Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 November 2010

tak harus kau percaya…

Ini cerita yang terjadi di sebuah negeri Sastradireja. Sebuah negeri yang tak mungkin kau temukan di peta manapun. Jika ke sana engkau akan menemui raja Sastranegara dan jika engkau lelaki sejati engkau pasti akan jatuh cinta dengan Puteri Sastrawati dan jika engkau perempuan sejati niscaya engkau akan jatuh hati akan seorang pangeran bernama Pangeran Sastrawarman. Memang nama-nama mereka mirip dengan nama-nama tokoh sejarah kerajaan di negerimu mungkin? Tapi sudahlah. Perlu kau ketahui negeri ini konon hanya dapat ketahui ketika dirimu menjadi orang-orang terpilih. Untuk menjadi orang terpilih engkau harus menjadi orang yang punya fantasi gila dan otomatis dalam anggapan umum engkau akan dianggap orang gila. Dengan menjadi gila engkau kelak akan bisa mengunjungi negeri tersebut.

Tapi apakah engkau mau gila? Itu pertanyaanku kepada semua orang yang berhasrat untuk menapakkan jejak ke negeri Sastradireja. Aku yakin sebagian besar orang tak mungkin berani menjadi gila hanya untuk bisa masuk ke negeri yang tak ada dalam peta manapun walaupun di sana engkau akan menemui banyak cerita yang tak mungkin engkau lupakan dan tak mungkin sependek cerita yang nanti aku ceritakan nanti. Makanya aku berkeyakinan hanya orang-orang yang benar-benar gilalah yang mau dan dapat berkunjung ke negeri Sastradireja.

Suatu hari aku berkunjung ke negeri itu sehingga orang tuaku dan tetangga-tetanggaku mengira aku hilang sehingga mereka mencariku ke hutan seberang desa. Yah mereka mengira aku telah raib diselong oleh jin, setan mrekayangan dan siluman penunggu hutan. Sungguh tak dapat disalahkan karena aku kecil senang sekali naik pohon Asemkamal sehabis pulang sekolah sampai petang. Bahkan tidak jarang aku ketiduran di dahan pohon yang serupa kursi sampai larut malam. Dengan susah payah bapak dan paman menurunkanku yang tidur dengan menggendongnya dengan sarung. Ketika aku sudah tidur aku memang susah sekali dibangunkan. Tidur seperti mayat. Setelah dua hari aku kembali ke rumah, semua orang menanyaiku dari mana dan kujawab dengan cerita ini tapi mereka tidak tidak percaya dan aku yang kecil dibilangnya sudah pandai berdusta. Entah kamu nanti mau mengatakan apa padaku setelah membaca ceritaku ini.

***

Akupun tak tahu kenapa aku bisa sampai bisa berkunjung ke negeri itu. Entahlah, yang pasti suatu petang aku naik pohon asem kamal dan aku ketiduran di sana dan tahu-tahu ketika aku sadar aku telah berada di sebuah beranda rumah khas Joglo jaman kuno dan orang-orang berpakaian kain khas Jawa seperti aku lihat dalam film Tutur Tinular. Dan akulah anak yang berpakaian paling aneh, pikiranku akulah anak yang datang dari masa depan menuju masa lalu. Lalu aku bertanya kepada orang-orang di sana namun ternyata aku tak terlihat oleh mereka. Suara tanpa rupa, tapi anehnya mereka tak mengiraku hantu. Hal itu sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Suara tanpa wujud bisa jadi adalah wangsit leluhur yang selalu mereka nanti-nantikan. Ketika aku lapar aku mengambil beraneka sesaji yang ada di setiap bangunan wajar dan pohon besar di sana.

Setelah lama aku berkeliling sebuah desa di negeri itu aku mampir di sebuah rumah dimana sekerumunan anak sedang duduk melingkar dengan seorang kakek tua duduk diantara mereka sambil bercerita tentang negeri mereka yang dulu tak seperti sekarang. Akupun dengan santainya duduk di antara mereka, toh mereka tak melihatku. Namun aneh, kakek tua itu melihat kedatanganku dan mempersilahkanku duduk diantara mereka dengan bahasa isyarat. Akupun mengikuti jalan cerita kakek tua itu dari awal sampai selesai. Dari situlah aku menjadi mengerti bahwa negeri itu adalah negeri Sastradireja dengan penduduk sebagian besar berpekerjaan sebagai pujangga. Pangan sandang dan tempat tinggal sudah bukan lagi masalah bagi mereka. Kegemaran mereka adalah bersastra. Tapi ternyata sebelum itu negeri sastra tertimpa sebuah krisis yang amat dahsyat akibat kemarau panjang. Krisis itu amat mengguncangkan persediaan pangan, sandang, papan.

Namun yang tak kalah menjadi masalah justeru dalam kemarau itu mereka kekurangan krisis daun lontar. Daun lontar adalah media dimana mereka paling suka untuk menulis segala karya sastranya. Anehnya, kemarau itu tanaman lontar hanya bisa berbuah dan berpelepah tanpa daun. Padahal daunlah lontarlah yang menjadi amat penting bagi mereka.

Akhirnya diselenggarakanlah konggres sastrawan di negeri Sastradireja. Semua sastrawan datang. Konon konggres itu diadakan di sebuah desa dengan alasan para sastrawan sudah bosan melakukan konggres di kotaraja. Terlebih dari itu tujuannya adalah untuk mengenal keindahan desa dan memperkenalkan sastra kota kepada orang desa. Di desa diharapkan para sastrawan bisa menemukan banyak kosakata, cerita, setting dan alur yang baru atau yang telah lama mereka tinggalkan. Begitulah bunyi seruan dalam poster-poster dan media masa yang tidak lain berupa rangkaian daun lontar yang tersebar di pelosok negeri itu. Entah siapa yang membuatnya dan menyebarkannya. Tapi yang pasti hal itu serentak terjadi pada hari yang sama tepatnya sejak sepekan sebelumnya, kongres sastrawan muda negeri itu telah dimulai.

Pendek cerita, berdatanganlah para pujangga ke desa itu. Mulai dari penyair muda, pujangga muda , penulis roman, suluk dan babad menampakkan batang hidungnya. Mereka berumur antara sepuluh samapi dupuluh lima tahun. Umur itulah yang konon menurut data Badan Pusat Statstik negeri Sastradireja masuk kategori muda. Ada dari mereka yang dari mereka datang dengan kudanya , delmannya, gerobagnya bahkan dengan jalan kaki. Mungkin di sana belum (saatnya) ada mobil atau kendaraan bermotor lainnya, di sana hanya ada kendaraan berhewan. Penampilan merekaun bermacam-macam . ada yang memakai sepatu, sandal, ada juga yang telanjang kaki. Kebanyakan dari mereka memakai ikat kepala baik itu yang berambut panjang diurai dan yang digelung. Saking bayaknya gaya merka aku tak dapat menguraikannya satu persatu, pokoknya mereka tak seperti aku lihat sebelumnya di jaman kita.

Satu persatu mereka daatang dari berbagai kota da n desa namun setelah sampai pada lokasi mereka kebingungan. Kngres sastrawan mud ibarat kongres dalam cerita, kongres fiktif. Di lokasi meeka tak pernah disambut panitia bahhkan tak pernah tahu sipa panitia. Tak ada administrasi untuk penyai atupun sastrawan muda. Mereka banyak meluapan darah mudanya. Berbicaara, meggerutu, mengupat dengan puisi, memarahi dengan syair, menggerutu dengan kidung lagu dan sajak entah pada siapa. Orang-ornag desa sekitar stu hanya melongo melihat tingkah mereka. Sampai suatu saat muncullah serorang pemuada muncul di tenagtah kekacauan itu. ‘selamat datang wahai para sastraawn muda di kongres sastrawa n muda di desa Sesaksajak ini’ suaranya demikian jernih padahal yang berkata itu hanyalah seorang anak kecil.

Para sastrawan muda yang telah datang hanya kaget dan tak mengira hanya disambut seorang anak kecil bertelanjang dada berambut ikal. Mendengar ucapan selamat datang , ereka haya diam sesaat namun stelah itu mereka memberondong anak lelaki kecil itu dengan berbagai pernyataannn.

‘anak kecil kau mau apa disini, kalu kau tau dimana kami bisa bertemu dengan teman paitia kongres ini dan dimana kai tinggal selama tiga hari di di desa ini. Dimana kami makan, dimana tempat baca puisi membuat sajak merangkai syair, dimana, bagaimana…………dan seterusnya dan seterusnya mengapa semua ini terlihat kacau balau?’

Mendengar itu semua pertanyaan itu seorang anak kecil itu hanya duduk mematung. Beberapa saat kemudian para sastrawan muda itu puas memberondong pertanyaan itu, tubuh anak kecil yang tadinya mematung diam. Namun lama-kelamaan terlihat berbagai macam sajak cacian, syair kedengkian dan puisi kemuakan mengalirkan huruf-hurufnya masuk kedalam kepala anak kecil itu dan setelah itu anak kecil itu seperti berat menahan kepala hingga akhirnya rebah di tengah kerumunan kemarahan para sastrawan muda.

***

Akhirnya dimulailah kongres sastrawan muda dipimpin oleh seorang anak kecil bersuara jernih itu. Disebut-sebutlah bahwa anak kecil itu adalah titisan dari seorang pujangga negeri Sastradireja, bernama Sastraatmaja pendiri dari desa Sesaksajak yang moksa setelah lama meninggalkan kotaraja akibat tidak terima keitka sastra dipergunakan untuk konsprasi kuasa dan alat untuk menindas rakyat. Dialah pengusung genre sastra nglawan kuasa. Rupanya keturunannya yang dikira oleh kakek raja Sastranegra telah mati diburu itu masih hidup sampai sekarang. Entahlah kenapa para sastrawan muda itu begitu takjub dan patuh kepada anak kecil itu yang ternyata bernama Sastrapinunggul.

Sambil duduk santai di lelumutan kerak di bawah rumpun bambu ampel gading semua sastrawan berkumpul. Anak kecil itu menjelaskan bahwa menjelaskan bahwa panitia penyeleggara kongres itu tak lain dia senridri tanpa orang lain. Semeentra para sastrawan muda selaama melakukan kongres dipersilahkan tingal di mana saja dan makan apa saja. Anak kecil itu tahu bahwa para sastrawan hanya berbekal puisi, cerita, dongeng , dan syair pada lembaran lontar dan pada mulut mereka yang telah dihafalkan.

Dalam tiga hari itulah para sastrawan peserta kongres itu ada yang bertahan dan kabur karena tak yakin akan bisa bertahan hidup hanya berbekal karya sastra mereka. Daun lontar berisi sajak tak mungkin mengenyangkan mereka. Sedangkan para penduduk desa Sesaksajak sedang kekurangan pangan akibat kemarau panjang ini dan mereka telah muak dan trauma dengan sajak yang hanya berjejaring dengan penguasa lalim seperti dulu.

Sastrawan muda yang tersisa hanya tinggal sebelas orang dari sekitar seratus sebelas orang. Mereka masih duduk di lelumutan kerak di bawah rumpun bambu ampel gading membahas masalah sastra dan kehidupan negeri Sastradireja. Anak kecil itu kemudian berkata dengan kidung lagu. Suaranya mirip dengan suara orang dewasa. Para sastrawan meyakini bahwa yang menyanyikan kidung mistis itu bukan anak kecil itu, melainkan eyang Sastraatmaja yang sedang merasuk ked alam jasad cucunya.

Dalam kidung itu sastraatmaja menutrukan bahwa keamrau panjang iini tak lain karena kesalahan manusia sendiri yang membuat murka Dewata akibat telah menyalahgunakan sastra bukan lagi sebagai alat penyampai kebajikan namun telah menjadi alat pengadu domba manusia dan alat mencapai kekuasaan. Barangsiapa yang ingin wilyahnya makmur kembali maka merke ak harus berkerja keras tidak hanya menyembah raja lalim dan menjadikan sastra sebagau dewata baru. Begitulah pesan sastraatmaja yang dapat ditangkap waktu itu yang ditangkap dari anak kecil itu. Bersamaan nyanyian kidung selesai terjadilah gemuruh angin besar yang meluruhkan daun-daun kering ampel gading. Semua sastrawan menutup menoleh dan sontak menutupkan jemarinya untuk melindungi mata dari luruhan daun dan kepulan debu. Setelah itu anak itu telah hilang pergi bersama angin yang menyapu tempat itu.

Tanpa anak kecil itu kongres sastra terus berlangsung. Sebalas sastrawan ituoupn menjalankan tirakat menugrangi makan minum selama kongres sastrawan berlangusng. Keitka siang mereka berkumpul di temapat tu, namun mketika malam datang mreka berpencar di berbagai tempat. Mencari inspirasi, duduk di pinggir kali menghayati keheningan tanpa suara gemericik air. Menghayati dingin malam kemarau panjang. Merenungi wangsit dan pesan eyang sastraatmaj tentang musibah kemarau panjang. Ada pula yang duduk bersila di tengah rekah tanah sawah di bawah remang bulan sabit. Ada yang merangkai bait-bait syair dan lagu lewat suara miris tangis anak kecil yang tak lagi bisa menyusu karena air susu ibunya telah kering. Malam membuat mereka merenungi semua, memahami teka-teki sepi dalam kekeringan yang belum diketahui ujungnya.

