Sabtu, 12 Juli 2008

pengeluaran dan pemasukan

kenapa kita selalu senang mengeluarkan
daripada memasukkan

mengeluarkan apapun itu
memasukkan apapun itu

Jernih air itu mengalir

Jernih air itu mengalir di tengah pegunungan yang tandus. Memang aneh ketika di perbukitan yang gundul itu masih keluar mata air, mungkin itulah kasih sayang Tuhan yang masih saja memperhatikan segelintir orang yang tidak berdaya di tengah penggundulan hutan. Aku berdiri di atas perbukitan tandus itu, Sementara angin semilir menggiring tubuhku yang kurus untuk masuk ke bilik kamar yang telah setahun tak pernah aku tempati. Aku lihat banyak buku tebal bersampul debu. Lampu belajar yang telah mati dan jendela mulai keropos dimakan rayap hutan yang kelaparan. Aku masih ingat rumah kayu ini dibangun berdua dengan mendiang istriku yang sangat imajinatif merancang bangunan yang sekarang sudah udzur.

Aku melangkah menuju jendela kamar jendela. Kubuka jendela itu. Ternyata butuh tenaga untuk membuka engsel yang telah berkarat dimakan oleh jaman. Kubuka mataku dengan lebar keluar jendela untuk memandang lepas keluar. Harapanku pertama kali adalah mendapatkan pemandangan yang sejuk. Tapi yang kudapati hanya rumput ilalang yang tumbuh meninggi memagari pekarangan rumah itu. Warnanya telah menguning bahkan tidak jarang telah kering karena kemarau panjang telah melanda perbukitan itu.

Aku masih ingat dulu pekarangan rumah itu dikelilingi oleh pakis, bakung dan anturium putih. Daerah perbukitan itu rasanya sangat sejuk dan hijau. Suasana itu semakin terasa mesra ketika isteriku duduk di sampingku sambil bersama menikmati hangatnya secangkir kopi setiap pagi. Sayup-sayup kami dengar jernih air itu masih mengalir, gemericik suaranya selalu kami rindukan. Sementara kicauan burung kutilang dan prenjak tak henti-hentinya berlomba menyaingi suara angin gunung yang berbisik di sela dedaunan bambu ampel gading yang tinggal serumpun. Aroma bunga kopi yang menyengatpun semakin terasa karena terbawa angin gunung.

Setiap pagi, dari serambi rumah aku berdiri memandang hamparan kebun kopi yang hijau menghampar dari utara menuju selatan perbukitan hutan Cigledek. Kebun kopiku di perbukitan memang tidak rata. Bentuknya terasering, berundak. Ketika menyiangi dan memanen kopi, orang wajib naik dan turun dan harus selalu berpegangan pada batang kopi. Untuk akar pohon kopi itu terkenal cukup kuat menancap ke bumi.

Sesekali aku turun dari undak-undakan rumahku untuk melihat dan menyapa karyawan kebun kopiku yang sedang bekerja menyiangi rumput di bawah pohon-pohon kopi berbatang putih yang tumbuh di atas tanah hitam gembur dan subur. “Sugeng enjing, Pak!” suara itu selalu keluar dari seorang yang sedang memegang cangkul kecil sambil mengucap peluh yang mengalir di dahinya yang mulai keriput. Aku membalas senyumannya. Aku melihat senyumannya,begitu khas, lugu dan jujur. Aku memang mengenal mereka sebagai orang desa yang jujur,polos dan tak pernah minta macam-macam. Mungkin kokohnya gunung dan ketenangan alam pedesaan itu membuat mereka selalu bersyukur dan selalu tersenyum padaku.

