertani&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan berdagang mereka. Mereka ajarkan anak mereka syair dan cerita sebelum anaknya terlelap. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Mereka rasakan dengan sastra keindahan hidup, Mereka dan percaya sastrawan tidak hanya bisa berdusta dan menyihir kata-kata. Sastrawan juga mampu berbuat yang bermanfaat bagi manusia. Setelah beberapa lama di desa Sesaksajak itu, sebelas sastrawan itu tak terekam jejaknya. Kemudian tersiar kabar bahwa mereka moksa padahal sebenarnya mereka telah dibunuh oknum penguasa yang resah dengan genre &lt;i style=""&gt;sastrasejati&lt;/i&gt;. Sastra yang menampilkan segalanya apa adanya tanpa ada prasangka dan kuasa angkara. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Setelah mendengar cerita itulah, si kakek tua itu menghampiriku. Menyalamiku dan berkata ‘akulah Sastrapinunggul, anak kecil dalam cerita itu’ setelah itu aku ditepuknya dan aku tak sadar. Ketika aku bangun aku sudah berada di atas dahan pohon Asemkamal. Kuceritakan semua ini berulang kali tapi mereka tidak percaya. Termasuk kau juga mungkin akan mengatakan bahwa semua yang telah kukisahkan ini bohong. Saranku jika engkau tak percaya sering-seringlah engkau tidur di atas dahan pohon Asemkamal. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Barangkali Eyang Sastrapinunggul akan membawamu menuju negeri Sastradireja itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: right; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Purwokerto, Senen Kliwon 1 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: right; text-indent: 42pt; line-height: 150%;font-family:georgia;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11pt;" lang="EN-GB" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;foto:mobil gubernur bibit waluyo dan bupati mardjoko saat meninjau PLTMH di Pesawahan, Gununglurah Cilongok beberapa bulan lalu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-648262886804260320?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/648262886804260320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=648262886804260320' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/648262886804260320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/648262886804260320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2010/11/tak-harus-kau-percaya.html' title='tak harus kau percaya…'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TN1JHlxOFsI/AAAAAAAAANU/Jfdr--_GygI/s72-c/DSC05021.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-9094619122873126224</id><published>2010-11-12T05:46:00.000-08:00</published><updated>2010-11-12T05:50:19.195-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOKALITAS'/><title type='text'>Suran di Tlaga Gumelar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TN1FxFVHGUI/AAAAAAAAANM/MnQ4AQ6O6Ig/s1600/suasana%2Bsuran%2Bdi%2Btlaga%2Bkecamatan%2BGumelar%2B%25284%2529.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TN1FxFVHGUI/AAAAAAAAANM/MnQ4AQ6O6Ig/s320/suasana%2Bsuran%2Bdi%2Btlaga%2Bkecamatan%2BGumelar%2B%25284%2529.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538659826282207554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membingkai Budaya Dengan Agama&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tlaga,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebuah desa jauh dari kota Purwokerto. Dengan relief tanah pegunungan namun mempunyai peradaban sendiri. Peradaban tradisi yang masih menjunjung tinggi sikap gotong royong. Bermacam budaya asli rakyat masih tumbuh subur di sana. Berbagai kelompok seni&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tetap ada di sebuah desa yang sebagian besar penduduknya berpencaharian sebagai penderes getah pinus. Dari 784 hektar luas desa hampir separuh lebih (412 hektar) yang merupakan wilayah kehutanan menjadi berkat kehidupan mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Berbeda dengan desa-desa yang lain, Tlaga masih memiliki aneka rupa kesenian rakyat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang eksis. Kesenian tertua yang hidup di Tlaga adalah lengger. Kesenian lengger yang di masa lalu sangat erat kaitannya dengan ritus penghormatan upacara kesuburan tanah ini masih berkembang. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Selain lengger atau ronggeng terdapat pula kesenian&lt;i style=""&gt; sintren, ebeg, krindhil, bentha-benthi, rindhing&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dan&lt;i style=""&gt; thek-thek.&lt;/i&gt; Semua masih eksi s tanpa kecuali.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Terlebih di bulan Sura menurut tahun Jawa dan Muharam menurut tahun Hijriyah, Keramaian akan dijumpai di desa Tlaga. Ritual Suran bagi mereka seperti telah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjadi kewajiban bagi mereka. Gotong royong untuk menyelenggarakan terlihat secara apik di anatara mereka. Bagi mereka Suran bukan hanya peringatan terhadap tahun baru Jawa atau Islam. Suran adalah sarana penghormatan dan sarana unjuk bakti kepada leluhur Tlaga. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mereka percaya bahwa leluhur Tlaga yaitu Eyang Rebo atau Ranukertawijaya adalah leluhur desa Tlaga. Ialah orang pertama yang membuka hutan menjadi desa Tlaga. Keyakinan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penduduk setempat menyatakan bahwa tampuk kepemimpin desa atau Lurah akan selalu dipegang oleh anak keturunan Eyang&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Ranukeriwijaya. Walaupun di jaman demokrasi sekalipun ternyata konsep kepemimpinan menurut keturunan dan kharisma ini masih &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;berlaku di sini. Di jaman ketika semua orang berkesempatan untuk melakukan mobilisasi vertikal, ternyata tetap saja anak cucu Eyang Ranukertawijaya yang tetap ampuh dan unggul&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menduduki puncak pemerintah di desa Tlaga. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Amin Ismaraton, Kepala Desa Tlaga yang menurut penduduk setempat masih keturunan ke -13 dari Eyang Ranukertawijaya menceritakan identitas Eyang Rebo atau Ranukertawijaya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menurutnya Eyang Rebo ini berasal dari Selogiri (Sekarang masuk Wonogiri) dulu masih termasuk Kerajaan Mataram Islam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena bangsa “mata kucing” telah mulai melanglang ke Jawadipa yaitu Mataram, maka Eyang Rebo bersama kedua orang temannya yaitu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Eyang Mimbar bersama isteri, Eyang Rentug bersama isteri memberontak. Diceritakan bahwa mereka pindah dari Selogiri menuju ke barat yaitu daerah Panggungwangi. Panggungwangi adalah tempat pertama kali Eyang Ranukertawijaya singgah dan akhirnya dimakamkan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Panggung wangi ini la yang nantinya berkembang menjadi Dukuh Tengah karena merupakan letaknya di tengah dan kelilingi oleh hutan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Karena di Panggungwangi ini terdapat banyak telaga maka suatu saat kemudian desa ini dikenal dengan nama Tlaga.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sedangkan untuk menenangkan diri dan semadi mendekatkan diri kepada Sang Hyang Tunggal, Eyang Ranukertawijaya menyepi di sebuah tempat yang kelak dikenal dengan Candi Banyumudal. Tempat inipun sampai sekarang masih terjaga dengan baik. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Di tempat yang masih merupakan dukuh Tlaga, ritual Sura berupa penyembelihan kerbau dilaksanakan. Dulu Dukuh Tlaga merupakan pemukiman penduduk. Namun karena bencana longsor tahun 1985 terjadi, Dukuh Tlaga ini dikosongkan. Relokasi penduduk Telagapun dilakukan ke tempat yang lebih aman. Menurut cerita terjadinya longsor tersebut karena manusia telah melupakan ajaran dan ritual-ritual lama seperti ritual sedekah bumi dan sudah melupakan leluhur Tlaga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sejak peristiwa longsor itulah penduduk mulai menggiatkan kembali ritus-ritus lama yang telah mereka tinggalkan. Sedekah bumi setiap bulan Apit atau Dulkongidah mulai digiatkan kembali. Hewan kurban disembelih sebagai penghormatan dan rasa terima kasih kepada ibu bumi yang telah memberi penghidupan kepada mereka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selain bulan Apit, peringatan surapun masih dilakukan. Kesenian wajib ronggeng atau lengger ditampilkan karena kesenian lengger ini erat kaitannya dengan masa lalu desa Tlaga.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lengger Jadi Kesenian Wajib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menurut cerita kesenian lengger ini merupakan kesenian wajib yang harus dipentaskan dalam peringatan apapun. Sedangkan kesenian yang lain menjadi sebuah sunah. Menurut kepala Desa Amin Ismaraton atau yang disebut oleh masyarakat setempat lurah menceritakan bahwa kesenian lengger ini pertama kali dibawa ke Tlaga &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;oleh Eyang Ajeng. Eyang Ajeng adalah adik dari Eyang Ranukertawijaya yang menjadi penari lengger pertama di Desa Tlaga. Eyang Ajeng menyusul, selepas Eyang Rebo pergi dari Selogiri. Sementara kedua teman Eyang Rebo pindah ke Karangdelima (Sekarang wilayah desa Petahunan, Pekuncen). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sebagai lengger, Eyang Ajeng sangat terkenal di mana-mana. Bahkan ia sering ditanggap di daerah Pegadungan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sunda. Bahkan ada cerita selepas ditanggap, Eyang Ajeng diberikan hadiah oleh seseorang berupa pakaian harimau. Sehingga konon ceritanya ketika Eyang Ajeng mengenakan pakaian tersebut Eyang Ajeng bisa langsung berubah wujud menjadi harimau.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Orang setempat menyebut bahwa yang memberi pakaian harimau tersebut bukanlah lurah bangsa manusia, melainkan bangsa “&lt;i style=""&gt;mejajaran&lt;/i&gt;” makhluk serupa manusia tapi bukan manusia. Menurut kepercayaan masyarakat setempat mejajaran merupakan makhluk serupa manusia tapi tidak mempunyai tungkai kaki dan lekuk dibawah hidung serupa manusia. Sampai sekarangpun konon bekas tapak kaki merekapun sering masihkelihatan di hutan-hutan setempat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Terlepas dari semua mitologi tersebut, kenyataannya sampai sekarang di Tlaga masih eksis berbagai seni budaya lokal setempat. Untuk lengger sendiri, telah turun temurun merupakan warisan dari keluarga. Eksisnya lengger tersebut dimungkinkan juga tidak lepas dari cerita lengger pertama di Tlaga alias Eyang Ajeng. Bahkan sampai sekarangpun Lengger Tlaga sering&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ditanggap oleh orang Cilacap, dan Brebes. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dalam slametan suran, pentas lengger adalah hal yang wajib. Kewajiban ini sebagai penghormatan dan darma bakti kepada Eyang Ranukertawijaya dan Eyang Ajeng. Dari cerita-cerita tersebut dapat diambil asumsi bahwa cerita mitologi yang berkembang di masyarakat sangat mempengaruhi eksisnya budaya di masyarakat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kepercayaan terhadap laknat dan prahara karena melupakan sesuatu yang gaib di luar dirinya merupakan sarana kendali masyarakat yang gaib dan sakral itulah yang membuat kelestarian dan keaslian budaya dan tradisi setempat tetap terjaga. Adanya mitologi Eyang Ajeng sebagai leluhur para lengger di Desa Tlaga semakin mengokohkan posisi lengger di masyarakat. Sebagai masyarakat agraris, masyarakat Tlaga juga tidak bisa lepas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kesenian bentha-benthi atau rinding. Rinding merupakan upacara dalam rangka meminta hujan. Sampai saat inipun ketika kemarau berlangsung lama, seni bentha-benthi alias rinding dipentaskan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Penyembelihan kerbau di awal Sura juga merupakan tradisi yang telah turun-temurun dilaksanakan oleh Desa Tlaga. Penanaman kepala kerbau dan tulang-belulangnya ini tidak hanya semata ritual semata, semua ritual yang dilaksanakan tersebut erat kaitannya dengan makna lewat simbol yang dibawanya. Penanaman Kepala kerbau dimaksudkan sebagai simbol penguburan sifat nafsu serakah manusia sedalam-dalamnya agar akal dan nurani manusia tetap terjaga, tidak seperti kerbau yang semaunya sendiri menggunakan tanduknya tanpa menggunakan otak di kepalanya. Sedangkan pada upacara sedekah laut, sifat serakah nafsu itu dibuang sejauh-jauhnya lewat kepala kerbau yang dihanyutkan ke laut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tulang belulang yang dikubur juga menasehati manusia agar tidak suka “rebut balung tanpa isi” atau berebut tulang tanpa isi. Masih banyak hal yang baik untuk dimanfaatkan di dunia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Yang menarik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;prosesi Suran yang dilaksanakan di Tlaga ini mengambil hari Jum’at Kliwon dan lokasinya berdampingan dengan masjid. Dari sini Kepala Desa Tlaga menjelaskan bahwa hal itu sengaja dilakukan dalam rangka mendekatkan masyarakat dengan tempat dan waktu ibadat. Secara tidak langsung, dengan Suran ini dimaksudkan untuk mendekatkan masyarakat dengan Islam. Suatu bentuk pendekatan budaya dengan mengakomodasi berbagai kesenian yang ada di masyarakat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah strategi islamisasi yang apik, lewati strategi budaya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Agama sebagai pil pahit obat permasalahan manusia memang tidaklah langsung dapat ditelan manusia. Dengan bingkai seni budaya lewat simbolisasi bentuk pentas, syair, bahasa, tembang dan ritual Suran diharapkan agama dapat disisipkan sehingga dapat masuk ke dalam tubuh manusia. Namun yang disayangkan seringkali orang tua karena keterbatasan pengetahuannya belum dapat maksud simbolisasi dan maksud ritus-ritus Jawa yang dijalankan sejak dulu. Sehingga lebih banyak orang Jawa seringkali bertindak secara tradisional, atau atas dasar kebiasaan, bukan kesadaran.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Padahal kesadaran atau nalar logis merupakan salah satu pangkal pondasi keyakinan dan kepercayaan beragama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menjalankan ritus budaya secara sadar berarti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengerti maksud dan hakikat sebuah ritus dilaksanakan. Dengan mengerti hakikat tujuan dari simbolisasi dari berbagai ritus, manusia akan semakin bijaksana memandang terhadap sesuatu hal. Tidak seharusnya semua dipandang dengan pola oposisi binner. Manusia tidak akan serta merta menganggap ritus suran itu bertentangan dengan syariat Islam. Ritus suran justru dapat diartikan sebagai upaya untuk senantiasa menyelaraskan dan mengharmonisasikan hubungan manusia dengan manusia, dan manusia dengan semesta dengan bertumpu pada satu tujuan yaitu Tuhan Sang Hyang Tunggal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;19 desember 2009, 00.20 wib&lt;/p&gt;Sebagian teks pernah dimuat di rubrik Kloyong,&lt;br /&gt;Suara Banyumas-Suara Merdeka 12 November 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-9094619122873126224?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/9094619122873126224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=9094619122873126224' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/9094619122873126224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/9094619122873126224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2010/11/suran-di-tlaga-gumelar.html' title='Suran di Tlaga Gumelar'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TN1FxFVHGUI/AAAAAAAAANM/MnQ4AQ6O6Ig/s72-c/suasana%2Bsuran%2Bdi%2Btlaga%2Bkecamatan%2BGumelar%2B%25284%2529.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-3925105181980671695</id><published>2010-11-12T05:32:00.001-08:00</published><updated>2010-11-12T05:37:40.624-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>BAYI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TN1CuoZuZrI/AAAAAAAAANE/j-80MjS6iGE/s1600/DSC05986.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TN1CuoZuZrI/AAAAAAAAANE/j-80MjS6iGE/s320/DSC05986.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538656485622310578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lima tahun aku tak ke kotamu, banyak yang hilang. Hanya kenangan dan cerita-ceritamu yang selalu kau kutip dari seorang novelis kondang yang berasal dari kotamu. Aku masih ingat ketika engkau tertawa sendiri seusai mengulang cerita-ceritamu. Cerita seorang suami yang memenuhi keinginan istrinya yang sedang ngidam makan buah kedondong di malam hari.  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"Masa karena ia tak bisa memanjat pohonnya, terpaksa ia harus menebang langsung pohon kedondong itu di malam hari lagi. Pantas saja tetangganya pada heboh datang mendengar robohnya pohon kedondong kecil itu" katamu sambil tertawa kecil. Aku yang mendengar ceritamu berulang kali itu terpaksa tersenyum. Padahal hal itu bagiku tak lucu karena aku juga termasuk orang yang tak pandai memanjat pohon. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Waktu itu kita masih sering duduk bersama di sebuah gazebo dalam kampus. Di gazebo itulah aku pertama kali mengenalmu. Ketika itu kita sama-sama mahasiswa baru. Akupun tahu bahwa dengan kecantikanmu seorang mahasiswa angkatan kita suka sama kamu. Tapi waktu itu akupun tak peduli dan kaupun tak mempedulikannya. Akhirnya kita sering bertemu di gazebo itu, tak pernah kulupakan ketika dirimu terus saja membawa novel-novel kesukaanmu. Guguran daun-daun pohon belimbing dekat gazebo itu ternyata pelan-pelan menumbuhkan rasa cinta diantara kita. Semakin daun belimbing itu berguguran semakin tumbuh pula itu benih-benih cinta diantara kita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mulanya kaupinjamkan novel-novel kecil dari pengarang asal kotamu. Aku yang tak suka membaca novel pada mulanya menolak. Beberapa hari kubiarkan novel-novel itu di meja kamar kosku. Kubiarkan tergeletak, namun akhirnya mulai kubaca. Darimulah kukenal tokoh seorang ronggeng dari sebuah dukuh di pedesaan yang jadi korban tragedi sejarah bangsa ini. Ataupun juga kukenal seorang tokoh pemuda desa yang akhirnya menjadi tentara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"Dengan membaca novel, aku ingin kau tahu bagaimana kondisi bangsa ini. Aku ingin kau tahu keadaan bangsa ini dulu sampai sekarang" begitu katamu ketika kuselesaikan bacaan novel-novel pemberianmu waktu itu. Bahkan semakin sering ku mendengar kata-katamu semacam itu. Kata-kata agitasi, propaganda, provokasi, demokrasi, hegemoni dan semacamnya. Kutahu bahwa kau termasuk perempuan aktivis di kampus itu. Dan aku hanya seorang perenung dan pendengar ceritamu dan ceramahmu. Tapi entah kenapa engkau mau menerimaku menjadi salah satu bagian hidupmu waktu itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"Aku ingin ada yang bisa mendengarku. Dan kaulah yang kuanggap paling bisa mendengarku" katamu singkat. Setelah itu kau teruskan lagi tentang cerita tentang sejarah bangsa ini, tentang kemanusiaan di sekitar kita. Ah...bagiku itu dulu membuatku pusing. Bagiku sederhana saja, selesaikan dulu tugas kampus. Penuhi jadwal kuliah dosen&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ataupun yang lainnya. Yang penting kita bisa lulus cepat, cepat kerja, cepat dapat duit dan seterusnya. Itu kataku yang selalu membuatmu menentangnya. Namun ternyata semakin kau menentang prinsip pragmatisku, semakin aku menyukaimu. Aku mencintai gadis cerdas sepertimu. Mahasiswi aktifis. Aneh memang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lima tahun berlalu akhirnya aku bersamamu dapat lulus. Aku lulus dengan nilai sangat memuaskan sementara kau lulus dengan nilai pas-pasan. Berbeda dengan teman-teman perempuanmu yang rajin di kampus. Akhirnya kuperkenalkan kau dengan kedua orang tuaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seperti kutahu, karaktermu yang kuatpun terlihat oleh orang tuaku. Akhirnya kutegaskan pada orang tuaku bahwa kau adalah calon bagi ibu dari anak-anakku. Sementara orang tuamu yang datang waktu itu adalah hanya ayahmu. Memang ibumu telah meninggal sejak kau kelas lima sekolah dasar. Kutahu didikan ayahmulah yang membuatmu begitu keras sebagai seorang perempuan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Akhirnya kaupun menjadi istriku. Malam pertama kita jalani dengan mesra. Di malam pertamapun kau ceritakan kisah dua orang desa yang hidup bahagia di tengah kesederhanaannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Malam pertama, bulan pertama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hingga akhirnya tahun pertama pernikahan pertama kita masih begitu mesra. Namun sampai tahun kelima pernikahan, belum ada tanda-tanda kalau kau akan menjadi ibu dari anak-anakku. Entah kenapa? Keluargakupun semakin menginginkanku ingin segera punya anak. Namun tak kunjung kesampaian. Katamu kita harus kembangkan karir kita dulu. Emansipasi wanita, menunda kehamilan itu boleh saja. Dan akupun tak dapat menolakmu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"Lebih baik kau menikah lagi saja. Kau terlalu kalah dengan isterimu" kata ibuku suatu hari yang tak sengaja kau dengar lewat celah pintu kamar kita yang terbuka. Sejak pagi itulah kau tak lagi nampak di rumahku itu. Padahal secara status kau masih isteriku. Kau hanya meninggalkan sepucuk surat di atas bantal kamar kita. Katamu, kau mau pulang ke kotamu sebentar saja untuk menenangkan diri. Akupun tahu, sekeras apapun sifat dan watakmu. Kau tetap saja seorang wanita dengan segala kewanitaanmu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lima tahun berlalu sejak kepergianmu ke kotamu. Ke kota orang tuamu, ke kota tempat pengarang kesukaaanmu. Namun tak kutemukan sosokmu seperti sosokmu yang seperti dulu. Sosok perempuan yang tegas lagi cerdas. Seperti penilaian ku dan penilaian semua orang ketika bertemu. Siapapun tak meragukan itu walaupun indeks prestasimu tak memuaskan. Tapi aku tak mempedulikan itu, karena aku menikah bukan karena indeks prestasimu. Selepas sehari kau pulang kabur dari rumah kita.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku menyusulmu ke kota itu, itu lima tahun yang lalu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lima tahun lalu aku sampai di stasiun kotamu. Kubergegas menuju ke alamat rumahmu yang lama. Tapi ternyata kau tak ada. Karena memang ayahmu juga telah meninggal beberapa tahun lalu sebelumnya. Kutanya kepada tetanggamu yang rumahnya berada di samping dekat rumahnya. Katanya sampai dua hari itu kau tak datang ke rumahnya. Kutelusu&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;ri sudut-sudut kotamu untuk mencarimu tapi tak kunjung kutemukanmu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di ujung kelelahanku di teras rumah Tuhan, aku menemukanmu. Pagi itu berkat jasa seorang anak kecil ingusan itu akhirnya kumenemukanmu. Kutemukan namamu di sejumlah surat kabar kotamu. Jadi headline pula. Rupanya dengan namamu koran pagi itu begitu laris. Siapa yang tak kenal namamu, seorang aktivis pejuang hak-hak perempuan. Mantan mahasiswa aktivis perempuan yang lantang berteriak di jajaran paling depan ketika mendemo seorang oknum dosen yang melakukan pencabulan atas mahasiswinya. Aku masih ingat itu. Dulupun di bagian depan pula kau menjadi headline koran kotamu. Pembela perempuan nomor satu, aktivis pembela perempuan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pagi itupun, di ujung kelelahan dalam pencarianmu. Kutemukan lagi namamu dengan jelas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di bagian depan koran itu. Jadi headline koran kotamu. Terpampang jelas judul harian lokal itu. '"Mantan Aktivis Pembela Perempuan Diperkosa Lima Orang di Stasiun" . Lalu kulihat lagi gambar lima lelaki bajingan yang merampas kehormatanmu. Saat itulah itulah aku lemas dan berteriak di depan rumah Tuhan itu. Kusobek koran itu, dan kuberjalan tak tentu arah. Setiap kuberjalan kuterus merebut setiap orang yang sedang membaca koran. Aku selalu mendengar jelas judul headline koran yang secara langsung menyebut namamu. Aku tak terima semua itu. Hal itupun aku lakukan setiap hari. Setiap hari dan setiap hari aku selalu benci melihat orang yang baca koran. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku akhirnya berkeliling terus di kotamu terus menerus tanpa lelah walaupun kelelahan pencarianmu telah berujung. Akupun menjadi malas mandi, malas berhias, malas berkeramas dan malas berpakaian. Dan terlebih lagi akupun menjadi sangat malas aku datang ke rumah Tuhan. Karena setiap aku mau duduk di teras rumah itu, setiap itu pula aku teringat melihat seorang anak ingusan penjual koran itu. Penjual koran yang membiarkanku menemukanmu lewat headline koran yang sangat menyakitkanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Setiap aku melihat koran maka aku ingin semakin merobeknya. Terlebih lagi dan paling menjengkelkan ketika aku melihat ada anak kecil sedang membawa koran dan menawariku untuk membacanya. Akupun akan semakin beringas untuk mengejarnya. Kemudian yang kudapatkan adalah cacian, hinaan dan bahkan lemparan batu dari orang-orang dewasa yang melihatku. Sampai akhirnya aku dibawa oleh mobil putih menuju suatu tempat dimana aku nantinya dikerangkeng dan dibiarkan bebas di suatu tempat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saat aku dibawa oleh dua orang berbadan kekar aku terus berteriak. "Aku bukan orang gila" yah empat kata itu berulang kali dan terus menerus kuteriakan sambil kumeronta dengan sejadi-jadinya. "Mana ada orang gila mengaku dirinya gila" kata seorang kekar itu sekali saja sambil tertawa terkekeh. Namun kuterus berteriak dan berteriak. Namun akhirnya akupun tak lagi bisa berteriak ketika sebuah jarum suntik ditusukkan di bokongku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Setelah sadar aku telah berada di ruangan yang sempit. Kedua tangan dan kakiku telah diikat sekuat-kuatnya. Dan akupun kembali teriak memanggil namamu sekuat-kuatnya. Namun kaupun tak muncul. Yang muncul hanya seorang wanita berpakaian putih dengan kopiah putih di kepalanya. Dan kembali aku disuntik sampai aku merasa lemas. Lemas sekali. "Bangsat" kataku sampai akupun lelap. Entahlah aku sampai berapa lama aku di ruangan sempit itu. Diikat di atas ranjang dan disuntik setiap kali aku berteriak. Aku tak sempat bisa menghitung hari, karena memang di ruangan itu aku tak tahu lagi ada matahari atau tidak di luar sana. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tiap hari di kamar sebelahku ternyata banyak lagi orang berteriak seperti aku. Tiap hari betambah orang yang suka berteriak. Sampai akhirnya datang ke kamarku orang yang berteriak-teriak juga. Akupun akhirnya di keluarkan dari kamar sempit itu. Menuju ke luar kamar ternyata malah terlihat semakin banyak orang yang berteriak-teriak seperti aku dulu. Bahkan mata-mata mereka cukup garang melotot tapi tak jarang dari mereka tertawa sendiri setelahnya. Dan akupun akhirnya mengikuti kebiasaan mereka. Berteriak dan berteriak sampai aku tertidur pulas di manapun aku berada. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Entahlah sampai berapa aku melihat bulan berganti matahari di lapangan itu. Sampai akhirnya suatu hari, aku melihatmu berteriak-teriak pula. Ternyata kaupun suka berteriak-teriak pula. Kaupun sepertiku tidur terlentang dengan tangan kaki diikat dalam sebuah ranjang berjalan didorong oleh dua orang berbaju putih. Aku mengejarmu namun aku dihalang-halangi oleh orang membawa pentugan dan bertopi hitam. Setelah berapa lama akupun menunggumu dari kamar kau beteriak-teriak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Suatu hari akhirnya kaupun keluar. Kita akhirnya betemu. Saat bertemupun kau dan aku berpelukan. Menangis sesenggukan. Namun setelah itupun kita&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akhirnya tertawa bersama-sama. Berteriak sekeras-kerasnya. Mereka yang melihat kita awalnya diam. Namun akhirnya orang seisi tempat bertembok tinggi itu akhirnya ikut tertawa sekerasnya pula. Akhirnya seperti dulu, di tempat itu kita duduk bersama seperti di kampus dulu. Duduk di gazebo kampus dekat pohon belimbing. Kaupun mengulang-ulang terus cerita seorang suami yang menebang pohon kedondong untuk memenuhi keinginan isterinya yang sedang ngidam. Dan kaupun terlihat puas sambil mengelus-elus perutmu yang semakin hari semakin membesar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Setiap kau bercerita itu, kau berperan sebagai si isteri dan aku sebagai suaminya. Kau memegang perutmu yang benar-benar besar dan akupun mencari golok dimanapun. Setelah kudapat, akhirnya kutebang setiap pohon yang kuanggap sebagai pohon kedondong. Setelah itu pohon itu tumbang kita pun bersama tertawa dan tertawa. Setiap hari kita lakukan itu, sampai akhirnya setelah pepohonan di tempat itu tumbang karenaku akupun berusaha untuk mencari pohon-pohon yang lain. Aku mencoba menaiki tembok keliling yang tinggi untuk mencari pohon yang kutebang untukmu. Beberapa kali aku bisa menebangnya. Tapi setiap aku menebang setiap kali itu pula aku dikerangkeng lagi. Sampai akhirnya aku kembali dikurung di tempat sempit seperti dulu. Yang terakhir aku hanya melihatmu berteriak di kamar sebelahku. Dan mendengar suara tangis seorang bayi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seperti biasanya akupun beteriak dan berteriak untuk bisa menemuimu. Dan akupun akhirnya tak bisa menemuimu. Padahal aku ingin sekali melihat bayi seorang mantan aktivis wanita. Setiap kali kuberteriak aku disuntik. Dan suatu hari aku disuntik lagi oleh orang berbaju putih sampai aku tak berteriak lagi. Untuk selamanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pekuncen, 27 Maret 2010&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-3925105181980671695?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/3925105181980671695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=3925105181980671695' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/3925105181980671695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/3925105181980671695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2010/11/bayi.html' title='BAYI'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TN1CuoZuZrI/AAAAAAAAANE/j-80MjS6iGE/s72-c/DSC05986.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-6556551655998276270</id><published>2010-11-12T05:11:00.001-08:00</published><updated>2010-11-12T05:13:27.911-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOKALITAS'/><title type='text'>Ahmad Tohari : "GusDur Sare Ning Lemah" Mengambil Pelajaran Dari Perilaku Gus Dur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TN09Yx4iukI/AAAAAAAAAM8/QOs57l8Jog8/s1600/100_0402.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 400px; height: 304px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TN09Yx4iukI/AAAAAAAAAM8/QOs57l8Jog8/s400/100_0402.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538650612652227138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Susanto-Karanglewas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100 Hari lebih Abdurahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur meninggalkan  kita semua. Namun pembicaraan, cerita, kenangan tentangnya masih hangat  terdengar di telinga kita. Berbagai buku yang mengulas tentang  keseharian, sikap dan pemikiran Mantan Presiden RI ke-4 ini bertebaran  mengisi rak-rak buku di toko-toko buku. Semasa hidup tokoh yang pernah  menjadi pucuk pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini,  sikap, pemikiran dan tindakannya selalu mengundang pro dan kontra  berbagai pihak. Setelah wafatnyapun jasa-jasanya masih dikenang,  sampai-sampai gelar pahlawanpun mencoba diusulkan oleh berbagai pihak  kepada pemerintah. Sepeninggal GusDur, orang-orang yang semasa hidupnya  dekat dengan cucu Hadrotusyaikh Hasyim As'ari ini selalu diundang di  berbagai diskusi, refleksi, do'a bersama mengenang Gus Dur. Sahabat  dekat Gus Dur yang juga budayawan asal Banyumas salah satunya adalah  Ahmad Tohari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperingati 100 hari GusDur di Balai Desa Jipang Kecamatan Karanglewas  yang dihadiri oleh ribuan jam'iyah Nahdlatul Ulama beberapa waktu lalu,  Ahmad Tohari menceritakan sekelumit perngalamannya sewaktu dengan Gus  Dur. Pengalaman Kang Tohari begitu ia lebih senang disapa berawal ketika  ia menjadi salah satu redaktur di salah satu majalah di Jakarta yaitu  sekitar tahun 1981 silam. Ketika itu GusDur masih duduk di pucuk  pimpinan di struktural PBNU pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pengarang Novel Ronggeng Dukuh Paruk ketika berhubungan  dengan Gus Dur antara lain ketika suatu hari Gus Dur yang singgah  menginap di rumahnya. Sewaktu menginap itulah berbagai perilaku Gus Dur  yang waktu itu menjadi pembesar NU dan orang yang ditakuti oleh Orde  Baru menjadi pelajaran bagi Ahmad Tohari dan keluarganya. Memang banyak  yang tidak bisa diterka dari perilaku GusDur ketika menginap di rumah  Ahmad Tohari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya masih ingat kata para Kyai, kalau "polah tingkahe wong sing sugih  ilmu kuwe dadi pelajaran". Yah itulah ketika Gus Dur menginap di rumah  saya. Waktu itu sudah saya sediakan kamar yang terbaik untuk Gus Dur.  Ee....ternyata Gus Dur malah meminta saya karpet dan ternyata "GusDur  sare ning lemah" hanya berlandaskan karpet waktu itu. Padahal siapapun  tahu kalau waktu itu GusDur dengan pengaruhnya adalah orang yang  ditakuti oleh Orde Baru waktu itu" cerita Ahmad Tohari menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran spiritual dan sosiologis yang dapat ditarik dari GusDur yang  tidur di tanah hanya berlandaskan karpet lanjut Ahmad Tohari ialah "dadi  wong kuwe aja merasa diri mulia di hadapan orang lain". Ketika  seseorang sudah merasa mulia dibandingkan dengan orang lain maka yang  terjadi ialah seseorang tersebut akan menjadi susah untuk bersilaturahmi  atau membangun hubungan baik bagi sesamanya. Sikap humanisme dan  egalitarian yang dicontohkan Gus Dur inilah yang memudahkan putra Wahid  Hasyim ini dapat menjalin hubungan dengan berbagai kalangan tanpa  memdedakan SARA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"GusDur tidur di karpet itu saya tafsirkan kalau Gus Dur itu konsisten  dengan Syahadatnya. Analoginya yaitu ketika Umar Bin Khotob yang sewaktu  menjadi amirul mukminin waktu itu rela berkeliling memanggul gandum  untuk diberikan kepada janda yang sedang kelaparan. Yang sering tidak  kita tanyakan adalah landasan moral kenapa Umar yang seorang amirul  mukminin rela berbuat seperti itu. Dari situ kita bisa mengambil  pelajaran bahwa Umar yang seorang amirul mukminin tidak merasa lebih  mulia dibandingkan dengan si janda yang keluarganya kelaparan tersebut.  Sikap Gus Dur yang tidak merasa mulia di hadapan siapapun tersebut  memang patut ditiru. Jika orang sudah merasa dirinya mulia di hadapan  orang lain itu sudah mulai menjadi penyakit yang mengotori Syahadatnya"  jelas Kang Tohari mulai menguraikan tafsir-tafsirnya terhadap perilaku  Gus Dur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Tohari menekankan bahwa sikap merasa penting dan mulia di hadapan  orang lain memang bisa membatasi seseorang untuk bisa menjalin relasi  dan komunikasi dengan orang lain. Sikap merasa penting di hadapan orang  lain mengakibatkan silaturahmi seseorang menjadi terganggu dan sangat  membahayakan bagi syahadat yang telah diikrarkan oleh setiap muslim.  Padahal syahadat memang bukan hanya diikrarkan lewat lisan dan diyakini  dengan hati. Namun syahadat memang juga harus diimplementasikan lewat  perilaku sehari-hari. Tindakan Gus Dur yang tidur seadanya di atas  karpet juga menunjukkan kalau GusDur juga tidak mementingkan  kepentingannya diri sendiri. Gus Dur bisa beradaptasi dan menyesuaikan  diri dengan situasi dan kondisi dimanapun dan kapanpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekonsistenan GusDur dalam menjaga dan mengimplentasikan syahadat dalam  kehidupan sehari-hari merupakan bukti Gus Dur menunjukan Islam sebagai  agama yang diturunkan sebagai penyempurna akhlak di dunia. Dengan  merangkul berbagai kalangan tanpa memperhatikan suku agama ras dan antar  golongan Gus Dur menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang yang menjadi  rahmat bagi seluruh alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tidak merasa dirinya mulia di hadapan orang lain Ahmad Tohari  juga menekankan bahwa Gus Dur juga tidak merasa dirinya di hadapan orang  lain. Hal ni dibuktikan dengan sikapnya yang berani berhubungan,  mengkritik, memberi masukan dengan siapapun 'tanpa tedheng aling-aling'.  Tidak mengherankan bahwa jika dalam sikap hidupnya selain mengundang  pro dari salah satu kalangan, juga tidak jarang dapat mengundang kontra  dari berbagai pihak dari orang lain. Sebagai contoh sikap GusDur yang  menjalin kerjasama dengan negara Yahudi Israel yang notabene selama ini  menjadi musuh 'umat Islam'. Waktu itu ia menghadiri konferensi  agama-agama se dunia.&lt;br /&gt;Ahmad Toharipun merasa prihatin kalau sekarang ini jarang pemimpin yang  mewarisi sikap-sikap Gus Dur dalam kepemimpinannya. Iapun berharap kalau  generasi-generasi sekarang dapat kembali sikap-sikap GusDur. Terlepas  dari kelebihannya, sebagai manusia GusDur  juga tidak terlepas dari  kekurangan-kekurangan. Sebagai pemimpin Gus Dur patut ditiru lewat  sikapnya yang santun dan sederhana dalam menanggapi segala persoalan  yang dihadapi bangsanya. Walaupun terkadang sikap dan pemikirannya  memang sulit ditafsirkan namun ternyata secara empiris ternyata banyak  sikap dan pernyataan Gus Dur yang terjadi dan terbukti kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"GusDur rawuh Senen sore terus kondur Rebo. Dan yang menjadi perhatian  saya ialah sewaktu berangkat sampai pulang Gus Dur tetap memakai baju  yang sama. Baju lengan batik yang sama. Ini menunjukkan Gus Dur sikap  hidup yang sederhana" cerita Ahmad Tohari menuturkan. Waktu itupun  GusDur yang notabene berada di pucuk pimpinan PBNU pusat ia hanya  menggunakan mobil Espas. Berbeda dengan fenomena sekarang, di mana  banyak kyai-kyai yang menggunakan mobil mewah. Berbeda dengan  pemimipin-pemimpin sekarang, Gus Dur memang risih dengan hal-hal yang  berbau mewah. Seperti terlihat di Muktamar NU beberapa waktu banyak  sekali mobil mewah yang dipergunakan oleh para pemimpin-pemimpin agama  dan negara. Sementara di sisi lain, madrasah-madrasah dan  sekolah-sekolah di desa kondisinya banyak yang rusak dan  memprihatinkan.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-6556551655998276270?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/6556551655998276270/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=6556551655998276270' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/6556551655998276270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/6556551655998276270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2010/11/ahmad-tohari-gusdur-sare-ning-lemah.html' title='Ahmad Tohari : &quot;GusDur Sare Ning Lemah&quot; Mengambil Pelajaran Dari Perilaku Gus Dur'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TN09Yx4iukI/AAAAAAAAAM8/QOs57l8Jog8/s72-c/100_0402.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-327997818670129122</id><published>2010-11-12T04:10:00.000-08:00</published><updated>2010-11-12T05:02:55.253-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penjaga cinta'/><title type='text'>Tiga Kata dengan Tiga Titik di Belakangnya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TN0wJXfzxUI/AAAAAAAAAM0/4LDEuGVB-48/s1600/DSC05422.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 318px; height: 424px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TN0wJXfzxUI/AAAAAAAAAM0/4LDEuGVB-48/s400/DSC05422.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538636054219965762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="mbs mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;pada 11 Oktober 2010 jam 20:16&lt;/div&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;Nit  nit..nit nit...ponselku berbunyi dengan getar mengirinya. Sambil  mengucek mata, kubuka tanda bintang untuk bisa membaca pesan singkat  yang meluncur itu. 'Shlt mlm Mz...tiga kata dengan tiga titik di  belakangnya. Di bawah pesan itu kulihat jelas sederet nomor ponsel.  Entahlah, kenapa aku harus tak menuliskan namanya. Itu rahasiaku dengan  diriku sendiri, tak terkecuali dengan dia yang tak kusebut namanya. Sang  waktupun baru menunjukkan pukul 03.04 WIB.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Membaca pesan  singkat itu, entah kenapa seperti ada semangat yang membangunkanku. Tiga  kata itu seolah menjadi pelecut bagi kemalasanku selama ini. Entah  nanti. Mendapatkan pesan singkat itu, aku langsung kembali ke masa  setahun yang lalu. Tiap lima waktu ada saja pesan singkat yang  dikirimkan oleh seseorang untukku. Mengingatkanku untuk bangun di subuh  hari. Bedanya, pengirim pesan itu sudah jelas kutuliskan namanya. Namun  itu sudah setahun yang lalu, bahkan sudah menjadi masa lalu. Dan kini  aku mengalaminya lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kokok ayam terus saja berbunyi.  Beranjak dari kursi panjang tempat tidurku, akupun membalas pesan itu.  Spontan kutulis 'ya wis kita sholat bareng aja, ta' imami dari sini"  balasku singkat. Aku dan dia di tempat berbeda, 15 KM jarak yang  memisahkan kami. Usai bangun aku seperti kembali kembali ke masa lalu,  kembali mengambil air suci di tengah dinginnya dini hari. Tak ada beban  sepertinya, seperti ada yang tengah memperhatikanku. Tapi pikirku  bukanlah Rakib Atid di kanan kiri pundakku. Entahlah apa yang  menyebabkan aku mau menyentuh air dini hari tadi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Sarung,  kemeja, peci telah rapi melekat di badanku. Akupun kembali menjalankan  ritual sebagaimana di masa lalu aku pernah melaksanakannya. Telah lama  ku tak menyentuh sajadah itu. Padahal sudah sering terlihat terhampar  seperti menanti sujudku. Tapi dengan berbagai alasan dan kemalasan nanti  sering aku melewatkannya. Tapi tidak untuk saat ini usai pesan singkat  tiga kata dengan tiga titik di belakangnya itu muncul.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Kusadari  bahwa memang bukan karena pesan itu. Mungkin inilah keajaiban Tuhan  atau kebenaran Tuhan. Antara khauf dan roja' kepada sesama makhluk,  manusia malah lebih tunduk kepada sesamanya. Pesan singkat itu kupandang  sebagai mediasi Sang Pencipta Cinta mengantarkan simpul-simpul kepada  hambaNya. Naluri lelaki yang mempunyai cemas dan harap kepada perempuan  ataupun sebaliknya mungkin sengaja diciptakan oleh Tuhan untuk manusia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Di  sepertiga malam terakhir itu, aku coba kembali merenungi diri sebagai  salah satu makhluk kerdil di tengah hamparan bumi yang luas ini.  Kubayangkan di tengah sepi, aku duduk di tengah hampaan langit hitam  dengan kerlip bintang i atas sana. Rasa ini sudah lama tak kurasakan.  Semua hampir habis dengan lahapan-lahapan dunia yang tiada pasti isinya.  