Selama kongres tidak ada penduduk yang mengikuti dan melihat, mereka telah muak dengan sajak. Desa mereka telah sesak dengan sajak. Mereka tidak peduli dengan adanya pentas syair, puisi dan sajak dan apresiasi sastra apapun. Mereka akan menghargai sastra ketika sastra bisa berguna. Puisi dan syair akan lebih indah ketika mampu menghidupkan tanaman, sajak akan rancak berirama merdu mampu mengundang gemericik air kehidupan. Dan seterusnya dan seterusnya……..sastra akan berguna ketika mampu memanusiakan manusia dan harmoni dengan alam semesta di sekitarnya. Selama itu belum terjadi mereka tidak akan percaya pada sastra.

Suatu siang setelah berdebat cukup lama akhirnya sebelas orang sastrawan itu bersepakat untuk bertaubat pada Dewata atas semua kesalahan yang pernah dilakukan. Menginsyafi kekeliruan dan kemusyrikan, menghindari bid’ah-bid’ah yang jelas-jelas merugikan umat manusia dan alam semesta.

Malamnya, di bawah remang bulan sabit mereka berangkat menyusuri jalan penduduk desa menuju mata air Belik Banyumumbul mereka naik terus menuju sebuah bukit. Di atas bukit Pamujan tempat petilasan Eyang Sastraatmaja moksa itulah, akhirnya mereka bersebelas bersujud meminta wangsit Dewata untuk meminta petunjuk dan memanjatkan pinta agar kemarau panjang segera usai.

Siang terakhir akhirnya disepakati bahwa sastra yang baik adalah sastra yang menyuarakan kebenaran bukan sastra yang melindungi kepentingan penguasa yang lalim. Sebelas sastrawan menyetujui bahwa bersastra tidak harus berebut lewat media masa sebagai lahan satu-satunya penyair untuk hidup. Mereka bersepakat bahwa sastrawan sejati adalah semua orang mampu menggunakan bahasanya untuk kebenaran, kebaikan umat manusia dan alam semesta. Sastra harus memayu hayuning bawana. Semua orang bisa jadi sastrawan.

Tersebutlah setelah beberapa tahun kemudian, bahwa kesebelasan sastrawan itu menjadi pelopor petani sastrawan, pandita yang pujangga, ahli tatanegara yang ahli sastra, pedagang yang benar menggunakan neraca dan bijak menggunaka katanya dan ada pula yang menjadi guru bahasa dan sastra yang tidak membebek pada kata penguasa.

Tersebutlah Revolusi sastra negeri Sastradireja itu bermula. Dari desa Sesaksajak sebelas sastrawan itu bersusah payah membuat saluan air dari sambungan panjang batang bambu dari belik Banyumumbul menuju pemukiman penduduk. Penduduk yang awalnya enggan berangsur-angsur penduduk sadar akan kemanfaatan usaha para sastrawan itu. Mereka mulai belajar kembali sastra di jeda bertani dan berdagang mereka. Mereka ajarkan anak mereka syair dan cerita sebelum anaknya terlelap. Mereka rasakan dengan sastra keindahan hidup, Mereka dan percaya sastrawan tidak hanya bisa berdusta dan menyihir kata-kata. Sastrawan juga mampu berbuat yang bermanfaat bagi manusia. Setelah beberapa lama di desa Sesaksajak itu, sebelas sastrawan itu tak terekam jejaknya. Kemudian tersiar kabar bahwa mereka moksa padahal sebenarnya mereka telah dibunuh oknum penguasa yang resah dengan genre sastrasejati. Sastra yang menampilkan segalanya apa adanya tanpa ada prasangka dan kuasa angkara.

***

Setelah mendengar cerita itulah, si kakek tua itu menghampiriku. Menyalamiku dan berkata ‘akulah Sastrapinunggul, anak kecil dalam cerita itu’ setelah itu aku ditepuknya dan aku tak sadar. Ketika aku bangun aku sudah berada di atas dahan pohon Asemkamal. Kuceritakan semua ini berulang kali tapi mereka tidak percaya. Termasuk kau juga mungkin akan mengatakan bahwa semua yang telah kukisahkan ini bohong. Saranku jika engkau tak percaya sering-seringlah engkau tidur di atas dahan pohon Asemkamal. Barangkali Eyang Sastrapinunggul akan membawamu menuju negeri Sastradireja itu.

Purwokerto, Senen Kliwon 1 Juni 2009

foto:mobil gubernur bibit waluyo dan bupati mardjoko saat meninjau PLTMH di Pesawahan, Gununglurah Cilongok beberapa bulan lalu.

BAYI

Lima tahun aku tak ke kotamu, banyak yang hilang. Hanya kenangan dan cerita-ceritamu yang selalu kau kutip dari seorang novelis kondang yang berasal dari kotamu. Aku masih ingat ketika engkau tertawa sendiri seusai mengulang cerita-ceritamu. Cerita seorang suami yang memenuhi keinginan istrinya yang sedang ngidam makan buah kedondong di malam hari.

"Masa karena ia tak bisa memanjat pohonnya, terpaksa ia harus menebang langsung pohon kedondong itu di malam hari lagi. Pantas saja tetangganya pada heboh datang mendengar robohnya pohon kedondong kecil itu" katamu sambil tertawa kecil. Aku yang mendengar ceritamu berulang kali itu terpaksa tersenyum. Padahal hal itu bagiku tak lucu karena aku juga termasuk orang yang tak pandai memanjat pohon.

Waktu itu kita masih sering duduk bersama di sebuah gazebo dalam kampus. Di gazebo itulah aku pertama kali mengenalmu. Ketika itu kita sama-sama mahasiswa baru. Akupun tahu bahwa dengan kecantikanmu seorang mahasiswa angkatan kita suka sama kamu. Tapi waktu itu akupun tak peduli dan kaupun tak mempedulikannya. Akhirnya kita sering bertemu di gazebo itu, tak pernah kulupakan ketika dirimu terus saja membawa novel-novel kesukaanmu. Guguran daun-daun pohon belimbing dekat gazebo itu ternyata pelan-pelan menumbuhkan rasa cinta diantara kita. Semakin daun belimbing itu berguguran semakin tumbuh pula itu benih-benih cinta diantara kita.

Mulanya kaupinjamkan novel-novel kecil dari pengarang asal kotamu. Aku yang tak suka membaca novel pada mulanya menolak. Beberapa hari kubiarkan novel-novel itu di meja kamar kosku. Kubiarkan tergeletak, namun akhirnya mulai kubaca. Darimulah kukenal tokoh seorang ronggeng dari sebuah dukuh di pedesaan yang jadi korban tragedi sejarah bangsa ini. Ataupun juga kukenal seorang tokoh pemuda desa yang akhirnya menjadi tentara.

"Dengan membaca novel, aku ingin kau tahu bagaimana kondisi bangsa ini. Aku ingin kau tahu keadaan bangsa ini dulu sampai sekarang" begitu katamu ketika kuselesaikan bacaan novel-novel pemberianmu waktu itu. Bahkan semakin sering ku mendengar kata-katamu semacam itu. Kata-kata agitasi, propaganda, provokasi, demokrasi, hegemoni dan semacamnya. Kutahu bahwa kau termasuk perempuan aktivis di kampus itu. Dan aku hanya seorang perenung dan pendengar ceritamu dan ceramahmu. Tapi entah kenapa engkau mau menerimaku menjadi salah satu bagian hidupmu waktu itu.

"Aku ingin ada yang bisa mendengarku. Dan kaulah yang kuanggap paling bisa mendengarku" katamu singkat. Setelah itu kau teruskan lagi tentang cerita tentang sejarah bangsa ini, tentang kemanusiaan di sekitar kita. Ah...bagiku itu dulu membuatku pusing. Bagiku sederhana saja, selesaikan dulu tugas kampus. Penuhi jadwal kuliah dosen ataupun yang lainnya. Yang penting kita bisa lulus cepat, cepat kerja, cepat dapat duit dan seterusnya. Itu kataku yang selalu membuatmu menentangnya. Namun ternyata semakin kau menentang prinsip pragmatisku, semakin aku menyukaimu. Aku mencintai gadis cerdas sepertimu. Mahasiswi aktifis. Aneh memang.

Lima tahun berlalu akhirnya aku bersamamu dapat lulus. Aku lulus dengan nilai sangat memuaskan sementara kau lulus dengan nilai pas-pasan. Berbeda dengan teman-teman perempuanmu yang rajin di kampus. Akhirnya kuperkenalkan kau dengan kedua orang tuaku. Seperti kutahu, karaktermu yang kuatpun terlihat oleh orang tuaku. Akhirnya kutegaskan pada orang tuaku bahwa kau adalah calon bagi ibu dari anak-anakku. Sementara orang tuamu yang datang waktu itu adalah hanya ayahmu. Memang ibumu telah meninggal sejak kau kelas lima sekolah dasar. Kutahu didikan ayahmulah yang membuatmu begitu keras sebagai seorang perempuan.

Akhirnya kaupun menjadi istriku. Malam pertama kita jalani dengan mesra. Di malam pertamapun kau ceritakan kisah dua orang desa yang hidup bahagia di tengah kesederhanaannya. Malam pertama, bulan pertama hingga akhirnya tahun pertama pernikahan pertama kita masih begitu mesra. Namun sampai tahun kelima pernikahan, belum ada tanda-tanda kalau kau akan menjadi ibu dari anak-anakku. Entah kenapa? Keluargakupun semakin menginginkanku ingin segera punya anak. Namun tak kunjung kesampaian. Katamu kita harus kembangkan karir kita dulu. Emansipasi wanita, menunda kehamilan itu boleh saja. Dan akupun tak dapat menolakmu.

"Lebih baik kau menikah lagi saja. Kau terlalu kalah dengan isterimu" kata ibuku suatu hari yang tak sengaja kau dengar lewat celah pintu kamar kita yang terbuka. Sejak pagi itulah kau tak lagi nampak di rumahku itu. Padahal secara status kau masih isteriku. Kau hanya meninggalkan sepucuk surat di atas bantal kamar kita. Katamu, kau mau pulang ke kotamu sebentar saja untuk menenangkan diri. Akupun tahu, sekeras apapun sifat dan watakmu. Kau tetap saja seorang wanita dengan segala kewanitaanmu.

Lima tahun berlalu sejak kepergianmu ke kotamu. Ke kota orang tuamu, ke kota tempat pengarang kesukaaanmu. Namun tak kutemukan sosokmu seperti sosokmu yang seperti dulu. Sosok perempuan yang tegas lagi cerdas. Seperti penilaian ku dan penilaian semua orang ketika bertemu. Siapapun tak meragukan itu walaupun indeks prestasimu tak memuaskan. Tapi aku tak mempedulikan itu, karena aku menikah bukan karena indeks prestasimu. Selepas sehari kau pulang kabur dari rumah kita. Aku menyusulmu ke kota itu, itu lima tahun yang lalu.

Lima tahun lalu aku sampai di stasiun kotamu. Kubergegas menuju ke alamat rumahmu yang lama. Tapi ternyata kau tak ada. Karena memang ayahmu juga telah meninggal beberapa tahun lalu sebelumnya. Kutanya kepada tetanggamu yang rumahnya berada di samping dekat rumahnya. Katanya sampai dua hari itu kau tak datang ke rumahnya. Kutelusu ri sudut-sudut kotamu untuk mencarimu tapi tak kunjung kutemukanmu.

Di ujung kelelahanku di teras rumah Tuhan, aku menemukanmu. Pagi itu berkat jasa seorang anak kecil ingusan itu akhirnya kumenemukanmu. Kutemukan namamu di sejumlah surat kabar kotamu. Jadi headline pula. Rupanya dengan namamu koran pagi itu begitu laris. Siapa yang tak kenal namamu, seorang aktivis pejuang hak-hak perempuan. Mantan mahasiswa aktivis perempuan yang lantang berteriak di jajaran paling depan ketika mendemo seorang oknum dosen yang melakukan pencabulan atas mahasiswinya. Aku masih ingat itu. Dulupun di bagian depan pula kau menjadi headline koran kotamu. Pembela perempuan nomor satu, aktivis pembela perempuan.

Pagi itupun, di ujung kelelahan dalam pencarianmu. Kutemukan lagi namamu dengan jelas di bagian depan koran itu. Jadi headline koran kotamu. Terpampang jelas judul harian lokal itu. '"Mantan Aktivis Pembela Perempuan Diperkosa Lima Orang di Stasiun" . Lalu kulihat lagi gambar lima lelaki bajingan yang merampas kehormatanmu. Saat itulah itulah aku lemas dan berteriak di depan rumah Tuhan itu. Kusobek koran itu, dan kuberjalan tak tentu arah. Setiap kuberjalan kuterus merebut setiap orang yang sedang membaca koran. Aku selalu mendengar jelas judul headline koran yang secara langsung menyebut namamu. Aku tak terima semua itu. Hal itupun aku lakukan setiap hari. Setiap hari dan setiap hari aku selalu benci melihat orang yang baca koran.

Aku akhirnya berkeliling terus di kotamu terus menerus tanpa lelah walaupun kelelahan pencarianmu telah berujung. Akupun menjadi malas mandi, malas berhias, malas berkeramas dan malas berpakaian. Dan terlebih lagi akupun menjadi sangat malas aku datang ke rumah Tuhan. Karena setiap aku mau duduk di teras rumah itu, setiap itu pula aku teringat melihat seorang anak ingusan penjual koran itu. Penjual koran yang membiarkanku menemukanmu lewat headline koran yang sangat menyakitkanku.

