"mengisi ruang antara ada dan tiada" tempat menuang catatan jati diri, sosial budaya, agama, keseharian lokalitas wong penginyongan.
Selasa, 20 Oktober 2009
ketuhanan
pralaya
Sabtu, 17 Oktober 2009
perempuan itu ternyata....
dduk di jok bus reyot jursan Tegal-Pwt.
kumlihat di sblhku prempuan bpakaian sderhana,
bju mode 70an dgn tas cngklong dibahu knanya.
rmbutnya diikat hampir ekor kuda tapi tak jadi.
aku trun mnuju daerh kampus.
siang hariny kulihat prmpwn dg wjah sm
di muka toko yg sdg kubeli alat tulis,
tapi pnmpilannya sdh brubah
tangannya menengadah
wajah itu seperti orang tiga hari tidak makan
mungkinkah ada salon yg mmermak wjh dan
pnmpilannya hingga sdmikian myakinkan?
ah....
18 oktober 2009
anak sekecil itu di sepagi itu
seperti yang terlihat dulu, seorang anak perempuan kecil yang kini berumur lima tahunan itu pagi ini masih saja berwajah kusut dan terlihat rambutnya yang jarang terjamah Samphoo. ia masih saja mengikuti entah siapa, emak atau neneknya yg tangan kiri...nya memanggul plastik hitam besar dan tangan kanannya memegang kait panjang untuk mengorek entah apa di bak-bak sampah di tepi jalan kampus Unsoed...
18 oktober 2009
18 oktober 2009
Jumat, 16 Oktober 2009
Srintil “Mbabar” di Halaman Mushala

HALAMAN belakang kediaman Ahmad Tohari di Desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jumat (29/8) malam lalu, potensial menjadi sumbu kericuhan sepanjang Orde Baru masih bertahta. Selama lebih dari dua jam, ruang lapang yang sekaligus menjadi halaman Mushola Al-Hidayah itu menjadi panggung tempat ”mbabar”-nya lengger kondang Srintil ke alam nyata. Bersamanya pula, terpampang Dukuh Paruk lengkap dengan imaji kegetiran yang melingkupi kisah sejarah mengenai Partai Komunis Indonesia (PKI).
Itulah bagian dari perjalanan pentas Teater Tarian Mahesa (TTM) Bandung yang menafsirkan trilogi novel ”Ronggeng Dukuh Paruk” (RDP) ke dalam naskah monolog. Perpaduan adaptasi naskah karya Gusjur Mahesa dengan intensitas akting Opey Sophia inilah yang rupanya mengundang fans berat RDP dari berbagai kota. Tak cuma dari Banyumas, penonton berbondong-bondong datang dari Indramayu, Semarang, dan Yogyakarta. Untuk pertama kalinya pula, penduduk desa dan para santri menyaksikan pertunjukkan teater modern yang digelar di desa itu.
Monolog yang dalam ranah seni rakyat Banyumas dinamai munthiet, bergerak dalam alur melingkar. Puncak kegilaan Srintil hadir sebagai teror pertama sebelum lakon meniti waktu hingga masa-masa awal penobatannya sebagai ronggeng. ”Lagu kebangsaan” PKI berjudul ”Genjer-genjer” yang lenyap di novel, dihadirkan untuk memperkokoh lakon. ”Tangan saya pun turut menggigil karena pengawasan penguasa sehingga tak berani seutuhnya menulis syair lagu itu,” demikian pengakuan Tohari.
Bagi TTM, kesederhanaan rupanya memang telah menjadi obsesi. Properti yang dimainkan pelakon hanya berupa ranjang, kertas koran, kotak kayu, dan sebatang pohon durian asli. Tak ada musik sama sekali, selain dendang acapella oleh Yossak Anugrah, Ani Rengganis, Dian Hardiana, dan Ersal S Rahman. ”Kami mengadaptasi RDP sejak 1997. Nilai-nilai dalam novel ini masih tetap aktual hingga kini. Kisah Srintil yang menjadi korban pergeseran nilai sama dengan yang dialami Dewi Persik, Inul hingga Ahmadiyah,” ungkap Gusjur.