“Pak Karmo, istirahat dulu. Ayo naik, ke serambi, sarapan dulu!” ajakku sambil melambaikan tanganku. Dia mendongak ke atas. “Saya sudah sarapan, Pak” jawabnya sambil menganggukkan kepalanya, tanda hormatnya kepadaku. Yah mungkin dalam pikiran mereka aku adalah majikan mereka yang harus dihormati. Entah kenapa jawaban yang sama itu selalu kudapati ketika mengajak pak Karmountuk sarapan. Pak Karmojarang sekali sarapan denganku. Sangat jarang dia mau sarapan dengan aku dan isteriku. pernah suatu hari ia mau sarapan dengan aku dan isteriku, itupun dengan ditemani oleh isterinya yang waktu itu membantunya untuk memanen kopiku. Kami berempat duduk di serambi rumah. Aku dan isteriku bersebelahan dan berhadapan dengan pak Karmodan isterinya. Nasi hangat yang masih kebul-kebul,telah tersedia di hadapan kami berempat. Sementara lauk ayam goreng, sambal terasi, lalap daun singkong, kerpupuk udang dan ikan asin juga tersedia di situ. Yah bagi kami sambal terasi adalah lauk pokok yang harus ada untuk menemani lauk lain sekalipun itu untuk sarapan pagi.

“Ayo, kita mulai makan, silahkan Pak Karmo, Bu Saitem” isteriku memulai sarapan pagi itu. Sementara aku juga mengangguk sambil memandang mereka sambil tersenyum mempersilahkan mereka untuk mengambil nasi dalam bakul anyaman bambu itu. “Inggih Pak, silahkan Bapak Ibu duluan” yah selalu saja begitu jawaban mereka ketika kami meminta mereka mengambil makanan terlebih dahulu.
“Ya, sudah. Kalau begitu aku akan ambilkan nasi dulu untuk bapak” isteriku menjawab mereka sambil mengambilkan nasi dengan piring di hadapanku untukku. Lalu dia mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Kami berdua mengambil lauk ayam goreng yang telah tersedia di situ. Sementara kami telah memegang piring dengan nasi lengkap dengan lauk pauknya, Pak Karmod an Saitem masih saja bengong memperhatikan kami. Mereka malu-malu ketika makan bersama kami, majikan mereka. “Ayo Bu Saitem, nasinya diambil, jangan malu-malu. Ayo kita makan, nanti dingin lho!” isteriku kembali mengajak mereka. “Inggih Bu” jawaban itu sering sekali aku dengar dari lisan mereka.

Saitem mengambil nasi untuk suaminya, Karmo. Nasi yang diambil Saitem porsinya begitu sedikit. “Bu, nasinya yang buat Pak Karmo, mbok ya ditambah, nanti tidak kenyang” aku menyuruh bu Saitem untuk menambah kembali porsi Pak Karmo. Akhirnya mereka sudah memegang nasi. Lalu aku persilahkan mereka mengambil lauk yang ada di situ. Aku dan isteriku saling berpandangan ketika mereka hanya mengambil lauk lalap daun singkong, sambal terasi dan ikan asin saja. Aku tidak tahu kenapa mereka hanya mengambil lauk itu. Bukankah masih ada ayam goreng? Atau mungkin mereka hanya berselera dengan sambal, daun singkong dan ikan asin itu?. Akhirnya isteriku mengambilkan ayam goreng dan ditaruhkan kepada piring Saitem. Sementara aku juga taruhkan ayam goreng dan kerupuk ke piring pak Karmo. “Ayo, dimakan sampai habis” isteriku mengajak memulai makan bersama pagi itu. Seusai isteriku mengajak mereka bersama kami, kamipun makan bersama sampai selesai makan. Selama makan bersama dengan keluarga Karmo tanpa dengan pembicaraan dan obrolan sedikitpun.
Tanpa disangka sarapan bersama pagi itu adalah sarapan kami berempat yang terakhir kalinya. Setelah itu aku tak pernah lagi merasakan enaknya makan ikan asin, sambel terasi, lalap daun singkong. …..