Setiap aku melihat koran maka aku ingin semakin merobeknya. Terlebih lagi dan paling menjengkelkan ketika aku melihat ada anak kecil sedang membawa koran dan menawariku untuk membacanya. Akupun akan semakin beringas untuk mengejarnya. Kemudian yang kudapatkan adalah cacian, hinaan dan bahkan lemparan batu dari orang-orang dewasa yang melihatku. Sampai akhirnya aku dibawa oleh mobil putih menuju suatu tempat dimana aku nantinya dikerangkeng dan dibiarkan bebas di suatu tempat.

Saat aku dibawa oleh dua orang berbadan kekar aku terus berteriak. "Aku bukan orang gila" yah empat kata itu berulang kali dan terus menerus kuteriakan sambil kumeronta dengan sejadi-jadinya. "Mana ada orang gila mengaku dirinya gila" kata seorang kekar itu sekali saja sambil tertawa terkekeh. Namun kuterus berteriak dan berteriak. Namun akhirnya akupun tak lagi bisa berteriak ketika sebuah jarum suntik ditusukkan di bokongku.

Setelah sadar aku telah berada di ruangan yang sempit. Kedua tangan dan kakiku telah diikat sekuat-kuatnya. Dan akupun kembali teriak memanggil namamu sekuat-kuatnya. Namun kaupun tak muncul. Yang muncul hanya seorang wanita berpakaian putih dengan kopiah putih di kepalanya. Dan kembali aku disuntik sampai aku merasa lemas. Lemas sekali. "Bangsat" kataku sampai akupun lelap. Entahlah aku sampai berapa lama aku di ruangan sempit itu. Diikat di atas ranjang dan disuntik setiap kali aku berteriak. Aku tak sempat bisa menghitung hari, karena memang di ruangan itu aku tak tahu lagi ada matahari atau tidak di luar sana.

Tiap hari di kamar sebelahku ternyata banyak lagi orang berteriak seperti aku. Tiap hari betambah orang yang suka berteriak. Sampai akhirnya datang ke kamarku orang yang berteriak-teriak juga. Akupun akhirnya di keluarkan dari kamar sempit itu. Menuju ke luar kamar ternyata malah terlihat semakin banyak orang yang berteriak-teriak seperti aku dulu. Bahkan mata-mata mereka cukup garang melotot tapi tak jarang dari mereka tertawa sendiri setelahnya. Dan akupun akhirnya mengikuti kebiasaan mereka. Berteriak dan berteriak sampai aku tertidur pulas di manapun aku berada.

Entahlah sampai berapa aku melihat bulan berganti matahari di lapangan itu. Sampai akhirnya suatu hari, aku melihatmu berteriak-teriak pula. Ternyata kaupun suka berteriak-teriak pula. Kaupun sepertiku tidur terlentang dengan tangan kaki diikat dalam sebuah ranjang berjalan didorong oleh dua orang berbaju putih. Aku mengejarmu namun aku dihalang-halangi oleh orang membawa pentugan dan bertopi hitam. Setelah berapa lama akupun menunggumu dari kamar kau beteriak-teriak.

Suatu hari akhirnya kaupun keluar. Kita akhirnya betemu. Saat bertemupun kau dan aku berpelukan. Menangis sesenggukan. Namun setelah itupun kita akhirnya tertawa bersama-sama. Berteriak sekeras-kerasnya. Mereka yang melihat kita awalnya diam. Namun akhirnya orang seisi tempat bertembok tinggi itu akhirnya ikut tertawa sekerasnya pula. Akhirnya seperti dulu, di tempat itu kita duduk bersama seperti di kampus dulu. Duduk di gazebo kampus dekat pohon belimbing. Kaupun mengulang-ulang terus cerita seorang suami yang menebang pohon kedondong untuk memenuhi keinginan isterinya yang sedang ngidam. Dan kaupun terlihat puas sambil mengelus-elus perutmu yang semakin hari semakin membesar.

Setiap kau bercerita itu, kau berperan sebagai si isteri dan aku sebagai suaminya. Kau memegang perutmu yang benar-benar besar dan akupun mencari golok dimanapun. Setelah kudapat, akhirnya kutebang setiap pohon yang kuanggap sebagai pohon kedondong. Setelah itu pohon itu tumbang kita pun bersama tertawa dan tertawa. Setiap hari kita lakukan itu, sampai akhirnya setelah pepohonan di tempat itu tumbang karenaku akupun berusaha untuk mencari pohon-pohon yang lain. Aku mencoba menaiki tembok keliling yang tinggi untuk mencari pohon yang kutebang untukmu. Beberapa kali aku bisa menebangnya. Tapi setiap aku menebang setiap kali itu pula aku dikerangkeng lagi. Sampai akhirnya aku kembali dikurung di tempat sempit seperti dulu. Yang terakhir aku hanya melihatmu berteriak di kamar sebelahku. Dan mendengar suara tangis seorang bayi. Seperti biasanya akupun beteriak dan berteriak untuk bisa menemuimu. Dan akupun akhirnya tak bisa menemuimu. Padahal aku ingin sekali melihat bayi seorang mantan aktivis wanita. Setiap kali kuberteriak aku disuntik. Dan suatu hari aku disuntik lagi oleh orang berbaju putih sampai aku tak berteriak lagi. Untuk selamanya.

Pekuncen, 27 Maret 2010

Selasa, 30 Juni 2009

perempuan cantik yang pacarnya jelek sekali


dengan amat sadar aku pulang menenteng buku "kebebasan pengarang dan masalah tanah air" IWAN SIMATUPANG. kuturuni tangga berjalan menuju parkir Sriratu, tempat perbelanjaan modern di purwokerto.entahlah kenapa dinamakan Sriratu bukan sri baginda raja, mungkin karena sriratu itu mengidentikkan perempuan yang doyan belanja, yang punya banyak uang tentunya....

setelah sampai di parkir, aku melihat sebuah fenomena ada seorang perempuan yang amat cantik, setidaknya menurut ukuranku. semampai, berhidung mbangir dan berambut panjang. kulitnyapun serupa bengkoang yang telah dikupas. senyumnya membuat lisanku memuji nama-Nya, subhanalloh...bolehlah kalau dibayangkan seperti Diansas..
keindahan yang membuat segala sesuatu disekitarnya menjadi lupa dan tak sadar. untung sahabatku menepuk pundakku.dari saat itulah aku tersadar."hei, ayo pulang ke Grendeng" kata Ipul, seperti panggilan nama sahabatku yang sama dengan mantan suami si pemilik goyang gergaji.

"ayo..." sambil kuterima helm dari Ipul sambil kupasangkan ke kepalaku. akupun membonceng motor supra XXnya. mataku masih menyapu pandang parkir itu. masyaalloh, aku terkaget, hingga tak sengaja kubenturkan helmku ke helmnya Ipul.
"ada apa sih, ribut amat" kata ipul.
"pul, lihat itu" sambil kutolehkan kepalaku ke arah perempuan cantik yang sedang memegang helm merah. dia mulai membonceng sebuah motor Tiger 2000.betapa cantik dan serasinya dia, memakai jin biru dan baju putih ketat agak tipis dan transparan bahannya.
tiba-tiba, kedua bola mata ipul melotot dan tak disangka jatuh ke tanah.untung segera dipungutnya dan dipasangkannya kembali. "kenapa, Pul?"aku juga terkaget.
sambil membenarkan kedua bola matanya ipul menjawab, "perempuan itu cantik, tapi pacarnya jelek sekali"....

Minggu, 14 Juni 2009

Kamilayan

Tak ada mendung menggantung di atas langit pedukuhan Gandasari. Perbukitan yang kerontang dengan pepohonan berdaun jarang dan meranggas. Tunas-tunas mudapun tak nampak apalagi sulur umbi gadung yang tumbuh di pekarangan rumah, padahal ketika lengkung sulur gadung nampak warga dukuh percaya itulah pertanda alam bahwa musim penghujan segera tiba. Yang sering terdengar mengiris hati hanya suara batang bambu bergesekan yang dipermainkan angin kering dari utara. Setelah itu akan nampak daun-daunnya yang kering berputar-putar di udara sebelum jatuh mencium tanah berdebu tebal. Kemarau di bulan Agustus ini sepertinya masih panjang.

Pada musim ketiga ini, air menjadi begitu berharga warga dukuh itu. Entahlah, kini sumur-sumur dan sumber air hampir semuanya kering, hanya mata air di balik bukit Wadaskelir yang masih mengalir. Itulah mata air satu-satunya. Sepanjang hari nampak pemandangan warga berbondong-bondong seperti semut, menyusuri jalan setapak perbukitan yang curam menuju arah dua pohon jati raksasa. Di bawah dua pohon jati raksasa itulah ada sumber air menggenang pada sebuah ceruk kecil. Orang-orang menyebut ceruk itu, Belik Eyang Riyong. Jaman dulu orang-orang menggunakan tempurung buah Maja untuk mengambil airnya. Dulu di atas belik1 itu juga selalu ada sesaji jajanan pasar, aneka wedang2, rokok kemenyan klembak, kembang dan kepulan asap dupa. Konon di situ tempat pesugihan celengkarung3. Kini di situlah manusia-manusia dukuh Gandasari berkerumun dan bergantian mengambil air untuk dibawa pulang.
Matahari siang itu membuat bumi serasa terpanggang. Orang-orang di perbukitan itu banyak berteduh di bawah dua pohon jati raksasa sambil menunggu bergantian mengambil air. Tak ada tempat berteduh kecuali dua pohon jati itu. Namun Murdi, pria lima puluhan tahun itu melangkah menjauh. Jligen dan pikulan pengangkut air ditinggalkannya. Ia lalu duduk berselonjor kaki. Tanpa berteduh dibiarkannya tubuhnya dipeluk terik matahari, peluhnya kelihatan mengkilat mengalir halus dari kening melewati wajah sebalum menetes ke dadanya. Sesekali rongga dadanya kembang kempis menarik dan menghembuskan nafas panjang. Pandangnya kosong, padahal di depannya terhampar lereng perbukitan ilalang kering yang berombak-ombak disapu angin. Desau angin itu begitu panjang, sayup hilang-terdengar menyusuri panjangnya Bukit Wadaskelir. Suara ribut orang saling mencaci dan menyalahkan temannya yang menumpahkan air, tak mampu mengisi kosong pandangnya. Jligen-jligen dan ember penampung air berserakan, bahkan ketika keributan dua orang itu semakin menjadi Murdi tak peduli. Murdi masih hanyut dalam lamunan panjangnya.

***

Tujuh bulan yang lalu. Di rumah. ‘Murdi, sebagai suami masa kaubiarkan isterimu itu kembali akan merantau ke luar negeri ’ tegur ibunya yang telah renta.
Murdi hanya duduk termangu di atas lincak4 bamboo. Sementara ibunya terus membenamkan kayu bakar ke dalam mulut tungku. Api di dalamnya menjilat-jilat. Air nira di dalam kuali besar itu nampak mendidih. Namun sedikit bahkan terlampau sedikit. ‘Biyung5, kemarin jadi berapa kilogram gula merahnya?’ Murdi bertanya mencoba mengalihkan tema pembicaraan. Ralem perempuan tua yang sudah bongkok itu ngeloyor ke luar rumah mengambil daun kelapa kering. Tak memedulikan Murdi. Murdipun sebenarnya tahu, jauh sebelum kemarau ini, pohon kelapa yang disadapnya tak lagi mengeluarkan nira yang melimpah. Pendapatannya sebagai penderes kian hari kian tak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Apalagi ketiga anaknya masih bersekolah.

‘Memang Murdi itu terlalu berani, sudah tahu orang melarat. Berani-beraninya menyekolahkan semua anaknya’ buat apa sekolah tinggi-tinggi toh nanti yang jadi priyayi hanya orang-orang kota saja’ tidak jarang selentingan dari tetangganya. Terlebih lagi ketika hutangnya semakin lama semakin menumpuk pada tauke gula kelapa. Tiga bulan ini sewa pohon kelapa yang disadapnyapun belum dibayar. Sering ketika memanjat pohon kelapa, terasa pusing sekali kepalanya sehingga seringkali ia berhenti dan istirahat sambil duduk bersandar pada batang pohon kelapa.
‘Kang, kalau begini terus. Anak-anak bisa putus sekolah. Utang kita terus bertambah. Bagaimana kalau aku ikut Uwak6 Gino jadi TKI di Brunei. Kalau di Brunei ga usah bisa bahasa Inggris-ingrisan juga tidak apa-apa, terus uang berangkatnya dibayar dengan potong gaji tujuh bulan kerja’ tariah berkata sambil menatap mata cekung murdi.
‘Tar, apa kamu tidak ingat waktu kamu kerja tujuh bulan di Kalimantan bersama Kang Wasrip, Bapakmu itu kena kamilayan7, sakit sebab kepergianmu dan kehilanganmu. Terus kamu pulang setelah dikabari bahwa Bapak sakit dan obat kesembuhannya adalah ketemu kamu. Ternyata kepulanganmu bukannya menjadi obatnya, tiga hari setelah itu penyakitnya tambah parah sampai akhirnya meninggal. Apa kamu ingin hal itu terjadi lagi pada Biyungmu?’ murdi mencoba mengingatkan isterinya.