Pengarang memang mati sesaat ketika teks telah sampai ke tangan pembaca. Sebagai tafsir, monolog terhitung setia pada novel. Di tengah-tengah kerumunan fans RDP, alur bisa dibaca dengan mudah. Bahkan sejumlah penonton acapkali nyeletuk sederet kalimat novel yang nyatanya kemudian diucapkan oleh aktris. Monolog juga tampak sangat keras mempertahankan lokalitas Banyumasan. ”Tafsir memang bebas. Dan tafsir TTM jauh lebih mendalam dari tafsir dalam film Darah Mahkota Ronggeng. Sebenarnya, tidak masalah jika ditafsir dalam konteks kebudayaan Sunda, bukan Banyumasan,” ungkap Ahmad Tohari. (Sigit Harsanto-)
Kesenian Cakenjring
Kesenian Cakenjring merupakan musik kolaborasi antara Calung, Kenthong dan Genjring (terbang, Bhs. Jawa), karya fonomental yang digagas Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas menjelang diselenggarakannya Festival Kesenian Rakyat yang bertaraf internasional di Republik Ceko tahun 2007.
Cakenjring digagas karena untuk mengakomodir seni musik yang ada dan berkembang di Kabupaten Banyumas dengan filosofi:
· Calung diangkat sebagai yang mewakili musik tradisional banyumasan dimana termasuk didalamnya ‘lengger’ sebagai vokalisnya/penyanyi sekaligus sebagai penari.
· Kenthong, dimana awalnya kenthong hanya sebagai alat komunikasi masyarakat, dengan perkembangannya menjadi alat musik dan dapat dikatakan sebagai yang mewakili musik kontemporer.
· Genjring mewakili musik religi Islami.
Pada bulan Juni 2007, Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas bersama dengan Enggar & Associates Jakarta, sebuah EO yang menangani misi kesenian rakyat dalam Festival-festival Kesenian Rakyat Internasional, mengirimkan misi kesenian Tim Cakenjring ke Republik Ceko untuk mengikuti Mezinarodni Folklorni Festival, dimana Tim Cakenjring dalam festival tersebut menyabet gelar The Best Performance.
Pada bulan Desember 2007, kembali Tim Cakenjring bertolak ke Malaysia untuk mengikuti Word Drum Festival Chapter 1 di Kualalumpur, dan mendapatkan gelar tim terfavorit.
Enggar & Associates, kembali akan mengajak Tim Cakenjring DKKB untuk memenuhi undangan Walikota Lampang City, Thailand dalam rangka “Songkran Festival” yang diadakan pada tanggal 10 s.d 16 April 2008. *note: belum dapat reportasenya*
Dalam rangka Hari Jadi Banyumas ke 426 tahun 2008, Disparbud Kabupaten Banyumas melalui Bidang Kesenian bekerja sama dengan DKKB telah menggelar Cakenrjing Kolosal (kalau saat ke Republik Ceko Tim Cakenjring Formasi 17, sedangkan ke Malaysia Cakenjring Formasi 10) dengan formasi:
· Pemain Calung dan Tari sejumlah 114 personel adalah siswa-siswi SMKI “Sendang Mas” Banyumas
· Pemain Kenthong sejumlah 90 personel dari warga Bobosan Purwokerto Utara dan sekitarnya.
· Pemain Genjring sejumlah 40 personel dari Ajibarang dan 440 personel dari Plana Somagede Banyumas.