Fuuuuuh..ku hela nafas panjang usai memanjatkan do'a. Kubaca doa demi  doa, yang menjadi rahasiaku kepadaNya. Tiap doa adalah proposal yang  akan berlomba dengan proposal lain untuk mendapatkan ACC sang pengabul  doa. Terlintas, di benakku begitu dahsyat efek tiga kata dengan tiga  titik di belakangnya itu membuat aku tersungkur bersujud ke dalam  sajadah yang tiap kali digunakan sujud ibuku.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Akupun harus  jujur pada diriku sendiri, entah benar atau tidak. Rupanya telah  terjadi sesuatu antara aku dengan pengirim pesan singkat itu. Entah rasa  ataupun apa. Bagiku ini adalah anugrah yang tak bisa ditawar-tawar  apalagi dibuang. Terlepas dari semuanya, aku hanya ingin jujur pada  diriku dan pemilik sederet nomor dan sengaja tak kutulis namanya bahwa  ada rasa yang berbeda dengan rasa yang sebelumnya. Naif memang  sepertinya, tapi ini nyata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Corong-corong masjid itu  berlomba menyuarakan panggilan subuh. Akupun akhirnya mengetik pesan  balasan singkat untuk sederet nomor itu. Mendeskripsikan perasaan  ataupun mungkin penafsiran perasaan bahkan ketergesaan dengan sepotong  pesan singkat. Aku sadar ketika kukirim pesan itu berbagai konsekuwensi  akan menunggu di belakangnya. Tapi subuh hari telah tiba, dan kita harus  menjalankan rutinitas seperti semula. Tinggal waktu nanti yang  menentukan kelanjutan kisah itu seperti apa. Waktulah yang akan  menunjukkan apa ada kelanjutan tiga kata dengan tiga titik di belakang  berikutnya atau tidak...&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Tapi tak kupungkiri akhir-akhir  ini aku tengah butuh tiga kata dengan tiga titik di belakangnya. Karena  tiga kata dengan tiga titik di belakangnya bukanlah sekedar kata  semata..tapi ada serentetan kisah panjang yang bisa saja tengah mungkin  menguntit di belakangnya..atau penilaianku salah tiga kata dengan tiga  titik di belakangnya itu hanya sebuah pesan singkat dan hanya terluncur  sekali saja di dini hari buta ketika seorang pemalas tak sengaja bangun  dari tidurnya..entahlah......&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;11 Oktober 2010 07.30&lt;/p&gt;&lt;p&gt;tulisan ini untuk pengirim pesan singkat tiga kata dengan tiga titik di belakangnya﻿&lt;/p&gt;&lt;p&gt;dan untuk teman-temanku yang tngah menderita Penyakit gila no.20 karena Cinta...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;16 Oktober 2010&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tergop0h-gopoh aku mengirim berita untuk harian lokal tempat setahun lebih aku bekerja. sampai dengan jam 9 aku mendekam di bilik warnet untuk mencari sebuah foto...entah karena apa, ada untuk membuat sebuah sketsa tentang wajah seorang setahun sudah tak ada perasaan apa-apa hingga menjadi ada apa-apa...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dimulai dari pukul 21.00 hingga 00.01 akhirnya kusudahi pula proses menuangkan serbuk-serbuk pensil 2B yang telah lama tak kujamah. Beruntung beberapa saat lalu telah kubeli satu rim kertas kwarto untuk lamaran dan portofolio untuk lamaran itu. Akhirnya jam 1 kuputuskan untuk merebahkan tubuh, menelan gundah, memaksa sudah...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;17 Oktober 2010&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pagi, aku kembali dipusingkan memilih bingkai untuk goresan tiga jam semalam. bersama rekan seprofesi aku mencoba mencari bingkai untuk itu, kuselipkan kertas setengah halaman itu di sebuah buku novel itu. Kucari-cari dengan segala keterbatasan waktu dan deadline waktu untuk liputan akhirnya dapat juga sebuah bingkai selebar setengah buku besar, tepatnya sebesar buku novel. Dibungkuskan oleh pelayan, tepatnya pramuniaga. Kni gambarmu ada di bingkai itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siang itu ku bungkus gambar beserta novel itu dengan koran saja. Sederhana saja, karena aku ingin mencintaimu dengan sderhana (meminjam puisi SPA), seperti kata yang tak bisa disampaikan olehku kepadamu.setidaknya dengan sebuah goresan tiga jam apapun hasilnya itu...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sebentar saja aku ke rumahmu dan menyerahkan itu....&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-327997818670129122?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/327997818670129122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=327997818670129122' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/327997818670129122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/327997818670129122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2010/11/tiga-kata-dengan-tiga-titik-di.html' title='Tiga Kata dengan Tiga Titik di Belakangnya'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TN0wJXfzxUI/AAAAAAAAAM0/4LDEuGVB-48/s72-c/DSC05422.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-9140571348001475705</id><published>2010-09-13T05:13:00.001-07:00</published><updated>2010-09-13T05:14:25.811-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CAGAK BUDAYA'/><title type='text'>Terpengaruh Ajaran Tarekat Satariyah Sosialisasi Nilai Keberagamaan Pengikut Aboge Dilaksanakan Bertahap</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TI4VkF6RlPI/AAAAAAAAAMs/--XYYxLk4Wk/s1600/Pemuda,+Pengikut+Aboge+Cikakak+tengah+berjabat+tangan+usai+melaksanakan+ibadah+Idul+Fitri+kemarin.jpg+%2819%29_1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 400px; height: 250px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TI4VkF6RlPI/AAAAAAAAAMs/--XYYxLk4Wk/s400/Pemuda,+Pengikut+Aboge+Cikakak+tengah+berjabat+tangan+usai+melaksanakan+ibadah+Idul+Fitri+kemarin.jpg+%2819%29_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5516370303381509362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;BANYUMAS-Ada fenomena menarik ketika melihat perayaan lebaran pengikut Aboge di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Sabtu (11/9) lalu. Di tengah ratusan jamaah sholat Idul Fitri, ternyata diperkirakan separuh dari pengikut Aboge yang ada adalah generasi muda. Tak mengherankan kalau Desa Cikakak masih terkenal sebagai basis pengikut Aboge di Banyumas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Walaupun telah memasuki dunia pendidikan formal dan lingkungan kehidupan modern yang sarat akan pengetahuan dan teknologi, ternyata sebagian generasi muda Desa Cikakak masih teguh mengikuti lebaran versi perhitungan Aboge. Padahal dibandingkan dengan generasi muda muslim secara umum, mereka akan menjadi sangat berbeda dan menjadi minoritas. Pasalnya mereka merayakan lebaran lebih akhir dibandingkan dengan lebaran yang ditetapkan oleh pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jono (21) pemuda asal Desa Cikakak, yang sudah tiga tahun merantau di Jakarta, tiap tahun harus bisa pulang mudik untuk berlebaran di kampung halamannya. Mengerjakan sholat Idul Fitri sesuai dengan perhitungan Aboge seperti sudah menjadi hal yang wajib baginya. Untuk itulah dengan berbagai cara, iapun harus bisa pulang dan lebaran di tiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   "Walaupun di sana (Jakarta) ada sholat Idul Fitri tapi itu kan berbeda. Tidak seperti di sini, menggunakan perhitungan Aboge. Jadi mau tidak mau saya harus pulang untuk bisa berlebaran dengan saudara-saudara kita di desa. Karena memang perhitungan Aboge di sini sudah turun temurun seperti ini. Makanya kita sudah seharusnya menjaga tradisi leluhur ini" ungkap Jono kemarin (11/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Hal yang sama juga diungkapkan oleh Wahyu (16). Meskipun sebagian besar teman-temannya di sekolah merayakan lebaran hari Jumat, ia mengaku tidak masalah. Bahkan karena mengikuti perhitungan Aboge, di saat teman-temannya lebaran ia masih merampungkan ibadah puasa hari terakhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   "Saya puasa lebih akhir dan lebaran lebih akhir. Teman-teman saya di sekolah juga tahu itu. Tapi tidak masalah, karena memang di sini sejak dulu seperti itu. Kita ikuti saja kebiasaan di sini, apalagi  perhitungan Aboge ini konon warisan dari Mbah Toleh yang mendirikan Masjid Saka Tunggal di sini" ujar siswa SMK di Purwokerto ini. Menurut perhitungan Aboge, di Tahun Dal ini, puasa sebulan penuh kemarin dilaksanakan mulai hari Kamis Pahing karena berpedoman pada Sanemro (Puasa Enem Loro) atau jatuh pada hari ke-6 dan pasaran ke-2 dari Sabtu Legi (Manis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Walaupun mengikuti lebaran menggunakan versi perhitungan Aboge namun ternyata kebanyakan generasi muda pengikut Aboge di Desa Cikakak belum sepenuhnya mengetahui secara pasti sejarah, asal usul dan perhitungan Aboge mereka. Mereka lebih banyak menurut dan taat dengan petunjuk orang tua dan sesepuh masyarakat setempat. Hal ini dikarenakan bahwa sosialisasi nilai-nilai beragama bagi generasi muda pengikut Aboge dilaksanakan melalui tingkatan atau tahapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sulam, tokoh pengikut Aboge di Cikakak menyatakan bahwa sosialisasi nilai-nilai dan perhitungan Aboge ini di Cikakak ini memang dilaksanakan secara bertahap kepada generasi penerusnya. Namun untuk mempelajari berbagai inti hakikat beragama memang diberlakukan sejumlah syarat dan tahapan kepada para generasi penerusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   "Mereka akan dikasih tahu tentang hakikat beragama ini secara bertahap termasuk juga perhitungan Aboge ini. Mereka yang bisa mempelajari adalah mereka yang biasanya telah berkeluarga. Karena mereka yang masih muda apalagi masih sekolah biasanya belum bisa mengikuti secara penuh" ungkap Sulam usai melaksanakan ibadah Idul Fitri kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tahapan dan persyaratan pembelajaran pendidikan akidah Islam yang diterapkan untuk generasi penerus pengikut Aboge setempat ini memang tidak lepas dari pengaruh ajaran tarekat Satariyah yang diikuti oleh sebagian pengikut Aboge. Sebagai pengikut tarekat memang tidak semua hal bisa dibicarakan dan diajarkan secara terbuka kepada masyarakat umum. Pembelajaran dan sosialisasi nilai akidah agama ini biasanya dilakukan secara eksklusif di kalangan para pengikut tarekat bersama gurunya yang disebut sebagai 'mursyid'. Selain kepada orang tua, para murid punya kewajiban untuk berbakti, taat dan 'takdim' kepada gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Melalui tradisi keberagamaan yang terpengaruh tarekat atau tasawuf inilah, para pengikut Aboge melaksanakan keberagamaannya. Merekapun bersikap dan bersifat toleran dengan kondisi di sekitarnya. Tak mengherankan dalam keberagamaan dan kesehariannya para pengikut Aboge ini sangat kental dengan pola akulturasi Islam dan kejawen. Penghormatan terhadap arwah leluhurpun merupakan tradisi yang tak dapat ditinggalkan oleh mereka. Pola keberagamaan ini terjadi mayoritas pada pengikut Aboge di Banyumas baik itu di desa-desa, pengikut Bonokeling yang menggelar Perlon Unggah-unggahan di Bulan Sadran dan pengikut Aboge Cikakak yang menggelar Jaro Rojab dan ziarah kubur tiap Senin dan Kamis.(san)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-9140571348001475705?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/9140571348001475705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=9140571348001475705' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/9140571348001475705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/9140571348001475705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2010/09/terpengaruh-ajaran-tarekat-satariyah.html' title='Terpengaruh Ajaran Tarekat Satariyah Sosialisasi Nilai Keberagamaan Pengikut Aboge Dilaksanakan Bertahap'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TI4VkF6RlPI/AAAAAAAAAMs/--XYYxLk4Wk/s72-c/Pemuda,+Pengikut+Aboge+Cikakak+tengah+berjabat+tangan+usai+melaksanakan+ibadah+Idul+Fitri+kemarin.jpg+%2819%29_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-6580108444874523146</id><published>2010-09-13T05:09:00.000-07:00</published><updated>2010-09-13T05:13:07.420-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CAGAK BUDAYA'/><title type='text'>Sabtu Pahing, Pengikut Aboge Lebaran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TI4VLYPxEyI/AAAAAAAAAMk/sQh3j1kAblA/s1600/Pengikut+Aboge+Cikakak+Jatilawang+tengah+melaksanakan+ibadah+Idul+Fitri+Sabtu+kemarin+di+Masjid+Saka+Tunggal.jpg+%287%29_1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 400px; height: 250px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TI4VLYPxEyI/AAAAAAAAAMk/sQh3j1kAblA/s400/Pengikut+Aboge+Cikakak+Jatilawang+tengah+melaksanakan+ibadah+Idul+Fitri+Sabtu+kemarin+di+Masjid+Saka+Tunggal.jpg+%287%29_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5516369878806762274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TI4VAapcesI/AAAAAAAAAMc/o9wTYPwu8pg/s1600/Pengikut+Aboge+Cikakak+Jatilawang+tengah+melaksanakan+ibadah+Idul+Fitri+Sabtu+kemarin+di+Masjid+Saka+Tunggal.jpg+%281%29_1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 400px; height: 250px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TI4VAapcesI/AAAAAAAAAMc/o9wTYPwu8pg/s400/Pengikut+Aboge+Cikakak+Jatilawang+tengah+melaksanakan+ibadah+Idul+Fitri+Sabtu+kemarin+di+Masjid+Saka+Tunggal.jpg+%281%29_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5516369690472774338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BANYUMAS&lt;/span&gt;-Meski pemerintah lewat Kementrian Agama telah menetapkan bahwa Hari Raya Lebaran jatuh hari Jumat (10/9), namun ribuan pengikut Aboge di Kabupaten Banyumas tetap kukuh melaksanakan ibadah Idul Fitri, Sabtu (11/9). Berdasarkan perhitungan Aboge yang mereka yakini, 1 Syawal 1431 Hijriyah jatuh pada hari Sabtu Pahing kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon seikitnya 500 orang pengikut Aboge terdiri dari orang dewasa dan generasi muda terlihat khusyuk melaksanakan sholat Idul Fitri di area Masjid Saka Tunggal Baitussalam. Bahkan karena ruangan masjid penuh, separuh lebih Pengikut Aboge melaksanakan sholat di halaman depan dan samping masjid yang disebut-sebut masjid tertua di Jawa Tengah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpakaian jubah putih dengan 'iket wulung' di kepala, Eyang Sopani, sesepuh Pengikut Aboge setempat memimpin sholat Idul Fitri sekitar pukul 06.30 WIB. Usai sholat dilaksanakan, khutbahpun dilaksanakan. Berbusana serupa seperti Eyang Sopani, Sulam bertindak membacakan khutbah Idul Fitri. Seluruh isi khutbah dibacakan menggunakan Bahasa Arab dan tanpa pengeras suara. Dalam mimbar yang tertutup tirai kain, Sulam membacakan khutbah pertama Idul Fitri. Namun saat pembacaan khutbah kedua hingga selesai, mimbar khutbah dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai pelaksanaan ibadah Idul Fitri, jamaah melaksanakan pembacaan takbir, ratib, tahlil dan sholawat bersama-sama. Suara beduk dan terbang mengiringi prosesi itu. Setelah berdoa bersama-sama, prosesi silaturahmipun dilaksanakan. Jamaah yang semula berada di dalam masjid kemudian mencair dan melebur dengan warga yang berdatangan ke area kompleks Masjid Saka Tunggal. Membentuk barisan yang panjang mengelilingi area kompleks masjid, merekapun akhirnya saling berjabat tangan untuk saling memaafkan. Usai prosesi silaturahmi, sebagian pengikut Aboge mengadakan acara kenduri slametan di dalam masjid. Usai didoakan, merekapun bersama menyantap makanan yang dibawa menggunakan 'tenong' dan rantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita sudah turun temurun melaksanakan lebaran menurut perhitungan Aboge ini. Semua ini merupakan warisan dari Mbah Toleh yang dulu mbangun masjid ini. Kalau lebaran tahun ini jatuh pada hari Sabtu Pahing ini" ungkap Sulam di sela kesibukan silaturahmi kemarin (11/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan perhitungan Aboge, tahun ini merupakan tahun Dal. Sementara untuk pedoman awal tahun Dal adalah Daltugi atau 1 Muharam jatuh pada Sabtu Legi. Pedoman untuk menentukan 1 Syawal, adalah Waljiro- 'Syawal Siji Loro' atau Syawal jatuh pada hari 'siji' (pertama) dari hari Sabtu dan pasaran 'loro' (kedua) dari pasaran Legi maka 1 Syawal Tahun Dal akan jatuh pada hari Sabtu Pahing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diketahui bahwa dalam Perhitungan Aboge dikenal siklus delapan tahunan (satu windu) yang masing-masing tahun terkenal dengan tahun Kuruf (Asal dari Bahasa Arab: Huruf). Tahun Kuruf terdiri dari Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain di kompleks Masjid Saka Tunggal, pada hari yang sama pengikut Aboge di Desa Kracak, Cibangkong, Tambaknegara, Petahunan, Semedo, dan "Pengikut Bonokeling" Pekuncen juga merayakan Idul Fitri. Dari sejumlah tetua pengikut Aboge yang ditemui Radarmas di lapangan menyebutkan kesamaan rumus yang dipakai dalam menentukan tanggal, bulan dan tahun Jawa Hijriyah. Selain itu, walaupun ada yang menyebut bahwa perhitungan Aboge ini ditetapkan secara formal oleh Sultan Agung sejak abad 17 Masehi namun sejumlah pengikut Aboge menyatakan bahwa perhitungan Aboge ini telah ada sejak abad 14-15 Masehi yang disebarkan oleh sejumlah wali dan pengikutnya di daerah Banyumas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Turun temurun telah seperti ini dan pantang kami mengubahnya. Selama kita masih hidup kita akan terus mempertahankan perhitungan warisan leluhur dan para wali ini. Dalam perhitungan Aboge ini kita bisa menghitung secara cepat dan tepat pada hari dan pasaran apa, lebaran satu windu ke depan sekalipun" ungkap Santibi (65), tetua pengikut Aboge di Desa Cibangkong Kecamatan Pekuncen.(susanto-Wangon)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-6580108444874523146?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/6580108444874523146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=6580108444874523146' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/6580108444874523146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/6580108444874523146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2010/09/sabtu-pahing-pengikut-aboge-lebaran.html' title='Sabtu Pahing, Pengikut Aboge Lebaran'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TI4VLYPxEyI/AAAAAAAAAMk/sQh3j1kAblA/s72-c/Pengikut+Aboge+Cikakak+Jatilawang+tengah+melaksanakan+ibadah+Idul+Fitri+Sabtu+kemarin+di+Masjid+Saka+Tunggal.jpg+%287%29_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-6626508953478051041</id><published>2010-08-02T06:05:00.001-07:00</published><updated>2010-08-02T06:10:48.166-07:00</updated><title type='text'>kesembadan</title><content type='html'>alhamdulillah.lagi wis pirang dina kepengin mangan jengkol nemen. golet  ning warung ora ana bae.jebule bareng digolet, ning wit jengkol nduwur  umah esih ana lima mata jengkol nyempil.akhire nganggo gantar karo arit,  jengkol mau dipet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biyungku sing eman.ning ngisor wit nuturna jengkol sing lagi dadi  kelangenanku.Jian bareng wis mudun sekang menek. atiku langsung marem.  mlebu ngumah, golet ciri lemah karo muthu. golet lombok ijo karo  brambang go dikumbah. karo sepucuk sendok uyah thok, lombok karo  brambang kuwe tek gerus dadi sambel...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambel smentlep, jere batirku Mahbub sing ora doyan pedhes nyebut jeneng  sambel ng umahku. jengkol kulite wis dibuang deng biyungku. baru kuwe  aku nyidhuk sega ning panci mejikjer. soale wis pirang wulan kiye  biyungku seringe nganggo listrik olih ngesap sega. tapi sering juga  nganggo cething.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepiring mlengkan aku madhang.tapi limang mata jengkol mung dipangan  loro thok.sing telu tek pendhem kon dari beweh.jian...rasane nikmat  nemen mangan jengkol karo sambel tlenjeng. pokoke puas bisa madhang  wareg kepedhesen ngasi ndhase kemringet gatel....fuh.,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 aGUSTUS 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-6626508953478051041?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/6626508953478051041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=6626508953478051041' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/6626508953478051041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/6626508953478051041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2010/08/kesembadan.html' title='kesembadan'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-8986713885607710963</id><published>2010-08-02T05:58:00.000-07:00</published><updated>2010-08-02T06:02:05.431-07:00</updated><title type='text'>Sepenggal waktu yang terabadikan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TFbBCWHG_mI/AAAAAAAAAME/TOasf5_yRx0/s1600/39695_1157663277389_1701983000_298433_6350422_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 400px; height: 259px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TFbBCWHG_mI/AAAAAAAAAME/TOasf5_yRx0/s400/39695_1157663277389_1701983000_298433_6350422_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500796240918937186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kiriman foto dari slamet..alias papa ivan.suatu ketika masih SMA sewaktu masih gagah-gagahnya jadi dewan ambalan gatsu (gatot subroto) tapi di foto cuma ada satu cut nyak dien..itupun tak lengkap gambarnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wah...akujadi pengin lihat lagi foto-fot yang lainnya. lagi...foto di masa SMA...&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;tinggal menunggu waktu.foto inipun akan jadi  kenangan.suatu ketika.foto mengabadikan waktu yg tak abadi.walaupun  benda mati tapi ia hidup ketika ditafsirkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-8986713885607710963?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/8986713885607710963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=8986713885607710963' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8986713885607710963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8986713885607710963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2010/08/sepenggal-waktu-yang-terabadikan.html' title='Sepenggal waktu yang terabadikan'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/TFbBCWHG_mI/AAAAAAAAAME/TOasf5_yRx0/s72-c/39695_1157663277389_1701983000_298433_6350422_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-5460529447592722669</id><published>2010-05-18T04:03:00.000-07:00</published><updated>2010-05-18T04:06:03.675-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CAGAK BUDAYA'/><title type='text'>Dokar Ajibarang Tinggal Delapan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/S_J0bP8cdkI/AAAAAAAAAL8/99ySof_3Jq8/s1600/santo-dokar+tinggal+8.jpg.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/S_J0bP8cdkI/AAAAAAAAAL8/99ySof_3Jq8/s400/santo-dokar+tinggal+8.jpg.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472564508693919298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bertahan Di Tengah Persaingan Transportasi Modern&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Eksistensi  Penarik Dokar Ajibarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susanto-Ajibarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu empat  orang kusir dokar itu terlihat terkantuk menunggu penumpang. Berbeda  dengan tahun-tahun dulu, ramainya pasar ternyata tak menjadi jaminan  bagi penarik dokar untuk mendapat banyak penumpang. Alat transportasi  tradisional sejak jaman nenek moyang tersebut ternyata kini mulai  semakin tersisih keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kusir dokar asal Tipar Kidul, Kasid menuturkan bahwa di  Pasar  Ajibarang jumlah dokar yang masih beroperasi di Pasar Ajibarang kini  tersisa  delapan buah saja. Dari tahun ke tahun jumlah dokar semakin menurun.  Penghasilan yang minim dan semakin banyaknya kendaraan bermotor membuat  kendaraan tradisional ini semakin menurun jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai  saat ini yang  masih bertahan tinggal delapan dokar ini. Setiap tahun semakin  berkurang jumlahnya. Mungkin karena penghasilan narik dokar memang tak  bisa ditentukan. Waktu masih jaman Pasar Ajibarang masih di sebelah  utara jumlah dokar tahun 1980an mencapai 50 buah. Dulu ramai dan laris  memang, mobil dan ojekpun belum banyak seperti sekarang ini" kata Kasid  yang telah narik dokar di Pasar Lama Ajibarang sejak  tahun 1976.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jaman yang serba modern ini, sebagian orang mulai berpikir tentang  aspek efektifitas dan efisiensi dalam mobilitas sehari-hari. Tak  mengherankan sebagian orang telah beralih menggunakan sepeda motor,  atapun mobil untuk kelancaran dan kecepatan dalam beraktivitas. Sontak  dokar yang nota bene ditarik dengan tenaga kuda lebih tepat dipandang  sebagai alat transportasi alternatif ketika mereka sedang santai ataupun  untuk mengulangi romantisme sejarah alat transportasi tradisional yang  pernah berjaya di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusir dokar lain,  Admo (53) mengatakan  pendapatan mereka setiap harinya rata-rata Rp 25 ribu. Untuk pakan kuda  membutuhkan sekitar 5 kg pakan kuda. "Sehari rata-rata kita dapat Rp 35  ribu, Rp 15 ribu kita gunakan untuk membeli dedak dan selebihnya untuk  kita. Padahal untuk kalau kita narik menumpang itu tidak pasti. Kadang  kala  satu penumpang langsung jalan, kadangkala menunggu dokar penuh dulu  sehingga ongkos bisa tidak bisa ditentukan" katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara  harga dokar beserta kudanya minimal mencapai Rp  13 juta yang terbagi atas harga kuda Rp 8 juta dan kereta sekitar Rp 5  juta. Selain harga dokar dan kuda yang cukup mahal, perawatan terhadap  dokar dan kuda inipun memang berbeda dengan perawatan kendaraan  bermotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadi yang juga kusir dokar asal Cibangkong menyatakan  bahwa ia harus membeli tapel kuda dan memperbaiki kereta kudanya di  bengkel khusus puluhan kilometer dari Ajibarang. Mereka harus menuju ke  daerah Pasir, Karanglewas. Namun kalau sedang terpaksa iapun harus bisa  memasang sendiri tapel kuda pada  kudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang butuh perawatan berbeda kalau kita punya dokar ini. Karena  memang bukan benda mati. Tapi kuda itu benda hidup" jelas Hadi. Lebih  lanjut Hadipun memberikan sedikit trik agar kuda yang menjadi penarik  dokar tersebut bisa dapat terus dikendalikan oleh kusir. Proporsi makan  kuda adalah kuncinya. Kuda menurutnya tidak boleh terlalu kenyang dan  tidak boleh terlalu lapar. Ketika kuda kenyang maka tenaga kuda akan  lebih besar dan itu akan sulit dikendalikan. Sebaliknya kuda juga tidak  boleh kelaparan karena tenaga mereka digunakan untuk menarik kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya perawatan kuda dan kereta yang tidak sedikit memang cukup  membuat mereka harus bisa membagi dan mencari strategi untuk mendapatkan  tambahan. Salah satu upaya untuk mendapatkan penghasilan ialah dengan  memanfaatkan dokar untuk penumpang di hari libur di rumahnya. Selain itu  mereka juga kerap menerima pesanan penyewaan kuda ketika ada upacara  'pengantin sunat' di kampung-kampung. Namun hal itu memang tidak bisa  dipastikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kesulitan dan ketidakpastian penghasilan yang diperoleh  dari narik dokar, delapan kusir dokar di Pasar  Ajibarang ini mengaku akan terus mempertahankan dokar ini semampu  mereka. Melestarikan kendaraan tradisional jaman  dulu dan bangga mempunyai kendaraan tradisional ini menjadi mereka untuk  bisa bertahan sampai saat ini. Entah sampai kapan mereka akan terus  bertahan. Akankah akumulasi kebutuhan material akan mengikis idealisme  mereka untuk mempertahankan kendaraan tunggangan para raja Jawa  ini?Entahlah hanya waktu yang mampu menjawabnya.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajibarang, 17 Mei 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-5460529447592722669?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/5460529447592722669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=5460529447592722669' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/5460529447592722669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/5460529447592722669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2010/05/dokar-ajibarang-tinggal-delapan.html' title='Dokar Ajibarang Tinggal Delapan'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/S_J0bP8cdkI/AAAAAAAAAL8/99ySof_3Jq8/s72-c/santo-dokar+tinggal+8.jpg.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-6289630055552997036</id><published>2010-02-01T04:53:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T04:54:32.895-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>sudut pagi di sudut jalanan Kampus</title><content type='html'>&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;sudut hatiku masih kelu  mngingat hari di sebuah sdut jalan Kampus, Purwokerto. hari ketika  tangan mungil bocah perempuan itu menjumut gelas plastik di tengah  gunungan sampah itu. ingusnyapun seperti tak pernah dipedulikan.  sementara neneknya mengusap keriput  usia yang menempel di kening dengan  tangan kirinya yang hitam..dua gelas plastik yang kotor diterima dari  tangan mungil cucunya..waktu itu msih jam 05.30 pagi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-6289630055552997036?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/6289630055552997036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=6289630055552997036' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/6289630055552997036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/6289630055552997036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2010/02/sudut-pagi-di-sudut-jalanan-kampus.html' title='sudut pagi di sudut jalanan Kampus'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-5917477401149567202</id><published>2010-01-23T03:27:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T03:32:57.791-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CAGAK BUDAYA'/><title type='text'>Tak Ingin Anaknya Jadi Lengger-Menyorot Nafas Kehidupan Lengger dan Calung Keliling</title><content type='html'>&lt;a style="font-family: arial;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/S1rd0vqvdmI/AAAAAAAAAL0/0hg0hwGTncM/s1600-h/Saat+ditanggap.+Di+depan+sebuah+rumah+kelompok+lengger+dan+calung+keliling+menunjukkan+kebolehannya+%282%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/S1rd0vqvdmI/AAAAAAAAAL0/0hg0hwGTncM/s400/Saat+ditanggap.+Di+depan+sebuah+rumah+kelompok+lengger+dan+calung+keliling+menunjukkan+kebolehannya+%282%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429896198967228002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kesibukan persiapan para seniman calung dan lengger lain untuk mengikuti Festifal Lengger dan Calung di Fatmaba beberapa waktu lalu. Terdengar alunan calung sederhana dengan dua lengger dengan pakaian biasa. Mereka sedang me&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;ngamen di sebuah emper rumah seorang warga di tepi jalan Kracak Ajibarang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;h3  style="font-weight: normal;font-family:arial;" class="UIIntentionalStory_Message" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;"Saya tak ingin anak saya jadi lengger" kata Dede (32) seorang seniman lengger suatu saat. Bersama Dewi (32) saudara kembarnya, Dede kini menjadi seniman lengger 'ideran' (keliling, red). Diiringi oleh tiga orang yaitu penabuh calung dan kendang, Dede dan Dewi setiap hari harus berkeliling mengamen ke kota untuk menyambung nafas kehidupan keluarganya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3  style="font-weight: normal;font-family:arial;" class="UIIntentionalStory_Message" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;Tembang Bendrong Kulon sayup-sayup terdengar dari mulut dua orang seniman lengger dari depan emper sebuah rumah di Ajibarang. Suara calung pengarep dan calung penerus yang ditabuh oleh Ridun dan Yamanpun terdengar mengalun. Sementara Gino dengan lincahnya menepak-nepak alat musik kendang dari pipa paralon. Mereka seperti tidak memedulikan deru mesin kendaraan bermotor yang sibuk lalu lalang melintas di jalan depan rumah itu. Seniman-seniman jalanan itu hanya peduli pada rupiah-rupiah yang nanti akan mereka terima setelah memainkan tembang-tembang yang dipesan oleh penanggapnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3  style="font-weight: normal;font-family:arial;" class="UIIntentionalStory_Message" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;"Satu lagu Rp 2000, dan kalau pakai 'ngibing' (menari, red) bayarannya Rp 5000. Kalau hujan, ya...kita panen tangis" kata Dewi saudara kembar Dede seusai nembang. Beruntung cuaca hari Jum'at itu cerah. Bagi mereka, mendung yang menggelayut hitam menjadi pertanda suram bagi rejeki mereka. Ketika hujan bisa dipastikan tanggapan mereka akan sepi. Jika sepi mereka mengakui hanya kebagian Rp 5000 untuk setiap orangnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3  style="font-weight: normal;font-family:arial;" class="UIIntentionalStory_Message" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;"Kami biasa mengamen keliling sampai ke daerah Bumiayu. Kalau ada ongkos ya kita naik kendaraan, tapi kalau ga ya kita terpaksa jalan kaki. Kita sudah terbiasa seperti itu. Kita ngamen karena memang kalau sekarang tanggapan lengger itu sepi, kalah dengan permainan organ dan hiburan lain" kata Dede menjelaskan keadaan seni lengger dan calung sekarang ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3  style="font-weight: normal;font-family:arial;" class="UIIntentionalStory_Message" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya seniman lengger asal Desa Rancabanteng, RT 1/5 wangon ini, lengger memang dulu pernah berjaya. Namun sepeninggal ayahnya dan seiring perkembangan jaman kesenian tradisional asli Banyumas ini tidak hanya semakin terpinggirkan bahkan menurut mereka lengger dan calung semakin tertutup. Kiblat seni generasi muda kebanyakan telah beralih ke barat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3  style="font-weight: normal;font-family:arial;" class="UIIntentionalStory_Message" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;Mereka telah menekuni profesi ini selama puluhan tahun. Selain karena sepinya tanggapan, tidak adanya lahan produksi baik lahan sawah ataupun ladangyang mereka punyai, mereka harus mengamen berkeliling ke luar desa. Ketidakjelasan penghasilan sebagai buruh tani dan buruh lepas membuat mereka tetap mempertahankan kesenian ini sebagai cara untuk menafkahi hidup mereka. Bagi mereka tidak ada pilihan menjadi pengamen lengger dan calung keliling.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3  style="font-weight: normal;font-family:arial;" class="UIIntentionalStory_Message" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;"Saya tak ingin anak saya jadi lengger seperti saya. Saya ingin anak saya bisa bersekolah setinggi-tingginya. Saya bingung katanya di sekolah sudah ada dana BOS tapi kok ya anak saya harus membayar buku saja. Padahal ketika sepatunya bolongpun anak saya tidak mau sekolah karena malu. Sementara anak saya yang pertama, sekarang sudah kelas VI. Padahal untuk bisa sekolah ke SMP perlu duit berjuta-juta. Lalu bagaimana anak saya bisa sekolah" keluh Dede yang mengaku mempunyai empat orang anak. Mereka menceritakan pengalaman tetangganya yang harus memasukkan anaknya ke SMP harus membayar Rp 1,7 juta untuk membayar uang pengembagan atau pembangunan. Selain Dede, Yaman juga beranak empat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3  style="font-weight: normal;font-family:arial;" class="UIIntentionalStory_Message" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi banyak pihak berkoar-koar menghimbau agar seni tradisional termasuk lengger dan calung untuk dilestarikan. Namun di sisi lain terbukti para seniman yang getol berusaha menghidupi seni tradisional ini malah hidup kembang kempis. Seni tradisional seringkali belum sepenuhnya menghidupi mereka secara layak. Untuk menyekolahkan anaknya saja mereka tak mampu. Terlebih lagi pendidikan sekarang sepertinya telah menjadi lahan komodifikasi dan komersialisasi oknum tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3  style="font-weight: normal;font-family:arial;" class="UIIntentionalStory_Message" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;Adalah sebuah tragika, ketika para seniman yang menjadi subjek kesenian justru karena alasan ekonomi mereka tak mengharapkan anaknya jadi generasi penerus seniman seperti mereka. Pandangan miring sementara masyarakat terutama generasi muda terhadap Seni lengger dan calung ini yang dianggap kuno dan kurang gaul semakin membuat kesenian asli Banyumas ini semakin teralienasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3  style="font-weight: normal;font-family:arial;" class="UIIntentionalStory_Message" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;"Entahlah bagaimana nasib kami ketika nanti orang-orang tua yang biasanya nanggap kami sudah tidak ada. Padahal kebanyakan yang nanggap kami ini orang tua. Kalau anak muda ya sangat jarang" kata Ridun menceritakan. Dalam benak Ridun terbersit kekhawatiran bahwa ketika lengger dan calung sudah tidak lagi mendapat tempat. Kepada siapa mereka akan bergantung.&lt;br /&gt;Sebagai seniman kecil yang hidup dari lengger dan calung, mereka berharap agar pemerintah memperhatikan mereka. Memperhatikan kehidupan seniman lengger berarti menambah umur panjang dan kelestarian seni lengger dan calung di masyarakat. Seperti orang lain mereka juga ingin anak-anak mereka bersekolah setinggi-tingginya. Perhatian pemerintah dan berbagai pihak untuk para pahlawan kesenian itu sangat diperlukan. Jangan sampai kesenian lengger dan calung Banyumasan ini, hidup segan dan matipun enggan. Ironis.(Januari 2010)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-5917477401149567202?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/5917477401149567202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=5917477401149567202' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/5917477401149567202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/5917477401149567202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2010/01/tak-ingin-anaknya-jadi-lengger-menyorot.html' title='Tak Ingin Anaknya Jadi Lengger-Menyorot Nafas Kehidupan Lengger dan Calung Keliling'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/S1rd0vqvdmI/AAAAAAAAAL0/0hg0hwGTncM/s72-c/Saat+ditanggap.+Di+depan+sebuah+rumah+kelompok+lengger+dan+calung+keliling+menunjukkan+kebolehannya+%282%29.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-105687420249043871</id><published>2010-01-21T06:00:00.000-08:00</published><updated>2010-01-21T06:03:51.092-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>Gethek Untuk Angkutan Kayu Menilik Kerja Para Pengangkut Kayu di Sungai Tajum</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/S1heuET9rwI/AAAAAAAAALs/hfkwTbGWXH0/s1600-h/menjalankan+gethek+menuju+mudik+untuk+kembali+mengangkut+sisa+kayu+%281%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/S1heuET9rwI/AAAAAAAAALs/hfkwTbGWXH0/s400/menjalankan+gethek+menuju+mudik+untuk+kembali+mengangkut+sisa+kayu+%281%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429193496319602434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;AJIBARANG-Warga Duku&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;h Kalibeber Darmakradenan masih mempergunakan gethek atau rakit bambu sebagai sarana angkutan. Walaupun jembatan Kalibeber telah dibangun, ternyata gethek masih tetap digunakan oleh warga sekitar untuk berbagai keperluan aktifitas sehari-hari. Diantara mereka ada yang mempergunakan rakit untuk mengambil pasir, menyeberang sungai dan juga untuk mengangkut kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dilakukan oleh Rikun (48). Ia bersama beberapa rekan kerjanya mempergunakan gethek sebagai sarana untuk mengangkut gelondong kayu. Gethek dipergunakan oleh Rikun dan kawan-kawannya untuk mengangkut kayu-kayu yang berat dari arah udik Sungai Tajum. Sedangkan untuk kayu-kayu yang ringan, mereka hanya menghanyutkannya lewat Sungai Tajum. Dengan cara seperti itu dipandang dapat meringankan pekerjaannya membawa kayu.&lt;br /&gt;"Untuk kayu yang kecil dan ringan kita hanyutkan lewat sungai. Sedangkan untuk kayu yang bisa tenggelam karena besar dan berat kita pergunakan rakit ini secara bersama-sama. Memang kondisi sungai yang berliku sejak di atas sampai ke bawah sini membuat kami harus bekerja keras. Kedalaman sungai di beberapa sekitar lima tempat lubuk ada sekitar 4 meter mungkin. Terbukti galah bambu yang kami pergunakan masuk ke dalam air semua. Kita harus hati-hati ketika itu" kata Rikun menceritakan sedangkan teman-temannya yang lain sedang asyik menyantap sarapan yang dimakan sekitar pukul 11.00 siang kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pekerja-pekerja pengangkut kayu itu terbagi menjadi dua. Sekitar 12 orang itu terbagi menjadi dua. Beberapa diantara mereka menghadang kayu-kayu yang dihanyutkan dari sungai bagian atas sambil menunggu datangnya gethek pembawa kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita harus cepat-cepat mengangkut kayu-kayu itu supaya tidak hanyut ketika ada banjir di Sungai Tajum ini. Jika sudah banjir pasti kayu-kayu itu bisa terbawa arus air Sungai Tajum yang besar ini. Makanya mumpung masih terang dan belum hujan kita harus secepatnya membawa kayu-kayu ini ke darat untuk dibawa ke penggilingan kayu di perbatasan Darma-Karangbawang" kata Rikun menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pekerja sempat mengeluh menceritakan pekerjaannya. Ia menyatakan bahwa pekerjaan mengangkut kayu di sungai ini termasuk pekerjaan yang berat dengan resiko yang tidak ringan. Namun mereka tidak ada pilihan lain untuk mengambil pekerjaan itu, di tengah-tengah kesulitan memperoleh pekerjaan dan pendidikan yang pas-pasan dewasa ini. Tidak bisa dibayangkan ketika rakit atau gethek yang membawa kayu itu terbalik di sungai, tambahnya menceritakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kayu belum terangkut semua maka mereka akan bolak-balik menjalankan rakitnya dengan arah hilir mudik. Mereka harus berjuang beradu kecepatan dengan tidak menentunya cuaca. Hujan yang bisa membuat Sungai Tajum banjir adalah musuh terbesar mereka ketika pekerjaan mengangkut gelondong kayu belum rampung. Dengan resiko bertaruh nyawa menyeberangi lubuk-lubuk dalam Sungai Tajum, mereka harus bolak balik membawa rakit dengan atau tanpa isi gelondong kayu. Demi terisinya perut anak isteri mereka.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-105687420249043871?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/105687420249043871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=105687420249043871' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/105687420249043871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/105687420249043871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2010/01/gethek-untuk-angkutan-kayu-menilik.html' title='Gethek Untuk Angkutan Kayu Menilik Kerja Para Pengangkut Kayu di Sungai Tajum'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/S1heuET9rwI/AAAAAAAAALs/hfkwTbGWXH0/s72-c/menjalankan+gethek+menuju+mudik+untuk+kembali+mengangkut+sisa+kayu+%281%29.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-2264346540742714065</id><published>2009-11-17T04:59:00.001-08:00</published><updated>2009-11-17T05:02:30.826-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>dakhirin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SwKertMyayI/AAAAAAAAALk/7eyU-kWDs7Y/s1600/santo--Dakhirin+sedang+membajak+sawah+di+Desa+Rancamaya.jpg.