‘Kang, tapi kalau aku tidak berangkat, kita mau mengandalkan apa? Sawah yang sepetak kecil itu telah tergadai selama setahun pada Pak Darso sejak Kasno awal masuk SMP. Untung Kasno tinggal di rumah Uwaknya. Tini juga setahun lagi akan lulus SMP dan butuh biaya besar. Si bungsu Ripto setahun lagi akan lulus SD. Masa kita tidak bisa menyekolahkan mereka. Kasihan mereka. Biar kita yang sengsara asal mereka bisa tetap sekolah’ tariah terus mendesak murdi. Dan murdi tak dapat menjawabnya. Semua yang dikatakan tariah memang semuanya benar. Tak ada yang dapat disangkalnya. Dadanya semakin sesak. Kepalanya serasa berputar. Tanpa berkata ia langsung bangkit sambil terhuyung meninggalkan kamarnya. Ia merasa semakin berat pundaknya tertimpa beban yang kian bertambah. Dibiarkannya tariah duduk termangu sendiri. Di luar rumah ia berbaring di atas lincak, matanya lurus memandang langit. Di atas sana bintang berkerdipan. Angin malampun masuk ke dalam rumahnya lewat celah-celah dinding anyaman bambu yang lama tak terganti.

Seminggu setelah malam itu, dengan tekad bulat isterinya jadi pergi. Tinggallah Sanmurdi di rumah bersama ibunya yang renta dan ripto yang sudah kelas enam SD. Sementara dua anaknya kasno dan tini, pasti akan ketemu tariah di rumah Uwak Gino. Murdi masih teringat pesan menjelang kepergian isterinya ‘ Kang, aku titip anak-anak’. Setelah itu ia bersalaman dengan Ralem, ibu mertuanya. ‘ Do’akan aku Biyung biar dapat hasil’. Tariah lalu melangkah pergi sambil menunduk. Tas besar dijinjingnya. Tinggallah kedua orang yang dicintainya terpatung di pelataran rumah di pagi buta. Sementara si bungsu Ripto masih tidur. Hanya ciuman Tariah yang ditinggalkannya ketika ia masih nyenyak bermimpi mengejar layang-layang di sawah.

***

‘Kang Murdi, rika sida ngangsu apa ora kiye?8’ suara kartim, membangunkan lamunannya. Matahari sudah mulai tergelincir ke barat. Murdi hanya mengangguk membalas teguran Kartim yang sudah memikul dua jligen air dan siap-siap menuruni jalan curam perbukitan Wadaskelir untuk pulang. Murdi mencoba bangkit tapi kakinya serasa begitu gemetar, lemas tak mampu menopang tubuhnya. Terasa perbukitan itu bergoyang-goyang dan berputar seperti ada gempa. Setelah itu yang dilihatnya hanya gelap dan gelap. Ia ambruk pingsan.

Setelah bangun, ia sudah ada di rumah. dan telah beberapa minggu ini ia di rumah. Ia tak lagi mampu memanjat pohon kelapa untuk mengambil nira. Pekerjaan menyadap nira diwakilkan Kartim adiknya. Yang dirasa Murdi, hanya lemas dan serasa ada yang menggerogoti seluruh persendian tubuhnya. Tubuhnya kurus, tidak enak makan, wajahnya kuning layu. Tak ada gairah lagi dalam hidupnya. Keadaannya kini sama seperti Kasnawi, almarhum bapak mertuanya. Kemudian tersiar kabar di seluruh pedukuhan itu tentang murdi. Murdi kena kamilayan. Kamilayan karena kehilangan Tariah.

juni 2009
ketika musim tak jelas ternamai

Cerita negeri Sastra

Ini cerita yang terjadi di sebuah negeri Sastradireja. Sebuah negeri yang tak mungkin kau temukan di peta manapun. Jika ke sana engkau akan menemui raja Sastranegara dan jika engkau lelaki sejati engkau pasti akan jatuh cinta dengan Puteri Sastrawati dan jika engkau perempuan sejati niscaya engkau akan jatuh hati akan seorang pangeran bernama Pangeran Sastrawarman. Memang nama-nama mereka mirip dengan nama-nama tokoh sejarah kerajaan di negerimu mungkin? Tapi sudahlah. Perlu kau ketahui negeri ini konon hanya dapat ketahui ketika dirimu menjadi orang-orang terpilih. Untuk menjadi orang terpilih engkau harus menjadi orang yang punya fantasi gila dan otomatis dalam anggapan umum engkau akan dianggap orang gila. Dengan menjadi gila engkau kelak akan bisa mengunjungi negeri tersebut.

Tapi apakah engkau mau gila? Itu pertanyaanku kepada semua orang yang berhasrat untuk menapakkan jejak ke negeri Sastradireja. Aku yakin sebagian besar orang tak mungkin berani menjadi gila hanya untuk bisa masuk ke negeri yang tak ada dalam peta manapun walaupun di sana engkau akan menemui banyak cerita yang tak mungkin engkau lupakan dan tak mungkin sependek cerita yang nanti aku ceritakan nanti. Makanya aku berkeyakinan hanya orang-orang yang benar-benar gilalah yang mau dan dapat berkunjung ke negeri Sastradireja.

Suatu hari aku berkunjung ke negeri itu sehingga orang tuaku dan tetangga-tetanggaku mengira aku hilang sehingga mereka mencariku ke hutan seberang desa. Yah mereka mengira aku telah raib diselong oleh jin, setan mrekayangan dan siluman penunggu hutan. Sungguh tak dapat disalahkan karena aku kecil senang sekali naik pohon Asemkamal sehabis pulang sekolah sampai petang. Bahkan tidak jarang aku ketiduran di dahan pohon yang serupa kursi sampai larut malam. Dengan susah payah bapak dan paman menurunkanku yang tidur dengan menggendongnya dengan sarung. Ketika aku sudah tidur aku memang susah sekali dibangunkan. Tidur seperti mayat. Setelah dua hari aku kembali ke rumah, semua orang menanyaiku dari mana dan kujawab dengan cerita ini tapi mereka tidak tidak percaya dan aku yang kecil dibilangnya sudah pandai berdusta. Entah kamu nanti mau mengatakan apa padaku setelah membaca ceritaku ini.

***

Akupun tak tahu kenapa aku bisa sampai bisa berkunjung ke negeri itu. Entahlah, yang pasti suatu petang aku naik pohon asem kamal dan aku ketiduran di sana dan tahu-tahu ketika aku sadar aku telah berada di sebuah beranda rumah khas Joglo jaman kuno dan orang-orang berpakaian kain khas Jawa seperti aku lihat dalam film Tutur Tinular. Dan akulah anak yang berpakaian paling aneh, pikiranku akulah anak yang datang dari masa depan menuju masa lalu. Lalu aku bertanya kepada orang-orang di sana namun ternyata aku tak terlihat oleh mereka. Suara tanpa rupa, tapi anehnya mereka tak mengiraku hantu. Hal itu sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Suara tanpa wujud bisa jadi adalah wangsit leluhur yang selalu mereka nanti-nantikan. Ketika aku lapar aku mengambil beraneka sesaji yang ada di setiap bangunan wajar dan pohon besar di sana.

Setelah lama aku berkeliling sebuah desa di negeri itu aku mampir di sebuah rumah dimana sekerumunan anak sedang duduk melingkar dengan seorang kakek tua duduk diantara mereka sambil bercerita tentang negeri mereka yang dulu tak seperti sekarang. Akupun dengan santainya duduk di antara mereka, toh mereka tak melihatku. Namun aneh, kakek tua itu melihat kedatanganku dan mempersilahkanku duduk diantara mereka dengan bahasa isyarat. Akupun mengikuti jalan cerita kakek tua itu dari awal sampai selesai. Dari situlah aku menjadi mengerti bahwa negeri itu adalah negeri Sastradireja dengan penduduk sebagian besar berpekerjaan sebagai pujangga. Pangan sandang dan tempat tinggal sudah bukan lagi masalah bagi mereka. Kegemaran mereka adalah bersastra. Tapi ternyata sebelum itu negeri sastra tertimpa sebuah krisis yang amat dahsyat akibat kemarau panjang. Krisis itu amat mengguncangkan persediaan pangan, sandang, papan.

Namun yang tak kalah menjadi masalah justeru dalam kemarau itu mereka kekurangan krisis daun lontar. Daun lontar adalah media dimana mereka paling suka untuk menulis segala karya sastranya. Anehnya, kemarau itu tanaman lontar hanya bisa berbuah dan berpelepah tanpa daun. Padahal daunlah lontarlah yang menjadi amat penting bagi mereka.

Akhirnya diselenggarakanlah konggres sastrawan di negeri Sastradireja. Semua sastrawan datang. Konon konggres itu diadakan di sebuah desa dengan alasan para sastrawan sudah bosan melakukan konggres di kotaraja. Terlebih dari itu tujuannya adalah untuk mengenal keindahan desa dan memperkenalkan sastra kota kepada orang desa. Di desa diharapkan para sastrawan bisa menemukan banyak kosakata, cerita, setting dan alur yang baru atau yang telah lama mereka tinggalkan. Begitulah bunyi seruan dalam poster-poster dan media masa yang tidak lain berupa rangkaian daun lontar yang tersebar di pelosok negeri itu. Entah siapa yang membuatnya dan menyebarkannya. Tapi yang pasti hal itu serentak terjadi pada hari yang sama tepatnya sejak sepekan sebelumnya, kongres sastrawan muda negeri itu telah dimulai.
Pendek cerita, berdatanganlah para pujangga ke desa itu. Mulai dari penyair muda, pujangga muda , penulis roman, suluk dan babad menampakkan batang hidungnya. Mereka berumur antara sepuluh samapi dupuluh lima tahun. Umur itulah yang konon menurut data Badan Pusat Statstik negeri Sastradireja masuk kategori muda. Ada dari mereka yang dari mereka datang dengan kudanya , delmannya, gerobagnya bahkan dengan jalan kaki. Mungkin di sana belum (saatnya) ada mobil atau kendaraan bermotor lainnya, di sana hanya ada kendaraan berhewan. Penampilan merekaun bermacam-macam . ada yang memakai sepatu, sandal, ada juga yang telanjang kaki. Kebanyakan dari mereka memakai ikat kepala baik itu yang berambut panjang diurai dan yang digelung. Saking bayaknya gaya merka aku tak dapat menguraikannya satu persatu, pokoknya mereka tak seperti aku lihat sebelumnya di jaman kita.

Satu persatu mereka daatang dari berbagai kota da n desa namun setelah sampai pada lokasi mereka kebingungan. Kngres sastrawan mud ibarat kongres dalam cerita, kongres fiktif. Di lokasi meeka tak pernah disambut panitia bahhkan tak pernah tahu sipa panitia. Tak ada administrasi untuk penyai atupun sastrawan muda. Mereka banyak meluapan darah mudanya. Berbicaara, meggerutu, mengupat dengan puisi, memarahi dengan syair, menggerutu dengan kidung lagu dan sajak entah pada siapa. Orang-ornag desa sekitar stu hanya melongo melihat tingkah mereka. Sampai suatu saat muncullah serorang pemuada muncul di tenagtah kekacauan itu. ‘selamat datang wahai para sastraawn muda di kongres sastrawa n muda di desa Sesaksajak ini’ suaranya demikian jernih padahal yang berkata itu hanyalah seorang anak kecil.

Para sastrawan muda yang telah datang hanya kaget dan tak mengira hanya disambut seorang anak kecil bertelanjang dada berambut ikal. Mendengar ucapan selamat datang , ereka haya diam sesaat namun stelah itu mereka memberondong anak lelaki kecil itu dengan berbagai pernyataan.

‘anak kecil kau mau apa disini, kalu kau tau dimana kami bisa bertemu dengan teman paitia kongres ini dan dimana kai tinggal selama tiga hari di di desa ini. Dimana kami makan, dimana tempat baca puisi membuat sajak merangkai syair, dimana, bagaimana…………dan seterusnya dan seterusnya mengapa semua ini terlihat kacau balau?’
Mendengar itu semua pertanyaan itu seorang anak kecil itu hanya duduk mematung. Beberapa saat kemudian para sastrawan muda itu puas memberondong pertanyaan itu, tubuh anak kecil yang tadinya mematung diam. Namun lama-kelamaan terlihat berbagai macam sajak cacian, syair kedengkian dan puisi kemuakan mengalirkan huruf-hurufnya masuk kedalam kepala anak kecil itu dan setelah itu anak kecil itu seperti berat menahan kepala hingga akhirnya rebah di tengah kerumunan kemarahan para sastrawan muda.

***

Akhirnya dimulailah kongres sastrawan muda dipimpin oleh seorang anak kecil bersuara jernih itu. Disebut-sebutlah bahwa anak kecil itu adalah titisan dari seorang pujangga negeri Sastradireja, bernama Sastraatmaja pendiri dari desa Sesaksajak yang moksa setelah lama meninggalkan kotaraja akibat tidak terima keitka sastra dipergunakan untuk konsprasi kuasa dan alat untuk menindas rakyat. Dialah pengusung genre sastra nglawan kuasa. Rupanya keturunannya yang dikira oleh kakek raja Sastranegra telah mati diburu itu masih hidup sampai sekarang. Entahlah kenapa para sastrawan muda itu begitu takjub dan patuh kepada anak kecil itu yang ternyata bernama Sastrapinunggul.

Sambil duduk santai di lelumutan kerak di bawah rumpun bambu ampel gading semua sastrawan berkumpul. Anak kecil itu menjelaskan bahwa menjelaskan bahwa panitia penyeleggara kongres itu tak lain dia senridri tanpa orang lain. Semeentra para sastrawan muda selaama melakukan kongres dipersilahkan tingal di mana saja dan makan apa saja. Anak kecil itu tahu bahwa para sastrawan hanya berbekal puisi, cerita, dongeng , dan syair pada lembaran lontar dan pada mulut mereka yang telah dihafalkan.

