di bibir samudra
terserah anda
sudah seharusnya kita
menikmati keindahannya
bukan menyesali ada
tapi mesyukuri adanya kita
ulu watu
di waktu sore tiba....
"mengisi ruang antara ada dan tiada" tempat menuang catatan jati diri, sosial budaya, agama, keseharian lokalitas wong penginyongan.
emi bisa menemuimu , memilikimu. yah memilikimu karena cinta bagiku adalah harus memiliki, bukan tidak harus memiliki.
tapan publik.....(Mushola banyak, banyak santri menangis)
Ungkapan ini keluar dari lisan Bapak Sanmuklas. Ungkapan ini dalam bahasa Indonesia berarti semakin banyak mushola, semakin banyak santri yang menangis. Ungkapan Jawa Banyumas konon diperoleh dari orang tua jaman dulu yang sudah mewanti-wanti kepada orang Jawa agar terus kuat menjaga kejawaannya. Jangan sampai orang Jawa hilang keJawaanya, karena di masa sekarang banyak orang Jawa yang tidak tahu asal usul kejawaannya.
Ungkapan tajug rujug lebih khusus berisi prediksi bahwa nanti setelah banyak tempat ibadah berdiri sebagai simbol semakin berkembangnya santri atau agamawan mengembangkan Islam atau kata rujug berarti sudah semakin banyaknya pemikiran dan golongan Islam di bumi Jawa ini nantinya akan terjadi santri mrebes mili atau banyak santri meneteskan air mata. Ini merupakan simbol dari kebingungan santri atau orang Islam yang mencari pegangan ajaran yang benar dan membawa keselamatan. Diyakini oleh informan bahwa ketika fenomena chaos karena kebingungan beragama ini terjadi maka akan muncul seorang Jawa yang akan mengembalikan bumi Jawa ini ”menjadi Jawa kembali”. Menurutnya datangnya Ratu Adil penyelamat Jawa ini adalah suatu keniscayaan yang akan terjadi.
Berkaitan dengan ungkapan filosofi tajug rujug santri mrebes mili, pengikut Aboge-Syattariyah atau Wong Aboge Cirebonan meyakini bahwa nantinya agama yang sekarang dipegang oleh ahli-ahli agama yang dengan berapi-api berdakwah di masjid-masjid atau mushola akan mengalami penurunan karena banyak umat yang mengalami kegalauan, keragu-raguan bahkan kebingungan dalam menjalankan dan mengamalkan ajaran Islam. Pada saat itulah nanti akan muncul ”seorang Jawa” yang bisa menjadi penyelamat (mesias) yang memberi petunjuk tentang agama Islam yang benar yang harus dijalankan oleh umat manusia.
Walaupun tidak menyebutkan nama aliran atau paham yang benar namun pengikut Aboge ini menyebut-nyebut bahwa nanti agama Islam yang sejati adalah agama Islam yang ada di Jawa yang dimiliki oleh orang Jawa. Diyakini bahwa orang pilihan yang kelak menjadi penyelamat dan penunjuk kebenaran itu sekarang belum muncul namun sedang bertapa mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi jaman akhir.
allahumma sholli wassallim 'alaa
sayyidina wamaulana muhammad
wajib ngaji wiwit ana ing bandulan
tumeka denselehake ning kuburan
aja ngemungaken isi isen weteng
mbesuk mati nemu kubur luwih peteng
ora liya kang madhangi ing kuburmu
ngamal soleh, ati resik tuwin ilmu
ayo konco, ayo konco padha ngaji
mbok menawa sue-sue bisa ngerti
yen wis ngerti nggo nglakoni
angabekti maring Gusti