****

Di tengah malam yang tenang kepolosan Karmo dan isterinya telah musnah oleh longsor tanah yang menenggelamkan desa. Aku selalu berpendapat bahwa bencana longsor yang menimpa Karmo sekeluarga dan warga desa lain adalah getah dari seseorang oknum perambah hutan yang telah membabat tanpa pilih, menebang tanpa kasih. Namun warga desa yang lain selalu mengatakan bahwa bencana alam longsor ini akibat dari penguasa gunung yang sedang murka pada warga desa yang sudah meninggalkan tradisi leluhur selama beberapa tahun itu. Aku tak bisa memaksakan asumsiku dan logikaku pada mereka. Toh, segala pendapatku tak bisa lagi mengembalikan nyawa penduduk desa yang telah hilang ditimbun tanah. Yang menyedihkan isteriku yang tercinta harus juga menjadi korban saat malam itu dia yang sedang hamil dan sedang ngidam meminta kalung perhiasan berbandul mutiara. Malam itu dia tidur di rumah isteri karmo sekeluarga.

Malam itu aku harus keluar kota untuk menemui juragan kopi di kota. Aku tak membawa serta isteriku tercinta. Perjanjian jual beli itu begitu lancar namun malam itu di kotapun hujan deras mengguyur hingga memaksaku pulang esok harinya.

Besoknya dengan suka cita aku pulang membawa kalung perhiasan berbandul mutiara untuk isteriku. Setelah sampai di pedukuhan, seketika itu pula perasaanku remuk redam ketika melihat sekelilingku telah rata dengan tanah. Hujan deras itu rupanya tidak hanya melumat pedukuhan dan memporak-porandakan rumah-rumah gedheg warga. Aku bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya air dan lumpur yang bersekutu untuk memboyong batu besar di atas perbukitan itu sekaligus mempermainkan dan menerjang rumah-rumah penduduk yang ada di bawahnya. Yang tragis aku melihat orang yang paling aku cintai, telah berbalut lumpur membujur kaku tertimpa tiang rumah Pak Karmo. Mungkin dia berusaha lari, namun larinya kalah cepat.

Hanya perkebunan kopi dan rumahku inilah yang disisakan oleh prahara longsor itu. Tak ada lagi sarapan bersama, duduk menyantap secangkir kopi, lebih-lebih senyum isteriku. Tempat inilah satu-satunya kenangan terakhir saat kami masih bersama. Ruang perpustakaan yang selalu menjadi kenangan saat aku bersama isteriku merencanakan masa depan dan menceritakannya pada anakku yang masih dalam kandungan. Semua telah hilang, yang ada hanya kenangan yang menggenang. Tanganku membuka kotak berdebu berisi kalung perhiasan berbandul mutiara. Tanpa terasa air mataku meleleh. Di depanku perbukitan itu masih tandus dan gundul. Pedukuhan itu sekarang telah hilang, semua telah pindah. Untuk menghindari kutukan penguasa gunung, kata mereka.

Purwokerto, 3 Juli 2008

Jam-jam untuk Penjaga Masjid

16.45 WIB
Selalu beberapa orang dari keempat penjaga masjid mengepel pendopo masjid ini bergantian dan kadangkala bersama-sama. Biar masjid ini kelihatan bersih dan suci, itu jawaban ketika aku ditanya seseorang. Aku tidak mau menjawab lebih panjang. Kadang temanku menjawab sebagian dari iman itu kebersihan. Tepatnya mungkin kebersihan sebagian dari iman. ada saja orang yang selalu menanyakan perihal kebersihan masjid dan sebagainya padahal menjaga masjid adalah kewajiban setiap orang. Sore itu aku mengepel dengan temanku bertiga. Sementara udara dingin dan gerimis hujan seolah sangat kerasan dan betah mengguyur kota kecil ini. Kami bertiga berbagi tugas, sahabatku yang satu membenahi karpet di dalam masjid yang berantakan karena ulah anak-anak yang bermain sewaktu mengaji, belajar membaca huruf Hijaiyah dan Al Qur'an.

