Kamis, 08 Oktober 2009

Seliring Genting, Potret Dolanan Tradisional yang Dimakan Zaman


MINGGU, 30 AGUSTUS 2009 | 22:48 WIB

KOMPAS.com -  Sepuluh penari cilik itu bersiap di panggung sederhana beratap ilalang di Desa Plana, Kecamatan Somagede, Banyumas. Mereka bersiap memainkan dolanan tradisional Banyumas, seliring genting dalam bentuk sendratari. Satu penari berdiri terpisah menghadap ke sembilan penari lainnya, yang membentuk formasi rangkaian membujur ke belakang dengan memegang pinggang kawan di depannya, mirip formasi permainan ular-ularan.

Penari yang menghadapi ke sembilan rekannya berperan sebagai Maling Aguna, si pencuri baik hati, sedangkan penari terdepan di formasi ular-ularan berperan sebagai Nini Nini, atau nenek penunggu bulan. Tak berapa lama, dialog pun terjadi di antara mereka dalam bahasa Banyumas.

Maling Aguna: Nini nini sing tunggu wulan, inyong njaluk genine

Nini: Diwadahi opo?opo ora kepanasen?

Maling Aguna: inyong njaluk pitik trondol

Nini: nggo apa?

Maling Aguna: nggo cempal

Nini: ora ulih

Maling Aguna: nggon ora ulih tak pleter kucing

Niat Maling Aguna hanya satu, yakni meminta api kepada Nini. Untuk dapat membawa api, sang maling harus merebut dulu pitik trondol, atau ayam . Dalam formasi ular-ularan itu, si pitik berada di ujung belakang. Permintaan maling ternyata ditolak Nini. Mendengar penolakan itu, maling pun mengejar pitik. Sekuat tenaga, Nini dan tujuh orang yang berada di be lakangnya melindungi pitik.

Sambil kejar-kejaran, anak-anak tersebut menyanyikan tembang berbahasa Jawa kuno, yang merupakan tembang khas dolanan ini. Tembang itu mengalun riuh bersamaan tawa di di antara mereka. Salah satu lirik tembang tersebut antara lain: Seliring genting, rangu-rangu bang sikatan, sikatane gawe rutuh, rutuh-rutuh bedhil gede, onek kena sanggul bale. Dorrr...

Itulah sepenggal pertunjukan dolanan tradisional Banyumas, Seliring Genting yang digelar di Padepokan Seni Banyubiru, Plana, Somagede, Banyumas, pekan lalu. Dolanan tersebut ditampilkan dengan tarian lengger dan musik calung.

Seliring genting adalah satu dari puluhan ragam dolanan anak di Banyumas yang pernah ada. Seni ini diperkirakan sudah ada jauh sebelum pengaruh Mataram Islam dan Pajajaran masuk ke wilayah ini. Penggunaan tembang bahasa Jawa kuno adalah salah satu hal yang mendukung perkiraan tersebut.

Biasanya, dolanan ini dilakukan saat bulan purnama tiba. Saat mana anak-anak dapat berkumpul di halaman luas untuk gojekan (bercanda ria) dan bermain. Saat yang selalu ditunggu masyarakat pedesaan yang agraris karena nini wulan, nenek penunggu rembulan, datang serta memberikan harapan baru bagi kehidupan esok hari.

Namun demikian, kini keberadaan dolanan ini dalam kehidupan praksis telah hilang. Nyaris tak ada lagi anak-anak di wilayah Banyumas dan sekitarnya yang memainkan jenis permainan tradisional ini.

Seperti halnya budaya tradisional lainnya, dolanan anak seperti seliring genting ini sudah diterjang oleh riuh rendahnya budaya pop yang hadir hingga ke relung desa. Jangankan memainkannya, mungkin mendengar nama dolanan ini saja anak-anak di Banyumas zaman sekarang tak pernah lagi, tutur pembina Padepokan Seni Banyubiru, Yusmanto.

Keprihatinan ini yang mendorong Yusmanto menggelar pertunjukan dolanan yang nyaris punah tersebut. Bukan hanya seliring genting, pekan lalu, padepokan yang terletak di antara Kali Serayu dan di lereng pegunungan Kendheng Selatan ini juga menggelar puluhan dolanan anak yang pernah ada di Banyumas.

"Tujuan kami menampilkan seni dolanan tradisional ini selain sekadar melestarikan juga untuk mendokumentasikan bahwa seni ini adalah milik kita. Seni komunal Banyumas. Sebagai pecinta budaya tradisional, tentu kami juga khawatir dengan apa yang terjadi dengan beberapa budaya kita yang diklain negara lain," papar Yusmanto.