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 322px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SwKertMyayI/AAAAAAAAALk/7eyU-kWDs7Y/s400/santo--Dakhirin+sedang+membajak+sawah+di+Desa+Rancamaya.jpg.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405056976502811426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 style="font-weight: normal; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia; text-align: center;" class="GenericStory_Message" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;seorang anak seusia adikku mungkin, bergelut dengan lumpur. yang dipegangnya cemethi. bersekolah di sawah bersama kedua kerbau sang bapa. hari ini belajar 'megawe''meluku'. meratakan sawah bersama kedua pamannya.'Dakhirin' jawabnya dengan senyum sahaja ketika kutanya namanya pagi itu, ketika kusempatkan rehat sejenak di tepi jalan Rancamaya...&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-2264346540742714065?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/2264346540742714065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=2264346540742714065' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/2264346540742714065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/2264346540742714065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/11/dakhirin.html' title='dakhirin'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SwKertMyayI/AAAAAAAAALk/7eyU-kWDs7Y/s72-c/santo--Dakhirin+sedang+membajak+sawah+di+Desa+Rancamaya.jpg.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-7221973616565496370</id><published>2009-11-07T18:58:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T19:04:34.975-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CAGAK BUDAYA'/><title type='text'>Saka Tunggal Butuh Perhatian!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SvY0RqhDpeI/AAAAAAAAALc/5q_oPByXJUM/s1600-h/santo+saka+tunggal-.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SvY0RqhDpeI/AAAAAAAAALc/5q_oPByXJUM/s400/santo+saka+tunggal-.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401562281152849378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   WANGON-Objek wisata masjid Saka Tunggal dan Taman Kera Cikakak membutuhkan pengembangan aset wisata. Demikian diungkapkan oleh kepala Desa Cikakak Suyitno Jum'at (6/11) kemarin. Objek wisata ini merupakan situs peninggalan dari Kyai Tolih (Mustolih) yang merupakan salah satu tokoh Islam sejak jaman Majapahit. Di Cikakak sendiri selain ada Masjid Saka Tunggal, Taman Kera, makam Kyai Tolih juga terdapat wisata budaya yang lain. Namun potensi ini kurang tergarap karena masih minimnya perhatian dari pemerintah daerah.&lt;br /&gt;   "Pengembangan sarana prasarana dan aset wisata juga perlu diadakan jika ingin kawasan wisata Saka Tunggal maju. Penambahan aset wisata yang menunjang bisa menarik pengunjung. Adanya penambahan aset wisata seperti tempat bermain anak-anak, gazebo dan lain-lain bisa menarik pengunjung untuk datang ke Saka Tunggal. Jembatan Kali Asahan juga perlu diprioritaskan. Pakan satwa (kera) juga hendaknya ditambah supaya mencukupi kebutuhan. Jika pengunjung datang banyak, pendapatan wisata dan retribusi akan semakin banyak. Itu sangat menguntungkan untuk kita semua" ungkap Suyitno Jum'at (6/11) di rumahnya. Menurutnya selama ini pemerintah baru mengalokasikan dana sekitar Rp 150 ribu perbulan untuk membeli pakan satwa berupa ubi.&lt;br /&gt;   Pemerintah Desa Cikakak bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) meminta kepada pemerintah daerah untuk semakin memperhatikan keadaan komplek objek wisata Masjid Saka Tunggal dan Taman Kera. Pihak desa mengharapkan agar sarana dan lingkungan di sekitar objek wisata ziarah ini semakin dibenahi. Letak jalan menuju komplek wisata yang berada di bawah lereng Perbukitan Wadaskelir perlu dibuatkan tanggul dan drainase sehingga komplek wisata semakin aman dan nyaman bagi para pengunjung. Jembatan Kali Asahan di depan masjid Saka Tunggal yang merupakan sarana penghubung jalan desa menuju tempat wisata Masjid Saka Tunggal juga perlu dibangun secara permanen. Jembatan ini sangat membantu kelancaran kegiatan ekonomi, sosial dan ibadah warga setempat.&lt;br /&gt;   "Kamipun belum berani pasang tarif masuk ke wisata Saka Tunggal karena aset wisata belum ditambah" kata Suyitno. Perlu diketahui bahwa tarif masuk ke objek wisata Saka Tunggal Cikakak hanya Rp 1000 padahal pendapatan objek wisata ini dibagi kepada tiga pihak, yaitu pemerintah daerah, pihak desa dan juga untuk para pekerja.&lt;br /&gt;   Menurutnya kompleks wisata Saka Tunggal memang banyak yang perlu dibenahi dari segi sarana jalan dan aset wisata. Terlebih lagi kompleks wisata ini sudah merupakan aset pemerintah daerah. Sejauh ini Kompleks wisata Saka Tunggal ini terkenal dengan wisata peninggalan seperti Masjid Saka Tunggal, Taman Kera, dan Makam Mbah Kyai Tolih. Padahal selain itu masih ada ritual budaya Jaro Rajab, dan kehidupan religius warga setempat yang kental dengan nuansa Islam Jawa yang sangat pantas menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.Jadi sudah sepantasnyalah semua pihak terutama pemerintah daerah memperhatikan keberadaan kompleks wisata Saka Tunggal di Cikakak.(ap5)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-7221973616565496370?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/7221973616565496370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=7221973616565496370' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/7221973616565496370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/7221973616565496370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/11/saka-tunggal-butuh-perhatian.html' title='Saka Tunggal Butuh Perhatian!'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SvY0RqhDpeI/AAAAAAAAALc/5q_oPByXJUM/s72-c/santo+saka+tunggal-.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-886203338991886868</id><published>2009-11-07T18:48:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T18:58:15.671-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CAGAK BUDAYA'/><title type='text'>pasar pagi ajibarang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SvYzLkiE3II/AAAAAAAAALU/6BdD14AhyP4/s1600-h/santo-pasar+tumpah+ajibarang.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SvYzLkiE3II/AAAAAAAAALU/6BdD14AhyP4/s400/santo-pasar+tumpah+ajibarang.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401561076955667586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SvYx8zSjEyI/AAAAAAAAALM/KhaYj2cZjlY/s1600-h/santo-pasar+tumpah+ajibarang+2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SvYx8zSjEyI/AAAAAAAAALM/KhaYj2cZjlY/s320/santo-pasar+tumpah+ajibarang+2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401559723707405090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menunggu pembeli sejak pukul 04.oo sampai 09.00 untuk periuk nasi (termuat di Radar Banyumas, Sabtu 7 Nov 2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-886203338991886868?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/886203338991886868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=886203338991886868' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/886203338991886868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/886203338991886868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/11/pasar-pagi-ajibarang.html' title='pasar pagi ajibarang'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SvYzLkiE3II/AAAAAAAAALU/6BdD14AhyP4/s72-c/santo-pasar+tumpah+ajibarang.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-3186907913271316622</id><published>2009-10-22T18:29:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T18:49:58.251-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CAGAK BUDAYA'/><title type='text'>srengenge mlethek</title><content type='html'>&lt;h3 style="font-family: georgia; font-weight: normal; text-align: center;" class="UIIntentionalStory_Message" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;"srengenge mlethek ana ing wetan,manuke ngoceh ana ing wit-witan, kewane njenggut ana pasekuten, ya prakanca padha maju balapan2" tembang itu masih lekat dlam ingatanku ketika kukecil, sayang tembang2 dalam permainan jonjang yg diajarkan b&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;iyungku sdah lama takkuingat, padahal banyak filosofinya...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-3186907913271316622?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/3186907913271316622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=3186907913271316622' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/3186907913271316622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/3186907913271316622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/10/srengenge-mlethek.html' title='srengenge mlethek'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-5394752756553433902</id><published>2009-10-22T03:55:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T04:02:17.818-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penjaga cinta'/><title type='text'>kemesraan dalam kesedehanaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;karena ban motor inggit bocor, cerita ini tercipta. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;di sela sibuk menambal ban motor,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt; tukang tambal ban menenangkan anak perempuannya yang nangis. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;dgn tangannya yg kasar ia gendong anak permpwn itu dgn lembut. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;di antara temaram lampu teplok di bengke&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;l,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt; isterinya rela menanti duduk di lincak bambu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;"lupa5 lagi syairnya" tkg tambal mgjreng gitarnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;sementara api pemanas tambal ban masih menyala.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;"pulang3" rengek anakny yg kini tgl digendongan istrinya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;"Jln kaki sja ya, tu..ban speda ayah sdg bocor" katanya pada anaknya sambil &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;mmgang ban Spm inggit yg bru sja ditmbal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt; keindahan kbrsamaan kluarga tukang tambal ban &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;di dpn h&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;otel jln sokaraja. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;walaupn kutak mnanyakan siapa nama ankny,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt; yg pnting aku thu nma ankny psti Cindy..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;tahu kenapa?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;krna kulihat tulisan di atas gubuk tambal bannya Cindy motor..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color: rgb(51, 51, 51);  font-family:'lucida grande';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Sokaraja, Kamis 22/10 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-5394752756553433902?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/5394752756553433902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=5394752756553433902' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/5394752756553433902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/5394752756553433902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/10/kemesraan-dalam-kesedehanaan.html' title='kemesraan dalam kesedehanaan'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-3274746604069209671</id><published>2009-10-20T18:31:00.001-07:00</published><updated>2009-10-20T18:36:28.325-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CAGAK BUDAYA'/><title type='text'>PARARATON (sumber.nusadwipa.blogspot.com)</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: 'Trebuchet MS'; font-size: 13px; "&gt;&lt;div id="main-wrapper" style="width: 410px; float: left; word-wrap: break-word; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden; "&gt;&lt;div class="main section" id="main"&gt;&lt;div class="widget Blog" id="Blog1" style="border-bottom-style: dotted; border-bottom-color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.5em; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 1.5em; padding-left: 0px; border-bottom-width: 0px; "&gt;&lt;div class="blog-posts hfeed"&gt;&lt;div class="post hentry" style="margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.5em; margin-left: 0px; border-bottom-width: 1px; border-bottom-style: dotted; border-bottom-color: rgb(51, 51, 51); padding-bottom: 1.5em; "&gt;&lt;div class="post-body entry-content" style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.75em; margin-left: 0px; line-height: 1.6em; "&gt;&lt;div align="center" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt; 01 =&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;KITAB PARA DATU ATAU KISAH KEN ANGROK.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;Tuhan, Pencipta, Pelindung dan Pengakhir Alam,Semoga tak ada halangan, Sudjudku sesempurna sempurnanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;I. Demikian inilah kisah Ken Angrok. Asal mulanja, ia didjadikan manusia: Adalah seorang anak janda di Jiput, bertingkah laku tak baik, memutus - mutus tali kekang kesusilaan, menjadi gangguan Hyang yang bersifat gaib; pergilah ia dari Jiput, mengungsi ke daerah Bulalak.Nama yang dipertuan di Bulalak itu: Mpu Tapawangkeng, ia sedang membuat pintu gerbang asramanya, dimintai seekor kambing merah jantan oleh roh pintu.Kata Tapawangkèng: "Tak akan berhasil berpusing kepala, akhirnya ini akan menjebabkan diriku jatuh kedalam dosa, kalau sampai terjadi aku membunuh manusia, tak akan ada yang dapat menyelesaikan permintaan korban kambing merah itu."Kemudian orang yang memutus mutus tali kekang kesusilaan tadi berkata, sanggup mejadi korban pintu Mpu Tapawangkeng, sungguh ia bersedia dijadikan korban, agar ini dapat menjadi lantaran untuk dapat kembali ke surga dewa Wisnu dan menjelma lagi didalam kelahiran mulia, ke alam tengah lagi, demikianlah permintaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Demikianlah ketika ia direstui oleh Mpu Tapawangkeng, agar dapat menjelma, disetujui inti sari kematiannya, akan menikmati tujuh daerah.Sesudah mati, maka ia dijadikan korban oleh Mpu Tapawangkeng.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Selesai itu, ia terbang ke surga Wisnu, dan tidak bolak inti perjanjian yang dijadikan korban, ia meminta untuk dijelmakan di sebelah timur Kawi.Dewa Brahma melihat lihat siapa akan dijadikan temanya bersepasang. Sesudah demikian itu, adalah mempelai baru, sedang cinta mencintai, yang laki laki bernama Gajahpara, yang perempuan bernama Ken Endok, mereka ini bercocok tanam.Ken Endok pergi ke sawah, mengirim suaminya, yalah: si Gadjahpara; nama sawah tempat ia: mengirim :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Ayuga; desa Ken Endok bernama Pangkur.Dewa Brahma turun kesitu, bertemu dengan Ken Endok, pertemuan mereka kedua ini terdjadi di ladang Lalaten; dewa Brahma mengenakan perjanjian kepada isteri itu: "Jangan kamu bertemu dengan lakimu lagi, kalau kamu bertemu dengan suamimu, ia akan mati, lagi pula akan tercampur anakku itu, nama anakku itu: Ken Angrok, dialah yang kelak akan memerintah tanah Jawa".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Dewa Brahma lalu menghilang. Ken Endok lalu ke sawah, berjumpa dengan Gajahpara.Kata Ken Endok: "Kakak Gajahpara, hendaknyalah maklumi, saya ditemani didalam pertemuan oleh Hyang yang tidak tampak di ladang Lalateng, pesan beliau kepadaku: jangan tidur dengan lakimu lagi, akan matilah lakimu, kalau ia memaksa tidur dengan kamu, dan akan tercampurlah anakku itu.Lalu pulanglah Gajahpara, sesampainya di rumah Ken Endok diajak tidur, akan ditemani didalam pertemuan lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Ken Endok segan terhadap Gajahpara. "Wahai, kakak Gajahpara putuslah perkawinanku dengan kakak, saya takut kepada perkataan Sang Hyang.Ia tidak mengijinkan aku berkumpul dengan kakak lagi."Kata Gadjahpara: "Adik, bagaimana ini, apa yang harus kuperbuat, nah tak berkeberatan saya, kalau saya harus bercerai dengan kamu; adapun harta benda pembawaanmu kembali kepadamu lagi, adik, harta benda milikku kembali pula kepadaku lagi".Sesudah itu Ken Endok pulang ke Pangkur di seberang utara, dan Gajahpara tetap bertempat tinggal di Campara di seberang selatan.Belum genap sepekan kemudian matilah Gajahpara.Kata orang yang mempercakapkan: "Luar biasa panas anak didalam kandungan itu, belum seberapa lama perceraian orang tua laki laki perempuan sudah diikuti, orang tua laki laki segera meninggal dunia". Akhirnja sesudah genap bulannya, lahirlah seorang anak laki-laki, dibuang di kuburan kanak kanak oleh Ken Endok.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Selanjutnya ada seorang pencuri, bernama Lembong, tersesat di kuburan anak anak itu, melihat benda bernyala, didatangi oleh Lembong, mendengar anak menangis, setelah didekati oleh Lembong itu, nyatalah yang menyala itu anak yang menangis tadi, diambil diambin dan dibawa pulang diaku anak oleh Lembong.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Ken Endok mendengar, bahwa Lembong memungut seorang anak, teman Lembonglah yang memberitakan itu dengan menyebut nyebut anak, yang didapatinya di kuburan kanak kanak, tampak bernyala pada waktu malam hari.Lalu Ken Endok datang kepadanya, sungguhlah itu anaknya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Kata Ken Endok: "Kakak Lembong, kiranya tuan tidak tahu tentang anak yang tuan dapat itu, itu adalah anak saya, kakak, jika kakak ingin tahu riwayatnya, demikianlah: Dewa Brahma bertemu dengan saya, jangan tuan tidak memuliakan anak itu, karena dapat diumpamakan, anak itu beribu dua berayah satu, demikian persamaannya."Lembong beserta keluarganya semakin cinta dan senang, lambat laun anak itu akhirnya menjadi besar, dibawa pergi mencuri oleh Lembong.Setelah mencapai usia sebaya dengan anak gembala, Ken Angrok bertempat tinggal di Pangkur.Habislah harta benda Ken Endok dan harta benda Lembong, habis dibuat taruhan oleh Ken Angrok.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Kemudian ia menjadi anak gembala pada yang dipertuan di Lebak, menggembalakan sepasang kerbau, lama kelamaan kerbau yang digembalakan itu hilang, kerbau sepasang diberi harga delapan ribu oleh yang dipertuan di Lebak, Ken Angrok sekarang dimarahi oleh orang tua laki laki dan perempuan, kedua duanya: "Nah buyung, kami berdua mau menjadi hamba tanggungan, asal kamu tidak pergi saja, kami sajalah yang akan menjalani, menjadi budak tanggungan pada yang dipertuan di Lebak".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Akhirnya tidak dihiraukan, Ken Angrok pergi, kedua orang tuanya ditinggalkan di Campara dan di Pangkur.Lalu Ken Angrok pergi mencari perlindungan di Kapundungan;Orang yang diungsi dan dimintai tempat berlindung tak menaruh belas kasihan.Ada seorang penjudi permainan Saji berasal dari Karuman, bernama Bango Samparan, kalah bertaruhan dengan seorang bandar judi di Karuman, ditagih tak dapat membayar uang, Bango Samparan itu pergi dari Karuman, berjiarah ke tempat keramat Rabut Jalu, mendengar kata dari angkasa, disuruh pulang ke Karuman lagi. "Kami mempunyai anak yang akan dapat menyelesaikan hutangmu ia bernama Ken Angrok."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Pergilah Bango Samparan dari Rabut Jalu, berjalan pada waktu malam, akhirnya menjumpai seorang anak, dicocokkan oleh Bango Samparan dengan petunjuk Hyang, sungguhlah itu Ken Angrok, dibawa puIang ke Karuman, diaku anak oleh Bango Samparan.Dia itu lalu ketempat berjudi, bandar judi ditemui oleh Bango Samparan dilawan berjudi, kalahlah bandar itu, kembali kekalahan Bango Samparan, memang betul petunjuk Hyang itu, Bango Samparan pulang, Ken Angrok dibawa pulang oleh Bango Samparan.Bango Samparan berbayuh dua orang bersaudara, Genuk Buntu nama istri tuanja. dan Tirtaya nama isteri mudanja.Adapun nama anak anaknya dari isteri muda, yalah Panji Bawuk, anak tengah Panji Kuncang, adiknya ini Panji Kunal dan Panji Kenengkung, bungsu seorang anak perempuan bernama Cucu Puranti.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Ken Angrok diambil anak oleh Genuk Buntu. Lama ia berada di Karuman, tidak dapat sehati dengan semua para Panji itu, Ken Angrok berkehendak pergi dari Karuman.Lalu ia ke Kapundungan bertermu dengan seorang anak gembala anak tuwan Sahaja, kepala desa tertua di Sagenggeng, bernama Tuwan Tita; ia bersahabat karib dengan Ken Angrok.Tuwan Tita dan Ken Angrok sangat cinta mencinta, selanjutnya Ken Angrok bertermpat tinggal pada Tuwan Sahaja, tak pernah berpisahlah Ken Angrok dan Tuwan Sahaja itu, mereka ingin tahu tentang bentuk huruf huruf, pergilah ke seorang guru di Sagenggeng, sangat ingin menjadi murid, minta diajar sastera.Mereka diberi pelajaran tentang bentuk bentuk bentuk dan penggunaan pengetahuan tentang huruf huruf hidup dan huruf huruf mati, semua perobahan huruf, juga diajar tentang sengkalan, perincian hari tengah bulan, bulan, tahun Saka, hari enam, hari lima, hari tujuh, hari tiga, hari dua, hari sembilan, nama nama minggu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Ken Angrok dan Tuwan Tita kedua duanya pandai diajar pengetahuan oleh Guru.Ada tanaman guru, menjadi hiasan halaman, berupa pohon jambu, yang ditanamnya sendiri.Buahnya sangat lebat, sungguh padat karena sedang musimnya, dijaga baik tak ada yang diijinkan memetik, tak ada yang berani mengambil buah jambu itu.Kata guru: "Jika sudah masak jambu itu, petiklah". Ken Angrok sangat ingin, melihat buah jambu itu, sangat dikenang kenangkan buah jambu tadi.Setelah malam tiba waktu orang tidur sedang nyenyak nyenyaknya, Ken Angrok tidur, kini keluarlah kelelawar dari ubun ubun Ken Angrok, berbondong bondong tak ada putusnya, semalam malaman makan buah jambu sang guru.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Pada waktu paginya buah jambu tampak berserak serak di halaman, diambil oleh pengiring guru.Ketika guru melihat buah jambu rusak berserakan di halaman itu, maka rnendjadi susah.Kata guru kepada murid murid: "Apakah sebabnya maka jambu itu rusak." Menjawablah pengiring guru: "Tuanku rusaklah itu, karena bekas kelelawar makan jambu itu".Kemudian guru mengambil duri rotan untuk mengurung jambunya dan dijaga semalam malaman.Ken Angrok tidur lagi diatas balai balai sebelah selatan, dekat tempat daun ilalang kering, di tempat ini guru biasanya menganyam atap.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Menurut penglihatan, guru melihat kelelawar penuh sesak berbondong bondong, keluar dari ubun ubun Ken Angrok, semuanya makan buah jambu guru, bingunglah hati guru itu, merasa tak berdaya mengusir kelelawar yang banyak dan memakan jambunya, marahlah guru itu, Ken Angrok diusir oleh guru, kira kira pada waktu tengah malam guru rnengusirnya.Ken Angrok terperanjat, bangun terhuyung huyung, lalu keluar, pergi tidur di tempat ilalang di luar.Ketika guru menengoknya keluar, ia melihat ada benda menyala di tengah ilalang, guru terperanjat mengira kebakaran, setelah diperiksa yang tampak menyala itu adalah Ken Angrok, ia disuruh bangun, dan pulang, diajak tidur di dalam rumah lagi, menurutlah Ken Angrok pergi tidur di ruang tengah lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Pagi paginya ia disuruh mengambil buah jambu oleh guru, Ken Angrok senang. katanya : "Aku mengharap semoga aku menjadi orang, aku akan membalas budi kepada guru."Lama kelamaan Ken Angrok telah menjadi dewasa, menggembala dengan Tuwan Tita, membuat pondok, bertempat di sebelah timur Sagenggeng, di ladang Sanja, dijadikan tempatnya untuk menghadang orang yang lalu lintas di jalan, dengan Tuwan Titalah temannya.Adalah seorang penyadap enau di hutan orang Kapundungan, mempunyai seorang anak perempuan cantik, ikut serta pergi ke hutan, dipegang oleh Ken Angrok, ditemani didalam pertemuan didalam hutan, hutan itu bernama Adiyuga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Makin lama makin berbuat rusuhlah Ken Angrok, kemudian ia memperkosa orang yang melalui jalan, hal ini diberitakan sampai di negara Daha, bahwasanya Ken Angrok berbuat rusuh itu, maka ia ditindak untuk dilenyapkan oleh penguasa daerah yang berpangkat akuwu, bernama Tunggul Ametung.Pergilah Ken Angrok dari Sagenggêng, mengungsi ke tempat keramat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Rabut Gorontol. "Semoga tergenang didalam air, orang yang akan melenyapkan saya" kutuk Ken Angrok, semoga keluar air dan tidak ada, sehingga terdjadilah tahun tak ada kesukaran di Jawa."Ia pergi dari Rabut Gorontol, mengungsi ke Wayang, ladang di Sukamanggala.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Ada seorang pemikat burung pitpit, ia memperkosa orang yang sedang rnemanggil manggil burung itu, lalu menuju ke tempat keramat Rabut Katu. Ia heran, melihat tumbuh tumbuhan katu sebesar beringin, dari situ lari mengungsi ke Jun Watu, daerah orang sempurna, mengungsi ke Lulumbang, bertempat tinggal pada penduduk desa, keturunan golongan tentara, bernana Gagak Uget. Lamalah ia bertempat tinggal disitu, memerkosa orang yang sedang rnelalui jalan.Ia lalu pergi ke Kapundungan, mencuri di Pamalantenan, ketahuanlah ia, dikejar dikepung, tak tahu kemana ia akan mengungsi, ia memanjat pohon tal, di tepi sungai, setelah siang, diketahui, bahwasanya ia memanjat pohon tal itu, ditunggu orang Kepundungan dibawah, sambil dipukulkan canang, Pohon tal itu ditebang oleh orang-orang yang mengejarnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Sekarang hi menangis, menyebut nyebut Sang Pentjipta Kebaikan atas dirinya, akhirnya ia mendengar sabda dari angkasa, ia disuruh memotong daun tal, untuk didjadikan sayapnya kiri kanan, agar supaya dapat melayang ke seberang timur, mustahil ia akan mati, lalu ia memotong daun tal mendapat dua helai, dijadikan sayapnya kiri kanan, ia melayang keseberang timur, dan mengungsi ke Nagamasa, diikuti dikejar, mengungsilah ia kedaerah Oran masih juga dikejar diburu, lari mengungsi ke daerah Kapundungan, yang dipertuan di daerah Kapundungan didapatinya sedang bertanam, Ken Angrok ditutupi dengan cara diaku anak oleh yang dipertuan itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Anak yang dipertuan di daerah itu sedang bertanam, banyaknya enam orang, kebetulan yang seoarang sedang pergi mengeringkan empangan, tinggal 1ima orang; yang sedang pergi itu diganti menanam oleh ken Angrok, datanglah yang mengejarnya, seraya berkata kepada penguasa daerah: "Wahai, tuan kepala daerah, ada seorang perusuh yang kami kejar, tadi mengungsi kemari." meanjawablah penguasa daerah itu: "Tuan tuan, kami tidak sungguh bohong kami tuan, ia tidak disini; anak kami enam orang, yang sedang bertanam ini genap enam orang, hitunglah sendiri saja, jika lebih dari enam orang tentu ada orang lain disini"Kata orang-orang yang mengejar: "Memang sungguh, anak penguasa daerah enam orang, betul juga yang bertanam itu ada enam orang."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Segera pergilah yang mengejar.Kata penguasa daerah kepada ken Angrok: "Pergilah kamu, buyung, jangan jangan kembali yang mengejar kamu, kalau kalau ada yang membicarakan kata kataku tadi, akan sia sia kamu berlindung kepadaku, pergilah mengungsi ke hutan". Maka kata ken Angrok: "Semoga berhenti lagilah yang mengejar, itulah sebabnya maka Ken Angrok bersembunyi di dalam hutan, Patangtangan nama hutan itu.Selanjutnya ia mengungsi ke Ano, pergi ke hutan Terwag. ia semakin merusuh.Adalah seorang kepala lingkungan daerah Luki akan melakukan pekerjaan membajak tanah, berangkatlah ia membajak ladang, mempesiapkan. tanahnya untuk ditanami kacang, membawa nasi untuk anak yang menggembalakan lembu kepala Lingkungan itu, dimasukkin kedalam tabung bambu, diletakkan diatas onggokan; sangat asyiklah kepala Lingkungan itu, selalu membajak ladang kacang saja, maka dirunduk diambil dan dicari nasinya oleh Ken Angrok, tiap tiap hari terdjadi demikian itu, kepala Lingkungan bingunglah, karena tiap tiap hari kehilangan nasi untuk anak gembalanya, kata kepala Lingkungan: "Apakah sebabnya maka nasi itu hilang".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;= 02 =&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;Sekarang nasi anak gembala kepala Lingkungan di tempat membajak itu diintai, dengan bersembunyi, anak gembalanya disuruh membajak, tak lama kemudian Ken Angrok datang dari dalam hutan, maksud Ken Angrok akan mengambil nasi, ditegor oleh kepala lingkungan: "Terangnya, kamulah, buyung, yang nengambil nasi anak gembalaku tiap tiap hari itu,"Ken Angrok menjawab: "Betullah tuan kepala lingkungan, saya inilah yang mengambil nasi anak gembala tuan tiap-tiap hari, karena saya lapar, tak ada yang kumakan.."Kata kepala Lingkungan: "Nah buyung. datanglah ke asramaku, kalau kamu lapar, mintalah nasi tiap tiap hari, memang saya tiap tiap hari mengharap ada tamu datang".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Lalu Ken Angrok diajak pergi ke rumah tempat tinggal kepala lingkungan itu, dijamu dengan nasi dan lauk pauk.Kata kepala lingkungan kepada isterinya: "Nini batari, saya berpesan kepadamu, kalau Ken Angrok datang kemari, meskipun saya tak ada di rumah juga, lekas lekas terima sebagai keluarga, kasihanilah ia"diceriterakan, Ken Angrok tiap tiap hari datang, seperginya dari situ menuju ke Lulumbang, ke banjar Kocapet.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Ada seorang kepala lingkungan daerah Turyantapada, ia pulang dari Kebalon, bernama Mpu Palot, ia adalah tukang emas, berguru kepada kepala desa tertua di Kebalon yang seakan akan sudah berbadankan kepandaian membuat barang barang emas dengan sesempurna sesempurnanya,sungguh ia telah sempurna tak bercacad, Mpu Palot pulang dari Kebalon, membawa beban seberat lima tahil, berhenti di Lulumbang, Mpu Palot itu takut akan pulang sendirian ke Turyantapada, karena ada orang dikhabarkan melakukan perkosaan di jalan, bernama Ken Angrok.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Mpu Palot tidak melihat orang lain, ia berjumpa dengan Ken Angrok di tempat beristirahat.Kata ken Angrok kepada Mpu Palot: ,,Wahai, akan pergi kemanakah tuanku ini,"Kata Mpu, menjawabnya: "Saya sedang bepergian dari Kebalon, buyung, akan pulang ke Turyantapada, saya takut di jalan, memikir mikir ada orang yang melakukan perkosaan dijalan, bernama Ken Angrok".Tersenyumlah Ken Angrok: "Nah Tuan, anaknda ini akan menghantarkan pulang tuan, anaknda nanti yang akan melawan kalau sampai terdjadi berjumpa dengan orang yang bernama ken Angrok itu, laju sajalah tuan pulang ke Turyantapada, jangan khawatir."Mpu di Tuyantapada itu merasa berhutang budi mendengar kesanggupan Ken Angrok. Setelah datang di Turyantapada, Ken Angrok diajar ilmu kepandaian membuat barang barang emas, lekas pandai, tak kalah kalau kesaktiannya dibandingkan dengan Mpu Palot, selanjutnya Ken Angrok diaku anak oleh Mpu Palot, itulah sebabnya asrama Turyantapada dinamakan daerah Bapa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Demikianlah Ken Angrok mengaku ayah kepada Mpu Palot, karena masih ada kekurangan Mpu Palot itu, maka Ken Angrok disuruhi pergi ke Kebalon oleh Mpu Palot, disuruh menyempurnakan kepandaiaan membuat barang barang emas pada orang tertua di Kebalon, agar dapat menyelesaikan bahan yang ditinggalkan oleh bapak kepala lingkungan. Ken Angrok berangkat menuju ke Kebalon, tidak dipercaya Ken Angrok itu oleh penduduk di Kebalon.Ken Angrok lalu marah : "Semoga ada lobang di tempat orang yang hidup menepi ini,"Ken Angrok menikam, orang lari mengungsi kepada kepala desa tertua di Kebalon, dipanggil berkumpul petapa petapa yang berada di Kebalon semua, para guru Hyang, sampai pada para punta, semuanya keluar, membawa pukul perunggu, bersama sama mengejar dan memukul Ken Angrok dengan pukulan perunggu itu, maksud para petapa itu akan memperlihatkan kehendaknya untuk membunuh Ken Angrok.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Segera mendengar suara dari angkasa: "Jangan kamu bunuh orang itu, wahai para petapa, anak itu adalah anakku, masih jauh tugasnya di alam tengah ini." Demikan1ah suara dari angkasa, terdengar oleh para petapa.Maka ditolong Ken Angrok, bangun seperti sedia kala.Ken Angrok lalu mengenakan kutuk: "Semoga tak ada petapa di sebelah timur Kawi yang tidak sempurna kepandaianya membuat benda-benda emas".Ken Angrok pergi dari Kebalon, mengungsi ke Turyantapada, ke daerah lingkungan Bapa; sempurnalah kepandaiannya tentang emas.Ken Angrok pergi dari lingkungan Bapa menuju ke daerah desa Tugaran, Kepala tertua di Tugaran tidak menaruh belas digangguilah orang Tugaran oleh Ken Angrok, arca penjaga pintu gerbangnya didukung diletakkan di daerah lingkungan Bapa, kemudian dijumpai anak perempuan kepala tertua di Tugaran itu, sedang menanam kacang di sawah kering.Gadis ini lalu ditemani didalam pertemuan oleh Ken Angrok, lama kelamaan tanaman kacang menghasilkan berkampit kampit; inilah sebabnya pula maka kacang Tugaran benihnya mengkilat besar dan gurih.Ia pergi dari Tugaran pulang ke daerah Bapa lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Kata ken Angrok: "Kalau saja kelak menjadi orang, saya akan memberi perak kepada yang dipertuan di daerah Bapa ini. Di kota Daha dikabarkan tentang Ken Angrok, bahwa ia merusuh dan bersembunyi di Turyantapada, dan Daha,Diadakan tindakan untuk melenyapkannya, ia dicari oleh orang orang Daha, pergilah dari daerah Bapa menuju ke gunung Pustaka.Ia pergi dari situ, mengungsi ke Limbehan, kepala tertua di Limbehan menaruh belas kasihanlah dimintai perlindungan oleh Ken Angrok itu, akhirnya Ken Angrok berjiarah ke tempat keramat Rabut Gunung Panitikan.Kepadanya turun petunjuk dewa, disuruh pergi ke Rabut Gunung Lejar pada hari Rebo Wage, minggu Wariga pertama, para dewa bermusyawarah berrapat;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Demikian ini kata seorang nenek kebayan di Panitikan: "Saya akan membantu menyembunyikan kamu, buyung, agar supaya tak ada yang akan tahu, saya akan menyapu di Gunung Lejar pada waktu semua dewa dewa bermusyawarah." Demikian kata nenek kebayan di Panitikan itu.Ken Angrok lari menuju ke Gunung Lejar, hari Rebo Wage, minggu Wariga pertama tiba, ia pergi ke tempat musyawarah.Ia bersembunyi di tempat sampah ditimbuni dengan semak belukar oleh nenek kebayan Panitikan.Lalu berbunyilah suara tujuh nada, guntur, petir, gempa guruh, kilat, taufan, angin ribut, hujan bukan masanya, tak ada selatnya sinar dan cahaya, maka demikian itu ia mendengar suara tak ada hentinya, berdengung dengung bergemuruh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Adapun inti musyawarah para dewa: "Yang rnemperkokoh nusa Jawa, daerah manalah mestinya."Demikianlah kata para dewa, saling mengemukakan pembicaraan: "Siapakah yang pantas menjadi raja di pulau Jawa," demikian pertanyaan para dewa semua.Menjawablah dewa Guru: "Ketahuilah dewa dewa semua, adalah anakku, seorang manusia yang lahir dari orang Pangkur, itulah yang memperkokoh tanah Jawa."Kini keluarlah Ken Angrok dari tempat sampah, dilihat, oleh para dewa; semua dewa menjetujui, ia direstui bernama nobatan Batara Guru, demikian itu pujian dari dewa dewa, yang bersorak sorai riuh rendah. Diberi petunjuklah Ken Angrok agar mengaku ayah kepada seorang brahmana yang bernama Sang Hyang Lohgawe. dia ini baru saja dari Jambudipa, disuruh menemuinya di Taloka. Itulah asal mulanja ada brahmana di sebelah timur Kawi.Pada waktu ia menuju ke Jawa, tidak berperahu. hanya menginjak rumput kekatang tiga potong, setelah mendarat dari air, lalu menuju ke daerah Taloka, dang Hyang Lohgawe berkeliling mencari Ken Angrok.Kata Dang Hyang Lohgawe: "Ada seorang anak, panjang tangannya melampaui lutut, tulis tangan kanannya cakera dan yang kiri sangka, bernana Ken Angrok.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Ia tampak pada waktu aku memuja, ia adalah penjelmaan Dewa Wisnu, pemberitahuannya dahulu di Jambudwipa, demikian: "Wahai Dang Hyang Lohgawe, hentikan kamu memuja arca Wisnu, aku telah tak ada disini, aku telah menjelma pada orang di Jawa, hendaknya kamu mengikuti aku di tempat perjudian."Tak lama kemudian Ken Angrok didapati di tempat perjudian, diamat amati dengan baik baik, betul ia adalah orang yang tampak pada Dang Hyang Lohgawe sewaktu ia memuja.Maka ia ditanyai.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Kata Dang Hyang Lohgawe: "Tentu buyunglah yang bernama Ken Angrok, adapun sebabnya aku tahu kepadamu, karena kamu tampak padaku pada waktu aku memuja".Menjawablah Ken Angrok: "Betul tuan, anaknda bernama Ken Angrok."Dipeluklah ia oleh brahmana itu. Kata Dang Hyang Lohgawe: "Kamu saya aku anak, buyung, kutemani pada waktu kesusahan dan kuasuh kemana saja kamu pergi."Ken Angrok pergi dari Taloka, menuju ke Tumapel, ikut pula brahmana itu.Setelah ia datang di Tumapel, tibalah saat yang sangat tepat, ia sangat ingin menghamba pada akuwu. kepala daerah di Tumapel yang bernama Tunggul Ametung.Dijumpainya dia itu, sedang dihadap oleh hamba hambanya, Kata Tunggul Ametung: "Selamatlah tuanku brahmana, dimana tempat asal tuan, saya baru kali ini melihat tuan."Menjawablah Dang Hyang Lohgawe: Tuan Sang Akuwu, saya baru saja datang dari seberang, saja ini sangat ingin menghamba kepada sang akuwu".Menjawablah Tunggul Ametung: "Nah, senanglah saya, kalau tuan Dang Hyang dapat bertempat tinggal dengan tenteram pada anaknda ini".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Demikianlah kata Tunggul Ametung.Lamalah Ken Angrok menghamba kepada Tunggul Ametung yang berpangkat akuwu di Tumapel itu,Kemudian adalah seorang pujangga, pemeluk agama Budha, menganut aliran Mahayana, bertapa di ladang orang Panawijen, bernama Mpu Purwa.Ia mempunyai seorang anak perempuan tunggal, pada waktu ia belum menjadi pendeta Mahayana.Anak perempuan itu luar biasa cantik moleknja bernama Ken Dedes. Dikabarkan, bahwa ia ayu, tak ada yang menyamai kecantikannya itu, termasyur di sebelah timur Kawi sampai Tumapel.Tunggul Ametung mendengar itu, lalu datang di Panawijen, langsung menuju ke desa Mpu Purwa, bertemu dengan Ken Dedes;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Tunggul Ametung sangat senang melihat gads cantik itu.Kebetulan Mpu Purwa tak ada di pertapaannya, sekarang Ken Dedes sekonyong konyong dilarikan oleh Tunggu1 Ametung.Setelah Mpu Purwa pulang dari bepergian, ia tidak rnenjumpai anaknya, sudah dilarikan oleh Akuwu di Tumapel; ia tidak tahu soal yang sebenarnya, maka Mpu Purwa menjatuhkan serapah yang tidak baik: "Nah, semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam kenikmatan, semoga ia ditusuk keris dan diambil isterinya, demikian juga orang orang di Panawidjen ini, semoga menjadi kering tempat mereka mengambil air, semoga tak keluar air kolamnya ini, dosanya: mereka tak mau memberitahu, bahwa anakku dilarikan orang dengan paksaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Demikian kata Mpu Purwa: ,,Adapun anakku yang menyebabkan gairat dan bercahaya terang, kutukku kepadanya, hanya: semoga ia mendapat keselamatan dan kebahagiaan besar."Demikian kutuk pendeta Mahayana di Panawidjen.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Setelah datang di Tumapel, ken Dedes ditemani seperaduar oleh Tunggul Ametung, Tunggul Ametung tak terhingga cinta kasihnya, baharu saja Ken Dedes menampakkan gejala gejala mengandung, Tunggul Ametung pergi bersenang senang, bercengkerama berserta isterinya ke taman Boboji;Ken Dedes turun dari kereta kebetulan disebabkan karena nasib, tersingkap betisnya, terbuka sampai rahasianya, lalu kelihatan bernyala oleh Ken Angrok, terpesona ia melihat, tambahan pula kecantikannya memang sempurna, tak ada yang menyamai kecantikannya itu, jatuh cintalah Ken Angrok, tak tahu apa yang akan diperbuat.Setelah Tunggul Ametung pulang dari bercengkerama itu, Ken Angrok memberitahu kepada Dang Hyang Lohgawe, berkata: "Bapa Dang Hyang, ada seorang perempuan bernyala rahasianya, tanda perempuan yang bagaimanakah demikian itu, tanda buruk atau tanda baikkah itu".Dang Hyang menjawab: " Siapa itu, buyung".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Kata Ken Angrok: " Bapa, memang ada seorang perempuan, yang kelihatan rahasianya oleh hamba".Kata Dang Hyang: "Jika ada perempuan yang demikian, buyung, perempuan itu namanya: Nawiswari, ia adalah perempuan yang paling utama, buyung, berdosa, jika memperisteri perempuan itu, akan menjadi maharaja."Ke Angrok diam, akhirnya berkata: "Bapa Dang Hyang, perempuan yang bernyala rahasianya itu yalah isteri sang akuwu di Tumapel, jika demikian akuwu, saya akan bunuh dan saya ambil isterinya, tentu ia akan mati, itu kalau tuan mengijinkan."Jawab Dang Hyang: " Ya, tentu matilah, buyung, Tunggul Ametung olehmu, hanya saja tidak pantas memberi ijin itu kepadamu, itu bukan tindakan seorang pendeta, batasnya adalah kehendakmu sendiri."Kata Ken Angrok: "Jika demikian, Bapa, hamba memohon diri kepada tuan."Sang Brahmana menjawab: "Akan kemana kamu buyung?"Ken&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Angrok menjawab: " Hamba pergi ke Karuman, ada seorang penjudi yang mengaku anak kepada hamba bernama Bango Samparan, ia cinta kepada hamba, dialah yang akan hamba mintai pertimbangan, mungkin ia akan menyetujuinya."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Kata Dang Hyang: "Baiklah kalau demikian, kamu jangan tinggal terlalu lama di Karuman, buyung."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Kata Ken Angrok: "Apakah perlunya hamba lama disana."Ken Angrok pergi dari Tumapel, sedatangnya Karuman, bertemu dengan Bango Samparan. "Kamu ini keluar dari mana, lama tidak datang kepadaku, seperti didalam impian saja bertemu dengan kamu ini, lama betul kamu pergi."Ken Angrok menjawab: "Hamba berada di Tumapel, Bapa, menghamba pada sang akuwu. Adapun sebabnya hamba datang kepada tuan, adalah seorang isteri akuwu, turun dari kereta, tersingkap rahasianya, kelihatan bernyala oleh hamba.Ada seorang brahmana yang baru saja datang di Jawa, bernama Dang Hyang Lohgawe, ia mengaku anak kepada hamba, hamba bertanya kepadanya: "Apakah nama seorang perempuan yang menyala rahasianya itu."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Kata Sang Brahmana: "Itu yang disebut seorang perempuan ardana reswari, sungguh baik tanda itu, karena siapa saja yang memperisterinya, akan dapat menjadi maharaja."Bapa Bango, hamba ingin menjadi raja, Tunggul Ametung akan hamba bunuh, isterinya akan hamba ambil, agar supaya anaknda menjadi raja, hamba minta persetujuan Bapa Dang Hyang,Kata Dang Hyang: "Buyung Angrok, tidak dapat seorang brahmana memberi persetujuan kepada orang yang mengambil isteri orang lain, adapun batasnya kehendakmu sendiri."Itulah sebabnya hamba pergi ke Bapa Bango, untuk meminta ijin kepada bapa, sang akuwu akan hamba bunuh dengan rahasia, tentu akuwu mati oleh hamba."