Sahabatku yang satunya dengan gagah memegang sapu yang telah pendek gagang sapunya. Sementara aku memegang tongkat pel dengan ember air yang berisi setengah saja. Aroma pewangi lantai dalam ember itu seolah menjadi shockterapy bagiku yang baru saja kuliah dengan dosen killer yang menjemukan tadi siang. untuk mahasiswa dengan intelegensia pas-pasan seperti aku, nilainya pelit, tugas-tugasnya berbelit-belit dan terlampau sulit,

Entah kenapa beberapa bulan ini aku merasa mengalami gejala keanehan dalam diriku tapi tak pernah tahu pasti penyebabnya. Aku seringkali terbalik-balik dalam menyusun kata-kata dalam setiap harinya. Arah tidurpun selalu sangat kontra arah dengan sahabat sekamarku, kepalaku di bagian kepalanya dan kepalanya di depan kakiku. kebetulan aku tidur dengan sesame pria setipa malamnya. Pernah aku berpikir sebab semua ini mungkin karena aku kebetulan kuliah di sosiologi,efek dari kuliah dari dekonstruksi Derida atau Foucault. Ah…tapi….setelah aku amati ternyata teman-teman sosiologi juga normal-normal saja. berarti hipotesisku bisa saja salah. Aku selanjutnya mencari jawaban lain yang lebih logis. Tapi lagi-lagi aku tak pernah puas, selalu saja aku merasa jawabanku sangat irrasional. Sementara aku pernah berkesimpulan mungkin karena aku tinggal di mesjid. Karena konon katanya mahasiswa yang tinggal di masjid berbeda dengan mahasiswa yang tinggal di kos-kosan. Lagi-lagi katanya. orang yang tinggal di masjid terkendali imannya, tapi sekali lagi pernyataan itu aku serta merta kusangkal dengan keras.

17.00 WIB
Masjid yang aku tempati bersama kedua sahabatku di pinggir jalan, bahkan sangat dekat dengan jalan yang selalu ramai dengan lalu lalang kendaraan dan juga pedagang makanan yang setiap sore selalu berjajar berjualan melayani mahasiswi-mahasiswa cantik berkulit putih yang selalu menjadi impian lamaku dan selalu menjadi impian terbaruku. Bagiku waktu dulu atau sekarang itu tak ada bedanya, karena menurutku aku masih saja seperti dulu, tetap sama. Tetap sama sebagai mahasiswa yang tinggal di masjid bersama kedua sahabat setiaku. Sama-sama sebagai santri Pak Kyai. Sama-sama sebagai mahasiswa yang sudah semester sepuluh tapi belum lulus-lulus.

Impianku memang dari dulu ialah cukup sederhana. Mempunyai seseorang yang bisa memotivasiku ketika aku sedang lemah dan patah semangat. Tapi entahlah, aku belum menemukan orang tersebut. Aku harap seseorang itu adalah seorang gadis atau perawan yang cantik baik hati, bukan seorang lelaki konyol seperti sahabat-sahabatku di masjid yang ketika tidur senang sekali melingkarkan kakinya di pinggangku.