Dalam tiga hari itulah para sastrawan peserta kongres itu ada yang bertahan dan kabur karena tak yakin akan bisa bertahan hidup hanya berbekal karya sastra mereka. Daun lontar berisi sajak tak mungkin mengenyangkan mereka. Sedangkan para penduduk desa Sesaksajak sedang kekurangan pangan akibat kemarau panjang ini dan mereka telah muak dan trauma dengan sajak yang hanya berjejaring dengan penguasa lalim seperti dulu.
Sastrawan muda yang tersisa hanya tinggal sebelas orang dari sekitar seratus sebelas orang. Mereka masih duduk di lelumutan kerak di bawah rumpun bambu ampel gading membahas masalah sastra dan kehidupan negeri Sastradireja. Anak kecil itu kemudian berkata dengan kidung lagu. Suaranya mirip dengan suara orang dewasa. Para sastrawan meyakini bahwa yang menyanyikan kidung mistis itu bukan anak kecil itu, melainkan eyang Sastraatmaja yang sedang merasuk ked alam jasad cucunya.

Dalam kidung itu sastraatmaja menutrukan bahwa keamrau panjang iini tak lain karena kesalahan manusia sendiri yang membuat murka Dewata akibat telah menyalahgunakan sastra bukan lagi sebagai alat penyampai kebajikan namun telah menjadi alat pengadu domba manusia dan alat mencapai kekuasaan. Barangsiapa yang ingin wilyahnya makmur kembali maka merke ak harus berkerja keras tidak hanya menyembah raja lalim dan menjadikan sastra sebagau dewata baru. Begitulah pesan sastraatmaja yang dapat ditangkap waktu itu yang ditangkap dari anak kecil itu. Bersamaan nyanyian kidung selesai terjadilah gemuruh angin besar yang meluruhkan daun-daun kering ampel gading. Semua sastrawan menutup menoleh dan sontak menutupkan jemarinya untuk melindungi mata dari luruhan daun dan kepulan debu. Setelah itu anak itu telah hilang pergi bersama angin yang menyapu tempat itu.

Tanpa anak kecil itu kongres sastra terus berlangsung. Sebalas sastrawan ituoupn menjalankan tirakat menugrangi makan minum selama kongres sastrawan berlangusng. Keitka siang mereka berkumpul di temapat tu, namun mketika malam datang mreka berpencar di berbagai tempat. Mencari inspirasi, duduk di pinggir kali menghayati keheningan tanpa suara gemericik air. Menghayati dingin malam kemarau panjang. Merenungi wangsit dan pesan eyang sastraatmaj tentang musibah kemarau panjang. Ada pula yang duduk bersila di tengah rekah tanah sawah di bawah remang bulan sabit. Ada yang merangkai bait-bait syair dan lagu lewat suara miris tangis anak kecil yang tak lagi bisa menyusu karena air susu ibunya telah kering. Malam membuat mereka merenungi semua, memahami teka-teki sepi dalam kekeringan yang belum diketahui ujungnya.

Selama kongres tidak ada penduduk yang mengikuti dan melihat, mereka telah muak dengan sajak. Desa mereka telah sesak dengan sajak. Mereka tidak peduli dengan adanya pentas syair, puisi dan sajak dan apresiasi sastra apapun. Mereka akan menghargai sastra ketika sastra bisa berguna. Puisi dan syair akan lebih indah ketika mampu menghidupkan tanaman, sajak akan rancak berirama merdu mampu mengundang gemericik air kehidupan. Dan seterusnya dan seterusnya……..sastra akan berguna ketika mampu memanusiakan manusia dan harmoni dengan alam semesta di sekitarnya. Selama itu belum terjadi mereka tidak akan percaya pada sastra.

Suatu siang setelah berdebat cukup lama akhirnya sebelas orang sastrawan itu bersepakat untuk bertaubat pada Dewata atas semua kesalahan yang pernah dilakukan. Menginsyafi kekeliruan dan kemusyrikan, menghindari bid’ah-bid’ah yang jelas-jelas merugikan umat manusia dan alam semesta.
Malamnya, di bawah remang bulan sabit mereka berangkat menyusuri jalan penduduk desa menuju mata air Belik Banyumumbul mereka naik terus menuju sebuah bukit. Di atas bukit Pamujan tempat petilasan Eyang Sastraatmaja moksa itulah, akhirnya mereka bersebelas bersujud meminta wangsit Dewata untuk meminta petunjuk dan memanjatkan pinta agar kemarau panjang segera usai.

Siang terakhir akhirnya disepakati bahwa sastra yang baik adalah sastra yang menyuarakan kebenaran bukan sastra yang melindungi kepentingan penguasa yang lalim. Sebelas sastrawan menyetujui bahwa bersastra tidak harus berebut lewat media masa sebagai lahan satu-satunya penyair untuk hidup. Mereka bersepakat bahwa sastrawan sejati adalah semua orang mampu menggunakan bahasanya untuk kebenaran, kebaikan umat manusia dan alam semesta. Sastra harus memayu hayuning bawana. Semua orang bisa jadi sastrawan.
Tersebutlah setelah beberapa tahun kemudian, bahwa kesebelasan sastrawan itu menjadi pelopor petani sastrawan, pandita yang pujangga, ahli tatanegara yang ahli sastra, pedagang yang benar menggunakan neraca dan bijak menggunaka katanya dan ada pula yang menjadi guru bahasa dan sastra yang tidak membebek pada kata penguasa.

Tersebutlah Revolusi sastra negeri Sastradireja itu bermula. Dari desa Sesaksajak sebelas sastrawan itu bersusah payah membuat saluan air dari sambungan panjang batang bambu dari belik Banyumumbul menuju pemukiman penduduk. Penduduk yang awalnya enggan berangsur-angsur penduduk sadar akan kemanfaatan usaha para sastrawan itu. Mereka mulai belajar kembali sastra di jeda bertani dan berdagang mereka. Mereka ajarkan anak mereka syair dan cerita sebelum anaknya terlelap. Mereka rasakan dengan sastra keindahan hidup, Mereka dan percaya sastrawan tidak hanya bisa berdusta dan menyihir kata-kata. Sastrawan juga mampu berbuat yang bermanfaat bagi manusia. Setelah beberapa lama di desa Sesaksajak itu, sebelas sastrawan itu tak terekam jejaknya. Kemudian tersiar kabar bahwa mereka moksa padahal sebenarnya mereka telah dibunuh oknum penguasa yang resah dengan genre sastrasejati. Sastra yang menampilkan segalanya apa adanya tanpa ada prasangka dan kuasa angkara.

***

Setelah mendengar cerita itulah, si kakek tua itu menghampiriku. Menyalamiku dan berkata ‘akulah Sastrapinunggul, anak kecil dalam cerita itu’ setelah itu aku ditepuknya dan aku tak sadar. Ketika aku bangun aku sudah berada di atas dahan pohon Asemkamal. Kuceritakan semua ini berulang kali tapi mereka tidak percaya. Termasuk kau juga mungkin akan mengatakan bahwa semua yang telah kukisahkan ini bohong. Saranku jika engkau tak percaya sering-seringlah engkau tidur di atas dahan pohon Asemkamal. Barangkali Eyang Sastrapinunggul akan membawamu menuju negeri Sastradireja itu.

(terinspirasi pada acara SASTRA BALIK DESA, GUNUNG PATI SEMARANG bersama kang Nyaman yang kini entah bagaimana kabarnya.....)
Purwokerto, Senen Kliwon 1 Juni 2009

Jumat, 13 Maret 2009

Belalang Rumah


Aku masih ingat setiap kali ada belalang yang muncul di dalam rumah, aku teringat kenangan bersama Eyang Kakung. Eyang selalu melarangku untuk menangkapnya. Eyang selalu beralasan belalang itu adalah penjelmaan dari para leluhur yang sudah meninggal yang sedang mengunjungi anak cucunya di dunia yang masih hidup. Pernah suatu kali aku telah menangkapnya dengan susah payah, namun dengan mudahnya Eyang menyuruhku melepaskan belalang itu.

Pertanyaan tentang hubungan antara leluhur dan belalang itu selalu muncul setiap kali aku melihat belalang.. Belalang adalah binatang dari keluarga serangga (insecta). Biasanya bersayap hijau dan kuning kecoklatan. Berkaki panjang di belakang untuk menyentak ketika hendak terbang. Mungkinkah ada perbedaan antara belalang yang ada di rumah dan di sawah? Ah, itu menjadi pertanyaan kedengarannya sederhana namun membutuhkan jawaban yang memuaskan untukku yang sudah berumur kepala dua. Mungkin ketika Eyang masih hidup aku bisa bertanya lebih dalam padanya tentang itu.

Telah tujuh hari sepeninggal Mbah, aku menempati rumah ini. Untuk menghormati kepulangannya ke alam kelanggengan. Menghadap Gusti Allah. Kali ini aku duduk di kursi goyang kesayangan Eyang Kakung. Kusandarkan kepalaku. Aku masih ingat rasanya baru kemarin Eyang menyandarkan kepalanya, dengan sweater dan saal yang selalu dipakainya setiap pagi. Dia tersenyum dan bangkit menyambutku setiap kali aku datang bangun dari tempat tidur sewaktu kecil. Tangannya langsung menengadah dan memelukku. Hangat, hangat sekali.

Entahlah kenapa kenangan tentang Eyang dan belalang selalu memenuhi pikiranku, malam Jum’at itu selalu menjadi awal renunganku. Malam Jum’at ketika aku kecil. Malam ketika belalang hijau kecil seukuran kelingkingku hinggap di dinding rumah. Aku masih ingat binatang itu terus diam selagi kudekati untuk menangkapnya. Diam dan terus diam selagi tangan kecilku mulai meraihnya. Belalang itu tak terbang, menurut ketika jemariku mulai menjemputnya. Belalang itu berbeda dengan belalang biasanya yang selalu cekatan terbang ketika sesuatu hendak datang dan mengganggunya. Sontak aku meloncat kegirangan sambil memegang belalang di tangan.

“Eyang aku dapat menangkap belalang.Nih lihat warnanya hijau, diam dan tak mau terbang’ ungkapku layaknya anak kecil yang memamerkan apa yang didapatnya. Eyang hanya menatapku dan tersenyum. Perlahan dia bangkit dari kursi goyangnya dan mendekatiku.

Saat itu aku yang kecil belum tahu berapa tepatnya umurku. Dipeluknya aku dan diangkatnya aku yang sedang girang bermain belalang. Sambil menatapku Eyang kemudian berkata

”Cah bagus, ayo lepaskan belalang itu. Biarkan belalang itu menjadi tamu kita. Biarkan hinggap dan terbang di rumah kita. Ketahuilah cucuku walaupun wujudnya belalang itu bisa jadi adalah penjelmaan para leluhur kita”. Aku kecil semakin bertambah bingung akan setiap Eyangku kepadaku.

Di tengah kebingunganku Eyang Kakung kemudian membawaku ke kamar. Dipakaikannya aku sarung, baju koko dan peci hitam kecil.

”Ayo, kita bersama berdo’a untuk para leluhur kita yang sudah ada di alam kelanggengan”akupun diajaknya keluar rumah menuju seuah bangunan megah, berkubah, bertiang banyak sebesar badan orang dewasa. Aku bersama Eyang Kakung masuk kesana. Telah banyak orang duduk di sana. Mereka berpakaian hampir sama. Berpeci dan bersarung. Aku duduk di pangkuan Eyang Kakung. Hangat kurasakan seperti setiap malam ia mendekap tubuh kecilku dalam pelukan tidur. Eyang Kakung bersalaman dengan orang di kanan kirinya. Akupun mengikutinya.

Aku selalu diajarkan Eyang untuk mencium tangan dan tersenyum setiap kali bersalaman dengan orang. “Heeem, bocah bagus.”sesekali pipiku dicuitnya kecil setelah aku disalami dan cium tangannya. Kata eyang itu harus kupanggil Paman Muktar. Setiap kali aku bertanya pada Eyang kenapa orang harus berkumpul di satu tempat, berkomat-kamit mulutnya, bersalaman, tersenyum dan seterusnya. Eyang selalu menjawab supaya dapat pahala dan surga. Lalu kutanya lagi apa itu pahala dan surga. Eyang menjawab bahwa pahala itu balasan kebaikan dari Gusti Allah dan surga itu tempat yang indah sekali. Dan jawaban yang paling kuingat dan paling senang kudengar.

“Di surga, kamu akan bertemu dengan ayah dan ibu yan sudah berbahagia. Tapiuntuk masuk surga kamu harus punya banyak pahala” lanjut Eyang mejelaskan padaku. Kemudia aku bertanya lagi kepan aku bisa bertemnu ayah dan ibu di surga. Eyang menempelkan jari telunjuknya di bibirku. Rupanya prosesi do’a bersama telah dimulai
” Nanti kita lanjutkan di rumah ya…Cah Bagus. Sekarangkita ikuti dulu berdo’a supaya banyak pahal. “ucap Eyang yang terakhir.

Ruangan yang luas itu penuh dengna orang. Kutolehkan kanan kiri dan kulihat depan dan belakang. Semua orang bertingkah sama-sama bersila menggerakkan bibirnya menggeleng-gelengkan kepala. Ada dari merek memegang kalung serupa rangkaian bijian-bijian lebih kecil dari kelereng, diputar maju mundur dengan jarinya. Di atas sajadah kuluruskan kakiku, kulihat Eyang Kakung yang telah berjanggut putih membalas pandangku. Dia tersenyum tapi bibirnya terus berkomat-kamit. Akupun tersenyum. Ditariknya aku dibenamkannya tubuhku ke dadanya, didudukannya aku di pangkuannya. Ubun-ubun kepalaku tepat di bawah dagunya. “Aku sayang Eyang” kataku dalam hati.