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Menjawablah Bango Samparan: "Nah, baiklah kalau demikian, saya memberi ijin, bahwa kamu akan menusuk keris kepada Tunggul Ametung dan mengambil isterinya itu, tetapi hanya saja, buyung Angrok, akuwu itu sakti, mungkin tidak dapat luka, jika kamu tusuk keris yang kurang bertuah.Saya ada seorang teman, seorang pandai keris di Lulumbang, bernama Mpu Gandring, keris buatannya bertuah, tak ada orang sakti terhadap buatannya, tak perlu dua kali ditusukkan, hendaknyalah kamu menyuruh membuat keris kepadanya, jikalau keris ini sudah selesai dengan itulah hendaknya kamu membunuh Tunggul Ametung secara rahasia."Demikian pesan Bango Samparan kepada Ken Angrok.kata Ken Angrok: "Hamba memohon diri, Bapa, akan pergi ke Lulumbang."Ia pergi dari Karuman, lalu ke Lulumbang, bertemu dengan Gandring yang sedang bekerja di tempat membuat keris. Ken Angrok datang lalu bertanya: "Tuankah barangkali yang bernama Gandring itu, hendaknyalah hamba dibuatkan sebilah keris yang dapat selesai didalam waktu lima bulan, akan datang keperluan yang harus hamba lakukan."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;= 03 =&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;Kata Mpu Gandring: "Jangan lima bulan itu, kalau kamu menginginkan yang baik, kira – kira setahun baru selesai, akan baik dan matang tempaannya,"Ken Angrok berkata: "Nah, biar bagaimana mengasahnya, hanya saja, hendaknya selesai didalam lima bulan."Ken Angrok pergi dari Lulumbang, ke Tumapel bertemu dengan Dang Hyang Lohgawe yang bertanya kepada Ken Angrok: "Apakah sebabnya kamu lama di Tumapel itu."Sesudah genap lima bulan, ia ingat kepada perjanjiannya, bahwa ia menyuruh membuatkan keris kepada Mpu Gandring.Pergilah ia ke Lulumbang, bertemu dengan Mpu Gandring yang sedang mengasah dan memotong motong keris pesanan Ken Angrok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Kata Ken Angrok: "Manakah pesanan hamba kepada tuan Gandring."Menjawablah Gandring itu: "Yang sedang saya asah ini, buyung Angrok."Keris diminta untuk dilihat oleh Ken Angrok.Katanya dengan agak marah: "Ah tak ada gunanya aku menyuruh kepada tuan Gandring ini, bukankah belum selesai diasah keris ini, memang celaka, inikah rupanya yang tuan kerjakan selama lima bulan itu."Menjadi panas hati Ken Angrok, akhirnya ditusukkan kepada Gandring keris buatan Gandring itu.Lalu diletakkan pada lumpang batu tempat air asahan, lumpang berbelah menjadi dua, diletakkan pada landasan penempa, juga ini berbelah menjadi dua.Kini Gandring berkata: "Buyung Angrok, kelak kamu akan mati oleh keris itu, anak cucumu akan mati karena keris itu juga, tujuh orang raja akan mati karena keris itu."Sesudah Gandring berkata demikian lalu meninggal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Sekarang Ken Angrok tampak menyesal karena Gandring meninggal itu, kata Ken Angrok: "Kalau aku menjadi orang, semoga kemulianku melimpah, juga kepada anak cucu pandai keris di Lulumbang."Lalu pulanglah Ken Angrok ke Tumapel.Ada seorang kekasih Tunggul Ametung, bernama Kebo Hijo, bersahabat dengan Ken Angrok, cinta mencintai.Pada waktu itu Kebo Hijo melihat bahwa Ken Angrok menyisip keris baru, berhulu kayu cangkring masih berduri, belum diberi perekat, masih kasar, senanglah Kebo Hijo melihat itu.Ia berkata kepada Ken Angrok: " Wahai kakak, saya pinjam keris itu."Diberikan oleh Ken Angrok, terus dipakai oleh Kebo Hijo, karena senang memakai melihatnya itu.Lamalah keris Ken Angrok dipakai oleh Kebo Hijo, tidak orang Tumapel yang tidak pernah melihat Kebo Hijo menyisip keris baru dipinggangnya.Tak lama kemudian keris itu dicuri oleh Ken Angrok dan dapat diambil oleh yang mencuri itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Selanjutnya Ken Angrok pada waktu malam hari pergi kedalam rumah akuwu, saat itu baik, sedang sunyi dan orang orang tidur, kebetulan juga disertai nasib baik , ia menuju ke peraduan Tunggul Ametung, tidak terhalang perjalanannya, ditusuklah Tunggul Ametung oleh Ken Angrok, tembus jantung Tunggul Ametung, mati seketika itu juga. Keris buatan Gandring ditinggalkan dengan sengaja.Sekarang sesudah pagi pagi keris yang tertanam didada Tunggul Ametung diamat amati orang, dan oleh orang yang tahu keris itu dikenal keris Kebo Hijo yang biasa dipakai tiap tiap hari kerja.Kata orang Tumapel semua: "Terangnya Kebo Hijolah yang membunuh Tunggul Ametung dengan secara rahasia, karena memang nyata kerisnya masih tertanam didada sang akuwu di Tumapel.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Kini Kebo Hijo ditangkap oleh keluarga Tunggul Ametung, ditusuk dengan keris buatan Gandring, meninggallah Kebo Hijo.Kebo Hijo mempunyai seorang anak, bernama Mahisa Randi, sedih karena ayahnya meninggal, Ken Angrok menaruh belas kasihan kepadanya, kemana mana anak ini dibawa, karena Ken Angrok luar biasa kasih sayangnya terhadap Mahisa Randi.Selanjutnya Dewa memang telah menghendaki, bahwasanya Ken Angrok memang sungguh sungguh menjadi jodoh Ken Dedes, lamalah sudah mereka saling hendak menghendaki, tak ada orang Tumapel yang berani membicarakan semua tingkah laku Ken Angrok, demikian juga semua keluarga Tunggul Ametung diam, tak ada yang berani mengucap apa apa, akhirnya Ken Angrok kawin dengan Ken Dedes.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Pada waktu ditinggalkan oleh Tunggul Ametung, dia ini telah mengandung tiga bulan, lalu dicampuri oleh Ken Angrok.Ken Angrok dan Ken Dedes sangat cinta mencintai. Telah lama perkawinannya.Setelah genap bulannya Ken Dedes melahirkan seorang anak laki laki, lahir dari ayah Tunggul Ametung, diberi nama Sang Anusapati dan nama kepanjangannya kepanjiannya Sang Apanji Anengah.Setelah lama perkawinan Ken Angrok dan Ken Dedes itu, maka Ken Dedes dari Ken Angrok melahirkan anak laki laki, bernama Mahisa Wonga Teleng, dan adik Mahisa Wonga Teleng bernama Sang Apanji Saprang, adik panji Saprang juga laki laki bernama Agnibaya, adik Agnibaya perempuan bernama Dewi Rimbu, Ken Angrok dan Ken Dedes mempunyai empat orang anak.Ken Angrok mempunyai isteri muda bernama Ken Umang, ia melahirkan anak laki laki bernama panji Tohjaya, adik panji Tohjaya, bernama Twan Wregola, adik Twan Wregola perempuan bernama Dewi Rambi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Banyaknya anak semua ada 9 orang, laki laki 7 orang, perempuan 2 orang.Sudah dikuasailah sebelah timur Kawi, bahkan seluruh daerah sebelah timur Kawi itu, semua takut terhadap Ken Angrok, mulailah Ken Angrok menampakkan keinginannya untuk menjadi raja, orang orang Tumapel semua senang, kalau Ken Angrok menjadi raja itu.Kebetulan disertai kehendak nasib, raja Daha, yalah raja Dandhang Gendis, berkata kepada para bujangga yang berada di seluruh wilayah Daha, katanya: "Wahai, tuan tuan bujangga pemeluk agama Siwa dan agama Budha, apakah sebabnya tuan tuan tidak menyembah kepada kami, bukanlah kami ini semata mata Batara Guru."Menjawablah para bujangga di seluruh daerah negara Daha: "Tuanku, semenjak jaman dahulu kala tak ada bujangga yang menyembah raja." demikianlah kata bujangga semua.Kata Raja Dandhang Gendis: "Nah, jika semenjak dahulu kala tak ada yang menyembah, sekarang ini hendaknyalah kami tuan sembah, jika tuan tuan tidak tahu kesaktian kami, sekarang akan kami beri buktinya."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Kini Raja Dandhang Gendis mendirikan tombak, batang tombak itu dipancangkan kedalam tanah, ia duduk di ujung tombak, seraya berkata: "Nah, tuan tuan bujangga, lihatlah kesaktian kami."Ia tampak berlengan empat, bermata tiga, semata mata Batara Guru perwujudannya, para bujangga di seluruh daerah Daha diperintahkan menyembah, semua tidak ada yang mau, bahkan menentang dan mencari perlindungan ke Tumapel, menghamba kepada Ken Angrok.Itulah asal mulanya Tumapel tak mau tahu negara Daha.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Tak lama sesudah itu Ken Angrok direstui menjadi raja di Tumapel, negaranya bernama Singasari, nama nobatannya Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, disaksikan oleh para bujangga pemeluk agama Siwa dan Budha yang berasal dari Daha, terutama Dang Hyang Lohgawe, ia diangkat menjadi pendeta istana, adapun mereka yang menaruh belas kasihan kepada Ken Angrok, dahulu sewaktu ia sedang menderita, semua dipanggil, diberi perlindungan dan diberi belas balasan atas budi jasanya, misalnya Bango Samparan, tidak perlu dikatakan tentang kepala lingkungan Turyantapada, dan anak anak pandai besi Lulumbang yang bernama Mpu Gandring, seratus pandai besi di Lulumbang itu diberi hak istimewa di dalam lingkungan batas jejak bajak beliung cangkulnya.Adapun anak Kebo Hijo disamakan haknya dengan anak Mpu Gandring.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Anak laki laki Dang Hyang Lohgawe, bernama Wangbang Sadang, lahir dari ibu pemeluk agama Wisnu, dikawinkan dengan anak Bapa Bango yang bernama Cucu Puranti, demikianlah inti keutamaan Sang Amurwabumi. Sangat berhasillah negara Singasari, sempurna tak ada halangan.Telah lama terdengar berita, bahwa Ken Angrok sudah menjadi raja, diberitahulah raja Dandhang Gendis, bahwa Ken Angrok bermaksud akan menyerang Daha.Kata Raja Dandhang Gendis: "Siapakah yang akan mengalahkan negara kami ini, barangkali baru kalah, kalau Batara Guru turun dari angkasa, mungkin baru kalah."Diberi tahulah Ken Angrok, bahwa raja Dandhang Gedis berkata demikian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Kata Sang Amurwabumi: "Wahai, para bujangga pemeluk Siwa dan Budha, restuilah kami mengambil nama nobatan Batara Guru."Demikianlah asal mulanya ia bernama nobatan Batara Guru, direstui oleh bujangga brahmana dan resi.Selanjutnya ia lalu pergi menyerang Daha. Raja Dandhang Gendis mendengar, bahwa Sang Amurwabumi di Tumapel datang menyerang Daha, Dandhang Gendis berkata: "Kami akan kalah, karena Ken Angrok sedang dilindungi Dewa."Sekarang tentara Tumapel bertempur melawan tentara Daha, berperang disebelah utara Ganter, bertemu sama sama berani, bunuh membunuh, terdesaklah tentara Daha.Adik Raja Dandhang Gendis gugur sebagai pahlawan, ia bernama Mahisa Walungan, bersama sama dengan menterinya yang perwira, bernama Gubar Baleman.Adapun sebabnya itu gugur, karena diserang bersama sama oleh tentara Tumapel, yang berperang laksana banjir dari gunung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Sekarang tentara Daha terpaksa lari, karena yang menjadi inti kekuatan perang telah kalah. Maka tentara Daha bubar seperti lebah, lari terbirit birit meninggalkan musuh seperti kambing, mencabut semua payung payungnya, tak ada yang mengadakan perlawanan lagi.Maka Raja Dandhang Gendis mundur dari pertempuran, mengungsi ke alam dewa, bergantung gantung di angkasa, beserta dengan kuda, pengiring kuda, pembawa payung, dan pembawa tempat sirih, tempat air minum, tikar, semuanya naik ke angkasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Sungguh kalah Daha oleh Ken Angrok.Dan adik adik Sang Dandhang Gendis, yalah: Dewi Amisam, Dewi Hasin, dan Dewi Paja diberi tahu, bahwa raja Dandhang Gendis kalah berperang, dan terdengar, ia telah di alam dewa, bergantung gantung di angkasa, maka tuan dewi ketiga tiganya itu menghilang bersama sama dengan istananya juga.Sesudah Ken Angrok menang terhadap musuh, lalu pulang ke Tumapel, dikuasailah tanah Jawa olehnya, ia sebagai raja telah berhasil mengalahkan Daha pada tahun saka : 1144.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Lama kelamaan ada berita, bahwa sang Anusapati, anak tunggal Tunggul Ametung bertanya tanya kepada pengasuhnya."Hamba takut terhadap ayah tuan", demikian kata pengasuh itu: "Lebih baik tuan berbicara dengan ibu tuan".Karena tidak mendapat keterangan, Nusapati bertanya kepada ibunya: "Ibu, hamba bertanya kepada tuan, bagaimanakah jelasnya ini?" Kalau ayah melihat hamba, berbeda pandangannya dengan kalau ia melihat anak anak ibu muda, semakin berbeda pandangan ayah itu."Sungguh sudah datang saat Sang Amurwabumi. Jawab Ken Dedes: "Rupa rupanya telah ada rasa tidak percaya, nah, kalau buyung ingin tahu, ayahmu itu bernama Tunggul Ametung, pada waktu ia meninggal, saya telah mengandung tiga bulan, lalu saya diambil oleh Sang Amurwabumi.:Kata Nusapati: "Jadi terangnya, ibu, Sang Amurwabumi itu bukan ayah hamba, lalu bagaimana tentang meninggalnya ayah itu?" "Sang Amurwabumi buyung yang membunuhnya."Diamlah Ken Dedes, tampak merasa membuat kesalahan karena memberi tahu soal yang sebenarnya kepada anaknya.Kata Nusapati: "Ibu, ayah mempunyai keris buatan Gandring. itu hamba pinta, ibu."Diberikan oleh Ken Dedes. Sang Anusapati memohon diri pulang ke tempat tinggalnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Adalah seorang hambanya berpangkat pengalasan di Batil, dipanggil oleh Nusapati, disuruh membunuh Ken Angrok, diberi keris buatan Gandring, agar supaya dipakainya untuk membunuh Sang Amurwabumi, orang di Batil itu disanggupi akan diberi upah oleh Nusapati.Berangkatlah orang Batil masuk kedalam istana, dijumpai Sang Amurwabumi sedang bersantap, ditusuk dengan segera oleh orang Batil. Waktu ia dicidera, yalah: Pada hari Kamis Pon, minggu Landhep, saat ia sedang makan, pada waktu senjakala, matahari telah terbenam, orang telah menyiapkan pelita pada tempatnya.Sesudah Sang Amurwabumi mati, maka larilah orang Batil, mencari perlindungan pada Sang Anusapati, kata orang Batil: "Sudah wafatlah ayah tuan oleh hamba." Segera orang Batil ditusuk oleh Nusapati.Kata orang Tumapel: "Ah, Batara diamuk oleh pengalasan di Batil, Sang Amurwabumi wafat pada tahun saka 1168, dicandikan di Kagenengan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;= 04 =&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;II. Sesudah demikian, sang Anusapati mengganti menjadi raja, ia menjadi raja pada tahun Saka 1170.Lama kelamaan diberitakan kepada Raden Tohjaya, anak Ken Angrok dari isteri muda, sehingga ia mendengar segala tindakan Anusapati, yang mengupahkan pembunuhan Sang Amurwabumi kepada orang Batil.Sang Apanji Tohjaya tidak senang tentang kematian ayahnya itu, meikir mikir mencari cara untuk membalas, agar supaya ia dapat membunuh Anusapati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Anusapati tahu, bahwasanya ia sedang direncana oleh Panji Tohjaya, berhati hatilah Sang Anusapati, tempat tidurnya dikelilingi kolam, dan pintunya selalu dijaga orang, sentosa dan teratur.Setelah lama kemudian Sang Apanji Tohjaya datang menghadap dengan membawa ayam jantan pada Batara Anuspati.Kata Apanji Tohjaya: "Kakak, ada keris ayah buatan Gandring, itu hamba pinta dari tuan."Sungguh sudah tiba saat Batara Anuspati. Diberikan keris buatan Gandring oleh Sang Anusapati, diterima oleh Apanji Tohjaya, disisipkan dipinggangnya, lalu kerisnya yang dipakai semula, diberikan kepada hambanya.Kata Apanji Tohjaya: "Baiklah, kakak mari kita menyiapkan ayam jantan untuk segera kita ajukan di gelanggang."Menjawablah Sang Adipati: "Baiklah, adik."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Selanjutnya ia menyuruh kepada hamba pemelihara ayam mengambil ayam jantan, kata Anusapati: "Nah, adik mari mari kita sabung segera.", "Baiklah" kata Apanji Tohjaya.Mereka bersama sama memasang taji sendiri – sendiri, telah sebanding, Sang Anusapati asyik sekali.Sungguh telah datang saat berakhirnya, lupa diri, karena selalu asyik menyabung ayamnya, ditusuk keris oleh Apanji Tohjaya.Sang Anusapati wafat pada tahun Saka 1171, dicandikan di Kidal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;III. Apanji Tohjaya menjadi raja di Tumapel.Sang Anusapati mempunyai seorang anak laki laki bernama Ranggawuni, hubungan keluarganya dengan Apanji Tohjaya adalah kemenakan.Mahisa Wonga Teleng, saudara Apanji Tohjaya, sama ayah lain ibu, mempunyai anak laku laki, yalah: Mahisa Campaka, hubungan keluarganya dengan Apanji Tohjaya adalah kemenakan juga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Pada waktu Apanji Tohjaya duduk diatas tahta, disaksikan oleh orang banyak, dihadap oleh menteri menteri, semua terutama Pranaraja, Ranggawuni beserta Kebo Campak juga menghadap.Kata Apanji Tohjaya: "Wahai, menteri menteri semua, terutama Pranaraja, lihatlah kemenakanku ini, luar biasa bagus dan tampan badannya. Bagaimana rupa musuhku diluar Tumapel ini, kalau dibandingkan dengan orang dua itu, bagaimanakah mereka, wahai Pranaraja."Pranaraja menjawab sambil menyembah: "Betul tuanku, seperti titah tuanku itu, bagus rupanya dan sama sama berani mereka berdua, hanya saja tuanku, mereka dapat diumpamakan sebagai bisul di pusat perut tak urung akan menyebabkan mati akhirnya."Paduka batara itu lalu diam, sembah Pranaraja makin terasa, Apanji Tohjaya menjadi marah, lalu ia memanggil Lembu Ampal, diberi perintah untuk melenyapkan kedua bangsawan itu.Kata Apanji Tohjaya kepada Lembu Ampal: "Jika kamu tidak berhasil melenyapkan dua orang kesatriya itu, kamulah yang akan kulenyapkan."Pada waktu Apanji Tohjaya, memberi perintah kepada Lembu Ampal melenyapkan dua bangsawan itu, ada seorang brahmana yang sedang melakukan upacara agama sebagai pendeta istana untuk Apanji Tohjaya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Dang Hyang itu mendengar, bahwa kedua bangsawan itu disuruh melenyapkan. Sang Brahmana menaruh belas kasihan kepada dua bangsawan, lalu memberi tahu: "Lembu Ampal diberi perintah untuk melenyapkan tuan berdua, kalau tuan kalian dapat lepas dari Lembu Ampal ini, maka Lembu Ampallah yang akan dilenyapkan oleh Seri Maharaja."Kedua bangsawan itu berkata: "Wahai Dang Hyang, bukanlah kami tidak berdosa."Sang Brahmana menjawab: "Lebih baik tuan bersembunyi dahulu."Karena masih dibimbangkan, kalau kalau brahmana itu bohong, maka kedua bangsawan itu pergi ke Apanji Patipati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Kata bangsawan itu: "Panji Patipati, kami bersembunyi di dalam rumahmu, kami mengira, bahwa kami akan dilenyapkan oleh Batara, kalau memang akan terjadi kami dilenyapkan itu, kami tidak ada dosa."Setelah itu maka Apanji Patipati mencoba mendengar dengarkan: "Tuan, memang betul, tuan akan dilenyapkan, Lembu Ampal lah yang mendapat tugas."Keduanya makin baik cara bersembunyi, dicari, kedua duanya tak dapat diketemukan.Didengar dengarkan, kemana gerangan mereka pergi, tak juga dapat terdengar.Maka Lembu Ampal didakwa bersekutu dengan kedua bangsawan itu oleh Batara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Sekarang Lembu Ampal ditindak untuk dilenyapkan, larilah ia, bersembunyi di dalam rumah tetangga Apanji Patipati.Lembu Ampal mendengar, bahwa kedua bangsawan berada di tempat tinggal Apanji Pati Pati.Lembu Ampal pergi menghadap kedua bangsawan, kata Lembu Ampal kepada kedua bangsawan itu: "Hamba berlindung kepada tuan hamba, dosa hamba: disuruh melenyapkan tuan oleh Batara. Sekarang hamba minta disumpah, kalau tuan tidak percaya, agar supaya hamba dapat menghamba paduka tuan dengan tenteram."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Setelah disumpah dua hari kemudian Lembu Ampal menghadap kepada kedua bangsawan itu: "Bagaimanakah akhirnya tuan, tak ada habis habisnya terus menerus bersembunyi ini, sebaiknya hamba akan menusuk orang Rajasa, nanti kalau mereka sedang pergi kesungai."Pada waktu sore Lembu Ampal menusuk orang Rajasa, ketika orang berteriak, ia lari kepada orang Sinelir.Kata orang Rajasa: "Orang Sinelir menusuk orang Rajasa. Kata orang Sinelir: "Orang Rajasa menusuk orang Sinelir."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Akhirnya orang orang Rajasa dan orang orang Sinelir itu berkelahi, bunuh membunuh sangat ramainya, dipisah orang dari istana, tidak mau memperhatikan. Apanji Tohjaya marah, dari kedua golongan ada yang dihukum mati.Lembu Ampal mendengar, bahwa dari kedua belah pihak ada yang dilenyapkan, maka Lembu Ampal pergi ke Orang Rajasa.Kata Lembu Ampal: "Kalau kamu ada yang akan dilenyapkan hendaknyalah kamu mengungsi kepada kedua bangsawan, karena kedua bangsawan itu masih ada."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Orang orang Rajasa menyatakan kesanggupannya: "Nah, bawalah kami hamba hamba ini menghadapnya, wahai Lembu Ampal."Maka ketua orang Rajasa dibawa menghadap kepada kedua bangsawan.Kata orang Rajasa itu: "Tuanku, hendaknyalah tuan lindungi hamba hamba Rajasa ini, apa saja yang menjadi tuan titah, hendaknyalah hamba tuan sumpah, kalau kalau tidak sungguh sungguh kami menghamba ini, kalau tidak jujur penghambaan kami ini."Demikian pula orang Sinelir, dipanggilah ketuanya, sama kesanggupannya dengan orang Rajasa, selanjutnya kedua belah pihak telah didamaikan dan telah disumpah semua, lalu dipesan: "Nanti sore hendaknya kamu datang kemari, dan bawalah temanmu masing masing, hendaknyalah kamu memberontak meluka lukai di dalam istana."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Orang Sinelir dan orang Rajasa bersama sama memohon diri. Setelah sore hari orang orang dari kedua belah pihak datang membawa teman temannya, bersama sama menghadap kepada kedua bangsawan, mereka keduanya saling mengucap selamat datang, lalu berangkat menyerbu kedalam istana.Apanji Tohjaya sangat terperanjat, lari terpisah, sekali gus kena tombak. Sesudah huru hara berhenti, ia dicari oleh hamba hambanya, diusung dan dibawa lari ke Katanglumbang. Orang yang mengusung lepas cawatnya, tampak belakangnya.Kata Apanji Tohjaya kepada orang yang memikul itu: "Perbaikilah cawatmu, karena tampak belakangmu."Adapun sebabnya ia tidak lama menjadi raja itu, karena pantat itu.Setelah datang di Lumbangkatang, wafatlah ia, lalu dicandikan di Katanglumbang, ia wafat pada tahun Saka 1172.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;IV. Kemudian Ranggawuni menjadi raja, ia dengan Mahisa Campaka dapat diumpamakan seperti dua ular naga didalam satu liang.Ranggawuni bernama nobatan Wisnuwardana, demikanlah namanya sebagai raja, Mahisa Campaka menjadi Ratu Angabhaya, bernama nobatan Batara Narasinga. Sangat rukunlah mereka, tak pernah berpisah.Batara Wisnuwardana mendirikan benteng di Canggu sebelah utara pada tahun Saka 1193.Ia berangkat menyerang Mahibit, untuk melenyapkan Sang Lingganing Pati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Adapun sebabnya Mahibit kalah, karena kemasukkan orang yang bernama Mahisa Bungalan.Sri Ranggawuni menjadi raja lamanya 14 tahun, ia wafat pada tahun 1194, dicandikan di Jajagu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Mahisa Campaka wafat, dicandikan di Kumeper, sebagian abunya dicandikan di Wudi Kuncir.V. Sri Ranggawuni meninggalkan seorang anak laki laki, bernama Sri Kertanegara, Mahisa Campaka meninggalkan seorang anak laki laki juga, bernama Raden Wijaya. Kertanegara menjadi Raja, bernama nobatan Batara Siwabuda. Adalah seorang hambanya, keturunan orang tertua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa rupanya tidak dipercaya, dijatuhkan, disuruh menjadi Adipati di Sungeneb, bertempat tinggal di Madura sebelah timur.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Ada Patihnya, pada waktu ia baru saja naik keatas tahta kerajaan, bernama Mpu Raganata, ini selalu memberi nasehat untuk keselamatan raja, ia tidak dihiraukan oleh Sri Kertanegara, karenanya itu Mpu Raganata lalu meletakkan jabatan tak lagi menjadi Patih, diganti oleh Kebo Tengah Sang Apanji Aragani.Mpu Raganata lalu menjadi Adiyaksa di Tumapel.Sri Kertanegara pada waktu memerintah, melenyapkan seorang kelana bernama Baya. Sesudah kelana itu mati, ia memberi perintah kepada hamba rakyatnya, untuk pergi menyerang Melayu.Apanji Aragani menghantarkan, sampai di Tuban ia kembali, sedatangnya di Tumapel Sang Apanji Aragani mempersembahkan makanan tiap tiap hari, raja Kertanegara bersenang senang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Ada perselisihannya dengan raja Jaya Katong, raja di Daha, ini menjadi musuh raja Kertanegara, karena lengah terhadap usaha musuh yang sedang mencari kesempatan dan ketepatan waktu, ia tidak memikir kesalahannya.Banyak Wide berumur 40 tahun pada peristiwa penyerangan Melayu itu, ia berteman dengan raja Jaya Katong, Banyak Wide yang bergelar Arya Wiraraja itu dari Madura, mengadakan hubungan dan berkirim utusan.Demikian juga raja Jaya Katong berkirim utusan ke Madura. Wiraraja berkirim surat kepada raja Jaya Katong, bunyi surat: "Tuanku, patik baginda bersembah kepada paduka raja, jika paduka raja bermaksud akan berburu di tanah lapang lama, hendaknyalah paduka raja sekarang pergi berburu, ketepatan dan kesempatan adalah baik sekali, tak ada bahaya, tak ada harimau, tak ada banteng, dan ularnya, durinya, ada harimau, tetapi tak bergigi."Patih tua Raganata itu yang dinamakan harimau tak bergigi, karena sudah tua.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Sekarang raja Jaya Katong berangkat menyerang Tumapel. Tentaranya yang datang dari sebelah utara Tumapel terdiri dari orang orang yang tidak baik, bendera dan bunyi bunyian penuh, rusaklah daerah sebelah utara Tumapel, mereka yang melawan banyak yang menderita luka. Tentara Daha yang melalui jalan utara itu berhenti di Memeling.Batara Siwa Buda senantiasa minum minuman keras, diberi tahu bahwa diserang dari Daha, ia tidak percaya, selalu mengucapkan kata: "Bagaimana dapat raja Jaya Katong demikian terhadap kami, bukanlah ia telah baik dengan kami."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Setelah orang membawa yang menderita luka, barulah ia percaya.Sekarang Raden Wijaya ditunjuk untuk berperang melawan tentara yang datang dari sebelah utara Tumapel, disertai oleh para arya terkemuka: Banyak Kapuk, Rangga Lawe, Pedang Sora, Dangdi Gajah Pangon, anak Wiraraja yang bernama Nambi, Peteng dan Wirot, semua prajurit baik, melawan tentara Daha di bagian utara itu, dikejar diburu oleh Raden Wijaya.Kemudian turunlah tentara besar besar dari Daha yang datang dari tepi sungai Aksa, menuju ke Lawor, mereka ini tak diperbolehkan membikin gaduh, tidak membawa bendera, apalagi bunyi bunyian, sedatangnya di Sidabawana langsung menuju Singasari.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Yang menjadi prajurit utama dari tentara Daha sebelah selatan ini, yalah: Patih Daha Kebo Mundarang, Pudot dan Bowong.Ketika Batara Siwa Buda sedang minum minuman keras bersama sama dengan patih, maka pada waktu itu ia dikalahkan, semua gugur, Kebo Tengah yang melakukan pembalasan, meninggal di Manguntur.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;= 06 =&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;VII. Sekarang Raden Wijaya menjadi raja pada tahun Saka: Rasa Rupa Dua Bulan atau 1216. Kemudian ia mempunyai seorang anak laki laki dari Dara Pethak, nama kesatriyannya: Raden Kalagemet. Adapun dua orang anak perempuan Batara Siwa Buda, yang dibayang bayangkan kepada orang Tatar, keduanya itu juga dikawin oleh Raden Wijaya, yang tua menjadi ratu di Kahuripan, yang muda menjadi ratu di Daha.Nama nobatan Raden Wijaya pada waktu menjadi raja: Sri Kertarajasa.Didalam tahun pemerintahannya ia mendapat penyakit bisul berbengkak.Ia wafat di Antapura, wafat pada tahun 1257.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;VIII. Raden Kalagemet menggantikannya menjadi raja, nama nobatannya: Batara Jayanagara. Sri Siwa Buda dicandikan di Tumapel, nama resmi candi: Purwa Patapan. Berdiri candi itu berselat 17 tahun dengan peristiwa Ranggalawe.Ranggalawe akan dijadikan patih, tetapi urung, itulah sebabnya maka ia mengadakan pemberontakan di Tuban, dan mengadakan perserikatan dengan kawan kawannya.Telah terjadi orang orang Tuban di gunung sebelah utara dimasukkan didalam perserikatannya , mereka itu semua menaruh perhatian kepada Ranggalawe.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Nama orang orang yang menyetujuinya, yalah: Panji Marajaya, Ra Jaran Waha, Ra Arya Sidi, Ra Lintang, Ra Tosan, Ra Galatik, Ra Tati, mereka itu teman teman Ranggalawe pada waktu berontak.Adapun sebabnya ia pergi dari Majapahit itu, merebut kedudukan, Mahapati menjalankan fitnah dengan bahan kata kata Ranggalawe: "Jangan banyak bicara, didalam kitab Partayadnya ada tempat untuk penakut penakut."Setelah terdengar, bahwa Ranggalawe berontak, Mahapatih-lah yang memberi memberi tahu hal itu, maka raja Jayanagara marah, semua teman teman Ranggalawe didalam pemberontakan itu mati, hanya Ra Gelatik yang masih hidup, karena ia disuruh berbalik hati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Peristiwa Ranggalawe itu pada tahun saka: Kuda Bumi Sayap Orang, atau 1217.Wiraraja memohon diri untuk bertempat tinggal di Lamajang, yang luasnya tiga daerah juru, karena Raden Wijaya telah berjanji akan membagi dua Pulau Jawa, dan akan menganugerahkan daerah lembah Lumajang sebelah selatan dan utara beserta daerah tiga juru.Telah lama itu dinikmati oleh Wiraraja, Nambi masih menjadi patih, Sora menjadi Demung dan Tipar menjadi Tumenggung.Tumenggung pada waktu itu lebih rendah dari pada Demung.Wiraraja tidak kembali ke Majapahit, ia tidak mau menghamba. Setelah berselat tiga tahun dari peristiwa Ranggalawe maka terjadilah peristiwa Sora.Sora difitnah oleh Mahapati, dan Sora ini dapat dilenyapkan, dibunuh oleh Kebo Mundarang, pada tahun saka: Baba Tangan Orang atau 1222.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Juga Nambi difitnah oleh Mahapati, jasa jasa perangnya tidak diperhatikan, pada waktu ia melihat saat yang tepat dan baik, ia memohon diri untuk meninjau Wiraraja yang menderita sakit. Sri Jayanagara memberi ijin, hanya saja tidak diperkenankan pergi lama lama.Nambi tak datang kembali, menetap di Lembah, mendirikan benteng, menyiapkan tentara.Wiraraja meninggal dunia.Sri Jayanagara menjadi raja, lamanya dua tahun.Ada peristiwa gunung meletus, yalah gunung Lungge pada tahun saka: Api Api Tangan Satu atau : 1233.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Selanjutnya terjadi peristiwa Juru Demung, berselat dua tahun dengan peristiwa Sora.Juru Demung mati pada tahun saka: Keinginan Sifat Sayap Orang, atau: 1235.Lalu terjadi peristiwa Gajah Biru pada tahun saka: Rasa Sifat Sayap Orang atau: 1236.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Selanjutnya terjadi peristiwa Mandana, Jayanagara berangkat sendiri untuk melenyapkan orang orang Mandana.Sesudah itu ia pergi ke timur untuk melenyapkan Nambi.Nambi diberi tahu, bahwa Juru Demung sudah mati, demikian pula patih pengasuh, Tumenggung Jaran Lejong, menteri menteri pemberani semua sudah mati, gugur di medan perang.Nambi berkata: "Kakak Samara, Ki Derpana, Ki Teguh, Paman Jaran Bangkal, Ki Wirot, Ra Windan, Ra Jangkung, jika dibanding banding, orang orang disebelah timur ini, tak akan kalah, apalagi setelah mereka sudah rusak itu, siapa lagi yang menjadi teras orang orang sebelah barat, apakah Jabung Terewes, Lembu Peteng atau Ikal Ikalan Bang, saja tak akan gentar, biar selaksa semacam itu didepan dan dibelakang, akan kuhadapi pula seperti perang di Bubat."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Setelah orang orang Majapahit datang, dan Nambi pergi ke selatan, maka Ganding rusak, piyagamnya dapat dirampas, Nambi dikejar kejar dan didesak, Derpana, Samara, Wirot Made, Windan, Jangkung mulai bertindak, terutama Nambi, ia mengadakan serangan pertama tama. seakan akan tercabutlah orang orang Majapahit, tak ada yang mengadakan perlawanan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Jabung Terewes, Lembu Peteng dan Ikal Ikalan Bang lalu bersama sama menyerang Nambi, Nambi gugur, demikian pula teman teman Nambi yang menyerang tadi gugur semua, patahlah perlawanan di Rabut Buhayabang, orang orang disebelah timur itu mencabut payung kebesarannya, daerah Lumajang kalah pada tahun saka: Ular Menggigit Bulan, atau: 1238.Peristiwa Wagal dan Mandana itu bersamaan waktunya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Berselat dua tahun Peristiwa Wagal dengan peristiwa Lasem. Semi dibunuh, ia mati dibawah pohon kapuk, pada tahun saka: Bukan Kitab Suci Sayap Orang, atau: 1240.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Sesudah itu terjadi peristiwa Ra Kuti. Ada dua golongan Darmaputra Raja, mereka ini dahulunya adalah pejabat pejabat yang diberi anugerah raja, banyaknya tujuh orang, bernama: Kuti, Ra Pangsa, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Tanca dan Ra Banyak.Ra Kuti dan Ra Semi dibunuh, karena difitnah oleh Mahapati, akhirnya Mahapati diketahui melakukan fitnahan, ia ditangkap, dan dibunuh seperti seekor babi hutan, dosanya akan pergi sendiri ke Bedander. Ia pergi pada waktu malam, tak ada orang tahu, hanya orang orang Bayangkara mengiringkannya, semua yang kebetulan mendapat giliran menjaga pada waktu raja pergi itu, banyaknya 15 orang, pada waktu itu Gajah Mada menjadi Kepala Bayangkara dan kebetulan juga sedang menerima giliran menjaga, itulah sebabnya ia mengiring raja pada waktu raja pergi dengan menyamar itu. Lamalah raja tinggal di Bedander.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Adalah seorang pejabat, ia memohon ijin akan pulang kerumahnya, tidak diperbolehkan oleh Gajah Mada, karena jumlah orang yang mengiring raja hanya sedikit, ia memaksa akan pulang, lalu ditusuk oleh Gajah Mada, maksud ia menusuk itu, yalah: "jangan jangan ia nanti memberi tahu, bahwa raja bertempat tinggal dirumah kepala desa Bedander, sehingga Ra Kuti, sehingga Ra Kuti dapat mengetahuinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Kira kira lima hari kemudiannya Gajah Mada memohon ijin untuk pergi ke Majapahit.Sedatangnya di Majapahit, Gajah Mada ditanyai oleh para Amanca Negara tentang tempat raja, ia mengatakan, bahwa raja telah diambil oleh teman teman Kuti.Orang orang yang diberi tahu semuanya menangis, Gajah Mada berkata: "Janganlah menangis, apakah tuan tuan tidak ingin menghamba kepada Ra Kuti."Menjawablah yang diajak berbicara itu: "Apakah kata tuan itu, Ra Kuti bukan tuan kami."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Akhirnya Gajah Mada memberi tahu bahwa raja berada di Bedander, Gajah Mada lalu mengadakan persetujuan dengan para menteri, mereka semua sanggup membunuh Ra Kuti, dan Ra Kuti mati dibunuh.Raja pulang dari Bedander, kepala desa ditinggalkan, selanjutnya ia menjadi orang yang terkenal pada waktu itu.Sesudah raja pulang, maka Gajah Mada tak lagi menjadi Kepala orang orang Bayangkara, dua bulan lamanya ia mendapat cuti dibebaskan dari kewajiban, ia dipindah menjadi Patih di Kahuripan, dua tahun lamanya menjadi patih itu.Sang Arya Tilam, patih di Daha meninggal dunia, Gajah Mada menggantinya, ditempatkan menjadi patih di Daha, patih Mangkubumi Sang Arya Tadah menyetujui, ialah yang menyokong Gajah Mada menjadi patih di Daha itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Raja Jayanagara mempunyai dua orang saudara perempuan, lain ibu, mereka tak diperbolehkan kawin dengan orang lain, akan diambil sendiri.Pada waktu itu tak ada kesatriya di Majapahit, tiap tiap kesatriya yang tampak lalu dilenyapkan, jangan jangan ada yang mengingini adiknya itu, itulah sebabnya maka kesatriya kesatriya bersembunyi tidak keluar.Isteri Tanca menyiarkan berita, bahwa ia diperlakukan tidak baik oleh raja.Tanca dituntut oleh Gajah Mada. Kebetulan raja Jayanegara menderita sakit bengkak, tak dapat pergi keluar, Tanca mendapat perintah untuk melakukan pembedahan dengan taji, ia menghadap didekat tempat tidur. Raja ditusuk oleh Tanca dengan taji sekali dua kali, tidak makan tajinya, lalu raja diminta agar supaya meletakkan jimatnya, ia meletakkan jimatnya didekat tempat tidur, ditusuk oleh Tanca, tajinya makan, diteruskan ditusuk oleh Tanca, sehingga mati ditempat tidur itu.Tanca segera dibunuh oleh Gajah Mada, matilah Tanca.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Berselat sembilan tahunlah peristiwa Kuti dan peristiwa Tanca itu, pada tahun saka: Abu Unsur memukul Raja atau: 1250.Raja dicandikan di Kapopongan, nama resmi candi itu: Srenggapura, arcanya di Antawulan.Pada waktu itu para kesatriya menginjakkan kaki di Majapahit lagi.Raden Cakradara dipilih pada sayembara menjadi suami seri ratu di Kahuripan.Raden Kuda Merta kawin dengan seri ratu di Daha.Raden Kuda Merta menjadi raja di Wengker, Sri Paduka Prameswara di Pamotan, nama nobatannya: Sri Wijayarajasa.Adalah anak Raden Cakradara, menjadi raja di Tumapel, nama nobatannya Sri Kertawardana.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;= 07 =&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;IX. Sri Ratu di kahuripan menjadi raja pada tahun saka: Sunyi Keinginan Sayap Bumi, atau: 1250.Seri Ratu di Kahuripan itu mempunyai tiga orang anak, yalah: Batara Prabu, panggilannya Seri Hayam Wuruk, Raden tetep, sebutannya jika ia bermain kedok: Dalang Tritaraju, jika ia bermain wayang dan melawak: Gagak Ketawang, di kalangan pemeluk agama Siwa: Mpu Janeswara, nama nobatannya Seri Rajasa Nagara, sebagai Prabu: Seri Baginda Sang Hyang Wekasing Suka.Adiknya perempuan kawin dengan raden Larang, yang juga disebut Baginda di Matahun, tidak mempunyai anak, adiknya yang bungsu, yalah: Seri ratu di Pajang, kawin dengan Raden Sumana, yang juga disebut Baginda di Paguhan, ini adalah saudara sepupu Seri Ratu di Kahuripan. Isteri Baginda di Gundal, dicandikan di Sajabung, nama resmi candi itu: Bajra Jina Parimita Pura.Selanjutnya terjadi peristiwa Sadeng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Tadah yang menjadi patih Mangkubumi menderita sakit, sering sekonyong konyong tak berkuasa menghadap, memajukan permohonan kehadapan Paduka batara untuk diijinkan berhenti, tidak dikabulkan oleh Seri Ratu di Kahuripan, Sang Arya Tadah kembali pulang, memanggil Gajah Mada, mengadakan pembicaraan di ruang tengah, Gajah Mada diminta menjadi Patih di Majapahit, meskipun tidak berpangkat Mangkubumi: "Saya akan membantu didalam soal soal yang luar biasa,"Gajah Mada berkata: " Anaknda tidak sanggup jika menjadi patih sekarang ini, jika sudah kembali dari Sadeng, hamba mau menjadi patih, itupun jika tuan suka memaafkan segala kekurangan kemampuan anaknda ini.""Nah, buyung, saya akan membantu didalam segala kesukaran, dan didalam soal soal yang luar biasa."Sekarang besarlah hati Gajah Mada, mendengar kesanggupan sang Arya Tadah itu. kini ia berangkat ke Sadeng.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Para menteri araraman dibohongi, juga patih Mangkubumi juga kena tipu, bahwasanya Kembar telah lebih dahulu mengepung Sadeng.Mangkubumi marah, memberi perintah kepada menteri luar, banyak mereka yang berangkat lima satuan, dikepalai oleh bekel, masing masing satuan terdiri dari lima orang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Kembar dijumpai didalam hutan, mereka berdiri diatas pohon yang roboh, berayun ayun seperti orang naik kuda sambil melambai lambaikan cambuk kepada mereka yang menyuruh agar Kembar kembali dan tidak melanjutkan perjalanan.Disampaikanlah pesan dari para menteri semua, terutama juga dari gusti patih Mangkubumi, menyuruh agar Kembar kembali, karena dikhabarkan mendahului mengepung orang orang Sadeng.Dicambuklah muka orang yang menyuruh kembali, tidak kena karena berlindung dibalik pohon, Kembar lalu berkata: "Tidak ada orang yang diindahkan oleh Kembar ini, didalam perang saja tidak mau mengindahkan tuanmu itu."Pergilah yang mendapat perintah untuk menyuruh kembali tadi, dan memberi tahu semua yang dikatakan oleh Kembar. Gajah Mada diam, merasa sangat diperolok olok, orang orang Sadeng dikepung, Tuhan Waruju seorang Dewa Putera dari Pamelekahan, jikalau membunyikan cambuk, terdengar di ruang angkasa, terperanjat orang Majapahit.Segera Sang Sinuhun tadi datang, mengalahkan Sadeng.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Peristiwa Tanca dan Sadeng itu berselat tiga tahun, pada tahun saka: Tindakan Unsur Lihat Daging, atau: 1256.Setelah Kembar kembali dari Sadeng, lalu menjadi bekel araman, Gajah Mada menjadi Angabehi, Jaran Baya, Jalu, Demang Bucang, Gagak Nunge, Jenar dan Arya Rahu mendapat pangkat, Lembu Peteng menjadi Tumenggung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Gajah Mada menjadi patih Mangkubumi, tidak mau mengambil istirahat, Gajah Mada berkata: "Jika pulau pulau diluar Majapahit sudah kalah, saya akan istirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahat."Pada waktu itu para menteri sedang lengkap duduk menghadap di balai penghadapan.Kembar memperolok olok Gajah Mada dengan menyebut kesalahan kesalahan dan kekurangan kekurangannya, dan menumpahkan telempak, Ra banyak ikut serta menambah mengemukakan celaan celaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Jabung Terewes, Lembu Peteng tertawa. lalu Gajah Mada turun mengadukan soal itu kehadapan batara di Koripan, baginda marah, kemarahan dan penghinaan ini disampaikan kepada Arya Tadah.Dosa Kembar telah banyak, Warak dilenyapkan, tak dikatakan pada Kembar, mereka mati semua.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;X. Selanjutnya terjadi peristiwa orang orang Sunda di Bubat.Seri Baginda Prabu mengingini puteri Sunda. Patih Madu mendapat perintah menyampaikan permintaan kepada orang Sunda, orang Sunda tidak berkeberatan mengadakan pertalian perkawinan.Raja Sunda datang di Majapahit, yalah Sang Baginda Maharaja, tetapi ia tidak mempersembahkan puterinya.Orang Sunda bertekad berperang, itulah sikap yang telah mendapat sepakat, karena Patih Majapahit keberatan jika perkawinan dilakukan dengan perayaan resmi, kehendaknya yalah agar puteri Sunda itu dijadikan persembahan.Orang Sunda tidak setuju. Gajah Mada melaporkan sikap orang orang Sunda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Baginda di Wengker menyatakan kesanggupan: "jangan khawatir, kakak Baginda, sayalah yang akan melawan berperang."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Gajah Mada memberitahu tentang sikap orang Sunda. Lalu orang Majapahit berkumpul, mengepung orang Sunda.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Orang Sunda akan mempersembahkan puteri raja, tetapi tidak diperkenankan oleh bangsawan bangsawannya, mereka ini sanggup gugur dimedan perang di Bubat, tak akan menyerah, akan mempertaruhkan darahnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Kesanggupan bangsawan bangsawan itu mengalirkan darah, para terkemuka pada fihak Sunda yang bersemangat, yalah: Larang Agung, Tuhan Sohan, Tuhan Gempong, Panji Melong, orang orang dari Tobong Barang, Rangga Cahot, Tuhan Usus, Tuhan Sohan, Orang Pangulu, Orang Saja, Rangga Kaweni, Orang Siring, Satrajali, Jagadsaja, semua rakyat Sunda bersorak. Bercampur dengan bunyi bende, keriuhan sorak tadi seperti guruh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Sang Prabu Maharaja telah mendahului gugur, jatuh bersama sama dengan Tuhan Usus. Seri Baginda Parameswara menuju ke Bubat, ia tidak tahu bahwa orang orang Sunda masih banyak yang belum gugur, bangsawan bangsawan, mereka yang terkemuka lalu menyerang, orang Majapahit rusak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Adapun yang mengadakan perlawanan dan melakukan pembalasan, yalah: Arya Sentong, Patih Gowi, Patih Marga Lewih, Patih Teteg, dan Jaran Baya.Semua menteri araman itu berperang dengan naik kuda, terdesaklah orang Sunda, lalu mengadakan serangan ke selatan dan ke barat, menuju tempat Gajah Mada, masing masing orang Sunda yang tiba dimuka kereta, gugur, darah seperti lautan, bangkai seperti gunung, hancurlah orang orang Sunda, tak ada yang ketinggalan, pada tahun saka: Sembilan Kuda Sayap Bumi, atau: 1279.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Peristiwa Sunda itu bersama sama dengan peristiwa Dompo. Sekarang Gajah Mada menikmati masa istirahat, sebelas tahun ia menjadi Mangkubumi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Berhubung dengan puteri Sunda itu mati, maka Batara Prabu lalu kawin dengan anak perempuan Baginda Prameswara, yalah: Paduka Sori, dari perkawinan itu lahirlah seorang anak perempuan, yalah Seri Ratu di Lasem Sang Ayu, dari perkawinannya dengan isteri lain, lahirlah baginda di Wirabumi, yang diambil menjadi anak angkat Seri Ratu di Daha.