Aku terus saja mengepel lantai yang kotor oleh kaki-kaki sang ahli ibadah yang rajin ke masjid. Walaupun bersandal dan berpayungan kaki mereka tetap saja ngeres. Entah semangat apa yang menjadi rajin ke masjid untuk sembahyang pada tuhan sang pemberi hujan. Tapi aku tak peduli dengan mereka yang rajin sholat di masjid yang aku tempati. Yang penting waktu itu dalam pikiranku adalah menyelesaikan pekerjaan mengepel lantai itu rampung dengan secepatnya karena keburu waktu maghrib tiba. Sambil cepat-cepat mengepel lantai masjid, sambil cepat-cepat pula aku mencuri-curi pandang ketika melintas mahasiswi-mahasiswi pemburu makanan sore di deretan penjual makanan di jalan kampus. Kebetulan setelah lama aku mengamati satu persatu orang melintas di depan mesjidku. Kebetulan aku melihat seorang gadis. Kebetulan pula seperti gadis impianku. Kebetulan pula dia menengok ke arahku dan melihatku yang keren dengan pegangan tongkat pel, berkaos dan bersarung.
Alam khayalku muncul dihadapanku setelah melihat wajah manis yang melintas di depan masjidku. Wajahnya manis seperti madu penawar sariawanku. Rambutnya mengombak seperti ombak lautan sore hari yang menenangkanku ketika aku melihat matahari tenggelam. Alisnya yang kata orang jawa nanggal sepisan semakin menambah jelas jernih matanya dan lentik bulu matanya yang telah membuaiku terbang ke langit biru yang amat tinggi dengan menutup mata. Ya… Tuhan bibirnya begitu indah, melebihi indah bibir para bidadari syurga mungkin….

Sosok impian akhirnya melintas dengan cepat meninggalkan pelataran masjid yang sempit. Yah…seandainya aku bisa menghentikan waktu mungkin akan kulukis dirinya sebelum ia pergi. Sementara mega merah di ufuk barat telah benderang menandakan waktu maghrib segera tiba, aku hentikan mengepel sambil berjalan menaruh kain pel seraya memandangi kepergian sosok impian yang telah hilang bersama angin senja yang menyapa perutku yang keroncongan.

17.45 WIB
Maghrib telah tiba, suara adzan temanku menggema menyambut mega merah di langit barat. Sesaat kemudian pujian pada Tuhan dan sholawat Nabi berkumandang dilanjutkan iqomat didengungkan. Kamipun semua bercinta dengan Tuhan lewat gerak takbir, ruku dan sujud kami. Gerak bibir kami senantiasa memujinya, membesarkan namanya dan mensucikan keindahan dan keagungan-Nya.
Selesai sholat aku berdoa pada Tuhan yang maha pemurah untuk mengasihi penjaga masjid. Mendatangkan bidadari-bidadari dari langit untuk sholat berjamaah di masjid ini, hingga aku dapat mencuri mukena milik salah satu bidadari yang ikut sholat jamaah supaya menjadi isteriku. Mungkinkah ketika kupintakan kepada-Mu, terkabulkah? Kebetulan aku hanya bisa berdo’a dan usahaku sebagai seorang penjaga mesjid.

17.45-22.42 WIB
Sholat, mendengarkan ceramah, berdiskusi tentang wanita yang kami tak kenal namanya.

00.12 WIB
Menjelang tidur aku biarkan imajinasi liarku berkelana. Seandainya tengah malam ini datang seorang bidadari. Menemuiku di bilik masjid yang sepi ini. Sementara saudara-saudaraku telah tertidur lelap dalam pangkuan-pangkuan mimpi malam.Sementara para pedagang di jalan kampus telah banyak pulang mendorong gerobaknya.

Sementara bidadari itu mengajakku terbang. Sementara kabut malam ini begitu tebal putih dalam hitam malam.Sementara dingin udara ini semakin memucatkan bibirku. Sementara badanku menggigil kedinginan. Sementara ada depanku terpatung seorang bidadari.Sementara senyumnya tersungging sangat manis dari bibirnya yang tipis. Sementara aku semakin kedinginan. Sementara angin itu merangkak menelusuri tubuhku yang menggigil. Sementara rambut bidadari yang wangi itu sebagian terkena angin mengenai wajahkuTuhan….apa yang harus aku lakukan. Sementara bidadari itu telah hilang terbang bersama kabut malam yang semakin meninggi dan menjemput embun malam untuk turun ke bumi.