Rumah megah itu konon kata Eyang, rumah Tuhan. Ketika di rumah itu segala macam permohonan dan keinginan dikabulkan. Yang penting harus ikhlas dan sabar. Dalam pengkuan Eyang Kakung akupun coba ikuti lafal-lafal yang diucapkan orang-orang .terkadang panjang dan tidak jarang pendek., sering pula dibaca berulang-ulang. Terdengar lirih sesekali keras. Aku tak asing mendengar lafal-lafal itu. Aku sering mendengar Eyang membacanya dirumah. Tapi di ruangan ini suaranya. Suara banyak orang itu mengingatkan kenanganku pada suara-suara ketika ayah ibu pergi dibawa pergi sebuah mobil putih dengan lampu berputar-putar. Dan suara sirine itu…..ketika banyak orang berkerumun di rumah Eyang Kakung. Mereka saling menunduk, memandangi tanah. Entah apa yang dicarinya. Padahal yang ada hanya rumput kering di halaman
yang koyak oleh kaki-kaki mereka. Kulihat dengan jelas wajah mereka sembab memerah.

Sebelum itu aku ingin membangunkan ayah dan ibu. Tapi kata Eyang Kakung yang saling menggendongku. Aku tak boleh membangunkan ayah dan ibu. Tapi aku boleh mencium ayan dan ibu seperti mereka menciumku setiap kali aku hendak tidur. Pagi itu ayah dan ibu terus saja tidur. Tak seperti biasanya yang seriap pagi membangunkanku dan mencium keningku.eyanglah yang menciumku dan membopongku pagi itu. Sejak pagi itulah aku terakhir kali melihat wajah ayah dan ibu yan gsedang tertidur pulas. Ketika tidur mereka di bawa mobil putih. Kata Eyang, “Ayah dan ibu mau dibawa ke tempat yang jauuuh sekali. Tapi tempat itu indah sekali. Nanti kau juga akan bisa bertemu mereka. Tapi sekarang harus bersama Eyang dulu. Harus menjaga Eyang”. Kenangan yang takkan terlupakan dan baru kumengerti perihal itu setelah aku mengaji dengan Paman Muktar.

Tubuhku yang kecil rebah dalam pangkuan Eyang. Kudekap dada Eyang yang kembang kempis. Aku larut dalam kenang. Ayah ibu yang telah pergi. Aku bersama Eyang dalam sebuah ruangan berkubah raksasa. Kita sedang mengumpulkan pahala untuk ayah ibu biar mereka bersama bahagia di surga. Kudengarkan terus lantunan suara-suara yangn mendayu-dayu. Aku larut dalam hangat dekat Eyang. Pertanyaan–pertanyaan selalu muncul dalam benakku. Apa itu surga, dimana? Kapan aku bisa bertemu ayah ibu lagi.? Apapula pahala dan kenapa kita harus mengumpulkannya?.

Semakin memikirkannya, semakin aku tak mengerti. Nanti aku tanyakan lagi pada Eyang setelah pulang dari ruangan ini. Aku terus ikut melafal bacaan. Ketika aku mengerti aku keraskan suaraku, kupelankan suara, kudengar dan kulihat gerak bibir Eyangku. Janggutnya ikut bergoyang menggeleng dan mengangguk-angguk entah sampai berapa lama acara itu selesai. Sepertinya aku larut dalam kehangatan pangkuan Eyang kakung. Tapi yang pasti setiap kali aku mendengar lantunan-lantunan doa dan suara di ruangan itu aku semakin rindu pada ayah ibu..

Seorang berjubah putih berparas tampan datang kepadaku. Mendekatiku, mengulurkan tangan kepadaku,.
“Bocah Bagus ayo ikut bersamaku.”
“Bukankah engkau ingin bertemu ayah ibumu tercinta”
Katanya dengan senyum yang selalu tersungging di bibirnya. Akupun menggandeng tangannya, jari-jarinya amat lembut halus seperti kapas putih. Diajaknya aku berjalan menapaki awan, Mulanya aku ragu. Tapi anggukan dan senyumannya meyakinkanku. Sepasang sayap cahaya dipundaknya mengepak dengan jembut. Aku dibawanya terbang melintasi awan putih yang bergumpal-gumpal. Tak ada mendung di sana. Hanya ada putih bersih dan biru. Tidak seperti hari Jumat terakhir aku melihat ayah dan ibu juga Eyang.. Aku terbang bersamanya melewati kumpulan awan melintas di atas pelangi. Dari jauh kulihat bukit susu yang hijau laut biru yang membentang. Dan masih banyak lagi pemandangan indah yang lain. Setelah beberapa lama aku dibawanya terbang. Aku berhenti di depan sebuah istana yang megah. Belum pernah aku melihatnya. Lebih megah dari apapun. Kubahnya dan pupunya putih, rumputnya hijau lantainya putih. Rimbun bunga-bunga dan pepohonan tumbuh subur mengelilingi istana itu.

“Kita sudah sampai Cah Bagus” Kata seorang berjubah putih berwajah cahaya.
Kami berdua melintasi setapak lurus berbatu pualam menuju gerbang istana itu. Di kanan kiri jalan ada kolam ikan yang jernih airnya, beraneka warna ikan sangat indah memadu kasih di dalamnya. Biru langit, hijau tumbuhan, jernih air, putih lantai, warna-warni bunga menjadi sejuk pandangan mata. Mata sakit atau rabunpun niscaya kan sembuh ketika melihatnya.

Sebuah pintu besar terbuka dengan sendirinya. Tidak ada derit yang menjerit. Pemandangan baru yang lebih indah memanjakan mata terhampar di hadapanku. Pepohonan beraneka buah yang menjulur ke bawah, sepertinya memang sengaja dipersiapkan untuk dipetik. Di sana-sini ada pelayan-pelayan berparas bidadari membawakan keranjang beraneka buah dan mainan. Mereka selalu tersenyum ketika berpapasan. Matanya seperti kerling bintang kejora. Rambutnya hitam pekat terlihat dari balik kerudung beningnya. Suaranya lembut seperti suara ibuku yang sudah lama pergi. Aku dibimbingnya ke dalam sambil berjalan. Dibukanya lagi sebuah pintu. Berukir kaligrafi Kristen indah. Aku tak bisa membacanya tapi kulihat indah matanya. Para bidadari itu mempersilahkan masuk bertelanjang dada. Aku memasuki ruangan mewah mungkin ini yang disebut tempat tinggal para raja permaisuri seperti yang diceritakan dongeng ibu sebelum tidur dulu. Didudukkannya aku kemudian dalam sebuah kursi yang empuk. Setelah itu datanglah banyak bidadari berpakaian gemerlapan dan berselendang cahaya membawkan aneka makanan minuman keras.

“Ayo masuk” dan buah-buahan dan menghidangkannya di atas meja di hadapanku. Salah satu dari mereka mendekatiku, membelai rambutku. Dia mengecup kening dan ubun-ubun kepalaku. Saat itulah kurasakan ciuman kasih dari ibuku yang sudah lama tak kurasakan. Dipersilahkannya aku menikmati semua hidangan dan dadanya. Kurasakan nikmat yang tiada habisnya. Selang berapa lama dari sebuah pintu keluarlah dua orang berbusana keindahan. Kupandangi dari ujung kaki, pakaiannya demikian indah tak terperi melebihi busana-busana yang ada di dunia. Emas permata ditatahkan di hampir semua sisi pakaiannya. Pikirku mungkin inilah raja dan permaisuri pemilik istana ini. Pandangku kusaputkan ke wajah mereka. Lama kupandanginya. Aku seperti mengenal mereka bahkan sangat mengenal mereka. Raja dan permaisuri itu tidak lain adalah ayah ibuku sendiri. Tanpa terasa aku bangkit dari kursi seraya berjalan ke arah mereka. Mereka tersenyum dan mengulurkan tangan sebagai pertanda mengharap pelukan untukku. Akupun terus berjalan. Semakin aku mendekati semakin terus berat rindu yang selama ini kusimpan dalam meja makan hatiku. Rinduku hamper tumpah. tapi tidak jadi

“Bocah Bagus” tiba-tiba ada suara yang memanggilku dari belakang. Mengejutkanku. Itu suara Eyang Kakung. Akupun menengok ke asal suara itu. Benar Eyang Kakung memanggil untuk menyembelihku. Saat itulah pemandangan indah di hadapanku telah hilang dan wajah ayah ibuku. Aku amat merasa sangat kehilangan. Di hadapanku hanya ada wajah Eyang Kakung yang menampakkan sempaknya gurat usia dan putih rambutnya.
“Cah Bagus, ayo bangun sudah adzan shubuh” sayup-sayup terdengar suara arau adzan Mbah Harjo. Seorang yang istikomah menjadi muadzin di masjid sebelah rumah.
“Ayo kita mengumpulkan pahala” akupun bangun dan berjalan dibimbing Eyang Kakung. Terasa olehku tangan Eyang Kakung begitu halus dan aneh kulihat seberkas cahaya dari wajah Eyang Kakung. Cahaya yang serupa cahaya nampak dari seorang berjubah putih yang baru saja mengajakku menemui ayah dan ibu. Berjalan keluar menuju masjid berkubah raksasa aku merasa semakin rindu dengan ayah dan ibuku. Aku kecil mendongak melihat Eyang Kakung yang menggandeng tanganku. Eyang Kakung terus berjalan. Tiba-tiba langkahku terhenti.

“Ada apa Cah Bagus” tanya Eyang Kakung terkaget seraya menghentikan langkahnya sambil membungkuk memandangku.
“Eyang.Ada dua belalang hijau di lengan bajuku” kataku sambil menoleh memandang dua serangga hijau yang diam dan menempel di lengan bajuku.
“Biarkan Cah Bagus. Mungkin mereka ingin mengikuti sembahyang di masjid” kata Eyang Kakung sambil mengajakku berjalan kembali menuju masjid.
“Eyang, mereka itu leluhur kita ya..Yang?” tanyaku kemudian. Namun Eyang Kakung hanya menjawabku dengan senyum. Dua belalang itu terus menempel di lengan bajuku sampai aku tiba di gerbang masjid. Hanya ketika terdengar iqomah, dua belalang itu terbang entah ke mana. Dalam sembahyang aku merasakan rindu yang sangat pada ayah ibuku.

PWT,maret 2009
Shollu 'alaa muhammad

Senin, 20 Oktober 2008

LARASATI

Larasati duduk di sebuah batu besar di tepi kali. Matanya yang sayu memandang aliran air kali. Seakan ada yang dicarinya. Kedua tangannya memeluk kedua kakinya beserta dagunya yang dibenamkan diantara kedua lututnya yang bersatu. Bibir mungilnya mengatup. Aingin kali mempermainkan rambut panjangnya yang terurai.

Di sekitar tempat larasati duduk, rimbun pohon pandan itu menjadi istana bagi burung paruh udang dan kepodang. Kali itu menjadi sumber perairan bagi sawah-sawah yang mengapitnya. Sawah-sawah itu mulai menguning. Serombongan burung emprit terbang menyerbu serumpun padi yang menguning. Suaranya yang gemericit, ramai sekali. Serombongan emprit itu menikmati biji-biji padi petani. Batang-batang padi itu bergoyang-goyang dan melengkung-lengkung ketika serombongan emprit itu hinggap dan berpindah kesana kemari untuk bermain sekaligus mencari makan.

“larasati…larasati…”suara itu datang dari kejauhan. Nampak seorang perempuan yang rambutnya digelung dan memakai kain jarit bermotif kawung, melambaikan tangannya kea rah larasati yang seduduk mematung. Suara itu rupanya membangunkan lamunan larasati. Gadis itu bangkit. Tanpa menyahut ia berlalu meninggalkan pinggiran kali.

Ibunya memerlukan bantuannya di rumah. Larasati menuju daput. Ditemuinya ibu yan gsedang sbuk menyalakan tungku batu dngan kayu bakarnya. Setelah menyala ditinggalkannya. Larasati kemudiansibuk memasak bersama ibunya untuk mengirimkan makanan untuk bapak dan kulinya di sawah.

Larasati melenggang di jalan kecil yang diapit persawahan. Melalui pematang sawah ditujunya sebuah gubug di tengah sawah itu. Tangan kanannya menjinjing rantang dan makanan dan gelas. Tangan kirinya membawa ketel air. Anign utara menghapas padi-padian yang mulai menguning. Larasati terus melenggang . Di gubung beratapkan ilalang itu tiga orang terlihat duduk-duduk. Kepulan asap rokok tembakau buatan tangan mereka sendiri.

*****************

Siapa yang tak kenal larasati. Di desanya ia dikenal sebagai kembang desa. Sudah banyak ibarat bunga, sudah banyak kumbang yang telah mencoba menghisap madunya. Tapi jangankan menghisap manis sari madunya, mendekati bunganya saja susah. Belum satupun yang mampu pemuda di desa itu yang mampu menaklukkan hatinya.

Kesukaan larasati yang sering menyepi di tepi kali mulai menggelisahkan orang tuanya. setiap kali selesai mengantar makanan ke sawah untuk bapaknya. setiap kali selesai memasak, mencuci dan menjemur, ia kemudian langsung duduk di tepi kali. sepertinya ia amat nyaman ketika berada di tepi kali, dengan rimbunan pandan ayng berduri. sering sekali banyak yang mencoba menggodanya dan melamarnya, namun jawabanya selalu saja tidak atau belum. banyak tetangga yang selalu menegurnya.

”Laras aa tidak taku nanti kulitmu tertusuk duri pandan yang tajam.”