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Seri ratu di Pajang mempunyai tiga orang anak: Seri Baginda Hyang Wisesa, nama kesatriyannya Raden Gagak Sali, namanya sebagai Raja Aji Wikrama, kawin dengan Seri Ratu di Lasem yalah: Sang Ayu, lalu mempunyai seorang anak, yalah: Seri Baginda Wekasing Suka, anak yang kedua perempuan, yalah: Seri Ratu di Lasem Sang Alemu, kawin dengan baginda di Wirabumi, adapun anak yang ketiga juga perempuan, menjadi Seri ratu di Kahuripan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Ada lagi anak Baginda di Tumapel, nama kesatriyannya Raden Sotor, menjadi hino di Koripan, lalu pindah menjadi hino di Daha, selanjutnya menjadi hino di Majapahit, ini mempunyai seorang anak laki laki, yalah: Raden Sumirat, kawin dengan Seri Ratu di Kahuripan dan menjadi raja dengan sebutan Baginda di Pandan Salas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Lalu terjadi peristiwa upacara selamatan roh nenek moyang yang dinamakan Srada Agung, pada tahun saka: Empat Ular Dua Tunggal, atau: 1284.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Sang Patih Gajah Mada wafat pada tahun saka: Langit Muka Mata Bulan, atau 1290, tiga tahun lamanya tak ada yang mengganti menjadi patih.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Gajah Enggon menjadi patih pada tahun saka: Sifat Sembilan Sayap Orang, atau: 1293.Seri Ratu di Daha wafat, dicandikan di Adilangu, nama resmi candi itu Gunung Purwawisesa.Seri Ratu di kahuripan wafat, dicandikan di Panggih, nama resmi candinya Gunung Pantarapura.Selanjutnya terjadi peristiwa gunung baru pada tahun saka: Ular Liang Telinga Orang, atau: 1208.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Lalu terjadi peristiwa gunung meletus, pada minggu Madasia, tahun saka: Pendeta Sunyi Sifat Tunggal, atau: 1307.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Baginda di Tumapel wafat, ia wafat di Suniyalaya pada tahun saka: Gajah Sunyi Tindakan Ekor, atau" 1308, dicandikan di Japan, nama resmi candi itu Sarwa Jaya Purwa.Baginda Hyang Wisesa mempunyai anak,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;(1) Seri Baginda di Tumapel&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;(2) Perempuan, yalah: Seri Ratu Prabu-stri, yang lalu mempunyai nama nobatan: Dewi Suhita(3) Bungsu laki laki, yalah: Baginda di Tumapel alias Sri Kerta Rajasa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Baginda di Pandan Salas mempunyai anak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;(1) Baginda di Koripan, alias Baginda Hyang Prameswara, nama nobatannya Aji Ratna Pangkaja, kawin dengan Seri Ratu Prabu-stri, tidak berputera&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;(2) Perempuan, Sang ratu Ratu di Mataram, yang kawin dengan Baginda Hyang Wisesa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;(3) Perempuan, Sang ratu di Lasem, yang kawin dengan Baginda di Tumapel&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;(4) Perempuan lagi, Sang Ratu di Matahun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Baginda di Tumapel mempunyai anak laki laki, menjadi raja di Wengker, kawin dengan Seri ratu di Matahun, anak kedua menjadi raja di Paguhan, anak ketiga lahir dari isteri muda, perempuan, yalah: Seri Ratu di Jagaraga, kawin dengan Baginda Parameswara, tidak beranak, anak kelima, yalah: Sang ratu di Pajang, juga kawin dengan Baginda di Paguhan, jadi dibayuh sama sama saudara, tidak mempunyai anak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Baginda di Keling kawin dengan Seri ratu di Kembang Jenar. Anak laki laki Baginda di Wengker, yalah Baginda di Kabalan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Baginda di Paguhan mempunyai anak dari isteri kelahiran golongan kesatriya, perempuan yalah: Sang ratu di Singapura, kawin dengan Baginda di Pandan Salas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Baginda Prameswara di Pamotan, wafat pada tahun saka: Langit Rupa Menggigit Bulan, atau: 1310, ia dicandikan di Manyar, nama resmi candinya Wisnu Bawana Pura.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Seri ratu di Matahun wafat, dicandikan di Tiga Wangi, nama resmi candi itu Kusuma Pura.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Paduka Sori wafat.Sang ratu di Pajang wafat, dicandikan di Embul, nama resmi candi Girindra Pura.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Baginda di Paguhan wafat, dicandikan di Lobencal, nama resmi candi Parwa Tiga Pura.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Baginda Hyang Wekasing Suka, wafat pada tahun saka: Bumi Rupa Ayah Ibu, atau 1311.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;XI. Baginda Hyang Wisesa dinobatkan menjadi raja.Lalu terjadi peristiwa gunung meletus didalam minggu Prangbakat, pada tahun saka: Muka Orang Tindakan Ular, atau : 1317.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Selanjutnya Gajah Enggon meninggal dunia pada tahun saka: Sunyi Sayap Tindakan Orang, atau: 1320. ia menjadi patih 27 tahun lamanya.Baginda Hyang Wekasing Suka mengangkat Gajah Manguri menjadi patih.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Baginda Hyang Wekasing Suka wafat, ia wafat di Indra Bawana, pada tahun saka: Orang Mata Api Bulan, atau 1321, dicandikan di Tanjung, nama resmi candi Parama Suka Pura.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Baginda Hyang Wisesa menjadi pendeta pada tahun saka: Mata Sayap api Bulan, atau: 1322.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;XII. Seri Ratu Batara Isteri dinobatkan menjadi Raja.Sang ratu di Lasem wafat di Kawidyadaren, dicandikan di Pabangan, nama resmi candi: Laksmi Pura.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Sang Ratu di Kahuripan wafat. Sang Ratu di Lasem yalah Sang ratu Gemuk wafat.Baginda di Pandan Salas wafat, dicandikan di Jinggan, nama resmi candi Sri Wisnu Pura.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Baginda Hyang Wisesa bercekcok dengan Baginda Wirabumi, mereka segan bersama sama berbicara, saling diam mendiamkan, akhirnya berpisah sampai itu terjadi pada tahun saka 1323.T&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;iga tahun kemudian lalu terjadi lagi huru hara. Kedua duanya mengumpulkan orang orangnya, Baginda di Tumapel dan baginda Hyang Prameswara diminta datang. "Siapakah yang harus kami ikuti." maka terjadilah perang malang.Ia masgul dan bertekad akan pergi.Baginda "jangan tergesa gesa pergi, sayalah yang akan melawan."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Baginda Hyang Wisnu menurut dan mengumpulkan orang orangnya lagi, dihulubalangi oleh Baginda di Tumapel. di daha diambil oleh baginda Hyang Wisesa, dibawa keatas perahu, dikejar oleh Raden Gajah yang mempunyai nama nobatan Ratu Angabaya, baginda Narapati. Terkejar didalam perahu, dibunuh, dipenggal kepalanya, dibawa ke Majapahit, dicandikan di Lung, nama resmi candinya Gorisa, pada tahun saka: Ular Sifat Menggigit Bulan, atau: 1328, pada tahun itu terjadi huru hara ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Empat tahun kemudiannya Gajah Manguri meninggal dunia pada tahun saka: Sayap Sifat Tindakan Orang, atau : 1332.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Gajah Lembaga menjadi patih, lamanya 12 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Selanjutnya terjadi peristiwa gunung meletus didalam minggu Julung Pujut, pada tahun saka: Tindakan Kitab Suci Sifat Orang, atau: 1343.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Gajah Lembana meninggal dunia pada tahun saka: Api Api Tindakan Bumi, atau: 1335.Tuhan Kanaka menjadi patih lamanya 3 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Seri Ratu di Daha wafat, Seri Ratu di Matahun wafat, Seri Ratu di Mataram wafat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Selanjutnya terjadi masa kekurangan makan yang sangat lama pada tahun saka: Ular Jaman Menggigit Orang, atau : 1348.Baginda di Tumapel wafat pada tahun saka: Sembilan Jaman Tindakan Orang, atau: 1349, dicandikan di Lokerep, nama candinya Asmarasaba.Baginda di Wengker wafat, dicandikan di Sumengka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;XIII. Tuhan Kanaka meninggal dunia pada tahun saka: Sayap Luka Sifat Orang, atau : 1363. Tujuh belas tahun lamanya menjadi patih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Seri ratu di Lasem wafat di Jinggan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Baginda di Pandan Salas wafat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Raden Jagulu, Raden Gajah dilenyapkan, karena dianggap melakukan dosa, yalah: memenggal kepala Baginda di Wirabumi, pada tahun saka: Unsur Memanah Telur Tunggal, atau: 1355.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Seri Ratu di Daha menjadi raja pada tahun saka: Sembilan lima api bulan, atau 1359.Baginda Parameswara wafat, ia wafat di Wisnu Bawana, pada tahun saka: Ular Golongan Api Bulan, atau tahun: 1359, dicandikan di Singajaya.Baginda Keling wafat, dicandikan di Apa Apa.Seri Ratu Prabu-stri wafat pada tahun saka: Sembilan Rasa Api Bulan, atau: 1369, dicandikan di Singajaya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;XIV. Lalu Baginda Tumapel mengganti menjadi raja.Baginda di Paguhan melenyapkan orang orang di Tidung Galating, dan ini dilaporkan ke Majapahit.Lalu terjadi gempa bumi pada tahun saka: Sayap Golongan Menggigit Bulan, atau: 1372.Baginda di Paguhan wafat di Canggu, dicandikan di Sabyantara.Baginda Hyang wafat, dicandikan di Puri.Baginda di Jagaraga wafat.Seri Ratu di Kabalan wafat, dicandikan di Pajang Wafat, dicandikan menjadi satu di Sabyantara.Lalu terjadi gunung meletus didalam minggu Kuningan, pada tahun saka: Belut Pendeta Menggigit Bulan, atau: 1373.Baginda Prabu wafat pada tahun saka: Api Gunung Tindakan Ekor, atau: 1373, nama resmi candinya Kerta Wijaya Pura.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;XV. Baginda di Pamotan menjadi raja di Pamotan menjadi raja di Keling, Kahuripan, nama nobatannya Sri Rajasawardana.Sang Sinagara, dicandikan di Sepang pada tahun saka: Keinginan Kuda menggigit Orang, atau: 1375.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;XVI. Tiga tahun lamanya tidak ada raja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;XVII. Lalu Baginda di Wengker menjadi raja, nama nobatannya Baginda Hyang Purwa Wisesa, pada tahun saka: Pendeta Tujuh Api Menggigit Bulan, atau: 1378.Lalu terjadi peristiwa gunung meletus didalam minggu Landep, pada tahun saka: Empat Ular Tiga Pohon, atau: 1384.Baginda di Daha wafat pada tahun saka: Golongan Pendeta Api Tunggal, atau: 1386.Baginda Hyang Purwa Wisesa wafat, dicandikan di Puri, pada tahun saka: Pendeta Ular Api Bulan, atau: 1388.Lalu Baginda di Jagaraga wafat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;XVIII. Baginda di Pandan Salas menjadi raja di Tumapel, lalu menjadi Baginda Prabu pada tahun saka: Pendeta Ular Tindakan Tunggal, atau: 1388.Ia menjadi Prabu dua tahun lamanya. Selanjutnya pergi dari istana.Anak anak sang Sinaraga yalah: Baginda di Kahuripan, Baginda di Mataram, baginda di Pamotan dan yang bungsu yalah: baginda Kertabumi, ini adalah paman baginda yang wafat didalam kedatuan pada tahun saka: Sunyi Tidak Jaman Orang, atau: 1400.Lalu terjadi peristiwa gunung meletus, didalam minggu Watu Gunung pada tahun saka: Tindakan Angkasa Laut Ekor, atau: 1403.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;Demikian itulah kitab tentang para datu.Selesai ditulis di Itcasada di desa Sela Penek, pada tahun saka: Keinginginan Sifat Angin Orang, atau: 1535.Diselesaikan ditulis hari Pahing, Sabtu, minggu Warigadyan, tanggal dua, tengah bulan menghitam, bulan kedua.Semoga ini diterima baik oleh yang berkenan membaca, banyak kekurangan dan kelebihan huruf hurufnya, sukar dinikmati, tak terkatakan berapa banyaknya memang rusak, memang ini adalah hasil dari kebodohan yang meluap luap berhubung baharu saja belajar.Semoga panjang umur, mudah mudahan demikian hendaknya, demikianlah, semoga selamat bahagia, juga sipenulis ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="clear: both; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="post-footer" style="margin-top: 0.75em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.75em; margin-left: 0px; text-transform: uppercase; letter-spacing: 0.1em; font: normal normal normal 78%/normal 'Trebuchet MS', Trebuchet, Arial, Verdana, sans-serif; line-height: 1.4em; "&gt;&lt;div class="post-footer-line post-footer-line-1"&gt;&lt;span class="post-author vcard"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;DIPOSKAN OLEH &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fn"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;NOTARIAT COLLEGIUM&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="post-timestamp"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;DI &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a class="timestamp-link" href="http://nusadwipa.blogspot.com/2009/04/pararaton.html" rel="bookmark" title="permanent link" style="text-decoration: none; "&gt;&lt;abbr class="published" title="2009-04-23T09:56:00-07:00"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;09:56&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span class="post-comment-link"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="post-icons"&gt;&lt;span class="item-action"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=550752106155825477&amp;amp;postID=8426207423860568135" title="Posting Email" style="text-decoration: none; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;img alt="" class="icon-action" height="13" src="http://www.blogger.com/img/icon18_email.gif" width="18" style="border-width: initial; border-color: initial; margin-top: 0px !important; margin-right: 0px !important; margin-bottom: -5px !important; margin-left: 0.5em !important; padding-top: 4px; padding-right: 4px; padding-bottom: 4px; padding-left: 4px; border-top-width: 1px; border-right-width: 1px; border-bottom-width: 1px; border-left-width: 1px; border-top-style: solid; border-right-style: solid; border-bottom-style: solid; border-left-style: solid; border-top-color: rgb(51, 51, 51); border-right-color: rgb(51, 51, 51); border-bottom-color: rgb(51, 51, 51); border-left-color: rgb(51, 51, 51); " /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span class="post-backlinks post-comment-link"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="post-footer-line post-footer-line-2"&gt;&lt;span class="post-labels"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;LABEL: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://nusadwipa.blogspot.com/search/label/PARARATON" rel="tag" style="text-decoration: none; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;PARARATON&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="post-footer-line post-footer-line-3"&gt;&lt;span class="reaction-buttons"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="reactions-label-cell" nowrap="nowrap" valign="top" width="1%" style="line-height: 2.3em; "&gt;&lt;span class="reactions-label" style="margin-top: 3px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;REAKSI:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;iframe allowtransparency="true" class="reactions-iframe" frameborder="0" name="reactions" scrolling="no" src="http://www.blogger.com/blog-post-reactions.g?url=http%3A%2F%2Fnusadwipa.blogspot.com%2F2009%2F04%2Fpararaton.html&amp;amp;options=%5Blucu%2C+menarik%2C+keren%5D&amp;amp;textColor=%23cccccc" style="background-image: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; -webkit-background-clip: initial; -webkit-background-origin: initial; background-color: transparent; height: 2.3em; width: 100%; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; background-position: initial initial; "&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="comments" id="comments"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;a name="comments"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;h4 style="margin-top: 1em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; font-weight: bold; line-height: 1.4em; text-transform: uppercase; letter-spacing: 0.2em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;0 KOMENTAR:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;dl class="avatar-comment-indent" id="comments-block" style="margin-top: 1em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.5em; line-height: 1.6em; margin-left: 45px; position: relative; "&gt;&lt;/dl&gt;&lt;p class="comment-footer"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="comment-form" style="max-width: 425px; clear: both; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;a name="comment-form"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;h4 id="comment-post-message" style="margin-top: 1em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; font-weight: bold; line-height: 1.4em; text-transform: uppercase; letter-spacing: 0.2em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;POSKAN KOMENTAR&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/comment-iframe.g?blogID=550752106155825477&amp;amp;postID=8426207423860568135&amp;amp;blogspotRpcToken=1567512" id="comment-editor-src" style="text-decoration: none; "&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;iframe allowtransparency="true" class="blogger-iframe-colorize blogger-comment-from-post" frameborder="0" height="410" id="comment-editor" name="comment-editor" src="http://www.blogger.com/comment-iframe.g?blogID=550752106155825477&amp;amp;postID=8426207423860568135&amp;amp;blogspotRpcToken=1567512#%7B%22color%22%3A%22rgb(204%2C%20204%2C%20204)%22%2C%22backgroundColor%22%3A%22rgb(0%2C%200%2C%200)%22%2C%22unvisitedLinkColor%22%3A%22rgb(153%2C%20170%2C%20221)%22%2C%22fontFamily%22%3A%22'Trebuchet%20MS'%22%7D" width="100%"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div id="backlinks-container"&gt;&lt;div id="Blog1_backlinks-container"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;a name="links"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;h4 style="margin-top: 1em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; font-weight: bold; line-height: 1.4em; text-transform: uppercase; letter-spacing: 0.2em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;LINK KE POSTING INI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;p class="comment-footer"&gt;&lt;a class="comment-link" target="_blank" href="http://www.blogger.com/blog-this.g" id="Blog1_backlinks-create-link" style="margin-left: 0.6em; text-decoration: none; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Buat sebuah Link&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blog-pager" id="blog-pager" style="text-align: center; "&gt;&lt;span id="blog-pager-newer-link" style="text-align: left;float: left; "&gt;&lt;a class="blog-pager-newer-link" href="http://nusadwipa.blogspot.com/2009/04/ngelmu-urip-sajatining-urip.html" id="Blog1_blog-pager-newer-link" title="Posting Lebih Baru" style="text-decoration: none; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Posting Lebih Baru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="blog-pager-older-link" style="text-align: left;float: right; "&gt;&lt;a class="blog-pager-older-link" href="http://nusadwipa.blogspot.com/2009/04/babad-tanah-djawi.html" id="Blog1_blog-pager-older-link" title="Posting Lama" style="text-decoration: none; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Posting Lama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a class="home-link" href="http://nusadwipa.blogspot.com/" style="text-decoration: none; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(204, 204, 204); "&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a class="home-link" href="http://nusadwipa.blogspot.com/" style="text-decoration: none; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;Halaman Muka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear" style="clear: both; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="post-feeds"&gt;&lt;div class="feed-links" style="clear: both; line-height: 2.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Langgan: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a class="feed-link" href="http://nusadwipa.blogspot.com/feeds/8426207423860568135/comments/default" target="_blank" type="application/atom+xml" style="text-decoration: none; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Poskan Komentar (Atom)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="sidebar-wrapper" style="width: 220px; float: right; word-wrap: break-word; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden; "&gt;&lt;div class="sidebar section" id="sidebar" style="color: rgb(153, 153, 153); line-height: 1.5em; "&gt;&lt;div class="widget Followers" id="Followers2" style="border-bottom-width: 1px; border-bottom-style: dotted; border-bottom-color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.5em; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 1.5em; padding-left: 0px; "&gt;&lt;div class="widget-content"&gt;&lt;div id="Followers2-wrapper"&gt;&lt;div style="margin-right: 2px; "&gt;&lt;div id="div-grqgq7pgrywr" class="gadgets-gadget-container" style="width: 100%; border-top-width: 1px; border-right-width: 1px; border-bottom-width: 1px; border-left-width: 1px; border-top-style: solid; border-right-style: solid; border-bottom-style: solid; border-left-style: solid; border-top-color: rgb(51, 51, 51); border-right-color: rgb(51, 51, 51); border-bottom-color: rgb(51, 51, 51); border-left-color: rgb(51, 51, 51); height: 177px; "&gt;&lt;div id="gfc_iframe_1580181315_0_body" style="height: 177px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;iframe id="gfc_iframe_1580181315_0" name="gfc_iframe_1580181315_0" frameborder="0" scrolling="no" allowtransparency="true" height="260" style="width: 100%; height: 177px; "&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear" style="clear: both; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="widget-item-control" style="float: right; "&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="clear" style="clear: both; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="widget BlogArchive" id="BlogArchive2" style="border-bottom-width: 1px; border-bottom-style: dotted; border-bottom-color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.5em; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 1.5em; padding-left: 0px; "&gt;&lt;h2 style="margin-top: 1.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.75em; margin-left: 0px; font: normal normal bold 78%/normal 'Trebuchet MS', Trebuchet, Arial, Verdana, sans-serif; line-height: 1.4em; text-transform: uppercase; letter-spacing: 0.2em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="widget-content"&gt;&lt;div id="ArchiveList" style="text-align: left; "&gt;&lt;div id="BlogArchive2_ArchiveList"&gt;&lt;ul style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: none; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; "&gt;&lt;div style="text-indent: -15px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear" style="clear: both; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="widget-item-control" style="float: right; "&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="clear" style="clear: both; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-3274746604069209671?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/3274746604069209671/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=3274746604069209671' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/3274746604069209671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/3274746604069209671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/10/pararaton-sumbernusadwipablogspotcom.html' title='PARARATON (sumber.nusadwipa.blogspot.com)'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-8554625593671123283</id><published>2009-10-20T18:23:00.000-07:00</published><updated>2009-10-20T18:25:16.752-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CAGAK BUDAYA'/><title type='text'>ketuhanan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: 'Trebuchet MS'; font-size: 13px; line-height: 20px; "&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Pitudúh : # 1 Pangéran Kang Måhå Kuwåså (Gusti Allah, Tuhan) iku siji, angliputi ing ngêndi papan, langgêng, síng nganakaké jagad iki saisiné, dadi sêsêmbahan wóng saalam donyå kabèh, panêmbahan nganggo carané dhéwé-dhéwé.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Pitudúh : # 2 Pangéran Kang Måhå Kuwåså iku anglimput ånå ing ngêndi papan, anèng sira ugå ånå Pangéran (maksudé : tajaliné Kang Múrbèng Dumadi).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Pitudúh : # 3 Pangéran iki Måhå Kuwåså, pêpêsthèn såkå karsaning Pangéran ora ånå síng biså murúngaké.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Pitudúh : # 4 Pangéran iku nitahaké sirå lantaran båpå lan biyúngirå, mulå kudu sirå ngurmati marang båpå lan biyúngirå.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Pitudúh : # 5 Ing donyå iki ånå róng warnå síng diarani bêbênêr, yakuwi bênêr mungguhíng Pangéran lan bênêr såkå kang lagi kuwåså.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Pitudúh : # 6 Kêtêmu Gusti (Pangéran) iku lamún sira tansah élíng.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Pitudúh : # 7 Cåkrå manggilingan (uríp iku ibaraté rodhå kang tansah mubêng).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Pitudúh : # 8 Åjå sirå wani-wani ngaku Pangéran, sênadyan kawrúhira wís tumêka "Ngadêg Sarirå Tunggal" utåwå bisa mêngêrtèni "Manunggaling Kawulå Gusti".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Pitudúh : # 9 Åjå ndisiki kêrså.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Wêwalêr : # 10 Åjå sirå wani marang wóng tuwanira, jalaran sirå bakal kênå bêndhu såkå Kang Múrbèng Dumadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Wêwalêr : # 11 Åjå múng kèlingan lan migatèkaké barang kang katón baé, sêbab kang katón gumêlar iki anané malah ora langgêng.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Wêwalêr : # 12 Åjå darbé pangirå yèn lêlêmbút iku mêsthi alané, jalaran síng apik iyå ånå, síng ålå iyå ånå, ora bédå karo manungså.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Wêwalêr : # 13 Åjå lali sabên ari (dinå) éling marang Pangéranira, jalaran sêjatiné sirå iku tansah katunggón Pangéranirå.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;sumber.nusadwipa.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-8554625593671123283?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/8554625593671123283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=8554625593671123283' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8554625593671123283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8554625593671123283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/10/ketuhanan.html' title='ketuhanan'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-4570839556895457457</id><published>2009-10-20T17:50:00.000-07:00</published><updated>2009-10-20T18:09:23.602-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CAGAK BUDAYA'/><title type='text'>pralaya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;terdengar kabar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt; dahan basah pohon Poh, Pesanggrahan Kyai Langgeng patah dan jatuh sekitar Sabtu kemarin, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;seorang sesepuh berkata "Ini pralaya apa?" katanya dgn urat wajah yg ditarik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt; "Semoga warga pedukuhan ini selalu mendapat lindunga&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;n Sang Gusti" katanya kemudian. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);  "&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;P.Kyai Langgeng sampai sekarang, oleh (sbgn besar) msyarakat stempat masih dipercaya sbg tempat keramat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-4570839556895457457?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/4570839556895457457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=4570839556895457457' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/4570839556895457457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/4570839556895457457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/10/pralaya.html' title='pralaya'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-8686709091993295662</id><published>2009-10-17T16:36:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T16:45:15.451-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>perempuan itu ternyata....</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="" id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;suatu hari bbrp th lalu, ktika kubrgkt pgi skali,&lt;br /&gt;dduk di jok bus reyot jursan Tegal-Pwt.&lt;br /&gt;kumlihat di sblhku prempuan bpakaian sderhana,&lt;br /&gt;bju mode 70an dgn tas cngklong dibahu knanya.&lt;br /&gt;rmbutnya diikat hampir ekor kuda tapi tak jadi.&lt;br /&gt;aku trun mnuju daerh kampus.&lt;br /&gt;siang hariny kulihat prmpwn dg wjah sm&lt;br /&gt;di muka toko yg sdg kubeli alat tulis,&lt;br /&gt;tapi pnmpilannya sdh brubah&lt;br /&gt;tangannya menengadah&lt;br /&gt;wajah itu seperti orang tiga hari tidak makan&lt;br /&gt;mungkinkah ada salon yg mmermak wjh dan&lt;br /&gt;pnmpilannya hingga sdmikian myakinkan?&lt;br /&gt;ah....&lt;br /&gt;18 oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-8686709091993295662?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/8686709091993295662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=8686709091993295662' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8686709091993295662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8686709091993295662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/10/perempuan-itu-ternyata.html' title='perempuan itu ternyata....'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-7735606164317071988</id><published>2009-10-17T16:33:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T16:35:12.243-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>anak sekecil itu di sepagi itu</title><content type='html'>&lt;h3 style="font-family: georgia; font-weight: normal; text-align: center;" class="UIIntentionalStory_Message" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="UIIntentionalStory_Names" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;name&amp;quot;}"&gt;                &lt;/span&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;&lt;div id="id_4ada515c862ad338c24b0" class="text_exposed_root text_exposed"&gt;seperti yang terlihat dulu, seorang anak perempuan kecil yang kini berumur lima tahunan itu pagi ini masih saja berwajah kusut dan terlihat rambutnya yang jarang terjamah Samphoo. ia masih saja mengikuti entah siapa, emak atau neneknya yg tangan kiri&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;nya memanggul plastik hitam besar dan tangan kanannya memegang kait panjang untuk mengorek entah apa di bak-bak sampah di tepi jalan kampus Unsoed...&lt;br /&gt;18 oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-7735606164317071988?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/7735606164317071988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=7735606164317071988' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/7735606164317071988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/7735606164317071988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/10/anak-sekecil-itu-di-sepagi-itu.html' title='anak sekecil itu di sepagi itu'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-3358306623444813401</id><published>2009-10-16T18:19:00.000-07:00</published><updated>2009-10-16T18:22:21.794-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CAGAK BUDAYA'/><title type='text'>Srintil “Mbabar” di Halaman Mushala</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/StkcC3cnUMI/AAAAAAAAALE/tLpSP96aZwY/s1600-h/pentas-srintil.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 168px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/StkcC3cnUMI/AAAAAAAAALE/tLpSP96aZwY/s320/pentas-srintil.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393372864322162882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="color: rgb(51, 51, 51);   line-height: 16px; font-family:Verdana;font-size:12px;"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;HALAMAN belakang kediaman Ahmad Tohari di Desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jumat (29/8) malam lalu, potensial menjadi sumbu kericuhan sepanjang Orde Baru masih bertahta. Selama lebih dari dua jam, ruang lapang yang sekaligus menjadi halaman Mushola Al-Hidayah itu menjadi panggung tempat ”mbabar”-nya lengger kondang Srintil ke alam nyata. Bersamanya pula, terpampang Dukuh Paruk lengkap dengan imaji kegetiran yang melingkupi kisah sejarah mengenai Partai Komunis Indonesia (PKI).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span id="more-102"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Itulah bagian dari perjalanan pentas Teater Tarian Mahesa (TTM) Bandung yang menafsirkan trilogi novel ”Ronggeng Dukuh Paruk” (RDP)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;ke dalam naskah monolog. Perpaduan adaptasi naskah karya Gusjur Mahesa dengan intensitas akting Opey Sophia inilah yang rupanya mengundang fans berat RDP dari berbagai kota. Tak cuma dari Banyumas, penonton berbondong-bondong datang dari Indramayu, Semarang, dan Yogyakarta. Untuk pertama kalinya pula, penduduk desa dan para santri menyaksikan pertunjukkan teater modern yang digelar di desa itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Monolog yang dalam ranah seni rakyat Banyumas dinamai munthiet, bergerak dalam alur melingkar. Puncak kegilaan Srintil hadir sebagai teror pertama sebelum lakon meniti waktu hingga masa-masa awal penobatannya sebagai ronggeng. ”Lagu kebangsaan” PKI berjudul ”Genjer-genjer” yang lenyap di novel, dihadirkan untuk memperkokoh lakon. ”Tangan saya pun turut menggigil karena pengawasan penguasa sehingga tak berani seutuhnya menulis syair lagu itu,” demikian pengakuan Tohari.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Bagi TTM, kesederhanaan rupanya memang telah menjadi obsesi. Properti yang dimainkan pelakon hanya berupa ranjang, kertas koran, kotak kayu, dan sebatang pohon durian asli. Tak ada musik sama sekali, selain dendang acapella oleh Yossak Anugrah, Ani Rengganis, Dian Hardiana, dan Ersal S Rahman. ”Kami mengadaptasi RDP sejak 1997. Nilai-nilai dalam novel ini masih tetap aktual hingga kini. Kisah Srintil yang menjadi korban pergeseran nilai sama dengan yang dialami Dewi Persik, Inul hingga Ahmadiyah,” ungkap Gusjur.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;Pengarang memang mati sesaat ketika teks telah sampai ke tangan pembaca. Sebagai tafsir, monolog terhitung setia pada novel. Di tengah-tengah kerumunan fans RDP, alur bisa dibaca dengan mudah. Bahkan sejumlah penonton acapkali &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;nyeletuk&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt; sederet kalimat novel yang nyatanya kemudian diucapkan oleh aktris. Monolog juga tampak sangat keras mempertahankan lokalitas Banyumasan. ”Tafsir memang bebas. Dan tafsir TTM jauh lebih mendalam dari tafsir dalam film Darah Mahkota Ronggeng. Sebenarnya, tidak masalah jika ditafsir dalam konteks kebudayaan Sunda, bukan Banyumasan,” ungkap Ahmad Tohari. (Sigit Harsanto-)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; "&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-3358306623444813401?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/3358306623444813401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=3358306623444813401' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/3358306623444813401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/3358306623444813401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/10/srintil-mbabar-di-halaman-mushala.html' title='Srintil “Mbabar” di Halaman Mushala'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/StkcC3cnUMI/AAAAAAAAALE/tLpSP96aZwY/s72-c/pentas-srintil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-809234160531786662</id><published>2009-10-16T18:13:00.000-07:00</published><updated>2009-10-16T18:14:10.049-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CAGAK BUDAYA'/><title type='text'>Kesenian Cakenjring</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: 12px; "&gt;&lt;p&gt;Kesenian Cakenjring merupakan musik kolaborasi antara Calung, Kenthong dan Genjring (terbang, Bhs. Jawa), karya fonomental yang digagas Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas menjelang diselenggarakannya Festival Kesenian Rakyat yang bertaraf internasional di Republik Ceko tahun 2007.&lt;br /&gt;Cakenjring digagas karena untuk mengakomodir seni musik yang ada dan berkembang di Kabupaten Banyumas dengan filosofi:&lt;br /&gt;· Calung diangkat sebagai yang mewakili musik tradisional banyumasan dimana termasuk didalamnya ‘lengger’ sebagai vokalisnya/penyanyi sekaligus sebagai penari.&lt;br /&gt;· Kenthong, dimana awalnya kenthong hanya sebagai alat komunikasi masyarakat, dengan perkembangannya menjadi alat musik dan dapat dikatakan sebagai yang mewakili musik kontemporer.&lt;br /&gt;· Genjring mewakili musik religi Islami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Juni 2007, Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas bersama dengan Enggar &amp;amp; Associates Jakarta, sebuah EO yang menangani misi kesenian rakyat dalam Festival-festival Kesenian Rakyat Internasional, mengirimkan misi kesenian Tim Cakenjring ke Republik Ceko untuk mengikuti Mezinarodni Folklorni Festival, dimana Tim Cakenjring dalam festival tersebut menyabet gelar The Best Performance.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada bulan Desember 2007, kembali Tim Cakenjring bertolak ke Malaysia untuk mengikuti Word Drum Festival Chapter 1 di Kualalumpur, dan mendapatkan gelar tim terfavorit.&lt;br /&gt;Enggar &amp;amp; Associates, kembali akan mengajak Tim Cakenjring DKKB untuk memenuhi undangan Walikota Lampang City, Thailand dalam rangka “Songkran Festival” yang diadakan pada tanggal 10 s.d 16 April 2008. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;*note: belum dapat reportasenya*&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka Hari Jadi Banyumas ke 426 tahun 2008, Disparbud Kabupaten Banyumas melalui Bidang Kesenian bekerja sama dengan DKKB telah menggelar Cakenrjing Kolosal (kalau saat ke Republik Ceko Tim Cakenjring Formasi 17, sedangkan ke Malaysia Cakenjring Formasi 10) dengan formasi:&lt;br /&gt;· Pemain Calung dan Tari sejumlah 114 personel adalah siswa-siswi SMKI “Sendang Mas” Banyumas&lt;br /&gt;· Pemain Kenthong sejumlah 90 personel dari warga Bobosan Purwokerto Utara dan sekitarnya.&lt;br /&gt;· Pemain Genjring sejumlah 40 personel dari Ajibarang dan 440 personel dari Plana Somagede Banyumas.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut project officcer Yusmanto, S.Sen, Kabid. Kesenian Disparbud Kabupaten Banyumas, Cakenjring Kolosal tersebut digelar pada tanggal 6 April 2008 yang lalu mulai pukul 09.00 di Alun-alun Purwokerto. Dalam kesempatan gelar kolosal tersebut Cakenjring Formasi Kolosal ini telah menyuguhkan repertoarnya, diantaranya:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;· Jinggel Cakenjring karya Sungging Suharto&lt;br /&gt;· Tunggak Jati mati karya Yusmanto, S. Sen&lt;br /&gt;· Bukak Kusan (repertoar yang pernah dibawakan di Republik Ceko dan Malaysia)&lt;br /&gt;Harapan Bambang Set Ketua Umum DKKB, dengan adanya gelar kolosal ini masyarakat dapat melihat, menikmati dan menjadi pemerhati serta diharapkan masyarakat memberikan respon posistif dengan memberikan masukan-masukan terutama pada kesenian Cakenjring ke depannya sehingga bisa menjadi ikon kesenian Banyumasan. (sonny haye, dkkb)&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.banyumaskab.go.id/" style="color: rgb(11, 94, 180); text-decoration: none; "&gt;www.banyumaskab.go.id&lt;/a&gt; dan DKKB &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-809234160531786662?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/809234160531786662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=809234160531786662' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/809234160531786662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/809234160531786662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/10/kesenian-cakenjring.html' title='Kesenian Cakenjring'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-3301872794001654450</id><published>2009-10-08T04:22:00.001-07:00</published><updated>2009-10-08T04:22:33.765-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CAGAK BUDAYA'/><title type='text'>Seliring Genting, Potret Dolanan Tradisional yang Dimakan Zaman</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 16px; "&gt;&lt;div class="judulisiberita" style="margin-right: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal bold 18pt/normal arial; color: rgb(51, 102, 153); letter-spacing: -1px; line-height: 21pt; margin-bottom: 14px; margin-top: 20px; width: 500px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="clear: both; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-top: 20px; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="clear: both; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px; "&gt;&lt;div style="clear: both; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-top: 10px; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="clear: both; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-top: 5px; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font: normal normal normal 9px/normal arial; color: rgb(102, 102, 102); "&gt;&lt;a href="http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/30/22482713/Seliring.Genting..Potret.Dolanan.Tradisional.yang.Dimakan.Zaman" target="_blank" style="font: normal normal normal 9px/normal arial; text-decoration: underline; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-top: 10px; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;ul id="vidlist" style="margin-left: 0px; margin-top: 5px; margin-bottom: 0px; padding-left: 0px; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; border-top-width: 1px; border-top-style: solid; border-top-color: rgb(238, 238, 238); "&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="clear: both; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="tanggal" style="font: normal normal normal 10px/normal arial; color: rgb(51, 153, 204); margin-bottom: 2px; text-transform: uppercase; "&gt;MINGGU, 30 AGUSTUS 2009 | 22:48 WIB&lt;/div&gt;&lt;div id="article_body"&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com -  &lt;/strong&gt;Sepuluh penari cilik itu bersiap di panggung sederhana beratap ilalang di Desa Plana, Kecamatan Somagede, Banyumas. Mereka bersiap memainkan dolanan tradisional Banyumas, seliring genting dalam bentuk sendratari. Satu penari berdiri terpisah menghadap ke sembilan penari lainnya, yang membentuk formasi rangkaian membujur ke belakang dengan memegang pinggang kawan di depannya, mirip formasi permainan ular-ularan.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Penari yang menghadapi ke sembilan rekannya berperan sebagai Maling Aguna, si pencuri baik hati, sedangkan penari terdepan di formasi ular-ularan berperan sebagai Nini Nini, atau nenek penunggu bulan. Tak berapa lama, dialog pun terjadi di antara mereka dalam bahasa Banyumas.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;&lt;em&gt;Maling Aguna: Nini nini sing tunggu wulan, inyong njaluk genine&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;&lt;em&gt;Nini: Diwadahi opo?opo ora kepanasen?