05.30 WIB
Jum’at pagi ini seperti biasa berusaha untuk bekerja keras untuk membersihkan karpet yang terpasang di masjid. Entah kenapa semenjak malam tadi kabut begitu tebal menutupi jalanan di sudut kecil kota purwokerto. Yah….kabut begitu tebal. Menjelang subuh aku tidak begitu memperhatikan cuaca alam, yang aku perhatikan mungkin karena aku sudah kesiangan bangun untuk adzan subuh. Kebetulan entah kenapa tadi malam aku juga mimpi cukup indah hingga membasahi sedikit bagian dari tubuhku. Mungkinkah ini karena kabut yang tebal yang menutupi malam.ah….aku tak tahu, aku tak peduli. Yang aku pedulikan adalah aku begitu ingin mengurangi mimpi yang sangat ini. Aku ingin mengulangi lagi mimpi malam tadi. Tapi….mungkinkah ketika aku tidur kembali aku akan bermimpi yang sama seperti tadi malam. Ah….lagi-lagi aku berkhayal.

Sementara kabut masih tebal menutupi sisi jalan kampus setelah subuh ini. “wahai saudaraku, kabut begitu tebal pagi ini bahkan akhir-akhir ini. Kenapa ya?” aku bertanya dengan spontan kepada sahabatku ketika memasuki bilik suci tempat tinggal kami berdua bahkan bertiga. “kata pak kyai ini lah tanda-tanda jaman akhir”jawaban yang tak disangka-sangka keluar dari lisan sahabatku, yang sedari tadi ada di kamar setelah melanjutkan tahlil dan wirid bersama pak kyai.” Ah…benarkah seperti itu?”tanpa sadar aku merasa gelisah, setelah mendengar jawaban dari sahabatku tadi.
Jaman akhir, jaman mendekati kiamat. Bumi sudah tua, sudah banyak bencana, sudah banyak musibah besar silih berganti menerpa negeri ini. Kalau kata pak kyai, semua ini karena banyak umat yang telah meninggalkan ulama, banyak laku maksiat. Tapi kalau kata mbah buyutku ini jaman akhir jaman edan, jaman orang gila yang serakah dengan harta, tahta dan wanita. Semua cara dihalalkan dan semua yang haram dihalalkan.tapi katanya nanti kata mbahku aka nada ratu adil. Tapi katanya pak kyai di jaman akhir akan datang sang penyelamat dunia, pembawa risalah kebenaran untuk orang-orang yang sesat. Mungkinkah sang penyelamat ini atau ratu adil ini adalah orang yang sama, tapi siapakah dia? Dimanakah dia dan kapan dia akan datang untuk memperbaiki semangat jaman yang sudah edan ini.

Sementara kabut masih tebal namun sorot sinar matahari pagi selalu beranjak naik dan berusaha menerobos kabut tebal yang menutupi jalan. Ketika aku melihat sinar matahari pagi aku ingat pada kasih ibuku yang sepanjang nafasku selalu mendo’akanku. Aku tahu bahwa setiap jam empat pagi ibuku dan mbahku yang sudah tua dan bungkuk telah bangun dan memasak air.
Sementara kabut masih tebal aku juga teringat bapakku. Sepanjang kuliahku ia selalu berusaha bekerja semampu tenaga untuk menghidupiku. Sementara aku juga sangat ingat ayahku yang mungkin di saat kabut masih tebal, pastinya ia sudah berjalan menelusuri panjangnya pematang sawah yang masih berembun. Aku bisa bayangkan kalau dipundaknya sudah ada cangkul kesayangannya. walaupn bapakku punya banyak cangkul namun aku melihat hanya cangkul itu yang selalu dibawa bapakku ke sawah. Kalau cangkul-cangkul lain bisa dipinjam oleh tetanggaku atau pamanku, tapi cangkul ini sangat berat dan larangan untuk dipinjamkan.