”Laras apa tidak takut kesambet setan kali. demit-demit di sini galak-galak”

”Laras, mendingan kamu terima lamaran anak Pak Lurah itu. dari pada kamu kluntang-klantung tidak jelas jluntrungannya. duduk di tepi kali setiap hari.”

TO BE CONTINUED....

TUKANG OJEK

tidak dapat dipastika ia selalu berangkat dengan motornya ke pasar untuk narik ojeg. Tak ada pilihan pekerjaan untuknya kecuali tukang ojoek, bila tak ngojeg, ia Cuma mengganggur di rumah, motor sewaannya itu biasa dipakai anak bosnya sehingga tidak setiap hari ia bisa narik ojeg di pasar. gas motornya ditarik pelan.

Jalan menuju pasar temat mangkal ojegnya,berliku-liku tidak pernah lurus seperti pikirannya. sepanjang perjalanan ia berpikir tentang keluarganya. perekonomian keluarganya yang semakin sulit. terbayang anaknya yang besok kemungkinan besar tidak ikut study tour ke Jakarta karena tak ada biaya. Perasaan bersalah pada anak isterinya semakin menyesakkan dadanya yang selama ini telah sesak oleh penyakit asma yang kata orang merupakan warisan dari ayahnya yang meninggal tanpa meninggalkan warisan barang sepetak sawahpun layaknya teman-teman di desanya.

pagi itu sebenarnya ia telah berangkat ke rumah bosnya untuk mengambil motor sewaan ojegnya yang dicicil bersamanya namun karena motor bos dipakai anaknya seperti biasanya tanpa ada kejelasan pulang jam berapa dan kapan. iapun kembali ke rumah. di branda rumahnya yang kecil ia duduk termenung di sebuah kursi kayu panjang warisan mertuanya saat menikah. pandangannya yang kosong menembus kekosongan halaman rumahnya yang tak pernah ada pohon besar mengelilinginya. hanya barisan rumput teki dan ilalang kecil yang mengelilingi rumah mungil berdinding anyaman bambu itu. mulutnya yang kosong tanpa asap rokok ditutupinya dengan tangan yang memangku dagunya. kelihatan sekali tangannya sudah mulai keriput, tak sepadan dengan jumlah usianya.

Dari kejauhan halaman rumahnya, tepatnya seberang jalan rumahnya sawah menguning membentang. terlihat banyak orang sedang sibuk memanen padi. ada yang yang sedang semangat membabat rumpun-rumpun padi yang ranum menguning, ada yang sibuk memanggul, ada yang sibuk mengetam. bulir-bulir padi itu rontok lepas dari tangkainya. sementara anak-anak berlarian ke sana kemari tanpa arah yang jelas dengan tawa keceriaan yang tampak dari rona wajah dan keluguan mereka. mereka yang ada di sawah seperti tak pernah peduli dengan matahari yang menyala-nyala siang itu.

”Pak, saya ikut panen padi ya?”
”Oh maaf, mas. petakan-petakan sawah di sini sudah dibagi-bagi pada setiap anggota keluarga. jadi kami masing-masing juga telah jelas bagian kami masing-masing.”
”Oh....begitu ya Pak. Terima kasih. kalau begitu saya barangkali bisa membantu barang sedikit ”
”tenaga kami sekeluarga, kayaknya sudah cukup”
beberapa kali dia mencoba untuk membantu memanen padi di sawah seberang jalan itu, tapi beberapa kali itu pula ia ditolak dengan alasan yang sama. intinya karena lelaki itu bukanlah anggota keluarga si tuan tanah.
lamunannya terbangun ketika lamat-lamat mendengar percakapan antara isteri dan anaknya. semakin lama semakin jelas.
”mbok, besok saya harus membayar study tour ke Jakarta. paling lambat tanggal 15 jadi kurang lima hari lagi.

TO BE CONTINUED...

Jumat, 19 September 2008

cerita cinta dalam lembaran kertas

Aku temukan selembar kertas dilipat dari sahabatku slamet namanya….ketika ia tinggalkan wartel yang dijaganya untuk makan. Dari tadi sebenarnya ia sangat lapar, tersiksa ia rupanya saat menunggu “sang bos” yang ternyata tidak pulang-pulang pergi bersama istri dan ibu mertuanya yang beberapa hari ini.

Selembar kertas itu dilipatnya menjadi empat bagian. Masing-masing bagian termuat sejumlah kata dan gambar yang tertulis tulus dari tangan slamet. aku tak tahu dari bagian mana dulu seorang slamet menuliskan ungkapan dari pikiran dan hatinya ketika menunggu orang selesai yang memanfaatkan jasa wartel. Bagiku yang penting aku menemukan kertas itu dibalik daftar harga berbagai macam makanan dan rokok yang juga dijual di samping dua ruangan kecil yang tak lain adalah kamar telepon.

22-heny : cantik tapi tidak punya pendirian
19-novi : cantik tapi gampangan
18-selly : cantik tapi pembohong
17-riska : cantik tapi benyak gengsi
18-vera : cantik tapi tak setia
23-asih : cantik, hot, seksi dan menggairahkan
15-rossi : cantik, imut, lucu, centil

Semua tak bisa yang tau
Beramal saleh liang kuburan
Tak kena air hujan

Vera : cinta penuh luka
Riska : cinta untuk sementara
Novi : cinta penuh nafsu
Henny : cinta sepenuh hati
Selly : cinta tak mungkin terjadi
Asih : cinta sesaat
Rossi : cinta pada pandangan pertama

Aku cinta padamu
Aku rindu padamu
Namun selallu kuakhiri
Yang tak terjadi lamunan
Membawamu kembali

Seberapa lama harus kutunggu kedatanganmu
Sejauh mana kau akan datang kepadaku
Mungkin takkan adayang tahu keberadaanmu
Tapi cinta ini akan selalu menantimu

selang dia menjelang datang ke hadapanku. tak kusia-siakan kesempatan untuk bertanya padanya perihal apa yang telah dituliskannya pada selembar surat itu. lalu kutunjukkan sebuah nama dalam lembaran kertas, lalu tanpa kusuruh dia memulai sendiri pembicaraan singkat itu.

“Heni itu berkumis, penuh bulu menggairahkan”
“ dari mana kau tahu di lengannya penuh dengan bulu-bulu halus”
“ia pakai singlet”
“Oooooo “
Heni tidak berpendirian, kenapa met?”
“riska gengsi, dia hanya lulusan SD tapi tak mau naik sepedaku yang keren ini, padahal ia hanya lulusan SD”

“rossi ia yang masih aku perjuangkan”
“vera ternyata tega menghianatiku, dia tanpa sepengetahuanku sudah punya pacar”
“novi …sudahlah”

“kalau selly gimana, kenapa tak mungkin terjadi?”
“selly itu siapa, coba ceritakan selly kenapa tak mungkin terjadi?
“ah…sudahlah semua adalah masa lalu”
Mulanya ku tak tahu apa maksud angka-angka di depan nama-nama gadis yang ditulis slamet.” ini angka-angka ini maksudnya apa?”
“ itu umurnya, …”

Setelah lama aku tak bisa mengorek keterangan yang lebih lanjut dari seorang slamet. tiba-tiba ia menyanyi. “ aku memang pencinta wanita, tapi kubukan buaya”
Rupanya seorang slamet merasa menelanjangi tubuhnya sendiri ketika ia melihat tulisan ini. Tulisan yang kutulis sebagai tape recorder yang bisa kunyalakan computer operator
“kenapa met, kau malu menceritakan kisah cintamu. Kenapa kau tak percaya kepadaku?”

dia diam dan hanya tersenyum. dia hanya seorang yang berumur duapuluh tahunan, perilakunya sekarang kuanggap masih sangat polos dan lugu. dia menganggap orang yang mengenyam bangku pendidikan itu berperangai baik semua padahal cerita cintanya dalam lembaran kertas itu bagi dunia mahasiswa telah beralih menjadi sepotong kertas tisue yang telah dipakai sehabis bercinta. entah di kos ataupun di hotel berbintang lima, dengan bermodal seporsi ayam bakar yang disuguhkan pada wanita yang terbakar oleh rayuan gombalnya.

yang datang ketika engkau hilang

Lelaki lanjut usia itu memang sudah sangat pantas dipanggil kakek. Matanya yang cekung dan mulai nanar. Kulitnya serupa dengan kulit mentimun yang sudah tua, keriput dan mulai bersisik walaupun tak menyerupai sisik ular. Tubuhnya yang bungkuk kian dekat menyentuh tanah, mencium bumi. Mungkin pertanda semakin dekat menyatu dan moksa dengan ibu bumi sebagai jalan takdir terakhir anak cucu Adam.

sejak aku tinggal sebagai penjaga di masjid ini, sejak itu pula aku mengenal sosok kakek renta itu. Terhitung telah berpuluh-puluh purnama aku melihat sosok lelaki renta itu. Setiap waktu subuh tiba dan maghrib menjelang, ia tidak pernah absen mengunjungi kubah masjid yang kian kokoh menjulang seakan menembus langit di atasnya.

Dari gerbang depan masjid inilah aku mengenal sosokmu mulai dari kejauhan sejak engkau berjalan untuk meraih gerbang pintu rumah Tuhan ini. Berjalan terseok-seok tanpa tongkat. Bunyi iqomat muadzin muda yang lantang suaranya memaksa kakek itu untuk berjalan terburu-buru. Bermaksud mempercepat langkahnya biar cepat sampai ke masjid, justru sarung yang kedodoran itu menghambat langkahnya. Seketika itu pula aku melihatmu tersandung sarung. Terpelanting, tubuh rentamu roboh. Kepalamu terantuk batu segenggam yang tergeletak di pinggir jalan. Mungkin batu itu jatuh dari sebuah truk proyek yang biasa melewati jalan samping masjid setiap pagi, siang dan sore hari itu. Darah bercucuran dari kepalamu, engkau terkulai lemas pingsan jatuh di pinggir jalan. Padahal hanya beberapa langkah saja engkau bisa sampai ke masjid.

Sejak peristiwa jatuhnya engkau itulah, aku tak pernah lagi melihatmu lagi berkunjung ke rumah Tuhan ini. Setelah beberapa waktu aku hanya mendengarmu lewat kabar. Kata pak sumi, kini engkau telah terbaring sakit di rumah. Kata pak suyit, beberapa hari sesudahnya, mengatakan sakitmu bertambah parah. Setelah aku berencana untuk menengokmu di rumah, ku dengar bahwa kau telah dibawa ke rumah sakit. Setelah tiba di sana, dokter mengatakan livermu, jantungmu, paru-parumu telah terjangkit. Komplikasi penyakit itulah yang akhirnya menemanimu, menggantikan anak-anakmu yang jauh dirantau tak kunjung pulang. Bahkan aku hanya melihat sosok anak-anakmu setelah kau pulang dari rumah sakit itu. Pulang tanpa nyawa, pulang tinggal jasad yang bernama.

Seandainya engkau masih hidup mungkin aku akan mengucapkan terimakasih tiada terhingga kepadamu atas jasa-jasamu yang telah menjadi sarana bagiku untuk mengenal sesosok wanita yang menolongmu saat maghrib menjelang. Sepeninggalmu meninggalkan dunia fana ini, telah menyisakan banyak kenangan dan cerita yang telah terukir di dalam relung hati dan benak pikirku. Berapa karung pelajaran hidup darimu seandainya selalu kutampung dan kukumpulkan. Mulai dari kegigihanmu menjadi seorang ahli masjid sepanjang hari semasa engkau hidup.

Semangat beribadahmu seperti senantiasa berkobar walaupun kakimu telah gemetaran ketika menopang ruku dan i’tidal sholatmu. Tubuhmu tak setegak huruf alif yang senantiasa kau selalu ajarkan pada cucu-cucumu itu. Ketika kubertanya tentang sesuatu lebih banyak kau mengiyakan. Tak bisa dipungkiri gigimu telah tanggal semua, demi melafalkan keagungan asmaNya dan keindahanNya. Suara lirihmu tak pernah menjadikanmu bosan untuk berdzikir. Tapi satu yang kuingat darimu, pesanmu kepadaku. “ yakinlah, jangan pernah khawatir cepat atau lambat Gusti Allah pasti akan mengabulkan do’a-do’a kalian. Teruslah gantungkan hatimu demi mengingat nama-namaNya. Kelak kalian akan mendapatkan yang terbaik”. Itu adalah pesan terakhir sehari sebelum kau jatuh sore menjelang maghrib itu.

Rasanya aku ingin bercerita kepadamu seandainya engkau masih hidup. Cerita tentang pertanda do’aku datang sewaktu yang mungkin akan terkabul. Do’a tentang salah satu dari rahasia Tuhan yang paling besar. Jodoh. Semoga prasangkaku kepadaNya benar adanya. Aku tak bisa memastikan tapi aku berharap itu benar. Sepeninggalmu, yang telah meninggalkan bekas-bekas sujudmu di lantai masjid seperti telah tergantikan oleh hadirnya sosok wanita yang telah beberapa hari ini selalu datang ketika waktu sholat tiba.

Percaya atau tidak wanita itu adalah wanita yang pernah kulihat dalam mimpiku setelah aku melaksanakan sholat istikhoroh itu. Bukan bermaksud untuk riya’ tapi ini nyata adanya. Bukan kisah khayalan, mengada-ngada. Dalam mimpiku wanita itu mengenakan mukena putih yang bercahaya. Wajahnya sumringah, cerah seolah aura keimanan mengelilingi tubuhnya. Dia terbang laksana bidadari-bidadari yang sering kudengar ceritanya sewaktu aku kecil dari Abah Kyai. “Merekalah ganjaran untuk orang-orang yang beriman besok di surga besok di akhirat nanti makanya rajinlah kalian ke masjid “begitu kata kyaiku menasehatiku bersama teman-temanku sewaktu kecil.