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;&lt;em&gt;Maling Aguna: inyong njaluk pitik trondol&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;&lt;em&gt;Nini: nggo apa?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;&lt;em&gt;Maling Aguna: nggo cempal&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;&lt;em&gt;Nini: ora ulih&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;&lt;em&gt;Maling Aguna: nggon ora ulih tak pleter kucing&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Niat Maling Aguna hanya satu, yakni meminta api kepada Nini. Untuk dapat membawa api, sang maling harus merebut dulu pitik trondol, atau ayam . Dalam formasi ular-ularan itu, si pitik berada di ujung belakang. Permintaan maling ternyata ditolak Nini. Mendengar penolakan itu, maling pun mengejar pitik. Sekuat tenaga, Nini dan tujuh orang yang berada di be lakangnya melindungi pitik.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Sambil kejar-kejaran, anak-anak tersebut menyanyikan tembang berbahasa Jawa kuno, yang merupakan tembang khas dolanan ini. Tembang itu mengalun riuh bersamaan tawa di di antara mereka. Salah satu lirik tembang tersebut antara lain: &lt;em&gt;Seliring genting, rangu-rangu bang sikatan, sikatane gawe rutuh, rutuh-rutuh bedhil gede, onek kena sanggul bale. Dorrr...&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Itulah sepenggal pertunjukan dolanan tradisional Banyumas, Seliring Genting yang digelar di Padepokan Seni Banyubiru, Plana, Somagede, Banyumas, pekan lalu. Dolanan tersebut ditampilkan dengan tarian lengger dan musik calung.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Seliring genting adalah satu dari puluhan ragam dolanan anak di Banyumas yang pernah ada. Seni ini diperkirakan sudah ada jauh sebelum pengaruh Mataram Islam dan Pajajaran masuk ke wilayah ini. Penggunaan tembang bahasa Jawa kuno adalah salah satu hal yang mendukung perkiraan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Biasanya, dolanan ini dilakukan saat bulan purnama tiba. Saat mana anak-anak dapat berkumpul di halaman luas untuk gojekan (bercanda ria) dan bermain. Saat yang selalu ditunggu masyarakat pedesaan yang agraris karena nini wulan, nenek penunggu rembulan, datang serta memberikan harapan baru bagi kehidupan esok hari.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Namun demikian, kini keberadaan dolanan ini dalam kehidupan praksis telah hilang. Nyaris tak ada lagi anak-anak di wilayah Banyumas dan sekitarnya yang memainkan jenis permainan tradisional ini.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Seperti halnya budaya tradisional lainnya, dolanan anak seperti seliring genting ini sudah diterjang oleh riuh rendahnya budaya pop yang hadir hingga ke relung desa. Jangankan memainkannya, mungkin mendengar nama dolanan ini saja anak-anak di Banyumas zaman sekarang tak pernah lagi, tutur pembina Padepokan Seni Banyubiru, Yusmanto.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Keprihatinan ini yang mendorong Yusmanto menggelar pertunjukan dolanan yang nyaris punah tersebut. Bukan hanya seliring genting, pekan lalu, padepokan yang terletak di antara Kali Serayu dan di lereng pegunungan Kendheng Selatan ini juga menggelar puluhan dolanan anak yang pernah ada di Banyumas.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;"Tujuan kami menampilkan seni dolanan tradisional ini selain sekadar melestarikan juga untuk mendokumentasikan bahwa seni ini adalah milik kita. Seni komunal Banyumas. Sebagai pecinta budaya tradisional, tentu kami juga khawatir dengan apa yang terjadi dengan beberapa budaya kita yang diklain negara lain," papar Yusmanto.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Banyumas memang kaya akan dolanan tradisional semacam ini. Hal tersebut tak terlepas dari tiga faktor, yakni budaya lokal yang eksis, pengaruh Jawa, dan pengaruh Sunda. Tak heran, banyak dolanan tradisional khas Banyumas yang mirip dolanan khas Jawa maupun Sunda, sebagi contoh adalah benthik dan ujungan.  &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;&lt;strong&gt;Budaya televisi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Budayawan Banyumas, Saeran Samsidi, mengungkapkan, dolanan khas banyumasan seperti siguk, andul kopet (mande), dir-diran lewok, poces, thomprang, ganden, umbul wayang, sangkutawar kini tidak lagi akrab di telinga anak-anak zaman sekarang di daerah ini.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Bahkan, dolanan tradisional yang bersifat umum, seperti benthik, mel-melan, gobak sodor, dan dolanan ketangkasan lainnya sangat jarang dimainkan anak-anak di sini.   &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Dolanan banyumasan banyak yang disertai ungkapan-ungkapan khas dan tembang-tembang, serta tarian. Dalam masyarakat umum, dolanan ini sudah tidak ada lagi. Kalau benthik, atau gobak sodor mungkin masih ada, tetapi sangat ja rang. Semuanya terlupakan karena pengaruh televisi dan modernisme, Saeran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Keberadaan dolanan tradisional itu kini tinggal sebatas pementasan di festival dan pertunjukan seni tradisional. Sejumlah sekolah ada yang berinisiatif memasukkan dolanan anak ini dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti di SD Negeri III Notog, Banyumas. Terakhir, pementasan dolanan anak itu di lokakarya Budaya Banyumas di Universitas Muhammadiyah Purwokerto awal Maret 2009.     &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Terkait dengan punahnya dolanan tradisional itu, sejak tahun 2008 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyumas membuat buku tentang dolanan anak. Buku tersebut berisi berbagai jenis dolanan Banyumas beserta tembang-tembangnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Sayangnya, tak ada program berikutnya untuk lebih jauh memperkenalkan budaya ini kepada masyarakat setelah buku itu ada. Hak cipta atas dolanan tersebut pun tak pernah diupayakan.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Namun demikian, sejumlah pegiat seni tak kehilangan semangat dengan minimnya dukungan pemerintah itu. Mereka sadar, menggelar pertunjukan dolanan anak sebagai mana adanya tak akan menarik minat masyarakat untuk menonton. Langkah kreatif pun mereka tempuh dengan memadupadankan dolanan dengan seni tari lengger, ebeg, musik calung, dan teater tradisional.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;Langkah tersebut memang cukup efektif memperkenalkan kembali budaya warisan yang nyaris hilang itu. Namun, sampai kapan kekuatan swadaya itu mampu bertahan di tengah desakan kapitalisme dan kehidupan yang serba pragmatis? Bila tak segera ada langkah nyata, bukan tak mungkin dolanan semacam seliring genting tiba-tiba muncul di situs resmi pemerintah negara tetangga. &lt;strong&gt;(M Burhanudin)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold; line-height: 20px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-3301872794001654450?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/3301872794001654450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=3301872794001654450' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/3301872794001654450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/3301872794001654450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/10/seliring-genting-potret-dolanan.html' title='Seliring Genting, Potret Dolanan Tradisional yang Dimakan Zaman'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-8643091711387613701</id><published>2009-10-07T18:33:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T18:53:07.969-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>teruskan</title><content type='html'>malam hari oktober ke7 hujan turun deras sepanjang sokaraja ajibarang, tapi aku bertekad melewatinya untuk sampai di rumah. di perjalanan kubelah kubangan air sepanjang jalanan karang lewas cilongok. redup lampu membuatku memperlambat laju motor bututku ketika kulewati jalan sepi tertutup rimbun pepohonan dan rumpun bambu di daerah pageraji.lap....sebuah lampu sorot bis besar mengagetkanku saat ku lalui jalan yang agak menanjak menjelang cilongok.kukendarai motor pemberian Bapa'ku yang entah bagaimana dibelinya. sampai di Kracak, getar ponsel membuatku berhenti tepat di atas jembatan kali kawung. hujan semakin deras, kubaca pesan singkat yg ternyata dari adikku.yah...aku sudah sampai di kracak demikian kutulis jawaban pesan singkat itu. menjelang sampai di desaku, kulalui jalan-jalan berlubang yang entah kapan akan diperbaiki oleh dinas pekerjaan umum.sampai diperbatasan desaku aku terkaget. tanpa listrik desaku bagaikan desa mati. kutelusuri setapak menanjak, menuju rumah bapak biyungku.ban yang gundul membuat jalan motorku tertatih dan terpleset-pleset. akhirnya kusampai dirumah dengan basah kuyup walaupun mantel menempel di tubuhku. segera biyungku membuka tudung saji dan kukusan anyaman bambu untuk menyediakan makanan untukku. "nih ada sate, tapi dihangatkan dulu ya.."katanya sambil memegang pelita kecil yang kelap-kelip bergoyang dibawa menuju tungku batu yang menyisakan bara untukku. "lho kok ada sate, ayam dari mana"tanyaku sambil membuka jaket yang basah. ternyata beberapa hari ini ada ayam yang mati."Untung ketahuan, kalau ga pasti dah dikubur"katanya menjelaskan. yah...itulah adat orang desa, makan ayam menunggu ayamnya sakit atau menjelang mati. paginya kudengar banyak ayam mati, setelah sorenya sehat walafiat. "sungguh sebenarnya saya takut, jangan-jangan flu burung datang lagi" kata bapaku sambil mengepulkan asap dari rokok linting yang dibuatnya. remang-remang masih menjadi warna desaku malam itu. kulihat keadaan di luar rumah dari balik kaca. hanya ada daun pohon pisang yang kelihatan remang-remang pucat menghilang sambil bergoyang perlahan. hujan deras itu berganti gerimis tipis entah sampai kapan. ternyata dalam gerimis itu bapaku nekad keluar rumah untuk menyalurkan hobinya. nonton wayang dalang Gino di parakan, dengan jalan kaki dengan seorang tetangganya Man Kasoni namanya. paginya kudengar jam setengah dua ia baru pulang....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-8643091711387613701?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/8643091711387613701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=8643091711387613701' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8643091711387613701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8643091711387613701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/10/teruskan.html' title='teruskan'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-270657361697258393</id><published>2009-10-05T10:58:00.000-07:00</published><updated>2009-10-05T11:10:55.076-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" class="UIStory_Message"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/Sso02wno8KI/AAAAAAAAAK8/vbrqkBSUgTc/s1600-h/sdas.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 148px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/Sso02wno8KI/AAAAAAAAAK8/vbrqkBSUgTc/s200/sdas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389178019470962850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;awan kelabu&lt;br /&gt;dua wajah&lt;br /&gt;indah&lt;br /&gt;sajadah&lt;br /&gt;kaki langit kota&lt;br /&gt;selimut panjang&lt;br /&gt;jemari&lt;br /&gt;tangan&lt;br /&gt;kaki&lt;br /&gt;menunduk&lt;br /&gt;menengadah&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/Sso02wno8KI/AAAAAAAAAK8/vbrqkBSUgTc/s1600-h/sdas.jpg"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" class="UIStory_Message"&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-270657361697258393?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/270657361697258393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=270657361697258393' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/270657361697258393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/270657361697258393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/10/awan-kelabu-dua-wajah-indah-sajadah.html' title=''/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/Sso02wno8KI/AAAAAAAAAK8/vbrqkBSUgTc/s72-c/sdas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-1091221237566154927</id><published>2009-10-05T09:19:00.001-07:00</published><updated>2009-10-05T10:08:51.017-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>bukan fatimah al zahra</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SsolVoQGQgI/AAAAAAAAAK0/Lp85UuJNJYQ/s1600-h/deasd2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 146px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SsolVoQGQgI/AAAAAAAAAK0/Lp85UuJNJYQ/s200/deasd2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389160957614637570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" class="UIStory_Message"&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;_&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;" &gt;kadya sukma manjing reca malik sampurnaning jalma&lt;/span&gt;_&lt;br /&gt;----&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="UIStory_Message"  style="font-family:georgia;"&gt;seketika aku telah menjadi arca ketika melihat paras itu&lt;br /&gt;dengan sapamu sontak aku kembali menjadi manusia&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;kuraih seraut wajah ketika hari pertama bulan hujan, air dalam wajah itu telah menyapu bersih tandus fikirku di akhir masa ketiga ini, tanpa sengaja aku menemukan belahan jiwa Ali dengan tambahan keindahan nama di belakangnya, padahal yang kutahu sejak dulu namanya selalu bertabur bunga, tapi aku hanya bisa melihat, berkatapun aku terbata, jauh dari fikirku untuk menafsirkan sesuatu di balik penanda yang tajam di matanya...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" class="UIStory_Message"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-1091221237566154927?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/1091221237566154927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=1091221237566154927' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1091221237566154927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1091221237566154927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/10/bukan-fatimah-al-zahra.html' title='bukan fatimah al zahra'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SsolVoQGQgI/AAAAAAAAAK0/Lp85UuJNJYQ/s72-c/deasd2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-7825056156707416061</id><published>2009-08-25T22:41:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T23:18:34.615-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>tentang seseorang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SpTTaZCljeI/AAAAAAAAAKs/2EEct0jcY2s/s1600-h/deasd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SpTTaZCljeI/AAAAAAAAAKs/2EEct0jcY2s/s200/deasd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374152705711640034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ku lari ke hutan kemudian menyanyiku&lt;br /&gt;ku lari ke pantai kemudian teriakku&lt;br /&gt;sepi sepi dan sendiri aku benci&lt;br /&gt;aku ingin bingar aku mau ke pasar&lt;br /&gt;bosan aku dengan penat&lt;br /&gt;dan hanya saja kau pekat&lt;br /&gt;seperti berjelaga jika ku sendiri&lt;br /&gt;pecahkan saja gelasnya biar ramai&lt;br /&gt;biar mengaduh sampai gaduh&lt;br /&gt;aih..ada malaikat menyulam jaring laba laba belang ditembok keraton putih&lt;br /&gt;kenapa tak goyangkan saja loncengnya?&lt;br /&gt;biar terdera&lt;br /&gt;atau aku harus lari ke hutan&lt;br /&gt;belok ke pantai..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bosan aku dengan penat&lt;br /&gt;dan hanya saja kau pekat&lt;br /&gt;seperti berjelaga jika ku sendiri..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bosan aku dengan penat&lt;br /&gt;dan hanya saja kau pekat&lt;br /&gt;seperti berjelaga jika ku sendiri..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diambil dari syair puisi dian sastro - tentang seseorang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-7825056156707416061?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/7825056156707416061/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=7825056156707416061' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/7825056156707416061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/7825056156707416061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/08/tentang-seseorang.html' title='tentang seseorang'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SpTTaZCljeI/AAAAAAAAAKs/2EEct0jcY2s/s72-c/deasd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-176322695162184469</id><published>2009-08-25T18:21:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T18:49:55.990-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>sandyakala ramadhan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SpSUlcGZkeI/AAAAAAAAAKc/eLK54qDNKmE/s1600-h/Langit+Senja.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SpSUlcGZkeI/AAAAAAAAAKc/eLK54qDNKmE/s200/Langit+Senja.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374083626278949346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sebuah dukuh&lt;br /&gt;ayah ibu dan dua anak kurusnya&lt;br /&gt;di bilik bambu rapuh&lt;br /&gt;di atas tikar pandan lusuh&lt;br /&gt;tergeletak empat gelas air putih dan rebusan singkong pucat&lt;br /&gt;menanti jingga langit, tak ada sayup angin,&lt;br /&gt;hanya hikmat pepohonan dan tenang alam pedukuhan&lt;br /&gt;didaulat suara gemetar qira' dari surau sebelah makam&lt;br /&gt;bedug maghrib tak kunjung bertalu&lt;br /&gt;menunggu pukulan seorang renta yang istiqomah&lt;br /&gt;menunggu badan rebah terkubur dalam tanah merah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-176322695162184469?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/176322695162184469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=176322695162184469' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/176322695162184469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/176322695162184469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/08/sandyakala-ramadhan.html' title='sandyakala ramadhan'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SpSUlcGZkeI/AAAAAAAAAKc/eLK54qDNKmE/s72-c/Langit+Senja.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-8197582602404160989</id><published>2009-08-25T18:09:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T18:20:51.380-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>ramadhan ke-3</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SpSNkZ5vNvI/AAAAAAAAAKU/1w3WC1nTv4E/s1600-h/wnita+sedih.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 145px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SpSNkZ5vNvI/AAAAAAAAAKU/1w3WC1nTv4E/s200/wnita+sedih.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374075911927707378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;kembali di pertigaan traffict light ajibarang,&lt;br /&gt;selalu tak sama tak seperti dulu,&lt;br /&gt;puasa tahun ini dengan tahun yang silam&lt;br /&gt;pada ramadhan hari ketiga&lt;br /&gt;aku merasa kehilangan banyak hal&lt;br /&gt;aku merasa mendapatkan banyak hal&lt;br /&gt;kemarin aku kehilangan citra seorang perempuan&lt;br /&gt;kemarin aku mendapatkan wajah seorang yang baru&lt;br /&gt;kulihat redup parasnya jauh dari cahaya&lt;br /&gt;seperti kembang layu kehilangan sarinya&lt;br /&gt;"semoga prasangkaku salah" batinku berucap&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-8197582602404160989?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/8197582602404160989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=8197582602404160989' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8197582602404160989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8197582602404160989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/08/ramadhan-ke-3.html' title='ramadhan ke-3'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SpSNkZ5vNvI/AAAAAAAAAKU/1w3WC1nTv4E/s72-c/wnita+sedih.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-2198720915077627958</id><published>2009-07-08T20:13:00.000-07:00</published><updated>2009-07-08T20:29:26.412-07:00</updated><title type='text'>musim sekolah</title><content type='html'>musim sekolah bagi orang kecil menjadi musim yang memusingkan&lt;br /&gt;tanpa uang, tanpa utang, anaknya tak dapat daftar ulang&lt;br /&gt;sekolah hanya bilang dua hari lagi uang harus ada&lt;br /&gt;untuk ini itu tanpa tahu atau tak mau tahu gimana mendapatkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;para guru mungkin tak pernah merasa kalau orang kecil tak seperti dia&lt;br /&gt;punya mata air uang dari negara, setiap bulan sungai gajinya mengalir terus&lt;br /&gt;tak peduli penghujan atau kemarau&lt;br /&gt;apalagi ada gaji ketiga belas&lt;br /&gt;jadi bagi mereka satutahun bukan duabelas bulan tapi tigabelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;musim anak sekolah, bapaku pusing biyungku apalagi&lt;br /&gt;sawah yang sepetak itu setengahnya telah digadaikan&lt;br /&gt;kambing yang tiga itupun tinggal dua sperti gigi nenekku&lt;br /&gt;smentra kayu-kayu di kebun telah ditebang dijual untuk tambahan&lt;br /&gt;namun semua itu belum mencukupi untuk daftar ulang&lt;br /&gt;mau tidak mau harus utang&lt;br /&gt;untung ada saudara yang baru saja rampung hajatan&lt;br /&gt;dan ia bermurah hati untuk meminjamkan&lt;br /&gt;biarlah nanti bayaran utang baru dipikirkan &lt;br /&gt;dijanjikan sedikitnya sepuluh hari dan lamanya setengah bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keluargaku masih beruntung dibanding keluarga lain&lt;br /&gt;tangga desa  yang punya anak kembar berprestasi&lt;br /&gt;dengan senangnya menerima kabarnya kedua anaknya diterima di SMA&lt;br /&gt;raut muka bersinar berbinar tanda kebanggaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi beberapa detik kemudian setelah sebuah kertas buram dibuka&lt;br /&gt;mukanya langsung layu, seperti kehilangan darah seember&lt;br /&gt;di matanya terbayang setumpuk uang sebesar empat juta&lt;br /&gt;dalam pikirnya berarti si kembar harus ada delapan juta&lt;br /&gt;delapan juta harus ada dua hari ini&lt;br /&gt;paling lambat &lt;br /&gt;harus&lt;br /&gt;kalau tidak&lt;br /&gt;si kembar tidak sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siang itu, sore itu, sampai malam itu&lt;br /&gt;bahkan hingga dua hari kemudian&lt;br /&gt;si ibu bapak mencari uang&lt;br /&gt;tepatnya utangan untuk daftar ulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi entahlah&lt;br /&gt;dalam waktu yang ditentukan&lt;br /&gt;uang tak kunjung didapatkan&lt;br /&gt;kenyataan harus dipaksa diterima&lt;br /&gt;tahun ini sikembar tak dapat sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"cah bagus, tahun besok saja kita lanjutkan SMAmu.&lt;br /&gt;maafkan bapak ibumu yang tak bisa usahakan biaya"&lt;br /&gt;mata si ibu berkaca-kaca. &lt;br /&gt;setelah itu ia langsung menuju ke kamarnya&lt;br /&gt;si kembar saling berpandangan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-2198720915077627958?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/2198720915077627958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=2198720915077627958' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/2198720915077627958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/2198720915077627958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/07/musim-sekolah.html' title='musim sekolah'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-1446755946639396386</id><published>2009-06-30T21:15:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T21:40:09.403-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>perempuan cantik yang pacarnya jelek sekali</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SkronkVn-mI/AAAAAAAAAKE/veP7yq6Wa6M/s1600-h/dian%2B(2).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 137px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SkronkVn-mI/AAAAAAAAAKE/veP7yq6Wa6M/s200/dian%2B(2).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353346873550174818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dengan amat sadar aku pulang menenteng buku "kebebasan pengarang dan masalah tanah air" IWAN SIMATUPANG. kuturuni tangga berjalan menuju parkir Sriratu, tempat perbelanjaan modern di purwokerto.entahlah kenapa dinamakan Sriratu bukan sri baginda raja, mungkin karena sriratu itu mengidentikkan perempuan yang doyan belanja, yang punya banyak uang tentunya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah sampai di parkir, aku melihat sebuah fenomena ada seorang perempuan yang amat cantik, setidaknya menurut ukuranku. semampai, berhidung mbangir dan berambut panjang. kulitnyapun serupa bengkoang yang telah dikupas. senyumnya membuat lisanku memuji nama-Nya, subhanalloh...bolehlah kalau dibayangkan seperti Diansas..&lt;br /&gt;keindahan yang membuat segala sesuatu disekitarnya menjadi lupa dan tak sadar. untung sahabatku menepuk pundakku.dari saat itulah aku tersadar."hei, ayo pulang ke Grendeng" kata Ipul, seperti panggilan nama sahabatku yang sama dengan mantan suami si pemilik goyang gergaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ayo..." sambil kuterima helm dari Ipul sambil kupasangkan ke kepalaku. akupun membonceng motor supra XXnya. mataku masih menyapu pandang parkir itu. masyaalloh, aku terkaget, hingga tak sengaja kubenturkan helmku ke helmnya Ipul.&lt;br /&gt;"ada apa sih, ribut amat" kata ipul.&lt;br /&gt;"pul, lihat itu" sambil kutolehkan kepalaku ke arah perempuan cantik yang sedang memegang helm merah. dia mulai membonceng sebuah motor Tiger 2000.betapa cantik dan serasinya dia, memakai jin biru dan baju putih ketat agak tipis dan transparan bahannya.&lt;br /&gt;tiba-tiba, kedua bola mata ipul melotot dan tak disangka jatuh ke tanah.untung segera dipungutnya dan dipasangkannya kembali. "kenapa, Pul?"aku juga terkaget.&lt;br /&gt;sambil membenarkan kedua bola matanya ipul menjawab, "perempuan itu cantik, tapi pacarnya jelek sekali"....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-1446755946639396386?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/1446755946639396386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=1446755946639396386' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1446755946639396386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1446755946639396386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/06/perempuan-cantik-yang-pacarnya-jelek.html' title='perempuan cantik yang pacarnya jelek sekali'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SkronkVn-mI/AAAAAAAAAKE/veP7yq6Wa6M/s72-c/dian%2B(2).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-3304776768719516750</id><published>2009-06-14T01:57:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T02:03:04.190-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Kamilayan</title><content type='html'>Tak ada mendung menggantung di atas langit pedukuhan Gandasari.  Perbukitan yang kerontang dengan pepohonan berdaun jarang dan meranggas. Tunas-tunas mudapun tak nampak apalagi sulur umbi gadung yang tumbuh di pekarangan rumah, padahal ketika lengkung sulur gadung nampak warga dukuh percaya itulah pertanda alam bahwa musim penghujan segera tiba. Yang sering terdengar mengiris hati hanya suara batang bambu bergesekan yang dipermainkan angin kering dari utara. Setelah itu akan nampak daun-daunnya yang kering berputar-putar di udara sebelum jatuh mencium tanah berdebu tebal. Kemarau di bulan Agustus ini sepertinya masih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada musim ketiga ini, air menjadi begitu berharga warga dukuh itu. Entahlah, kini sumur-sumur dan sumber air hampir semuanya kering, hanya mata air di balik bukit Wadaskelir yang masih mengalir. Itulah mata air satu-satunya. Sepanjang hari nampak pemandangan warga berbondong-bondong seperti semut, menyusuri jalan setapak perbukitan yang curam menuju arah dua pohon jati raksasa. Di bawah dua pohon jati raksasa itulah ada sumber air menggenang pada sebuah ceruk kecil. Orang-orang menyebut ceruk itu, Belik Eyang Riyong. Jaman dulu orang-orang menggunakan tempurung buah Maja untuk mengambil airnya. Dulu di atas belik1 itu juga selalu ada sesaji jajanan pasar, aneka wedang2, rokok  kemenyan klembak, kembang dan kepulan asap dupa. Konon di situ tempat pesugihan celengkarung3. Kini di situlah manusia-manusia dukuh Gandasari berkerumun dan bergantian mengambil air untuk dibawa pulang. &lt;br /&gt;Matahari siang itu membuat bumi serasa terpanggang. Orang-orang di perbukitan itu banyak berteduh di bawah dua pohon jati raksasa sambil menunggu bergantian mengambil air. Tak ada tempat berteduh kecuali dua pohon jati itu. Namun Murdi, pria lima puluhan tahun itu melangkah menjauh. Jligen dan pikulan pengangkut air ditinggalkannya. Ia lalu duduk berselonjor kaki. Tanpa berteduh dibiarkannya tubuhnya dipeluk terik matahari, peluhnya kelihatan mengkilat mengalir halus dari kening  melewati wajah sebalum menetes ke dadanya. Sesekali rongga dadanya kembang kempis menarik dan menghembuskan nafas panjang. Pandangnya kosong, padahal di depannya terhampar lereng perbukitan ilalang kering yang berombak-ombak disapu angin. Desau angin itu begitu panjang, sayup hilang-terdengar menyusuri panjangnya Bukit Wadaskelir. Suara ribut orang saling mencaci dan menyalahkan temannya yang menumpahkan air, tak mampu mengisi kosong pandangnya. Jligen-jligen dan ember penampung air berserakan, bahkan ketika keributan dua orang itu semakin menjadi Murdi tak peduli. Murdi masih hanyut dalam lamunan panjangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tujuh bulan yang lalu. Di rumah. ‘Murdi, sebagai suami masa kaubiarkan isterimu itu kembali akan merantau ke luar negeri ’ tegur ibunya yang telah renta.&lt;br /&gt;Murdi hanya duduk termangu di atas lincak4 bamboo. Sementara ibunya terus membenamkan kayu bakar ke dalam mulut tungku. Api di dalamnya menjilat-jilat. Air nira di dalam kuali besar itu nampak mendidih. Namun sedikit bahkan terlampau sedikit. ‘Biyung5, kemarin jadi berapa kilogram gula merahnya?’ Murdi bertanya mencoba mengalihkan tema pembicaraan. Ralem perempuan tua yang sudah bongkok itu ngeloyor ke luar rumah mengambil daun kelapa kering. Tak memedulikan Murdi. Murdipun sebenarnya tahu, jauh sebelum kemarau ini, pohon kelapa yang disadapnya tak lagi mengeluarkan nira yang melimpah. Pendapatannya sebagai penderes kian hari kian tak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Apalagi ketiga anaknya masih bersekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Memang Murdi itu terlalu berani, sudah tahu orang melarat. Berani-beraninya menyekolahkan semua anaknya’ buat apa sekolah tinggi-tinggi toh nanti yang jadi priyayi hanya orang-orang kota saja’ tidak jarang selentingan dari tetangganya. Terlebih lagi ketika hutangnya semakin lama semakin menumpuk pada tauke gula kelapa. Tiga bulan ini sewa pohon kelapa yang disadapnyapun belum dibayar. Sering ketika memanjat pohon kelapa, terasa pusing sekali kepalanya sehingga seringkali ia berhenti dan istirahat sambil duduk bersandar pada batang pohon kelapa.&lt;br /&gt;‘Kang, kalau begini terus. Anak-anak bisa putus sekolah. Utang kita terus bertambah. Bagaimana kalau aku ikut Uwak6 Gino jadi TKI di Brunei. Kalau di Brunei ga usah bisa bahasa Inggris-ingrisan juga tidak apa-apa, terus uang berangkatnya dibayar dengan potong gaji tujuh bulan kerja’ tariah berkata sambil menatap mata cekung murdi.&lt;br /&gt;‘Tar, apa kamu tidak ingat waktu kamu kerja tujuh bulan di Kalimantan bersama Kang Wasrip, Bapakmu itu kena kamilayan7, sakit sebab kepergianmu dan kehilanganmu. Terus kamu pulang setelah dikabari bahwa Bapak sakit dan obat kesembuhannya adalah ketemu kamu. Ternyata kepulanganmu bukannya menjadi obatnya, tiga hari setelah itu penyakitnya tambah parah sampai akhirnya meninggal. Apa kamu ingin hal itu terjadi lagi pada Biyungmu?’ murdi mencoba mengingatkan isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Kang, tapi kalau aku tidak berangkat, kita mau mengandalkan apa? Sawah yang sepetak kecil itu telah tergadai selama setahun pada Pak Darso sejak Kasno awal masuk SMP. Untung Kasno tinggal di rumah Uwaknya. Tini juga setahun lagi akan lulus SMP dan butuh biaya besar. Si bungsu Ripto setahun lagi akan lulus SD. Masa kita tidak bisa menyekolahkan mereka. Kasihan mereka. Biar kita yang sengsara asal mereka bisa tetap sekolah’ tariah terus mendesak murdi. Dan murdi tak dapat menjawabnya. Semua yang dikatakan tariah memang semuanya benar. Tak ada yang dapat disangkalnya. Dadanya semakin sesak. Kepalanya serasa berputar. Tanpa berkata ia langsung bangkit sambil terhuyung meninggalkan kamarnya. Ia merasa semakin berat pundaknya tertimpa beban yang kian bertambah. Dibiarkannya tariah duduk termangu sendiri. Di luar rumah ia berbaring di atas lincak, matanya lurus memandang langit. Di atas sana bintang berkerdipan. Angin malampun masuk ke dalam rumahnya lewat celah-celah dinding anyaman bambu yang lama tak terganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu setelah malam itu, dengan tekad bulat isterinya jadi pergi. Tinggallah Sanmurdi di rumah bersama ibunya yang renta dan ripto yang sudah kelas enam SD. Sementara dua anaknya kasno dan tini, pasti akan ketemu tariah di rumah Uwak Gino. Murdi masih teringat pesan menjelang kepergian isterinya ‘ Kang, aku titip anak-anak’. Setelah itu ia bersalaman dengan Ralem, ibu mertuanya. ‘ Do’akan aku Biyung biar dapat hasil’. Tariah lalu melangkah pergi sambil menunduk. Tas besar dijinjingnya. Tinggallah kedua orang yang dicintainya terpatung di pelataran rumah di pagi buta. Sementara si bungsu Ripto masih tidur. Hanya ciuman Tariah yang ditinggalkannya ketika ia masih nyenyak bermimpi mengejar layang-layang di sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Kang Murdi, rika sida ngangsu apa ora kiye?8’ suara kartim, membangunkan lamunannya. Matahari sudah mulai tergelincir ke barat. Murdi hanya mengangguk membalas teguran Kartim yang sudah memikul dua jligen air dan siap-siap menuruni jalan curam perbukitan Wadaskelir untuk pulang. Murdi mencoba bangkit tapi kakinya serasa begitu gemetar, lemas tak mampu menopang tubuhnya. Terasa perbukitan itu bergoyang-goyang dan berputar seperti ada gempa. Setelah itu yang dilihatnya hanya gelap dan gelap. Ia ambruk pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bangun, ia sudah ada di rumah. dan telah beberapa minggu ini ia di rumah. Ia tak lagi mampu memanjat pohon kelapa untuk mengambil nira. Pekerjaan menyadap nira diwakilkan Kartim adiknya. Yang dirasa Murdi, hanya lemas dan serasa ada yang menggerogoti seluruh persendian tubuhnya. Tubuhnya kurus, tidak enak makan, wajahnya kuning layu. Tak ada gairah lagi dalam hidupnya. Keadaannya kini sama seperti Kasnawi, almarhum bapak mertuanya. Kemudian tersiar kabar di seluruh pedukuhan itu tentang murdi. Murdi kena kamilayan. Kamilayan karena kehilangan Tariah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juni 2009&lt;br /&gt;ketika musim tak jelas ternamai&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-3304776768719516750?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/3304776768719516750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=3304776768719516750' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/3304776768719516750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/3304776768719516750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/06/kamilayan.html' title='Kamilayan'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-95817255451048641</id><published>2009-06-14T01:16:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T01:39:35.821-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Cerita negeri Sastra</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ini cerita yang terjadi di sebuah negeri Sastradireja. Sebuah negeri yang tak mungkin kau temukan di peta manapun. Jika ke sana engkau akan menemui raja Sastranegara dan jika engkau lelaki sejati engkau pasti akan jatuh cinta dengan Puteri Sastrawati dan jika engkau perempuan sejati niscaya engkau akan jatuh hati akan seorang pangeran bernama Pangeran Sastrawarman. Memang nama-nama mereka mirip dengan nama-nama tokoh sejarah kerajaan  di negerimu mungkin? Tapi sudahlah. Perlu kau ketahui negeri ini konon hanya dapat ketahui ketika dirimu menjadi orang-orang terpilih. Untuk menjadi orang terpilih engkau harus menjadi orang yang punya fantasi gila dan otomatis dalam anggapan umum engkau akan dianggap orang gila. Dengan menjadi gila engkau kelak akan bisa mengunjungi negeri tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apakah engkau mau gila? Itu pertanyaanku kepada semua orang yang berhasrat untuk menapakkan jejak ke negeri Sastradireja. Aku yakin sebagian besar orang tak mungkin berani menjadi gila hanya untuk bisa masuk ke negeri yang tak ada dalam peta manapun walaupun di sana engkau akan menemui banyak cerita yang tak mungkin engkau lupakan dan tak mungkin sependek cerita yang nanti aku ceritakan nanti. Makanya aku berkeyakinan hanya orang-orang yang benar-benar gilalah yang mau dan dapat berkunjung ke negeri Sastradireja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari aku berkunjung ke negeri itu sehingga orang tuaku dan tetangga-tetanggaku mengira aku hilang sehingga mereka mencariku ke hutan seberang desa. Yah mereka mengira aku telah raib diselong oleh jin, setan mrekayangan dan siluman penunggu hutan. Sungguh tak dapat disalahkan karena aku kecil senang sekali naik pohon Asemkamal sehabis pulang sekolah sampai petang. Bahkan tidak jarang aku ketiduran di dahan pohon yang serupa kursi sampai larut malam. Dengan susah payah bapak dan paman menurunkanku yang tidur dengan menggendongnya dengan sarung. Ketika aku sudah tidur aku memang susah sekali dibangunkan. Tidur seperti mayat. Setelah dua hari aku kembali ke rumah, semua orang menanyaiku dari mana dan kujawab dengan cerita ini tapi mereka tidak tidak percaya dan aku yang kecil dibilangnya sudah pandai berdusta. Entah kamu nanti mau mengatakan apa padaku setelah membaca ceritaku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun tak tahu kenapa aku bisa sampai bisa berkunjung ke negeri itu. Entahlah, yang pasti suatu petang aku naik pohon asem kamal dan aku ketiduran di sana dan tahu-tahu ketika aku sadar aku telah berada di sebuah beranda rumah khas Joglo jaman kuno dan orang-orang berpakaian kain khas Jawa seperti aku lihat dalam film Tutur Tinular. Dan akulah anak yang berpakaian paling aneh, pikiranku akulah anak yang datang dari masa depan menuju masa lalu. Lalu aku bertanya kepada orang-orang di sana namun ternyata aku tak terlihat oleh mereka. Suara tanpa rupa, tapi anehnya mereka tak mengiraku hantu. Hal itu sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Suara tanpa wujud bisa jadi adalah wangsit leluhur yang selalu mereka nanti-nantikan. Ketika aku lapar aku mengambil beraneka sesaji yang ada di setiap bangunan wajar dan pohon besar di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lama aku berkeliling sebuah desa di negeri itu aku mampir di sebuah rumah dimana sekerumunan anak sedang duduk melingkar dengan seorang kakek tua duduk diantara mereka sambil bercerita tentang negeri mereka yang dulu tak seperti sekarang. Akupun dengan santainya duduk di antara mereka, toh mereka tak melihatku. Namun aneh, kakek tua itu melihat kedatanganku dan mempersilahkanku duduk diantara mereka dengan bahasa isyarat. Akupun mengikuti jalan cerita kakek tua itu dari awal sampai selesai. Dari situlah aku menjadi mengerti bahwa negeri itu adalah negeri Sastradireja dengan penduduk sebagian besar berpekerjaan sebagai pujangga. Pangan sandang dan tempat tinggal sudah bukan lagi masalah bagi mereka. Kegemaran mereka adalah bersastra. Tapi ternyata sebelum itu negeri sastra tertimpa sebuah krisis yang amat dahsyat akibat kemarau panjang. Krisis itu amat mengguncangkan persediaan pangan, sandang, papan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang tak kalah menjadi masalah justeru dalam kemarau itu mereka kekurangan krisis daun lontar. Daun lontar adalah media dimana mereka paling suka untuk menulis segala karya sastranya. Anehnya, kemarau itu tanaman lontar hanya bisa berbuah dan berpelepah tanpa daun. Padahal daunlah lontarlah yang menjadi amat penting bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya diselenggarakanlah konggres sastrawan di negeri Sastradireja. Semua sastrawan datang. Konon konggres itu diadakan di sebuah desa dengan alasan para sastrawan sudah bosan melakukan konggres di kotaraja. Terlebih dari itu tujuannya adalah untuk mengenal keindahan desa dan memperkenalkan sastra kota kepada orang desa. Di desa diharapkan para sastrawan bisa menemukan banyak kosakata, cerita, setting dan alur yang baru atau yang telah lama mereka tinggalkan. Begitulah bunyi seruan dalam poster-poster dan media masa yang tidak lain berupa rangkaian daun lontar yang tersebar di pelosok negeri itu. Entah siapa yang membuatnya dan menyebarkannya. Tapi yang pasti hal itu serentak terjadi pada hari yang sama tepatnya sejak sepekan sebelumnya, kongres sastrawan muda negeri itu telah dimulai.&lt;br /&gt;Pendek cerita, berdatanganlah para pujangga ke desa itu. Mulai dari penyair muda, pujangga muda , penulis roman, suluk dan babad menampakkan batang hidungnya. Mereka berumur antara sepuluh samapi dupuluh lima tahun.  Umur itulah yang konon menurut data Badan Pusat Statstik negeri Sastradireja masuk kategori muda. Ada dari mereka yang dari mereka datang dengan kudanya , delmannya, gerobagnya bahkan dengan jalan kaki. Mungkin di sana belum (saatnya) ada mobil atau kendaraan bermotor lainnya, di sana hanya ada kendaraan berhewan. Penampilan merekaun bermacam-macam . ada yang memakai sepatu, sandal, ada juga yang telanjang kaki. Kebanyakan dari mereka  memakai ikat kepala baik itu yang berambut panjang diurai dan yang digelung. Saking bayaknya gaya merka aku tak dapat menguraikannya satu persatu, pokoknya mereka tak seperti aku lihat sebelumnya di jaman kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persatu mereka daatang dari berbagai kota da n desa namun setelah sampai pada lokasi mereka kebingungan. Kngres sastrawan mud ibarat kongres dalam cerita, kongres fiktif. Di lokasi meeka tak pernah disambut panitia  bahhkan tak pernah tahu sipa panitia. Tak ada administrasi untuk penyai atupun sastrawan muda. Mereka banyak meluapan darah mudanya. Berbicaara, meggerutu, mengupat dengan puisi, memarahi dengan syair, menggerutu dengan kidung lagu dan sajak entah pada siapa. Orang-ornag desa sekitar stu hanya melongo melihat tingkah mereka. Sampai suatu saat muncullah serorang pemuada muncul di tenagtah kekacauan itu. ‘selamat datang wahai para sastraawn muda di kongres sastrawa n muda di desa Sesaksajak ini’ suaranya demikian jernih padahal yang berkata itu hanyalah seorang anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sastrawan muda yang telah datang hanya kaget dan tak mengira hanya disambut seorang anak kecil bertelanjang dada berambut ikal. Mendengar ucapan selamat datang , ereka haya diam sesaat namun stelah itu mereka memberondong anak lelaki kecil itu dengan berbagai pernyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘anak kecil kau mau apa disini, kalu kau tau dimana kami bisa bertemu dengan teman paitia kongres ini dan dimana kai tinggal selama tiga hari di di desa ini. Dimana kami makan, dimana tempat baca puisi membuat sajak merangkai syair, dimana, bagaimana…………dan seterusnya dan seterusnya mengapa semua ini terlihat kacau balau?’