Menurut project officcer Yusmanto, S.Sen, Kabid. Kesenian Disparbud Kabupaten Banyumas, Cakenjring Kolosal tersebut digelar pada tanggal 6 April 2008 yang lalu mulai pukul 09.00 di Alun-alun Purwokerto. Dalam kesempatan gelar kolosal tersebut Cakenjring Formasi Kolosal ini telah menyuguhkan repertoarnya, diantaranya:
· Jinggel Cakenjring karya Sungging Suharto
· Tunggak Jati mati karya Yusmanto, S. Sen
· Bukak Kusan (repertoar yang pernah dibawakan di Republik Ceko dan Malaysia)
Harapan Bambang Set Ketua Umum DKKB, dengan adanya gelar kolosal ini masyarakat dapat melihat, menikmati dan menjadi pemerhati serta diharapkan masyarakat memberikan respon posistif dengan memberikan masukan-masukan terutama pada kesenian Cakenjring ke depannya sehingga bisa menjadi ikon kesenian Banyumasan. (sonny haye, dkkb)
Sumber: www.banyumaskab.go.id dan DKKB
Kamis, 08 Oktober 2009
Seliring Genting, Potret Dolanan Tradisional yang Dimakan Zaman
KOMPAS.com - Sepuluh penari cilik itu bersiap di panggung sederhana beratap ilalang di Desa Plana, Kecamatan Somagede, Banyumas. Mereka bersiap memainkan dolanan tradisional Banyumas, seliring genting dalam bentuk sendratari. Satu penari berdiri terpisah menghadap ke sembilan penari lainnya, yang membentuk formasi rangkaian membujur ke belakang dengan memegang pinggang kawan di depannya, mirip formasi permainan ular-ularan.
Penari yang menghadapi ke sembilan rekannya berperan sebagai Maling Aguna, si pencuri baik hati, sedangkan penari terdepan di formasi ular-ularan berperan sebagai Nini Nini, atau nenek penunggu bulan. Tak berapa lama, dialog pun terjadi di antara mereka dalam bahasa Banyumas.
Maling Aguna: Nini nini sing tunggu wulan, inyong njaluk genine
Nini: Diwadahi opo?opo ora kepanasen?
Maling Aguna: inyong njaluk pitik trondol
Nini: nggo apa?
Maling Aguna: nggo cempal
Nini: ora ulih
Maling Aguna: nggon ora ulih tak pleter kucing
Niat Maling Aguna hanya satu, yakni meminta api kepada Nini. Untuk dapat membawa api, sang maling harus merebut dulu pitik trondol, atau ayam . Dalam formasi ular-ularan itu, si pitik berada di ujung belakang. Permintaan maling ternyata ditolak Nini. Mendengar penolakan itu, maling pun mengejar pitik. Sekuat tenaga, Nini dan tujuh orang yang berada di be lakangnya melindungi pitik.
Sambil kejar-kejaran, anak-anak tersebut menyanyikan tembang berbahasa Jawa kuno, yang merupakan tembang khas dolanan ini. Tembang itu mengalun riuh bersamaan tawa di di antara mereka. Salah satu lirik tembang tersebut antara lain: Seliring genting, rangu-rangu bang sikatan, sikatane gawe rutuh, rutuh-rutuh bedhil gede, onek kena sanggul bale. Dorrr...
Itulah sepenggal pertunjukan dolanan tradisional Banyumas, Seliring Genting yang digelar di Padepokan Seni Banyubiru, Plana, Somagede, Banyumas, pekan lalu. Dolanan tersebut ditampilkan dengan tarian lengger dan musik calung.
Seliring genting adalah satu dari puluhan ragam dolanan anak di Banyumas yang pernah ada. Seni ini diperkirakan sudah ada jauh sebelum pengaruh Mataram Islam dan Pajajaran masuk ke wilayah ini. Penggunaan tembang bahasa Jawa kuno adalah salah satu hal yang mendukung perkiraan tersebut.
Biasanya, dolanan ini dilakukan saat bulan purnama tiba. Saat mana anak-anak dapat berkumpul di halaman luas untuk gojekan (bercanda ria) dan bermain. Saat yang selalu ditunggu masyarakat pedesaan yang agraris karena nini wulan, nenek penunggu rembulan, datang serta memberikan harapan baru bagi kehidupan esok hari.
Namun demikian, kini keberadaan dolanan ini dalam kehidupan praksis telah hilang. Nyaris tak ada lagi anak-anak di wilayah Banyumas dan sekitarnya yang memainkan jenis permainan tradisional ini.