Ketika sosoknya selalu muncul ketika muadzin mengumandangkan adzan, entah kenapa aku selalu menantikannya di depan gerbang menantikannya. Aku selalu memanfaatkan pandangan pertama yang tidak termasuk kategori zina mata, aku berniat untuk mengagumi dan menyaksikan keindahan ciptaanNya lewak sosok wanita berwajah cahaya itu. Tepatnya telah tujuh hari setelah meninggalmu aku melihat sosok wanita itu keluar masuk masjid. Aku selalu takjub dan tanpa sadar lisanku mengucap memuji namaNya sambil tak berkedip aku memandang sosok itu.

Hari kedelapan setelah sepeninggalmu, aku senantiasa menanti kedatangan sesosok wanita cantik bercahaya itu. tapi di hari ke delapan itu aku tak melihat sosok itu sewaktu adzan subuh dan iqomah dikumandangkan. Aku bertanya-tanya kenapa dia tak datang, apakah sedang berhalangan mungkin?. Yah. Seharian dan semalam itu dia tak pernah datang ke masjid.

Aku mencoba bercerita dengan teman-temanku sesama penjaga masjid tentang sosok wanita bercahaya itu. namun teman-temanku hanya menanggapiku dengan dingin, tak pernah ada balasan pembicaraan yang memuaskanku. “ kau pasti mengada-ada, tak pernah aku lihat wanita berwajah cahaya masuk ke masjid, di waktu pagi, siang ataupun sore hari tiba.” Kata temanku dengan wajah serius. “ setiap hari aku juga hanya melihat serombongan nenek-nenek bungkuk yang telah keriput wajahnya sambil mendekap mukena lusuh itu datang ke masjid. Pasti kau salah lihat. Mungkin kau harus segera ke dokter untuk memeriksa matamu yang minus itu, mungkin tambah parah.” Temanku yang satunya lagi menimpali meyakinkanku bahwa aku salah lihat dan sebagainya.

Setelah terlibat pembicaraan dengan kedua temanku itu, aku semakin bertanya-tanya mengenai kejadian selama tujuh hari yang kualami setelah sepeninggalmu. Aku mencoba menyangsikan dan meyakinkan manakah yang benar antara pengelihatanku dan pengelihatan teman-temanku. Benarkah tak pernah ada, wanita muda berwajah cahaya datang ke masjid sewaktu sholat tiba. Benarkah tak ada cerita tentang seorang wanita yang menolong seorang kakek yang tak lain adalah dirimu sewaktu engkau jatuh menjelang maghrib itu?. aku tak peduli benar atau tidak, yang pasti selama tujuh hari ini aku seperti yelah dibuat gila oleh sosok perempuan misterius itu.

Hari kesembilan sepeninggalmu, aku tak pernah melihat sosok perempuan yang kukira bakal jadi jodohku. Setiap kuceritakan tentang sosok wanita itu pada teman-temanku aku selalu dibilang kumat penyakit halusinasiku tapi aku tak peduli.

Malam ini adalah malam ke40sejak hari kematianmu.sampai sekarang aku masih bertanya siapa wanita tersebut. Semakin hari aku semakin mencintaimu kau selalu ada dalam mimpi2ku. Aku harap kau selalu menemani tidurku disaat dingin malam mulai menusuk tulang. Kau adalah belahan jiwaku tuk selama-lamanya.

Kamis, 24 Juli 2008

Tangan Abah Yang Bercahaya

Syair al barjanzi itu terus mengalun berulang-ulang diiringi bunyi tepakan rebana oleh tangan-tangan ibu-ibu berseragam putih. Ibu-ibu itu berdiri berjajar rapi di serambi masjid berwarna hijau pinggir jalan itu. Sementara jamaah pengajian juga ikut berdiri rapi memenuhi jalan beraspal depan masjid yang telah ditutup untuk acara itu. Atap panggung yang telah didirikan terlihat basah karena hujan sore itu mengguyur. Sementara jalananpun tidak jauh berbeda. Aku mencium bau amis katak yang mungkin baru saja terlindas roda motor di jalan itu sewaktu hujan. Padahal mungkin katak itu sedang bermain-main dengan hujan sambil mengejar pasangannya.
Semua mata jamaah pengajian malam itu mengarah ke barat jalanan yang basah. Lisan mereka tetap saja mengucap berulang-ulang syair biografi Kanjeng Nabi. Mereka masih berdiri layaknya sikap sempurna ketika upacara bendera di sekolah. Tiba-tiba setelah lama berdiri semua jamaah, dengan kompak melongokkan kepalanya menuju arah barat ketika di jalan mulai terllihat serombongan orang berjalan menuju arah masjid.

Thola’al badru ‘alaina min tsaniyyatil wada’ : Wajabasy syukru ‘alaina mada’a lillahi da
Ayyuhal mab’utsufiina : Ji tabil amril mutha’

“Abah… abah sudah datang” kata temanku di samping kiriku yang berdiri.
“Iya” jawabku singkat, namun semua mata tertuju pada satu sosok dalam rombongan itu yang ke arah masjid. kelibat-kelibat sosok itu mulai terlihat. Sosoknya kecil memakai sarung hitam dan jas hitam. Namun wajahnya tak terlhat olehku karena terhalang oleh kepala jamaah pengjian yang ingin melihat Sang Abah Kyai yang baru datang. Semakin dekat sosoknya terlihat dengan jelas. Syair bacaan sholawat itu masih saja dibaca berulang-ulang dengan bunyi rebana yang ditepak-tepak.
“Masya Allah” mulutku refleks mengucap ketika sosok wajah teduh bercahaya semakin dekat dengan ke arah masjid. Aku melihat sesosok Abah yang berpakaian serba hitam, mukanya teduh bercahayan dengna balutan sorban hitam dikepalanya diiring oleh para jamaah.

Semakin dekat saja sosok Abah berjalan menuju kerumunan jamaah pengajian yang sedang berdiri menantinkannya sejak lama. “apa yang membuat orang yang sebegitu dihormati, bahkan dinantikan kehardirannya” tiba-tiba temanku nyeletuk kepadaku. “Mungkin ikhlasnya” kataku sok tahu, padahal aku tak tahu pasti kenapa sesosok manusia biasa jadi sangat dihormati oleh manusia lain.
“Sungguh berbeda dengan dosen-dosen kita di kampus, bagaimana dosen-dosen dinantikan kehadirannya di tengah-tengah kampus.” Lagi-lagi temanku nyeletuk padaku. Rupanya dari tadi ia juga sedang memikirkan sosok yang semakin dekat menuju kerumunan jamaah pengajian. Rupanya ia sedang membandingkan Abah Kyai dengan dosen-dosen di kampus yang pandai bersilat lidah membicarakan konsep logika dan angka pada mahasiswanya.

Ketika Abah telah memasuki arena pengajian dengan atap panggung yang basah, kerumunan jamaah itu berebut, berdesak mendekati sang Abah untuk bersalaman. Aku bersama temanku pun tak mau kalah ikut bersalaman dengan beliau. Semakin cepat, semakin dekat abah berjalan melintasi kursi posisi tempat kami berdua duduk. Aku telah berdiri berdiri sejak lama menantikannya melintas dihadapan kami. Jujur saja aku, dadaku berdegub kencang dan semakin kencang ketika Abah semakin dekat denganku . tiba saatnya akhirnya sang abah malintasi jalan di depanku. Akupun langsung meraih tangannya, untuk beralaman dan mencium tangannya seperti jamaah-jamaah lain. Seolah tangan abah adalah makanan yang dinanti-nanti setelah kami seharian berpuasa.

“Tangannya bercahaya” ucapku dalam hati saat aku salaman dan mencium tangannya. Rasanya aku tak percaya ternyata di dunia ini memang benar ada tangan yang bercahaya. Ketika aku mencium tangannya aku merasakan ada kesejukan yang menghangatkan suasana malam yang dingin. Ada desir seperti air mengalir dan menetes dingin ke dalam relung kalbuku yang sudah sekian lama gundah. Aku ingin berlama-lama mencium tangan itu bahkan aku ingin selamanya mencium tangan bercahaya itu, biar hatiku dan jiwaku selalu adem ayem dan tentrem menghadapi hidup di jaman edan ini. Aku semakin tak percaya ternyata di dunia ini masih ada orang yang memiliki tangan yang bercahaya.

Hatiku berkata mungkin inilah yang dsebut pengalaman spiritual yang tak bisa dibagikan keada orang lain. Mungkinkah yang kurasakan ini sama dengan perasaaan orang lain. Adakah pengelihatanku itu sama dengan yang lain ketika menyalami tangan Abah yang bercahaya. Rasanya terenyuh saat aku bisa menyentuh tangannya dengan tanganku yang penuh lekatan dosa. Mungkin ketika tanganku berasalam dengan tangan beliau, seluruh debu kotoran yang ada di tanganku bahkan di hatiku tersapu bersih oleh air telaga Kautsar yang jernih membersihkan. Masya Alloh….

Sebenarnya aku ingin bercerita dengan teman samping kirirku namun rasanya aku malu. Mugkinkah yang dirasakanya sama dengan apa yang aku rasakan. “Bagaimana orang bisa begitu dihormati, seperti itu?” sekali lagi teman samping kiriku bertanya kepadaku. Mendengar pertanyaannya aku hanya menggelengkan kepala saja, bukan pertanda bahwa aku tidak tahu. Terbersit di hatiku, bisakah tanganku bisa menjadi seperti tangannya. Bercahaya seperti bintang dan selalu menyejukkan ketika ada mata yang memandang. Wajahnya teduhnya mampu menenteramkan hati yang gelisah. Saat aku mencium tangannya aku merasakan ada yang lain dari yang lain. Yah…tangan itu bercahaya aku hanya bisa mengatakan itu.

“Sementara abah itu terus berjalan dan setiap jamaah menyalaminya dengan takdzim. Entah mengapa semua orang di situ seperti mencintainya, tepatnya tersirhir olehnya. Mugkinkah Sang Abah punya sihir, tapi hatiku mengatakan tidak mungkin Sang Abah memilliki sihir. Aku terus mengamati perjalanan Abah sampai tempat duduk yang telah disedikan khusus untuknya. Setelah sampai dia masih saja disalami, bukan menyalami. Bahakan berebut orang ingin menyalaminya. Aku lihat abah bersalaman bersama Kyai-Kyai dan Pak Lurah sambil berpelukan. Rasanyr aku semaikin iri melihat beliau. Mungkinkah itu yang namanya karomah?

Aku telah duduk dikursi. Sholawat al barjanzi dan bunyi rebanapun telah berhenti bersamaan ketika Sang Abah duduk. Pembawa acara membacakan susunan acara, sementara pikirku terus melayang, bekelana dalam ruang imaji yang tak pernah aku singgahi sebelumnya.
“Aku berpikir dan membayangkan seandainya aku ditakdirkan menjadi anaknya, tapi tak mungkin karena aku sekarang sudah menjadi anak bapakku. Atau kalau tidak aku ingin jadi menantunya. Tapi apakah dia punya anak perempuan? Apakah beliau sudi menjadikanku menantu beliau? Padahal statusku, fisikku, ilmuku, agamaku bisa dibilang masih sangat dangkal. Tangankupun tak bercahaya seperti tangan beliau. Wajahku hampir tak pernah teduh, wajahku gersang ibarat padang pasir tanpa oase. Mulutku tak pernah fasih melafal ayat suci Tuhan dan Sabda Kanjeng Nabi yang dikutip, Orang selalu percaya pada setiap tutur kata diucapnya. Sementara aku hanya orang yang gagap untuk berbicara kejujuran aku wasis ketika berbicara dosa maksiat dan syahwat. Nada jawabul jawab seorang qori yang melantunkan ayat-ayat awal surat Luqman itu menyentakku, khayalanku yang melayang seketika turun menukik tajam menuju lembah kesadaranku.

Pikiranku semakin berkecamuk dan hatiku semakin merintih ketika kudengan suara saritilawah membacakan terjemahan surat luqman itu. Terbayang olehku bagaimana sikapku selama ini kepada orang tua. Bagaimana aku membohongi orang tua tentang kiriman uang, kebutuhan kuliah dan sebagainya. Bagaimana aku selalu menghambur-hamburkan uang kirimannya untuk berbuat maksiat. Aku harus berbakti. Aku harus menghormati bapaku dan ibuku. Tanpa terasa dalam khayalku aku berharap pada Tuhan, tentang impianku agar bisa berbuat baik pada orang tua dan sering bisa mencium tangan-tangan bercahaya seperti tangan Abah Kyai. Terimakasih yang tak terhingga untuk teman di samping kiriku yang telah membatalkan acara begadang di malam minggu dan susah payah mengajakku ke pengajian ini. Mungkin kaulah kran yang mengalirkan hidayah Tuhan untukku setelah selama ini aku telah mengabaikanNya.

Aku akhirnya mengikuti pengajian itu sampai selesai, mendengarkan ceramah Abah Kyai dan tak pernah bosan terpana memandang tangan Abah Kyai yang bercahaya dan selalu bertanya apa yang membuat tangan itu bercahaya?

Purwokerto, 24 Juli 2008
Cerita ini terinspirasi sosok Abah Ipung (K.H Saiful Anwar Zuhri Rosyid)