&lt;br /&gt;Mendengar itu semua pertanyaan itu seorang anak kecil itu hanya duduk mematung. Beberapa saat kemudian para sastrawan muda itu puas memberondong pertanyaan itu, tubuh anak kecil yang tadinya mematung diam. Namun lama-kelamaan terlihat berbagai macam sajak cacian, syair kedengkian dan puisi kemuakan mengalirkan huruf-hurufnya masuk kedalam kepala anak kecil itu dan setelah itu anak kecil itu seperti berat menahan kepala hingga akhirnya rebah di tengah kerumunan kemarahan para sastrawan muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dimulailah kongres sastrawan muda dipimpin oleh seorang anak kecil bersuara jernih itu. Disebut-sebutlah bahwa anak kecil itu adalah titisan dari seorang pujangga negeri Sastradireja, bernama Sastraatmaja pendiri dari desa Sesaksajak yang moksa setelah lama meninggalkan kotaraja akibat tidak terima keitka sastra dipergunakan untuk konsprasi kuasa dan alat untuk menindas rakyat. Dialah pengusung genre sastra nglawan kuasa. Rupanya keturunannya yang dikira oleh kakek raja Sastranegra telah mati diburu itu masih hidup sampai sekarang. Entahlah kenapa para sastrawan muda itu begitu takjub dan patuh kepada anak kecil itu yang ternyata bernama Sastrapinunggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil duduk santai di lelumutan kerak di bawah rumpun bambu ampel gading semua sastrawan berkumpul. Anak kecil itu menjelaskan bahwa menjelaskan bahwa panitia penyeleggara kongres itu tak lain dia senridri tanpa orang lain. Semeentra para sastrawan muda selaama melakukan kongres dipersilahkan tingal di mana saja dan makan apa saja. Anak kecil itu tahu bahwa para sastrawan hanya berbekal puisi, cerita, dongeng , dan syair pada lembaran lontar dan pada mulut mereka yang telah dihafalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tiga hari itulah para sastrawan peserta kongres itu ada yang bertahan dan kabur karena tak yakin akan bisa bertahan hidup hanya berbekal karya sastra mereka. Daun lontar berisi sajak tak mungkin mengenyangkan mereka. Sedangkan para penduduk desa Sesaksajak sedang kekurangan pangan akibat kemarau panjang ini dan mereka telah muak dan trauma dengan sajak yang hanya berjejaring dengan penguasa lalim seperti dulu.&lt;br /&gt;Sastrawan muda yang tersisa hanya tinggal sebelas orang dari sekitar seratus sebelas orang. Mereka masih duduk di lelumutan kerak di bawah rumpun bambu ampel gading membahas masalah sastra dan kehidupan negeri Sastradireja. Anak kecil itu kemudian berkata dengan kidung lagu. Suaranya mirip dengan suara orang dewasa. Para sastrawan meyakini bahwa yang menyanyikan kidung mistis itu bukan anak kecil itu, melainkan eyang Sastraatmaja yang sedang merasuk ked alam jasad cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kidung itu sastraatmaja menutrukan bahwa keamrau panjang iini tak lain karena kesalahan manusia sendiri yang membuat murka Dewata akibat telah menyalahgunakan sastra bukan lagi sebagai alat penyampai kebajikan namun telah menjadi alat pengadu domba manusia dan alat mencapai kekuasaan. Barangsiapa yang ingin wilyahnya makmur kembali maka merke ak harus berkerja keras tidak hanya menyembah raja lalim dan menjadikan sastra sebagau dewata baru. Begitulah pesan sastraatmaja yang dapat ditangkap waktu itu yang ditangkap dari anak kecil itu. Bersamaan nyanyian kidung selesai terjadilah gemuruh angin besar yang meluruhkan daun-daun kering ampel gading. Semua sastrawan menutup menoleh dan sontak menutupkan jemarinya untuk melindungi mata dari luruhan daun dan kepulan debu. Setelah itu anak itu telah hilang pergi bersama angin yang menyapu tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa anak kecil itu kongres sastra terus berlangsung. Sebalas sastrawan ituoupn menjalankan tirakat menugrangi makan minum  selama kongres sastrawan berlangusng. Keitka siang mereka berkumpul di temapat tu, namun mketika malam datang mreka berpencar di berbagai tempat. Mencari inspirasi, duduk di pinggir kali menghayati keheningan tanpa suara gemericik air. Menghayati dingin malam kemarau panjang. Merenungi wangsit dan pesan eyang sastraatmaj tentang musibah kemarau panjang. Ada pula yang duduk bersila di tengah rekah tanah sawah  di bawah remang bulan sabit. Ada yang merangkai bait-bait syair dan lagu lewat suara miris tangis anak kecil yang tak lagi bisa menyusu karena air susu ibunya telah kering. Malam membuat mereka merenungi semua, memahami teka-teki sepi dalam kekeringan yang belum diketahui ujungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kongres tidak ada penduduk yang mengikuti dan melihat, mereka telah muak dengan sajak. Desa mereka telah sesak dengan sajak. Mereka tidak peduli dengan adanya pentas syair, puisi dan sajak dan apresiasi sastra apapun. Mereka akan menghargai sastra ketika sastra bisa berguna. Puisi dan syair akan lebih indah ketika mampu menghidupkan tanaman, sajak akan rancak berirama merdu mampu mengundang gemericik air kehidupan. Dan seterusnya  dan seterusnya……..sastra akan berguna ketika mampu memanusiakan manusia dan harmoni dengan alam semesta di sekitarnya. Selama itu belum terjadi mereka tidak akan percaya pada sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu siang setelah berdebat cukup lama akhirnya sebelas orang sastrawan itu bersepakat untuk bertaubat pada Dewata atas semua kesalahan yang pernah dilakukan. Menginsyafi kekeliruan dan kemusyrikan, menghindari bid’ah-bid’ah yang jelas-jelas merugikan umat manusia dan alam semesta.&lt;br /&gt;Malamnya, di bawah remang bulan sabit mereka berangkat menyusuri jalan penduduk desa menuju mata air Belik Banyumumbul mereka naik terus menuju sebuah bukit. Di atas bukit Pamujan tempat petilasan Eyang Sastraatmaja moksa itulah, akhirnya mereka bersebelas bersujud meminta wangsit Dewata untuk meminta petunjuk dan memanjatkan pinta agar kemarau panjang segera usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang terakhir akhirnya disepakati bahwa sastra yang baik adalah sastra yang menyuarakan kebenaran bukan sastra yang melindungi kepentingan penguasa yang lalim. Sebelas sastrawan menyetujui bahwa bersastra tidak harus berebut lewat media masa sebagai lahan satu-satunya penyair untuk hidup. Mereka bersepakat bahwa sastrawan sejati adalah semua orang mampu menggunakan bahasanya untuk kebenaran, kebaikan umat manusia dan alam semesta. Sastra harus memayu hayuning bawana. Semua orang bisa jadi sastrawan.&lt;br /&gt;Tersebutlah setelah beberapa tahun kemudian, bahwa kesebelasan sastrawan itu menjadi pelopor petani sastrawan, pandita yang pujangga, ahli tatanegara yang ahli sastra, pedagang yang benar menggunakan neraca dan bijak menggunaka katanya dan ada pula yang menjadi guru bahasa dan sastra yang tidak membebek pada kata penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah Revolusi sastra negeri Sastradireja itu bermula. Dari desa Sesaksajak sebelas sastrawan itu bersusah payah membuat saluan air dari sambungan panjang batang bambu dari belik Banyumumbul menuju pemukiman penduduk. Penduduk yang awalnya enggan berangsur-angsur penduduk sadar akan kemanfaatan usaha para sastrawan itu. Mereka mulai belajar kembali sastra di jeda bertani  dan berdagang mereka. Mereka ajarkan anak mereka syair dan cerita sebelum anaknya terlelap. Mereka rasakan dengan sastra keindahan hidup, Mereka dan percaya sastrawan tidak hanya bisa berdusta dan menyihir kata-kata. Sastrawan juga mampu berbuat yang bermanfaat bagi manusia. Setelah beberapa lama di desa Sesaksajak itu, sebelas sastrawan itu tak terekam jejaknya. Kemudian tersiar kabar bahwa mereka moksa padahal sebenarnya mereka telah dibunuh oknum penguasa yang resah dengan genre sastrasejati. Sastra yang menampilkan segalanya apa adanya tanpa ada prasangka dan kuasa angkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar cerita itulah, si kakek tua itu menghampiriku. Menyalamiku dan berkata ‘akulah Sastrapinunggul, anak kecil dalam cerita itu’ setelah itu aku ditepuknya dan aku tak sadar. Ketika aku bangun aku sudah berada di atas dahan pohon Asemkamal. Kuceritakan semua ini berulang kali tapi mereka tidak percaya. Termasuk kau juga mungkin akan mengatakan bahwa semua yang telah kukisahkan ini bohong. Saranku jika engkau tak percaya sering-seringlah engkau tidur di atas dahan pohon Asemkamal. Barangkali Eyang Sastrapinunggul akan membawamu menuju negeri Sastradireja itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(terinspirasi pada acara SASTRA BALIK DESA, GUNUNG PATI SEMARANG bersama kang Nyaman yang kini entah bagaimana kabarnya.....)&lt;br /&gt;Purwokerto, Senen Kliwon 1 Juni 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-95817255451048641?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/95817255451048641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=95817255451048641' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/95817255451048641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/95817255451048641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/06/cerita-negeri-sastra-yang-tak-harus-kau.html' title='Cerita negeri Sastra'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-2656467235655032669</id><published>2009-05-25T20:19:00.000-07:00</published><updated>2009-05-25T20:38:51.637-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>tafsir hidup</title><content type='html'>jika kau setuju hidup adalah sebaris kata dalam sejumput paragraf kisah&lt;br /&gt;ada tokoh, alur dan ada masalah yang terkadang tak selesai bahkan terpotong sebelum klimaks menyeruak karena ada sebaris kata itu terkoyak dan seringkali hilang oleh sesuatu yang tak nampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika kau sepakat manusia adalah setetes tinta yang tumpah hingga menjadi rupa dan abjad&lt;br /&gt;namun terkadang tinta itu tidak sampai tertetes karena terburu kering oleh tiupan angin yang selalu menjadikan malam tertuduh penyebab sebaris sajak menggigil di antara jeda dan koma&lt;br /&gt;sebelum sampai pada tujuan titik penghabisan rima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika kau menolak hidup akan tetap menjadi hidup setidaknya hanya menjadi sebaris kata tanpa makna hanya rupa abjad yang tak terbaca oleh alur cerita&lt;br /&gt;manusia akan tetap menjadi manusia setidaknya seperti sajak tanpa rima hanya menjadi sebaris pantun yang tanpa isi hanya sampiran yang membuat pembaca menjadi kebingungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika kau menolak&lt;br /&gt;toh, semua telah tergurat dalam dalam lontar masa lalu dan ketika kau mencarinya ia telah hilang di persimpangan kenangan yang terkoyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;purwokerto, 26 mei 2009&lt;br /&gt;selasa wage, ketika malamnya tahlil weton dan tafrijiyah perdana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-2656467235655032669?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/2656467235655032669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=2656467235655032669' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/2656467235655032669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/2656467235655032669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/05/tafsir-hidup.html' title='tafsir hidup'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-8712648964149287514</id><published>2009-05-05T02:47:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T03:04:50.637-07:00</updated><title type='text'>geni jora</title><content type='html'>ketika sebuah nama di atas sebuah judul menarik mataku meletakkan pikirku untuk mencoba menyelami dalam tentang perempuan bukan lewat dirinya langsung melainkan melalui lembaran-lembaran putih karyanya selalu muncul tanya tentang apa yang ada pada sosoknya sampai segenap rahasia selalu menyekat semua tanyaku menyingkap tabir disela-sela merah bibir..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kadang bahkan sering aku takut untuk melukir wajahnya, apalagi mengukir gurat-gurat keindahannya sungguh terlalu indah untuk dirupakan, aku tak mampu melukis realisme meski kuberhasrat persembahkan surealisme. hanya dalam fantasikku dan fikirku kucoba melukis potret senyummu seperti kumelihat remang-remang film negatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cinta kesetiaan penghianatan menjadi dzikir dan wirid sang pencinta, beserta taburan airmata serupa kembang yang mekar ketika kumbang menjadi sari-sarinya. dibawah payung langit malam limabelas putri malam dan bintang kejora ketika cinta menjadi sebab dan akibat kita terdiam kehilangan kata karena terlalu bungkam oleh banyaknya keinginan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;banyak kata yang keluar tak sadar kita lisankan hanya sekedar tugas mulut berkata mungkin, menghitung mencerca  mencaci mencinta memuji seperti api membakar suluh kayu ibarat ari yang diam sejuk menghidupkan ibarat bah yang tanpa permisi membinasakan, mulutku berhenti ketika kupertanya apa itu wanita apa itu geni jora yang tak bisa penuh aku sepertikan tak mampu aku definisikan dan kuibaratkan secara utuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin tugas lelaki untuk menguasai wanita tanpa harus mengerti semua rahasianya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5 mei 2009 ketika senja di purwokerto utara masih bising oleh mudamudi yang berkendara)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-8712648964149287514?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/8712648964149287514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=8712648964149287514' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8712648964149287514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8712648964149287514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/05/geni-jora.html' title='geni jora'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-2034921349077820243</id><published>2009-05-05T02:28:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T02:47:04.147-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>berkoh-unsoed</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SgAKYfB9S5I/AAAAAAAAAJc/aa0_EILNzqo/s1600-h/Kampus+Unsoed.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SgAKYfB9S5I/AAAAAAAAAJc/aa0_EILNzqo/s200/Kampus+Unsoed.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332273374569515922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;jarum jam dinding tunjukkan 06.45 ketika awan mendung menggantung begitu hitam di langit pagi, tak secerah hari kemarin , kukeluarkan sepeda balap butut berwarna merah yang kubeli di pasar wage pewete, kutinggalkan sahabatku menutup mata lelap memeluk guling di kasur tanpa ranjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kukayuh sepeda menapaki medan menanjak ke kampus grendeng, lalu lintas begitu sibuk, belum sampai jarak satu KM kukayuh pedal sepeda, ketika itu di sekitar air mancur Berkoh saat roda sepedaku kubelokkan ke arah utara menuju jalan MAN 2, tiba-tiba rantai sepedaku putus, bersamaan itu mendung di langit pecah menjadi hujan deras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanpa mantel aku basah kuyup, berjalan tertatih menuntun sepeda, dengan tangan belepotan olie memegang rantai di stang kiri sepeda,  baru saja aku berpikir untuk terpaksa bolos kuliah tak kuduga cipratan air tanah kuning mencuci wajahku yang sudah basah, setelah kusaputkan telapak tanganku ke muka kulihat mobil toyota kijang mewah perlahan semakin melaju dengan cepat melewati kubangan yang ada di tengah jalan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kulanjutkan langkah untuk mencari bengkel di pinggir jalan&lt;br /&gt;terpaksa hari itu aku tidak masuk kuliah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-2034921349077820243?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/2034921349077820243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=2034921349077820243' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/2034921349077820243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/2034921349077820243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/05/berkoh-unsoed.html' title='berkoh-unsoed'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SgAKYfB9S5I/AAAAAAAAAJc/aa0_EILNzqo/s72-c/Kampus+Unsoed.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-5758150944348429755</id><published>2009-04-24T17:16:00.000-07:00</published><updated>2009-04-24T17:40:23.017-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>parodi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SfJZh-0S0hI/AAAAAAAAAJU/YxNKCuU6mwc/s1600-h/DSC04266.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SfJZh-0S0hI/AAAAAAAAAJU/YxNKCuU6mwc/s200/DSC04266.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328419749465608722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pada suatu ketika&lt;br /&gt;luka masih menganga berbuah kemanisan&lt;br /&gt;saat kenangan menjadi buah mata ketika itu senyum mengembang membayangkan apa yang telah terjadi sebuah parodi tawa terhentak serentak ketika otak gila mulai mendidih bersama darah muda yang selalu rindu eksistensi dan popularitas membungkus diri menjadi sebuah gambar maya mengabadikan yang fana dan memutlakan yang nisbi berharap arti suatu saat menyeruak dalam derak-derak pijak kapal kehidupan yang selalu menjadi misteri setiap diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika daun menguning menunggu saat-saat jatuh merindu sapuan angin pagi berhasrat menyatu dengan embun pagi yang bening dua orang serupa guru dan murid yang tak lain adalah parodi nyata nyata-nyata parodi dalam sebuah rumah Tuhan yang penuh dengan pemuda-pemuda yang (terpaksa)hatinya tergantung di masjid&lt;br /&gt;tak ada kepura-puraan dan kebenar-benaran&lt;br /&gt;tak ada beda antara parodi dengan hidup real&lt;br /&gt;ketika guru dan murid menjadi parodi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(untuk yuli dan faris yang selalu gila)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-5758150944348429755?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/5758150944348429755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=5758150944348429755' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/5758150944348429755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/5758150944348429755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/04/parodi.html' title='parodi'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SfJZh-0S0hI/AAAAAAAAAJU/YxNKCuU6mwc/s72-c/DSC04266.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-1099540483978400985</id><published>2009-04-23T22:52:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T23:34:48.546-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>Perlahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SfFdffr6fhI/AAAAAAAAAJE/kX471FqOq6E/s1600-h/mata+indah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 146px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SfFdffr6fhI/AAAAAAAAAJE/kX471FqOq6E/s200/mata+indah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328142629819022866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perlahan butir-butir kristal kesedihan keluar dari dua biji mata yang bening mengalir membasahi pipi putih halus yang merona meluncur cepat melewati hidung mancung menuju lengkung bibir indah yang merah jambu, wajah itu redup tertutup kerudung hitam sambil duduk jongkok dengan jemarinya yang lentik terus menyeka kristal-kristal bening yang terus menerus membuat pipinya semakin merah merona langit berawan menyambut kabut yang menyelimuti pemakaman itu dengan gerimis tipis yang rintiknya membasahi tungkai kaki indah sang gadis yang pucat malas untuk beranjak meninggalkan nisan baru kekasihnya yang baru saja tiada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan tepat depan halaman rumah bercat hijau muda tiga anak usia belasan putus sekolah sibuk berbicara tentang merpati sejak siang tadi kian kemari diterbangkannya sementara di dalam rumah itu seorang anak sekolah tingkat pertama sedang hanyut dalam keindahan sastra selepas maghrib hingga terdengar adzan isya polos bernotasi lurus polos jauh terdengar lamat-lamat seperti membuat malam merambat lambat bersama pekat yang melahirkan kesenyapan dan kerinduan sepasang kekasih &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 april 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-1099540483978400985?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/1099540483978400985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=1099540483978400985' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1099540483978400985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1099540483978400985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/04/perlahan.html' title='Perlahan'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SfFdffr6fhI/AAAAAAAAAJE/kX471FqOq6E/s72-c/mata+indah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-1503390179125493177</id><published>2009-04-20T08:01:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T08:05:51.713-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>kayu kesambi apa ketungkul?</title><content type='html'>sendhean karo ngiup&lt;br /&gt;tumrape wong urip sawektu udan gedhe utawa barat gedhe&lt;br /&gt;samangsa ora ana godhong lumbu amba utawa songsong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"ngiyuba utawa sendheana maring kayu kesambi &lt;br /&gt;aja pisan-pisan sendhean utawa ngiyup ning ngisore kayu ketungkul"&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-1503390179125493177?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/1503390179125493177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=1503390179125493177' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1503390179125493177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1503390179125493177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/04/kayu-kesambi-apa-ketungkul.html' title='kayu kesambi apa ketungkul?'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-640098124792495647</id><published>2009-04-20T07:56:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T08:00:49.499-07:00</updated><title type='text'>sedulur</title><content type='html'>sedulur&lt;br /&gt;sedulur&lt;br /&gt;sedulur&lt;br /&gt;sedulur&lt;br /&gt;pancer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedulur papat kelima pancer&lt;br /&gt;sehat papat lima sempurna&lt;br /&gt;arah kiblat papat&lt;br /&gt;arah jimat berkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bumi ibu mami&lt;br /&gt;sapa ngrumat bakal slamet&lt;br /&gt;sapa sembrana bakal kwalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk tahun delapan&lt;br /&gt;bulan duabelas&lt;br /&gt;hari tujuh&lt;br /&gt;pasaran lima&lt;br /&gt;sa'at duapuluhempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 20 april 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-640098124792495647?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/640098124792495647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=640098124792495647' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/640098124792495647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/640098124792495647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/04/sedulur.html' title='sedulur'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-654363967111507139</id><published>2009-04-20T07:36:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T07:55:25.916-07:00</updated><title type='text'>ngawur ngawruh urip sampai sumanto</title><content type='html'>hidup &lt;br /&gt;ada&lt;br /&gt;gerak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada gerak ada hidup&lt;br /&gt;gerak ada gerak hidup&lt;br /&gt;hidup gerak hidup ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada hidup tanpa ada gerak, hidup berarti bergerak&lt;br /&gt;dengan gerak tercipta ruang dan waktu, ruang dan waktu adalah akibat dari gerak&lt;br /&gt;gerak adalah sebab dari hidup, adanya ada adanya hidup yang bergerak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada yang sama dalam hidup&lt;br /&gt;kita setahun lalu, bahkan sepermilyar detik yang lalu&lt;br /&gt;mana beda antara masa lalu masa sekarang masa depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masa lalu termakan kata &lt;br /&gt;masa depan adalah sekarang kata orang&lt;br /&gt;siapa bilang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu, owah gingsiring jaman&lt;br /&gt;owahing mangsa, saat waktu terus berputar&lt;br /&gt;manusia tetap berputar dalam alam bawah sadar walau tak pernah tahu apakah ada arah atas bawah, utara selatan barat atau tenggara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semua entah&lt;br /&gt;semua gerak proses&lt;br /&gt;entah akan menjadi apa terserah penguasa&lt;br /&gt;sang Dalang Agung yang memegang Pakem &lt;br /&gt;itupun entah karena manusia hanya bicara dalam bahasa manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"orientasi hidup, lahir batin, selepas paska kuliah, menunggu entah atau membuat entah, mengejar entah dalam liputan cabang -cabang dengan berbagai rerantingan SURATAN TAKDIR yang amat rumit"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;eling, karena dunia adalah gerak&lt;br /&gt;wong mangan wong homo homini lopus benar-benar nyata lebih kasar daripada sumanto yang makan manusia mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;banyak manusia makan manusia lain yang masih hidup&lt;br /&gt;manusia dengan segala rasa, merasakan ketika dimakan&lt;br /&gt;gerak kepedihan, penghianatan manusia lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKARANG......... (bahkan mungkin dari dulu malah)&lt;br /&gt;edan, KE-Uangan Yang Maha Kuasa&lt;br /&gt;lebih kejam dari sumanto yang memakan mbok rinah&lt;br /&gt;banyak oknum manusia makan manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkinkah ketika semua telah berbai'at&lt;br /&gt;benar-benar&lt;br /&gt;tidak hanya syari at&lt;br /&gt;tidak hanya hakikat&lt;br /&gt;.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 april 2009&lt;br /&gt;"imajinasi gado-gado keserakahan manusia"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-654363967111507139?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/654363967111507139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=654363967111507139' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/654363967111507139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/654363967111507139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/04/ngawur-ngawruh-urip-sampai-sumanto.html' title='ngawur ngawruh urip sampai sumanto'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-125544766684335773</id><published>2009-04-20T07:28:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T07:35:07.576-07:00</updated><title type='text'>malam kartini</title><content type='html'>malam kartini &lt;br /&gt;tidur di masjid seperti dulu&lt;br /&gt;mba li ah menikah&lt;br /&gt;pak seno tambah bungah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hampir satu jam setengah &lt;br /&gt;menjelajah di ruang maya&lt;br /&gt;entah apa yang dicari &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin saat ini anak-anak masjid &lt;br /&gt;lelap mendekap berkat walimah&lt;br /&gt;malam kartini yang rame dengan musik regae&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lima ribu gojeng tertenteng&lt;br /&gt;flashdisk hitam pinjaman tergantung dalam CPU&lt;br /&gt;mata hampir terpejam malam&lt;br /&gt;layar putih bercampur biru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada film biru&lt;br /&gt;hanya merah luka yang belum pulih&lt;br /&gt;memperingati malam kartini lahir&lt;br /&gt;memperingati kejatuhanku yang aneh&lt;br /&gt;seminggu lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kunjungi sahabat-sahabat terbaik&lt;br /&gt;senin manis itu&lt;br /&gt;kata mbah neptu enam&lt;br /&gt;banyak halangan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 april 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-125544766684335773?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/125544766684335773/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=125544766684335773' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/125544766684335773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/125544766684335773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/04/malam-kartini.html' title='malam kartini'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-7805286877954567010</id><published>2009-03-22T02:17:00.000-07:00</published><updated>2009-03-22T02:24:46.791-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penjaga masjid'/><title type='text'>perjalanan lelaki tua</title><content type='html'>tertatih lelaki tua itu berjalan&lt;br /&gt;menuju rumah berkubah di pagi buta&lt;br /&gt;teramat pagi malah&lt;br /&gt;jamaknya ia datang pada terakhir sepertiga malam&lt;br /&gt;karena di kota tak ada kokok jago berbunyi sekali&lt;br /&gt;tak jarang ia menggenjot sepeda bututnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dulu ketika aku masih tinggal di masjid&lt;br /&gt;tak jarang aku melihatnya&lt;br /&gt;seringnya aku mendengar kedatangannya&lt;br /&gt;duduk bersimpuh dengan kaki encok rematiknya&lt;br /&gt;do'a untuk mengalir dari lisannya&lt;br /&gt;malaikat turun menjemput do'anya&lt;br /&gt;sambil kepakan sayap cahaya &lt;br /&gt;panjatkan do'a lelaki tua untuk Sang Penjaga Malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(untuk Pak Seno, Grendeng yang tak lain bapak dari sahabatku Udin&lt;br /&gt;semoga selalu istiqimah membangunkan jama'ah di pagi buta)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-7805286877954567010?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/7805286877954567010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=7805286877954567010' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/7805286877954567010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/7805286877954567010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/03/perjalanan-lelaki-tua.html' title='perjalanan lelaki tua'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-5459728412671871809</id><published>2009-03-13T02:11:00.000-07:00</published><updated>2009-03-13T02:25:49.093-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SbokrMZWEvI/AAAAAAAAAI0/lG64XWSfR5w/s1600-h/49959044_eb9b91778a.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SbokrMZWEvI/AAAAAAAAAI0/lG64XWSfR5w/s320/49959044_eb9b91778a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312599034917425906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SbokA8kHsqI/AAAAAAAAAIs/LzmlUM_0vis/s1600-h/49959044_eb9b91778a.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SbokA8kHsqI/AAAAAAAAAIs/LzmlUM_0vis/s400/49959044_eb9b91778a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312598309113148066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk dua buah wajah&lt;br /&gt;dengan beribu penafsiran&lt;br /&gt;berawal dari mata aku ingin mengunduhnya&lt;br /&gt;wajah bali dengan harmoni alam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingatkanku pada percakapan semalam tentang ilmu&lt;br /&gt;tepatnya ngelmu=angel angger urung ketemu&lt;br /&gt;"bibiting ngelmu&lt;br /&gt;asale saka mata karo ati"&lt;br /&gt;untuk seorang paman dengan blaka suta&lt;br /&gt;menceritakan hal-hal yang mistis lagi misteri&lt;br /&gt;PWT 12 MARET 2009&lt;br /&gt;Dalam ikhtiar kirimkan "belalang rumah"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-5459728412671871809?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/5459728412671871809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=5459728412671871809' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/5459728412671871809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/5459728412671871809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/03/blog-post.html' title=''/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SbokrMZWEvI/AAAAAAAAAI0/lG64XWSfR5w/s72-c/49959044_eb9b91778a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-1535838195141106948</id><published>2009-03-13T02:00:00.000-07:00</published><updated>2009-03-13T02:02:24.719-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penjaga cinta'/><title type='text'>Pada sepi rindu</title><content type='html'>Pada pucuk daun kelapa&lt;br /&gt;Pada batu hitam&lt;br /&gt;Pada kuncup melati&lt;br /&gt;Pada rekahan mawar&lt;br /&gt;Pada lengkung bakung&lt;br /&gt;Pada embun yang bening&lt;br /&gt;Pada remang kabut&lt;br /&gt;Sepi itu hinggap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pemilik wajah oval&lt;br /&gt;Pada kulit langsat halus&lt;br /&gt;Pada lengkung senyum sabit bulan&lt;br /&gt;Pada rambut sepekat malam&lt;br /&gt;Pada semampai tubuh&lt;br /&gt;Pada jenjang leher&lt;br /&gt;Pada jernih mata sebening mata air gunung&lt;br /&gt;Rinduku terpagut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sepi rinduku &lt;br /&gt;Pada rindu sepiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PWT, maret 2009&lt;br /&gt;untuk sahabat2ku....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-1535838195141106948?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/1535838195141106948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=1535838195141106948' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1535838195141106948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1535838195141106948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/03/pada-sepi-rindu.html' title='Pada sepi rindu'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-5516693617364312173</id><published>2009-03-13T01:56:00.000-07:00</published><updated>2009-03-15T20:49:31.970-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Belalang Rumah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/Sb3MKcEox3I/AAAAAAAAAI8/hBM6TFFEgZ4/s1600-h/bela.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 136px; height: 106px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/Sb3MKcEox3I/AAAAAAAAAI8/hBM6TFFEgZ4/s200/bela.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313627615073453938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat setiap kali ada belalang yang muncul di dalam rumah, aku teringat kenangan bersama Eyang Kakung. Eyang selalu melarangku untuk menangkapnya. Eyang selalu beralasan belalang itu adalah penjelmaan dari para leluhur yang sudah meninggal yang sedang mengunjungi anak cucunya di dunia yang masih hidup. Pernah suatu kali aku telah menangkapnya dengan susah payah, namun dengan mudahnya Eyang menyuruhku melepaskan belalang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan tentang hubungan antara leluhur dan belalang itu selalu muncul setiap kali aku melihat belalang.. Belalang adalah binatang dari keluarga serangga (insecta). Biasanya bersayap hijau dan kuning kecoklatan. Berkaki panjang di belakang untuk menyentak ketika hendak terbang. Mungkinkah ada perbedaan antara belalang yang ada di rumah dan di sawah? Ah, itu menjadi pertanyaan kedengarannya sederhana namun membutuhkan jawaban yang memuaskan untukku yang sudah berumur kepala dua. Mungkin ketika Eyang masih hidup aku bisa bertanya lebih dalam padanya tentang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Telah tujuh hari sepeninggal Mbah, aku menempati rumah ini. Untuk menghormati kepulangannya ke alam kelanggengan. Menghadap Gusti Allah. Kali ini aku duduk di kursi goyang kesayangan Eyang Kakung. Kusandarkan kepalaku. Aku masih ingat rasanya baru kemarin Eyang menyandarkan kepalanya, dengan sweater dan saal yang selalu dipakainya setiap pagi. Dia tersenyum dan bangkit menyambutku setiap kali aku datang bangun dari tempat tidur sewaktu kecil. Tangannya langsung menengadah dan memelukku. Hangat, hangat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Entahlah kenapa kenangan tentang Eyang dan belalang selalu memenuhi pikiranku, malam Jum’at itu selalu menjadi awal renunganku. Malam Jum’at ketika aku kecil. Malam ketika belalang hijau kecil seukuran kelingkingku hinggap di dinding rumah. Aku masih ingat binatang itu terus diam selagi kudekati untuk menangkapnya. Diam dan terus diam selagi tangan kecilku mulai meraihnya. Belalang itu tak terbang, menurut ketika jemariku mulai menjemputnya. Belalang itu berbeda dengan belalang biasanya yang selalu cekatan terbang ketika sesuatu hendak datang dan mengganggunya. Sontak aku meloncat kegirangan sambil memegang belalang di tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eyang aku dapat menangkap belalang.Nih lihat warnanya hijau, diam dan tak mau terbang’ ungkapku layaknya anak kecil yang memamerkan apa yang didapatnya. Eyang hanya menatapku dan tersenyum. Perlahan dia bangkit dari kursi goyangnya dan mendekatiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saat itu aku yang kecil belum tahu berapa tepatnya umurku. Dipeluknya aku dan diangkatnya aku yang sedang girang bermain belalang. Sambil menatapku Eyang kemudian berkata &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Cah bagus, ayo lepaskan belalang itu. Biarkan belalang itu menjadi tamu kita. Biarkan hinggap dan terbang di rumah kita. Ketahuilah cucuku walaupun wujudnya belalang itu bisa jadi adalah penjelmaan para leluhur kita”. Aku kecil semakin bertambah bingung akan setiap Eyangku kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di tengah kebingunganku Eyang Kakung kemudian membawaku ke kamar. Dipakaikannya aku sarung, baju koko dan peci hitam kecil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; ”Ayo, kita bersama berdo’a untuk para leluhur kita yang sudah ada di alam kelanggengan”akupun diajaknya keluar rumah menuju seuah bangunan megah, berkubah, bertiang banyak sebesar badan orang dewasa. Aku bersama Eyang Kakung masuk kesana. Telah banyak orang duduk di sana. Mereka berpakaian hampir sama. Berpeci dan bersarung. Aku duduk di pangkuan Eyang Kakung. Hangat kurasakan seperti setiap malam ia mendekap tubuh kecilku dalam pelukan tidur. Eyang Kakung bersalaman dengan orang di kanan kirinya. Akupun mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku selalu diajarkan Eyang untuk mencium tangan dan tersenyum setiap kali bersalaman dengan orang. “Heeem, bocah bagus.”sesekali pipiku dicuitnya kecil setelah aku disalami dan cium tangannya. Kata eyang itu harus kupanggil Paman Muktar. Setiap kali aku bertanya pada Eyang kenapa orang harus berkumpul di satu tempat, berkomat-kamit mulutnya, bersalaman, tersenyum dan seterusnya. Eyang selalu menjawab supaya dapat pahala dan surga. Lalu kutanya lagi apa itu pahala dan surga. Eyang menjawab bahwa pahala itu balasan kebaikan dari Gusti Allah dan surga itu tempat yang indah sekali. Dan jawaban yang paling kuingat dan paling senang kudengar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di surga, kamu akan bertemu dengan ayah dan ibu yan sudah berbahagia. Tapiuntuk masuk surga kamu harus punya banyak pahala” lanjut Eyang mejelaskan padaku. Kemudia aku bertanya lagi kepan aku bisa bertemnu ayah dan ibu di surga. Eyang menempelkan jari telunjuknya di bibirku. Rupanya prosesi do’a bersama telah dimulai&lt;br /&gt;” Nanti kita lanjutkan di rumah ya…Cah Bagus. Sekarangkita ikuti dulu berdo’a supaya banyak pahal. “ucap Eyang yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ruangan yang luas itu penuh dengna orang. Kutolehkan kanan kiri dan kulihat depan dan belakang. Semua orang bertingkah sama-sama bersila menggerakkan bibirnya menggeleng-gelengkan kepala. Ada dari merek memegang kalung serupa rangkaian bijian-bijian lebih kecil dari kelereng, diputar maju mundur dengan jarinya. Di atas sajadah kuluruskan kakiku, kulihat Eyang Kakung yang telah berjanggut putih membalas pandangku. Dia tersenyum tapi bibirnya terus berkomat-kamit. Akupun tersenyum. Ditariknya aku dibenamkannya tubuhku ke dadanya, didudukannya aku  di pangkuannya. Ubun-ubun kepalaku tepat di bawah dagunya. “Aku sayang Eyang” kataku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rumah megah itu konon kata Eyang,  rumah Tuhan. Ketika di rumah itu segala macam permohonan dan keinginan dikabulkan. Yang penting harus ikhlas dan sabar. Dalam pengkuan Eyang Kakung akupun coba ikuti lafal-lafal yang diucapkan orang-orang .terkadang panjang dan tidak jarang pendek., sering pula dibaca berulang-ulang. Terdengar lirih sesekali keras. Aku tak asing mendengar lafal-lafal itu. Aku sering mendengar Eyang membacanya dirumah. Tapi  di ruangan ini suaranya. Suara banyak orang itu mengingatkan kenanganku pada suara-suara ketika ayah ibu pergi dibawa pergi sebuah mobil putih dengan lampu berputar-putar. Dan suara sirine itu…..ketika banyak orang berkerumun di rumah Eyang Kakung. Mereka saling menunduk, memandangi tanah. Entah apa yang dicarinya. Padahal yang ada hanya rumput kering di halaman &lt;br /&gt;yang koyak oleh kaki-kaki mereka. Kulihat dengan jelas wajah mereka sembab memerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebelum itu aku ingin membangunkan ayah dan ibu. Tapi kata Eyang Kakung yang saling menggendongku. Aku tak boleh membangunkan ayah dan ibu. Tapi aku boleh mencium ayan dan ibu seperti mereka menciumku setiap kali aku hendak tidur. Pagi itu ayah dan ibu terus saja tidur. Tak seperti biasanya yang seriap pagi membangunkanku dan mencium keningku.eyanglah yang menciumku dan membopongku pagi itu. Sejak pagi itulah aku terakhir kali melihat wajah ayah dan ibu yan gsedang tertidur pulas. Ketika tidur mereka di bawa mobil putih. Kata Eyang, “Ayah dan ibu mau dibawa ke tempat yang jauuuh sekali. Tapi tempat itu indah sekali. Nanti kau juga akan bisa bertemu mereka. Tapi sekarang harus bersama Eyang dulu. Harus menjaga Eyang”. Kenangan yang takkan terlupakan dan baru kumengerti perihal itu setelah aku mengaji dengan Paman Muktar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tubuhku yang kecil rebah dalam pangkuan Eyang. Kudekap dada Eyang yang kembang kempis. Aku larut dalam kenang. Ayah ibu yang telah pergi. Aku bersama Eyang dalam sebuah ruangan berkubah raksasa. Kita sedang mengumpulkan pahala untuk ayah ibu biar mereka bersama bahagia di surga. Kudengarkan terus lantunan suara-suara yangn mendayu-dayu. Aku larut dalam hangat dekat Eyang. Pertanyaan–pertanyaan selalu muncul dalam benakku. Apa itu surga, dimana? Kapan aku bisa bertemu ayah ibu lagi.? Apapula pahala dan kenapa kita harus mengumpulkannya?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semakin memikirkannya, semakin aku tak mengerti. Nanti aku tanyakan lagi pada Eyang setelah pulang dari ruangan ini. Aku terus ikut melafal bacaan. Ketika aku mengerti aku keraskan suaraku, kupelankan suara, kudengar dan kulihat gerak bibir Eyangku. Janggutnya ikut bergoyang menggeleng dan mengangguk-angguk entah sampai berapa lama acara itu selesai. Sepertinya aku larut dalam kehangatan pangkuan Eyang kakung. Tapi yang pasti setiap kali aku mendengar lantunan-lantunan doa dan suara di ruangan itu aku semakin rindu pada ayah ibu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang berjubah putih berparas tampan datang kepadaku. Mendekatiku, mengulurkan tangan kepadaku,. &lt;br /&gt;“Bocah Bagus ayo ikut bersamaku.”