Seperti halnya budaya tradisional lainnya, dolanan anak seperti seliring genting ini sudah diterjang oleh riuh rendahnya budaya pop yang hadir hingga ke relung desa. Jangankan memainkannya, mungkin mendengar nama dolanan ini saja anak-anak di Banyumas zaman sekarang tak pernah lagi, tutur pembina Padepokan Seni Banyubiru, Yusmanto.
Keprihatinan ini yang mendorong Yusmanto menggelar pertunjukan dolanan yang nyaris punah tersebut. Bukan hanya seliring genting, pekan lalu, padepokan yang terletak di antara Kali Serayu dan di lereng pegunungan Kendheng Selatan ini juga menggelar puluhan dolanan anak yang pernah ada di Banyumas.
"Tujuan kami menampilkan seni dolanan tradisional ini selain sekadar melestarikan juga untuk mendokumentasikan bahwa seni ini adalah milik kita. Seni komunal Banyumas. Sebagai pecinta budaya tradisional, tentu kami juga khawatir dengan apa yang terjadi dengan beberapa budaya kita yang diklain negara lain," papar Yusmanto.
Banyumas memang kaya akan dolanan tradisional semacam ini. Hal tersebut tak terlepas dari tiga faktor, yakni budaya lokal yang eksis, pengaruh Jawa, dan pengaruh Sunda. Tak heran, banyak dolanan tradisional khas Banyumas yang mirip dolanan khas Jawa maupun Sunda, sebagi contoh adalah benthik dan ujungan.
Budaya televisi
Budayawan Banyumas, Saeran Samsidi, mengungkapkan, dolanan khas banyumasan seperti siguk, andul kopet (mande), dir-diran lewok, poces, thomprang, ganden, umbul wayang, sangkutawar kini tidak lagi akrab di telinga anak-anak zaman sekarang di daerah ini.
Bahkan, dolanan tradisional yang bersifat umum, seperti benthik, mel-melan, gobak sodor, dan dolanan ketangkasan lainnya sangat jarang dimainkan anak-anak di sini.
Dolanan banyumasan banyak yang disertai ungkapan-ungkapan khas dan tembang-tembang, serta tarian. Dalam masyarakat umum, dolanan ini sudah tidak ada lagi. Kalau benthik, atau gobak sodor mungkin masih ada, tetapi sangat ja rang. Semuanya terlupakan karena pengaruh televisi dan modernisme, Saeran.
Keberadaan dolanan tradisional itu kini tinggal sebatas pementasan di festival dan pertunjukan seni tradisional. Sejumlah sekolah ada yang berinisiatif memasukkan dolanan anak ini dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti di SD Negeri III Notog, Banyumas. Terakhir, pementasan dolanan anak itu di lokakarya Budaya Banyumas di Universitas Muhammadiyah Purwokerto awal Maret 2009.
Terkait dengan punahnya dolanan tradisional itu, sejak tahun 2008 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyumas membuat buku tentang dolanan anak. Buku tersebut berisi berbagai jenis dolanan Banyumas beserta tembang-tembangnya.
Sayangnya, tak ada program berikutnya untuk lebih jauh memperkenalkan budaya ini kepada masyarakat setelah buku itu ada. Hak cipta atas dolanan tersebut pun tak pernah diupayakan.
Namun demikian, sejumlah pegiat seni tak kehilangan semangat dengan minimnya dukungan pemerintah itu. Mereka sadar, menggelar pertunjukan dolanan anak sebagai mana adanya tak akan menarik minat masyarakat untuk menonton. Langkah kreatif pun mereka tempuh dengan memadupadankan dolanan dengan seni tari lengger, ebeg, musik calung, dan teater tradisional.
Langkah tersebut memang cukup efektif memperkenalkan kembali budaya warisan yang nyaris hilang itu. Namun, sampai kapan kekuatan swadaya itu mampu bertahan di tengah desakan kapitalisme dan kehidupan yang serba pragmatis? Bila tak segera ada langkah nyata, bukan tak mungkin dolanan semacam seliring genting tiba-tiba muncul di situs resmi pemerintah negara tetangga. (M Burhanudin)