Banyumas memang kaya akan dolanan tradisional semacam ini. Hal tersebut tak terlepas dari tiga faktor, yakni budaya lokal yang eksis, pengaruh Jawa, dan pengaruh Sunda. Tak heran, banyak dolanan tradisional khas Banyumas yang mirip dolanan khas Jawa maupun Sunda, sebagi contoh adalah benthik dan ujungan.  

Budaya televisi

Budayawan Banyumas, Saeran Samsidi, mengungkapkan, dolanan khas banyumasan seperti siguk, andul kopet (mande), dir-diran lewok, poces, thomprang, ganden, umbul wayang, sangkutawar kini tidak lagi akrab di telinga anak-anak zaman sekarang di daerah ini.

Bahkan, dolanan tradisional yang bersifat umum, seperti benthik, mel-melan, gobak sodor, dan dolanan ketangkasan lainnya sangat jarang dimainkan anak-anak di sini.   

Dolanan banyumasan banyak yang disertai ungkapan-ungkapan khas dan tembang-tembang, serta tarian. Dalam masyarakat umum, dolanan ini sudah tidak ada lagi. Kalau benthik, atau gobak sodor mungkin masih ada, tetapi sangat ja rang. Semuanya terlupakan karena pengaruh televisi dan modernisme, Saeran.

Keberadaan dolanan tradisional itu kini tinggal sebatas pementasan di festival dan pertunjukan seni tradisional. Sejumlah sekolah ada yang berinisiatif memasukkan dolanan anak ini dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti di SD Negeri III Notog, Banyumas. Terakhir, pementasan dolanan anak itu di lokakarya Budaya Banyumas di Universitas Muhammadiyah Purwokerto awal Maret 2009.     

Terkait dengan punahnya dolanan tradisional itu, sejak tahun 2008 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyumas membuat buku tentang dolanan anak. Buku tersebut berisi berbagai jenis dolanan Banyumas beserta tembang-tembangnya.

Sayangnya, tak ada program berikutnya untuk lebih jauh memperkenalkan budaya ini kepada masyarakat setelah buku itu ada. Hak cipta atas dolanan tersebut pun tak pernah diupayakan.

Namun demikian, sejumlah pegiat seni tak kehilangan semangat dengan minimnya dukungan pemerintah itu. Mereka sadar, menggelar pertunjukan dolanan anak sebagai mana adanya tak akan menarik minat masyarakat untuk menonton. Langkah kreatif pun mereka tempuh dengan memadupadankan dolanan dengan seni tari lengger, ebeg, musik calung, dan teater tradisional.

Langkah tersebut memang cukup efektif memperkenalkan kembali budaya warisan yang nyaris hilang itu. Namun, sampai kapan kekuatan swadaya itu mampu bertahan di tengah desakan kapitalisme dan kehidupan yang serba pragmatis? Bila tak segera ada langkah nyata, bukan tak mungkin dolanan semacam seliring genting tiba-tiba muncul di situs resmi pemerintah negara tetangga. (M Burhanudin)