Aku bisa menebak kenapa bapaku begitu sayang dengan cangkulnya yang satunya itu. Mungkin karena selama inilah dengan cangkul itu bapakku menghidupiku menghidupi adikku, menafkahi ibuku. Cangkul itulah yang telah menyemaikan benih-benih padi disawahnya untuk tumbuh subur. Padi itulah harapan baginya. Ketika panen tiba, selalu aku melihat senyumnya dan tarikan dan hembusan nafasnya yang panjang menandakan kelegaan dan kebahagiaan.Namun aku masih ingat ketika musim kemarau kemarin bapakku tidak bisa menanam padi, ia begitu pontang-panting menjual segala macam hasil bumi untuk keperluan kuliahku bahkan ditambah ongkos transport adikku yang masih SMP.

Lembah Gunung Slamet (Purwokerto) 7 Juli 2008

Jumat, 11 Juli 2008

ber....

saat aku sedang mengetik kata-kata ini
aku mendengar seorang wanita
mungkin dari balik bilik internet sebelah belakangku
menangis, mengeluh, bersama seorang pria
mahasiswa dan mahasiswi

bertengkar
cemburu
bercinta
ber.....
ber.....
ber.....

aku tak dapat melanjutkannya
karena saat aku menulis kata ini
dia sudah diam

sedang apa ya?
mungkin sedang ber....??????

usia, jodoh, rezeki, mati

usia
jodoh
rezeki
mati

aku
engkau
kita
manusia

selalu
mempertanyakannya
menerkanya

itu rahasia
sehingga kita selalu ingin membukanya

pasti ada sesuatu
mengapa menjadi rahasiNya

perempuan yang tak kami kenal namanya

setiap maghrib dan isya tiba
engkau bersama ibu dan adikmu terlihat
seringkali kami mencuri pandang

mukena putih itu membalutmu
air wudlu itu mungkin telah membuat wajahmu bercahaya
sahabatku selalu membicarakanmu

tentang ibumu yang dia sebut sebagai mertua
tentang bapakmu yang sangar dan gagah yang selalu menjadi pertimbangannya
tentang adikmu yang lagi lucu dan manja

hampir setiap hari kami melihatmu
tapi tak pernah kenal namamu
kami hanya bisa menyapamu
hanya senyum kami yang berbicara

sampai suatu hari ada seorang pemuda
polisi pula, HPnya pun kamera
tiger 2000 tungganganya
memmbelikan kami ketoprak pula
untuk dimakan kami bertiga

akhirnya ia menyebut sebuah nama
yang ternyata namamu
ratih...
katanya lirih
menandakan ada perasaan istimewa

selepas polisi muda itu mengeslah kendaraannya
kami berbincang tentangmu
yang telah setahun tak kukenal namanya

"cintaku ditukar dengan ketoprak"
tiba-tiba sahabatku berkata perih sambil memegang dadanya...

(untuk muktar yang mungkin selalu mengenang dan mendzikirkan namanya,
perempuan yang tak kami kenal namanya sebelumnya)

wanita yang kukenal saat wisuda

kukenal dia sebagai sosok yang cerdas
lewat tajam matanya yang cemerlang seperti bintang
kuyakini dia sebagai sosok perempuan dewasa
lewat lembut bicaranya yang bersahaja
lewat simpul senyumnya yang simpel dan supel

kuyakinkan ia sebagai seorang sahabat
lewat pertama kali aku mengirimkan pesan singkat
kuyakinkan ia orang yang sabar
ketika aku belum sempat-sempat membuat alamat friendster
kuyakinkan dia orang yang beruntung dan rajin
selepas wisuda langsung bekerja

kutuliskan ini untuk mengenang saat-saat Jum'at itu
tiada lain harapan semoga menjadi motivasiku
yang sekarang sedang mengayuh biduk kehidupan yang sebenarnya
dalam detik-detik penantian
dalam usaha mencari bekal hidup

(untuk dina, semoga silaturahim selalu terjalin diantara kita semua.
selamat bekerja...SEMANGAT!!!