&lt;br /&gt;“Bukankah engkau ingin bertemu ayah ibumu tercinta”&lt;br /&gt;Katanya dengan senyum yang selalu tersungging di bibirnya. Akupun menggandeng tangannya, jari-jarinya amat lembut halus seperti kapas putih. Diajaknya aku berjalan menapaki awan, Mulanya aku ragu. Tapi anggukan dan senyumannya meyakinkanku. Sepasang sayap cahaya dipundaknya mengepak dengan jembut. Aku dibawanya terbang melintasi awan putih yang bergumpal-gumpal. Tak ada mendung di sana. Hanya ada putih bersih dan biru. Tidak seperti hari Jumat terakhir aku melihat ayah dan ibu juga Eyang.. Aku terbang bersamanya melewati kumpulan awan melintas di atas pelangi. Dari jauh kulihat bukit susu yang hijau laut biru yang membentang. Dan masih banyak lagi pemandangan indah yang lain. Setelah beberapa lama aku dibawanya terbang. Aku berhenti di depan sebuah istana yang megah. Belum pernah aku melihatnya. Lebih megah dari apapun. Kubahnya dan pupunya putih, rumputnya hijau lantainya putih. Rimbun bunga-bunga dan pepohonan tumbuh subur mengelilingi istana itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sudah sampai Cah Bagus” Kata seorang berjubah putih berwajah cahaya.&lt;br /&gt;Kami berdua melintasi setapak lurus berbatu pualam menuju gerbang istana itu. Di kanan kiri jalan ada kolam ikan yang jernih airnya, beraneka warna ikan sangat indah memadu kasih di dalamnya. Biru langit, hijau tumbuhan, jernih air, putih lantai, warna-warni bunga menjadi sejuk pandangan mata. Mata sakit atau rabunpun niscaya kan sembuh ketika melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pintu besar terbuka dengan sendirinya. Tidak ada derit yang menjerit. Pemandangan baru yang lebih indah memanjakan mata terhampar di hadapanku. Pepohonan beraneka buah yang menjulur ke bawah, sepertinya memang sengaja dipersiapkan untuk dipetik. Di sana-sini ada pelayan-pelayan berparas bidadari membawakan keranjang beraneka buah dan mainan. Mereka selalu tersenyum ketika berpapasan. Matanya seperti kerling bintang kejora. Rambutnya hitam pekat terlihat dari balik kerudung beningnya. Suaranya lembut seperti suara ibuku yang sudah lama pergi. Aku dibimbingnya ke dalam sambil berjalan. Dibukanya lagi sebuah pintu. Berukir kaligrafi Kristen indah. Aku tak bisa membacanya tapi kulihat indah matanya. Para bidadari itu mempersilahkan masuk bertelanjang dada. Aku memasuki ruangan mewah mungkin ini yang disebut tempat tinggal para raja permaisuri seperti yang diceritakan dongeng ibu sebelum tidur dulu. Didudukkannya aku kemudian dalam sebuah kursi yang empuk. Setelah itu datanglah banyak bidadari berpakaian gemerlapan dan berselendang cahaya membawkan aneka makanan minuman keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo masuk” dan buah-buahan dan menghidangkannya di atas meja di hadapanku. Salah satu dari mereka mendekatiku, membelai rambutku. Dia mengecup kening dan ubun-ubun kepalaku. Saat itulah kurasakan ciuman kasih dari ibuku yang sudah lama tak kurasakan. Dipersilahkannya aku menikmati semua hidangan dan dadanya. Kurasakan nikmat yang tiada habisnya. Selang berapa lama dari sebuah pintu keluarlah dua orang berbusana keindahan. Kupandangi dari ujung kaki, pakaiannya demikian indah tak terperi melebihi busana-busana yang ada di dunia. Emas permata ditatahkan di hampir semua sisi pakaiannya. Pikirku mungkin inilah raja dan permaisuri pemilik istana ini. Pandangku kusaputkan ke wajah mereka. Lama kupandanginya. Aku seperti mengenal mereka bahkan sangat mengenal mereka. Raja dan permaisuri itu tidak lain adalah ayah ibuku sendiri. Tanpa terasa aku bangkit dari kursi seraya berjalan ke arah mereka. Mereka tersenyum dan mengulurkan tangan sebagai pertanda mengharap pelukan untukku. Akupun terus berjalan. Semakin aku mendekati semakin terus berat rindu yang selama ini kusimpan dalam meja makan hatiku. Rinduku hamper tumpah. tapi tidak jadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bocah Bagus” tiba-tiba ada suara yang memanggilku dari belakang. Mengejutkanku. Itu suara Eyang Kakung. Akupun menengok ke asal suara itu. Benar Eyang Kakung memanggil untuk menyembelihku. Saat itulah pemandangan indah di hadapanku telah hilang dan wajah ayah ibuku. Aku amat merasa sangat kehilangan. Di hadapanku hanya ada wajah Eyang Kakung yang menampakkan sempaknya gurat usia dan putih rambutnya. &lt;br /&gt;“Cah Bagus, ayo bangun sudah adzan shubuh” sayup-sayup terdengar suara arau adzan Mbah Harjo. Seorang yang istikomah menjadi muadzin di masjid sebelah rumah. &lt;br /&gt;“Ayo kita mengumpulkan pahala” akupun bangun dan berjalan dibimbing Eyang Kakung. Terasa olehku tangan Eyang Kakung begitu halus dan aneh kulihat seberkas cahaya dari wajah Eyang Kakung. Cahaya yang serupa cahaya nampak dari seorang berjubah putih yang baru saja mengajakku menemui ayah dan ibu. Berjalan keluar menuju masjid berkubah raksasa aku merasa semakin rindu dengan ayah dan ibuku. Aku kecil mendongak melihat Eyang Kakung yang menggandeng tanganku. Eyang Kakung terus berjalan. Tiba-tiba langkahku terhenti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa Cah Bagus” tanya Eyang Kakung terkaget seraya menghentikan langkahnya sambil membungkuk memandangku.&lt;br /&gt;“Eyang.Ada dua belalang hijau di lengan bajuku” kataku sambil menoleh memandang dua serangga hijau yang diam dan menempel di lengan bajuku.&lt;br /&gt;“Biarkan Cah Bagus. Mungkin mereka ingin mengikuti sembahyang di masjid” kata Eyang Kakung sambil mengajakku berjalan kembali menuju masjid. &lt;br /&gt;“Eyang, mereka itu leluhur kita ya..Yang?” tanyaku kemudian. Namun Eyang Kakung hanya menjawabku dengan senyum. Dua belalang itu terus menempel di lengan bajuku sampai aku tiba di gerbang masjid. Hanya ketika terdengar iqomah, dua belalang itu terbang entah ke mana. Dalam sembahyang aku merasakan rindu yang sangat pada ayah ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PWT,maret 2009&lt;br /&gt;Shollu 'alaa muhammad&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-5516693617364312173?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/5516693617364312173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=5516693617364312173' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/5516693617364312173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/5516693617364312173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/03/belalang-rumah.html' title='Belalang Rumah'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/Sb3MKcEox3I/AAAAAAAAAI8/hBM6TFFEgZ4/s72-c/bela.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-3485574382617081399</id><published>2009-03-06T20:46:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T21:00:12.432-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>delapan purnama</title><content type='html'>awalnya tak terkira&lt;br /&gt;apalagi direncanakan&lt;br /&gt;dunia memang tak dapat diterka&lt;br /&gt;tukang nujumpun hanya mengira&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika kuhitung&lt;br /&gt;delapan purnama sejak wisuda &lt;br /&gt;aku telah mengenal sosoknya&lt;br /&gt;semampai&lt;br /&gt;cerdas&lt;br /&gt;elok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin dialah jawaban&lt;br /&gt;pertanyaanku selama ini&lt;br /&gt;sekedar hipotesis&lt;br /&gt;sekadar apologi&lt;br /&gt;untuk keresahanku selama ini&lt;br /&gt;setidaknya terkurangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pemilik senyum sesejuk pagi&lt;br /&gt;pemilik kata selembut air gunung&lt;br /&gt;pemilik mata secerah fajar&lt;br /&gt;pemilik keindahan yang belum sempat &lt;br /&gt;pemilik keelokan yang belum...&lt;br /&gt;yang belum....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang sudah aku lakukan &lt;br /&gt;hanya mengingatnya&lt;br /&gt;mengenangnya&lt;br /&gt;mengenang wisuda yang telah delapan purnama&lt;br /&gt;sedang pesan singkat yang selalu kusapakan padanya&lt;br /&gt;pada telepon genggemnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;delapan purnama&lt;br /&gt;"sudah gawe belum?"&lt;br /&gt;pertanyaan yang selalu diulang&lt;br /&gt;sekedar basa basi&lt;br /&gt;sekedar pengisi hari&lt;br /&gt;atau hanya say hello semata&lt;br /&gt;yang pasti&lt;br /&gt;yang kutahu &lt;br /&gt;hanya satu kata yang mampu menjawabnya&lt;br /&gt;entah&lt;br /&gt;entah dalam delapan purnama&lt;br /&gt;bahkan lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Maret 2009&lt;br /&gt;untuk RD, seorang yang kukenal saat wisuda&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-3485574382617081399?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/3485574382617081399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=3485574382617081399' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/3485574382617081399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/3485574382617081399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/03/delapan-purnama.html' title='delapan purnama'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-8869078258535536994</id><published>2009-01-24T01:17:00.000-08:00</published><updated>2009-01-24T01:24:10.064-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>gerimis sabtu</title><content type='html'>sabtu ini satu-satunya&lt;br /&gt;berbeda dengan sabtu yang lalu &lt;br /&gt;tidak sama dengan sabtu mendatang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gerimis inipun tiada duanya&lt;br /&gt;bukan kemarin atau esok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gerimis sabtu satu-satunya&lt;br /&gt;takkan terulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ajibarang, setelah lama tak singgah aku di dunia maya)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-8869078258535536994?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/8869078258535536994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=8869078258535536994' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8869078258535536994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8869078258535536994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2009/01/gerimis-sabtu.html' title='gerimis sabtu'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-8228840716717114931</id><published>2008-12-20T22:31:00.000-08:00</published><updated>2008-12-20T22:32:24.129-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>Ketika kata mati</title><content type='html'>Sesak sajakmu membuaku berteriak. Belum sempat kupekakkan telingamu dan kumbat liang telingamu dengan sumpah serapahmu. Dadaku terlanjur tersumbat kesumat untukmu. Dulu katamu, lebih inda hidup dinaungi puisi.&lt;br /&gt;Nisbi justru kutemui kini setelah kematian kata dan puisi. Penjara kata menambah nganga luka. Nyalang matamu yang cemerlang, terlampau hilang setelah malam pemaksaan itu. Malam ketika kau tunjukkan dadamu yang bidang, dengan sajak penuh sesak birahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini sajak sepi membuatku iri. Melata pergi, kau raib tanpa permisi. Hanya kautinggalkan seorang bayi tanpa kau penuhi pintaku. Orang lain memanggilku ibu bukan seorang isteri. Bayi hanya seorang piatu, bapaknya telah mati sepeninggalmu.&lt;br /&gt;Kuluruhkan etika, serupa kelelawar aku menjelajah malam. Kututup luka hati dengan bedak dan lipstik yang teramat tebal. Lengkap sudah tebal itu ketika kusuguhkan senyuman ketika seorang lelaku menghampiriku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertambah hari kesakitanku tak pernah berkurang&lt;br /&gt;Luka itu bertambah menganga ketika kosmetikku hilang oleh serigala belang.&lt;br /&gt;Bersamaan dengan lenguhan kepuasan syahwat, batinku tersayat kembali&lt;br /&gt;Serigala itu sama tidak ada bedanya denganmu&lt;br /&gt;Bedanya kau lebih pandai menyimpan rahasia &lt;br /&gt;Serigala itu lebih terus terang menginginkan aku sebagai mangsa&lt;br /&gt;dulu, kau datang taburkan bunga-bunga yang memekarkan kata-kata&lt;br /&gt;kini setiap lelaki menjelang dia tawarkan harga yang kiranya pantas untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam yang menjadi sajak kepedihanku, yang menjadi puisi untuk sumber kehidupan bayi itu kelak untuk seorang yang sudi atau tidak sudi harus mengakuiku sebagai ibu.&lt;br /&gt;Dalam senyap kusuguhkan sepiring kenikmatan dan segelas kehangatan&lt;br /&gt;Senyum liar menjadi penawar dahaga bagi jiwa-jiwa yang kesepian. Padahal aku lebih kehausan. Aku dipaksa memberi obat, padahal akulah yang butuh kesembuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suatu malam kutermui seorang laki-laki. Ia membawakan sajak dengan puisi hati&lt;br /&gt;ia memelas hati, bersedia menjadi bapak dan suami yang baik hati&lt;br /&gt;aku hanya tertawa dan berteriak. Cinta dan dosa itu nisbi&lt;br /&gt;kebenaran dan dusta itu sama, hanya kata yang menutupinya&lt;br /&gt;aku bilang kita hidup bukan hanya karena cinta,  kucaci dia kalau lelaki hanya butuh birahi. Mereka hanya bisa merokok setelah lahap melalap syahwat. Setelah itu lelap. Meninggalkan wanita ketika bangun. Kusumpah serapahi dia, kataku janji lelaki hanya untuk birahi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-8228840716717114931?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/8228840716717114931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=8228840716717114931' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8228840716717114931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8228840716717114931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2008/12/ketika-kata-mati.html' title='Ketika kata mati'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-6001174404141551822</id><published>2008-12-20T22:25:00.000-08:00</published><updated>2008-12-20T22:30:03.868-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>Ketika Absurditas dan Nihilisme .....</title><content type='html'>{“Tidakkah kau dengar orang gila yang menyalakan pelita di pagi yang cerah. Dia berlari menuju alun-alun kota dan tak henti-hentinya berteriak. ’Aku mencari Tuhan’ aku mencari Tuhan!’. Ketika orang banyak yang tidak percaya pada Tuhan, datang mengerumuninya, orang gila itu mengundang banyak gelak tawa. ’Apakah dia ini orang yang hilang?’, tanya seorang. Apakah dia tersesat seperti anak kecil? Apakah dia baru saja mengadakan pelayaran? Apakah dia seorang perantau? Demikianlah mereka saling bertanya sinis dan  tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang gila itu lalu melompat dan menyusup ke tengah-tengah kerumunan dan menatap mereka dengan pandangan tajam. ’Mana Tuhan?’, serunya. ’Aku hendak berkata pada kalian. Kita telah membunuh Tuhan- kalian dan aku. Kita semua adalah pembunuhnya. Bagaimana mungkin kita telah melakukan perbuatan semacam ini? Bagaimana mungkin kita meminum habis lautan? Siapakah yang memberikan penghapus kepada kitauntuk melenyapkan seluruh cakrawala? Apa yang kita lakukan jalau kita melepaskan bumi ini dari mataharinya? Menjauhi seluruh matahari? Tidakkah kita jatuh terus menerus? Ke belakang, ke samping, ke depan, ke semua arah? Masih adakah atas dan bawah? Tidakkah kita berkeliaran melewati ketiadaan yang tidak terbatas? Tidakkah kita menghirup ruangan yang kosong? Bukankah hari sudah menjadi semakin dingin? Tidakkah malam terus menerus semakin meliputi kita? Bukankah pada siang hari lenterapun kita nyalakan? Tidakkah kita mendengar kebisingan para penggali liang kubur yang sedang memakamkan Tuhan? Ya, para Tuhan juga membusuk! Tuhan telah mati! Tuhan tetap mati! Dan kita telah membunuhnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah kita – pembunuh para pembunuh -  merasa terhibur? Dia yang mahakudus dan mahakuasa yang dimiliki dunia kini telah mati kehabisan darah karena pisau-pisau kita -  siapakah yang hendak menghapuskan darah ini dari kita? Perayaan tobat apa, pertunjukkan kudus apa yang harus kita adakan? Bukankah kedahsyatan tindakan ini terlalu dahsyat bagi kita? Tidakkah kita harus mejadikan diri kita sendiri sebagai Tuhan supaya tindakan itu kelihatan bernilai? Belum pernah ada perbuatan yang lebih besar, dan siapa saja yang lahir setelah kita – demi tindakan ini -  akan termasuk ke dalam sejarah yang lebih besar daripada seluruh sejarah sampai sekarang ini!&lt;br /&gt;Sampai di sini orang gila itu lalu diam dan kembali memandang para pendengarnya; dan mereka pun diam dan dengan keheran-heranan memelototinya. Akhirnya orang gila membuang pelitanya ke tanah dan pelita itu hancur. Kemudian padam. ’Aku datang terlalu awal’, katanya kemudian. ’Waktuku belum tiba. Peristiwa yang dahsyat ini masih terus berjalan, mash terus berkeliaran dan belum sampai padateliga orang-orang. Kilat dan guntur memerlukan waktu, cahaya bintang-bintang memerlukan waktu untuk dapat dilihat dan didengar. Tindakan ini masih memerukan masih lebih jauh dari mereka sudah memerlukannya untuk diri mereka sendiri’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih diceritakan lagi bahwa pada hari yang sama orang gila itu nekat masuk ke dalam berbagai gereja dan di sana menyanyikan lagu Requiem aeternam deo (istirahat kekal bagi Tuhan). Setelah keluar dan diminta pertanggungjawaban, dia hanya selalu menangkis dan berkata, ”Apalagi gereja-gereja ini kalau bukan makam-makam dan nisan-nisan Tuhan?”}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;###&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aforisme ”ORANG GILA” Nietzsche di atas mungkin (bisa ditafsirkan) sejalan pembacaan jaman edan dari seorang pujangga Jawa ”R. Ng. Ranggawarsita”. Jaman di mana moralitas dan norma telah menjadi absurd. Bahkan tuhan telah dinegasikan dengan kehendak untuk berkuasa manusia. Tindakan korup, inhumanis dan despotis telah menjadi proses atau alat untuk memenuhi ideologi atau tuhan yang baru ”uang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA BEDA ANTARA TUHAN DAN MANUSIA, &lt;br /&gt;KETIKA OTORITAS TUHAN TELAH DIAMBIL OLEH MANUSIA. &lt;br /&gt;APA BEDANYA DENGAN FIR’AUN KETIKA MUSA HIDUP. &lt;br /&gt;MENGHAKIMI MANUSIA DENGAN EGO DAN KUASANYA. &lt;br /&gt;HARUSKAH SEMANGAT MUSA DIBUNUH OLEH ”UANG”&lt;br /&gt;TONGKAT MUSA TELAH DIGANTI DENGAN NOMINAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADAHAL TAUHID (KATANYA) PENGAFIRMASIAN TERHADAP TUHAN YANG ESA DAN PENEGASIAN TERHADAP TUHAN-TUHAN YANG LAIN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANGGA SEDULUR PADA (LATIHAN) ELING LAN WASPADA&lt;br /&gt;JERENE LEBIH APIK GEMBLUNG DARIPADA ELING&lt;br /&gt;BEGJA-BEGJANE SING EDAN LEWIH BEGJA SING ELING LAN WASPADA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”MANUSIA ADALAH TUHAN YANG MENYEJARAH &lt;br /&gt;TUHAN ADALAH MANUSIA YANG MENG-ABADI”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PURWOKERTO, 20 DESEMBER 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-6001174404141551822?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/6001174404141551822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=6001174404141551822' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/6001174404141551822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/6001174404141551822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2008/12/ketika-absurditas-dan-nihilisme.html' title='Ketika Absurditas dan Nihilisme .....'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-319361710032527350</id><published>2008-12-12T16:07:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T16:19:19.229-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>monalisa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SUL9HqaDyII/AAAAAAAAAIQ/qa6Q2pE2ncM/s1600-h/monalisa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 147px; height: 226px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SUL9HqaDyII/AAAAAAAAAIQ/qa6Q2pE2ncM/s400/monalisa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279060021316143234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;siapa yang tak kenal dengan lukisan ini&lt;br /&gt;wanita cantik&lt;br /&gt;"cantik"&lt;br /&gt;kata itu yang membuatku aneh&lt;br /&gt;apakah cantik itu?&lt;br /&gt;bagaimana menilai kecantikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bandingkan dengan wanita yang sedang, akan, kita cintai&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;apakah ada kemiripan dengannya?&lt;br /&gt;apalagi kita sebagai seorang asia bahkan jawa...&lt;br /&gt;semua terserah anda.&lt;br /&gt;yang pasti banyak yang lebih cantik dari monalisa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-319361710032527350?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/319361710032527350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=319361710032527350' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/319361710032527350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/319361710032527350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2008/12/monalisa.html' title='monalisa'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SUL9HqaDyII/AAAAAAAAAIQ/qa6Q2pE2ncM/s72-c/monalisa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-4166155764320751051</id><published>2008-12-11T23:41:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T00:08:34.178-08:00</updated><title type='text'>jaman edan</title><content type='html'>jaman edan sekarang&lt;br /&gt;kalau tidak percaya tanya siapa saja&lt;br /&gt;mahasiswa, petani, pejabat dan rakyat&lt;br /&gt;tidak perlu kusebutkan satu-satu profesinya&lt;br /&gt;yang penting tanya manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;materi tertumpuk spiritualitas ambruk&lt;br /&gt;khianat, maksiat, syahwat, aurat, uang rakyat&lt;br /&gt;sudah menjadi barang nikmat&lt;br /&gt;semua kumat tanpa pikir jernih&lt;br /&gt;semua gila tanpa memikir ada yang waras&lt;br /&gt;yang waras ada yang ikut gila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejak mahasiswa sudah korupsi&lt;br /&gt;sejak miskin telah mencuri&lt;br /&gt;sejak belajar sudah curang&lt;br /&gt;apalagi ketika sudah menjadi pejabat&lt;br /&gt;apalagi kalau telah kaya&lt;br /&gt;apalagi jika sudah belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jaman edan&lt;br /&gt;di warnetpun kudengar paksaan&lt;br /&gt;kudengar erangan, kudengar lenguh kelelahan&lt;br /&gt;ini nyata sejak aku menulis kata sejak&lt;br /&gt;jaman edan, ora edan ora keduman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mahasiswa kepercayaan orang tua&lt;br /&gt;diberi dana diberi percaya&lt;br /&gt;yah...erangan itu masih kudengar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;si mahasiswi bilang&lt;br /&gt;"ga mau"&lt;br /&gt;bilik warnet berisik&lt;br /&gt;bilik warnet gaduh&lt;br /&gt;syahwat menjadi barang nikmat&lt;br /&gt;aku juga akui itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jaman edan...&lt;br /&gt;edan...edan...&lt;br /&gt;semua pembaca semoga tidak edan&lt;br /&gt;tidak ikut-ikutan mainan setan&lt;br /&gt;bikin anak terus menerus untuk goda manusia&lt;br /&gt;tidak pernah mati sampai kiamat&lt;br /&gt;goda manusia sampai khianat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;edan...edan...&lt;br /&gt;tidak mau tapi tertawa&lt;br /&gt;tidak mau tapi mau&lt;br /&gt;waras dan gila sama saja&lt;br /&gt;dunia absurditas,&lt;br /&gt;nihilisme&lt;br /&gt;kampret...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gaduh terus di bilik belakangku&lt;br /&gt;"mengaduh terus di selakangku"&lt;br /&gt;mungkin itu katanya kalau boleh aku terka&lt;br /&gt;setan tertawa tapi aku tak pernah tahu&lt;br /&gt;hebat....sudah rampung....&lt;br /&gt;ini nyata,&lt;br /&gt;bukan bohong belaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;giganet, menjelang asyar&lt;br /&gt;pasca wisuda&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-4166155764320751051?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/4166155764320751051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=4166155764320751051' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/4166155764320751051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/4166155764320751051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2008/12/jaman-edan.html' title='jaman edan'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-1287524464008350998</id><published>2008-12-11T23:23:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T23:30:00.616-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>kebetulan atau kebenaran</title><content type='html'>di jogja aku melihat sepotong wajah yang lewat di depan kosan temanku.&lt;br /&gt;wajahnya tak asing&lt;br /&gt;aku yakin aku pernah melihatnya&lt;br /&gt;aku berpikir sejenak&lt;br /&gt;ternyata ini kali kedua aku melihat wajah yang cantik itu&lt;br /&gt;benar ini aku kali kedua aku mengenali wajahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian aku berpikir kembali&lt;br /&gt;mengingat kembali dalam memori otakku&lt;br /&gt;aku yakin telah dua kali ini melihat wajah itu&lt;br /&gt;padahal pertama kali aku melihat wajah yang cantik itu....&lt;br /&gt;dalam mimpi&lt;br /&gt;yah....dalam mimpiku&lt;br /&gt;aku yakin itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini kebetulan atau kebenaran?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-1287524464008350998?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/1287524464008350998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=1287524464008350998' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1287524464008350998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1287524464008350998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2008/12/kebetulan-atau-kebenaran.html' title='kebetulan atau kebenaran'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-7828140146761834420</id><published>2008-11-22T01:33:00.000-08:00</published><updated>2008-11-22T01:37:10.201-08:00</updated><title type='text'>21112008</title><content type='html'>aku kira hari ini aku akan mendapat hakku sepenuhnya sebagai seorang surveyor&lt;br /&gt;ternyata harapan itu harus pupus karena berbagai alasan yang tidak masuk akal&lt;br /&gt;alasan yang selalu dibuat-buat untuk menutupi segala alasan-alasan terdahulu&lt;br /&gt;kapan bangsa ini akan maju jika seperti ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-7828140146761834420?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/7828140146761834420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=7828140146761834420' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/7828140146761834420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/7828140146761834420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2008/11/21112008.html' title='21112008'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-4279283323836345399</id><published>2008-11-10T16:23:00.000-08:00</published><updated>2008-11-10T16:27:09.156-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi'/><title type='text'>natural farming</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;natural farming&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;pertanian alami&lt;br /&gt;pertanian nenek moyang&lt;br /&gt;apapun istilahnya itu........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sehari bersama petani&lt;br /&gt;begitu menggelikan&lt;br /&gt;padahal bapakku seorang petani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa ada beda antara petani?&lt;br /&gt;ketika sebuah ruang belajar bersama dibuka dalam rumah rujen&lt;br /&gt;semua semakin hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-4279283323836345399?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/4279283323836345399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=4279283323836345399' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/4279283323836345399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/4279283323836345399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2008/11/natural-farming.html' title='natural farming'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-6177265037105068967</id><published>2008-11-07T16:39:00.000-08:00</published><updated>2008-11-07T16:45:30.478-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>slamet</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SRTf-sNKRkI/AAAAAAAAAIA/gwHg9l_RbJw/s1600-h/DSC01293.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SRTf-sNKRkI/AAAAAAAAAIA/gwHg9l_RbJw/s400/DSC01293.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266080132414195266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dari sini menara itu lebih tinggi dari slamet&lt;br /&gt;padahal slamet lebih tinggi dari menara itu&lt;br /&gt;itu membuktikan indra pengelihatan sangat bergantung&lt;br /&gt;pada jarak dan waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(untuk saudaraku ahmad khoerudin, SH&lt;br /&gt;semoga perjalananmu ke Jakarta&lt;br /&gt;membawa banyak hikmah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-6177265037105068967?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/6177265037105068967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=6177265037105068967' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/6177265037105068967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/6177265037105068967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2008/11/slamet.html' title='slamet'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SRTf-sNKRkI/AAAAAAAAAIA/gwHg9l_RbJw/s72-c/DSC01293.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-5276225022847237406</id><published>2008-11-07T16:36:00.000-08:00</published><updated>2008-11-07T16:39:38.751-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aforisma'/><title type='text'>pahlawan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SRTfo2ruj8I/AAAAAAAAAH4/6ZKGSvvRWS8/s1600-h/DSC01291.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SRTfo2ruj8I/AAAAAAAAAH4/6ZKGSvvRWS8/s200/DSC01291.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266079757269635010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ada pahlawan dimanamana&lt;br /&gt;dirumah&lt;br /&gt;disekolah&lt;br /&gt;dijalan&lt;br /&gt;didalam diri kita&lt;br /&gt;namun kita tidak selalu menyadarinya.........&lt;br /&gt;termasuk di pagi ketika kebersamaan itu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-5276225022847237406?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/5276225022847237406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=5276225022847237406' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/5276225022847237406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/5276225022847237406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2008/11/pahlawan.html' title='pahlawan'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SRTfo2ruj8I/AAAAAAAAAH4/6ZKGSvvRWS8/s72-c/DSC01291.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-7654247190226619855</id><published>2008-11-07T16:24:00.000-08:00</published><updated>2008-11-07T16:35:54.769-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi'/><title type='text'>10 nopember</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SRTc2s_2NuI/AAAAAAAAAHw/GOW57m2qk6Q/s1600-h/DSC01292.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 231px; height: 173px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SRTc2s_2NuI/AAAAAAAAAHw/GOW57m2qk6Q/s200/DSC01292.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266076696652953314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;suatu pagi di bulan agustus&lt;br /&gt;mereka berjalan antara darul hikmah menuju soesilo soedarman&lt;br /&gt;selisih usia tak menjadi selisih kedekatan mereka&lt;br /&gt;antara guru dan murid ngaji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senin besok 10 nopember 2008&lt;br /&gt;mengenang untuk para leluhur bangsa&lt;br /&gt;yang telah gugur menjadi kusuma&lt;br /&gt;beratus tahun telah tidur&lt;br /&gt;namun pada hakekatnya terus bangun dan hidup&lt;br /&gt;dalam jiwa-jiwa generasi muda yang berani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam pagi menatap mentari&lt;br /&gt;ketika siang mimpi dan mewujudkan mimpi&lt;br /&gt;saat malam memanjatkan harapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gambar ini akan menjadi tonggak&lt;br /&gt;di mana usia akan menjadi saksi&lt;br /&gt;antara kebersamaan mereka&lt;br /&gt;ketika pagi menatap mentari&lt;br /&gt;ketika rumput masih dimandikan embun suci&lt;br /&gt;ketika jiwa-jiwa pahlawan hidup dalam diri-diri mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;purwokerto, 8nopember2008&lt;br /&gt;(untuk ustadz faris dan muktar beserta anak TPA darulhikmah grendeng)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-7654247190226619855?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/7654247190226619855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=7654247190226619855' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/7654247190226619855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/7654247190226619855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2008/11/10-nopember.html' title='10 nopember'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1eE8-P0j5Fg/SRTc2s_2NuI/AAAAAAAAAHw/GOW57m2qk6Q/s72-c/DSC01292.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-4945574185043331971</id><published>2008-10-31T17:53:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T17:54:56.707-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi'/><title type='text'>senyum</title><content type='html'>survey konversi minyak dan gas..........&lt;br /&gt;heeeeeeeeeeeee&lt;br /&gt;ternyata yang kutargetkan dapat tujuh desa&lt;br /&gt;satu desa,&lt;br /&gt;motorku batuk-batuk&lt;br /&gt;jadi mohon maaf&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-4945574185043331971?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/4945574185043331971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=4945574185043331971' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/4945574185043331971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/4945574185043331971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2008/10/senyum.html' title='senyum'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-8921746983760523440</id><published>2008-10-23T01:29:00.000-07:00</published><updated>2008-10-23T01:36:06.240-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi'/><title type='text'>kosong</title><content type='html'>kosong&lt;br /&gt;melolong&lt;br /&gt;tanpa isi tanpa makna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengulang&lt;br /&gt;dalam kelam&lt;br /&gt;bangkit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mampir&lt;br /&gt;kepolosan&lt;br /&gt;ketidak tahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sadar&lt;br /&gt;berpikir&lt;br /&gt;bertindak&lt;br /&gt;tanpa kata tidak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-8921746983760523440?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/8921746983760523440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=8921746983760523440' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8921746983760523440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/8921746983760523440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2008/10/kosong.html' title='kosong'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-1636908019137776512</id><published>2008-10-20T17:07:00.001-07:00</published><updated>2008-10-20T17:07:48.425-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>LARASATI</title><content type='html'>&lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Larasati duduk di sebuah batu besar di tepi kali. Matanya yang sayu memandang aliran air kali. Seakan ada yang dicarinya. Kedua tangannya mem&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;eluk  kedua kakinya beserta dagunya yang dibenamkan diantara kedua lututnya yang bersatu. Bibir mungilnya mengatup. Aingin kali mempermainkan rambut panjangnya yang terurai. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Di sekitar tempat larasati duduk, rimbun pohon pandan itu menjadi istana bagi burung paruh udang dan kepodang. Kali&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; itu menjadi sumber perairan bagi sawah-sawah yang mengapitnya. Sawah-sawah itu mulai menguning. Serombongan burung emprit terbang menyerbu serumpun padi yang menguning. Suaranya yang gemericit, ramai sekali. Serombongan emprit itu menikmati biji-biji padi petani. Batang-batang padi itu bergoyang-goyang dan melengkung-lengkung ketika serombongan emprit itu hinggap dan berpindah kesana kemari untuk bermain sekaligus mencari makan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; “larasati…larasati…”suara itu datang dari kejauhan. Nampak seorang perempuan yang rambutnya digelung dan memakai kain jarit bermotif kawung, melambaikan tangannya kea rah larasati yang seduduk mematung. Suara itu rupanya membangunkan lamunan larasati. Gadis itu bangkit. Tanpa menyahut ia berlalu meninggalkan pinggiran kali.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;Ibunya memerlukan bantuannya di rumah. Larasati menuju daput. Ditemuinya ibu&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt; yan gsedang sbuk menyalakan tungku batu dngan kayu bakarnya. Setelah menyala ditinggalkannya. Larasati kemudiansibuk memasak bersama ibunya untuk mengirimkan makanan untuk bapak dan kulinya di sawah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Larasati melenggang di jalan kecil yang diapit persawahan. Melalui pematang sawah ditujunya sebuah gubug di tengah sawah itu. Tangan kanannya menjinjing rantang dan makanan dan gelas. Tangan kirinya  membawa ketel air. Anign utara menghapas padi-padian yang mulai menguning. Larasati terus melenggang . Di gubung beratapkan ilalang itu tiga orang terlihat duduk-duduk. &lt;/span&gt;Kepulan asap rokok tembakau buatan tangan mereka sendiri.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; *****************&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Siapa yang tak kenal larasati. Di desanya ia dikenal sebagai kembang desa. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Sudah banyak ibarat bunga, sudah banyak kumbang yang telah mencoba menghisap madunya. Tapi jangankan menghisap manis sari madunya, mendekati bunganya saja susah. Belum satupun yang mampu pemuda di desa itu yang mampu menaklukkan hatinya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Kesukaan larasati yang sering menyepi di tepi kali mulai mengge&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;lisahkan orang tuanya. setiap kali selesai mengantar makanan ke sawah untuk bapaknya. setiap kali selesai memasak, mencuci dan menjemur, ia kemudian langsung duduk di tepi kali. sepertinya ia amat nyaman ketika berada di tepi kali, dengan rimbunan pandan ayng berduri. sering sekali banyak yang mencoba menggodanya dan melamarnya, namun jawabanya selalu saja tidak atau belum. banyak tetangga yang selalu menegurnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;”&lt;span lang="sv-SE"&gt;Laras aa tidak taku nanti kulitmu tertusuk duri pandan yang tajam.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;”&lt;span lang="sv-SE"&gt;Laras apa tidak takut &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;kesambet&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; setan kali. demit-demit di sini galak-galak”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;”&lt;span lang="sv-SE"&gt;Laras, mendingan kamu terima lamaran anak Pak Lurah itu. dari pada kamu &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;kluntang&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;klantung&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; tidak jelas &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;jluntrungannya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;. duduk di tepi kali setiap hari.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;TO BE CONTINUED....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1604037010636698679-1636908019137776512?l=wongaboge.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wongaboge.blogspot.com/feeds/1636908019137776512/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1604037010636698679&amp;postID=1636908019137776512' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1636908019137776512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1604037010636698679/posts/default/1636908019137776512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wongaboge.blogspot.com/2008/10/larasati.html' title='LARASATI'/><author><name>cagakbudaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04079736897192622269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1604037010636698679.post-4850585194036840585</id><published>2008-10-20T17:02:00.000-07:00</published><updated>2008-10-20T17:06:56.159-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>TUKANG OJEK</title><content type='html'>tidak dapat dipastika ia selalu berangkat dengan motornya ke pasar untuk narik ojeg. Tak ada pilihan pekerjaan untuknya kecuali tukang ojoek, bila tak ngojeg, ia Cuma mengganggur di rumah, motor sewaannya itu biasa dipakai anak bosnya sehingga tidak setiap hari ia bisa narik ojeg di pasar. gas motornya ditarik pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan menuju pasar temat mangkal ojegnya,berliku-liku tidak pernah lurus seperti pikirannya. sepanjang perjalanan ia berpikir tentang keluarganya. perekonomian keluarganya yang semakin sulit. terbayang anaknya yang besok kemungkinan besar tidak ikut study tour ke Jakarta karena tak ada biaya. Perasaan bersalah pada anak isterinya semakin menyesakkan dadanya yang selama ini telah sesak oleh penyakit asma yang kata orang merupakan warisan dari ayahnya yang meninggal tanpa meninggalkan warisan barang sepetak sawahpun layaknya teman-teman di desanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi itu sebenarnya ia telah berangkat ke rumah bosnya untuk mengambil motor sewaan ojegnya yang dicicil bersamanya namun karena motor bos dipakai anaknya seperti biasanya tanpa ada kejelasan pulang jam berapa dan kapan. iapun kembali ke rumah. di branda rumahnya yang kecil ia duduk termenung di sebuah kursi kayu panjang warisan mertuanya saat menikah. pandangannya yang kosong menembus kekosongan halaman rumahnya yang tak pernah ada pohon besar mengelilinginya. hanya barisan rumput teki dan ilalang kecil yang mengelilingi rumah mungil berdinding anyaman bambu itu. mulutnya yang kosong tanpa asap rokok ditutupinya dengan tangan yang memangku dagunya. kelihatan sekali tangannya sudah mulai keriput, tak sepadan dengan jumlah usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan halaman rumahnya, tepatnya seberang jalan rumahnya sawah menguning membentang. terlihat banyak orang sedang sibuk memanen padi. ada yang yang sedang semangat membabat rumpun-rumpun padi yang ranum menguning, ada yang sibuk memanggul, ada yang sibuk mengetam. bulir-bulir padi itu rontok lepas dari tangkainya. sementara anak-anak berlarian ke sana kemari tanpa arah yang jelas dengan tawa keceriaan yang tampak dari rona wajah dan keluguan mereka. mereka yang ada di sawah seperti tak pernah peduli dengan matahari yang menyala-nyala siang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pak, saya ikut panen padi ya?”&lt;br /&gt;”Oh maaf, mas. petakan-petakan sawah di sini sudah dibagi-bagi pada setiap anggota keluarga. jadi kami masing-masing juga telah jelas bagian kami masing-masing.”&lt;br /&gt;”Oh....begitu ya Pak. Terima kasih. kalau begitu saya barangkali bisa membantu barang sedikit ”&lt;br /&gt;”tenaga kami sekeluarga, kayaknya sudah cukup”&lt;br /&gt;beberapa kali dia mencoba untuk membantu memanen padi di sawah seberang jalan itu, tapi beberapa kali itu pula ia ditolak dengan alasan yang sama. intinya karena lelaki itu bukanlah anggota keluarga si tuan tanah.&lt;br /&gt;lamunannya terbangun ketika lamat-lamat mendengar percakapan antara isteri dan anaknya. semakin lama semakin jelas.&lt;br /&gt;”mbok, besok saya harus membayar study tour ke Jakarta. paling lambat tanggal 15 jad