Rabu, 07 Oktober 2009

teruskan

malam hari oktober ke7 hujan turun deras sepanjang sokaraja ajibarang, tapi aku bertekad melewatinya untuk sampai di rumah. di perjalanan kubelah kubangan air sepanjang jalanan karang lewas cilongok. redup lampu membuatku memperlambat laju motor bututku ketika kulewati jalan sepi tertutup rimbun pepohonan dan rumpun bambu di daerah pageraji.lap....sebuah lampu sorot bis besar mengagetkanku saat ku lalui jalan yang agak menanjak menjelang cilongok.kukendarai motor pemberian Bapa'ku yang entah bagaimana dibelinya. sampai di Kracak, getar ponsel membuatku berhenti tepat di atas jembatan kali kawung. hujan semakin deras, kubaca pesan singkat yg ternyata dari adikku.yah...aku sudah sampai di kracak demikian kutulis jawaban pesan singkat itu. menjelang sampai di desaku, kulalui jalan-jalan berlubang yang entah kapan akan diperbaiki oleh dinas pekerjaan umum.sampai diperbatasan desaku aku terkaget. tanpa listrik desaku bagaikan desa mati. kutelusuri setapak menanjak, menuju rumah bapak biyungku.ban yang gundul membuat jalan motorku tertatih dan terpleset-pleset. akhirnya kusampai dirumah dengan basah kuyup walaupun mantel menempel di tubuhku. segera biyungku membuka tudung saji dan kukusan anyaman bambu untuk menyediakan makanan untukku. "nih ada sate, tapi dihangatkan dulu ya.."katanya sambil memegang pelita kecil yang kelap-kelip bergoyang dibawa menuju tungku batu yang menyisakan bara untukku. "lho kok ada sate, ayam dari mana"tanyaku sambil membuka jaket yang basah. ternyata beberapa hari ini ada ayam yang mati."Untung ketahuan, kalau ga pasti dah dikubur"katanya menjelaskan. yah...itulah adat orang desa, makan ayam menunggu ayamnya sakit atau menjelang mati. paginya kudengar banyak ayam mati, setelah sorenya sehat walafiat. "sungguh sebenarnya saya takut, jangan-jangan flu burung datang lagi" kata bapaku sambil mengepulkan asap dari rokok linting yang dibuatnya. remang-remang masih menjadi warna desaku malam itu. kulihat keadaan di luar rumah dari balik kaca. hanya ada daun pohon pisang yang kelihatan remang-remang pucat menghilang sambil bergoyang perlahan. hujan deras itu berganti gerimis tipis entah sampai kapan. ternyata dalam gerimis itu bapaku nekad keluar rumah untuk menyalurkan hobinya. nonton wayang dalang Gino di parakan, dengan jalan kaki dengan seorang tetangganya Man Kasoni namanya. paginya kudengar jam setengah dua ia baru pulang....

Senin, 05 Oktober 2009


awan kelabu
dua wajah
indah
sajadah
kaki langit kota
selimut panjang
jemari
tangan
kaki
menunduk
menengadah

bukan fatimah al zahra

_kadya sukma manjing reca malik sampurnaning jalma_
----
seketika aku telah menjadi arca ketika melihat paras itu
dengan sapamu sontak aku kembali menjadi manusia
***
kuraih seraut wajah ketika hari pertama bulan hujan, air dalam wajah itu telah menyapu bersih tandus fikirku di akhir masa ketiga ini, tanpa sengaja aku menemukan belahan jiwa Ali dengan tambahan keindahan nama di belakangnya, padahal yang kutahu sejak dulu namanya selalu bertabur bunga, tapi aku hanya bisa melihat, berkatapun aku terbata, jauh dari fikirku untuk menafsirkan sesuatu di balik penanda yang tajam di matanya...


Selasa, 25 Agustus 2009

tentang seseorang










ku lari ke hutan kemudian menyanyiku
ku lari ke pantai kemudian teriakku
sepi sepi dan sendiri aku benci
aku ingin bingar aku mau ke pasar
bosan aku dengan penat
dan hanya saja kau pekat
seperti berjelaga jika ku sendiri
pecahkan saja gelasnya biar ramai
biar mengaduh sampai gaduh
aih..ada malaikat menyulam jaring laba laba belang ditembok keraton putih
kenapa tak goyangkan saja loncengnya?
biar terdera
atau aku harus lari ke hutan
belok ke pantai..?

bosan aku dengan penat
dan hanya saja kau pekat
seperti berjelaga jika ku sendiri..

bosan aku dengan penat
dan hanya saja kau pekat
seperti berjelaga jika ku sendiri..

(diambil dari syair puisi dian sastro - tentang seseorang)

sandyakala ramadhan









di sebuah dukuh
ayah ibu dan dua anak kurusnya
di bilik bambu rapuh
di atas tikar pandan lusuh
tergeletak empat gelas air putih dan rebusan singkong pucat
menanti jingga langit, tak ada sayup angin,
hanya hikmat pepohonan dan tenang alam pedukuhan
didaulat suara gemetar qira' dari surau sebelah makam
bedug maghrib tak kunjung bertalu
menunggu pukulan seorang renta yang istiqomah
menunggu badan rebah terkubur dalam tanah merah


ramadhan ke-3

kembali di pertigaan traffict light ajibarang,
selalu tak sama tak seperti dulu,
puasa tahun ini dengan tahun yang silam
pada ramadhan hari ketiga
aku merasa kehilangan banyak hal
aku merasa mendapatkan banyak hal
kemarin aku kehilangan citra seorang perempuan
kemarin aku mendapatkan wajah seorang yang baru
kulihat redup parasnya jauh dari cahaya
seperti kembang layu kehilangan sarinya
"semoga prasangkaku salah" batinku berucap