Jumat, 12 November 2010

Ahmad Tohari : "GusDur Sare Ning Lemah" Mengambil Pelajaran Dari Perilaku Gus Dur


Susanto-Karanglewas

100 Hari lebih Abdurahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur meninggalkan kita semua. Namun pembicaraan, cerita, kenangan tentangnya masih hangat terdengar di telinga kita. Berbagai buku yang mengulas tentang keseharian, sikap dan pemikiran Mantan Presiden RI ke-4 ini bertebaran mengisi rak-rak buku di toko-toko buku. Semasa hidup tokoh yang pernah menjadi pucuk pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini, sikap, pemikiran dan tindakannya selalu mengundang pro dan kontra berbagai pihak. Setelah wafatnyapun jasa-jasanya masih dikenang, sampai-sampai gelar pahlawanpun mencoba diusulkan oleh berbagai pihak kepada pemerintah. Sepeninggal GusDur, orang-orang yang semasa hidupnya dekat dengan cucu Hadrotusyaikh Hasyim As'ari ini selalu diundang di berbagai diskusi, refleksi, do'a bersama mengenang Gus Dur. Sahabat dekat Gus Dur yang juga budayawan asal Banyumas salah satunya adalah Ahmad Tohari.

Memperingati 100 hari GusDur di Balai Desa Jipang Kecamatan Karanglewas yang dihadiri oleh ribuan jam'iyah Nahdlatul Ulama beberapa waktu lalu, Ahmad Tohari menceritakan sekelumit perngalamannya sewaktu dengan Gus Dur. Pengalaman Kang Tohari begitu ia lebih senang disapa berawal ketika ia menjadi salah satu redaktur di salah satu majalah di Jakarta yaitu sekitar tahun 1981 silam. Ketika itu GusDur masih duduk di pucuk pimpinan di struktural PBNU pusat.

Pengalaman pengarang Novel Ronggeng Dukuh Paruk ketika berhubungan dengan Gus Dur antara lain ketika suatu hari Gus Dur yang singgah menginap di rumahnya. Sewaktu menginap itulah berbagai perilaku Gus Dur yang waktu itu menjadi pembesar NU dan orang yang ditakuti oleh Orde Baru menjadi pelajaran bagi Ahmad Tohari dan keluarganya. Memang banyak yang tidak bisa diterka dari perilaku GusDur ketika menginap di rumah Ahmad Tohari.

"Saya masih ingat kata para Kyai, kalau "polah tingkahe wong sing sugih ilmu kuwe dadi pelajaran". Yah itulah ketika Gus Dur menginap di rumah saya. Waktu itu sudah saya sediakan kamar yang terbaik untuk Gus Dur. Ee....ternyata Gus Dur malah meminta saya karpet dan ternyata "GusDur sare ning lemah" hanya berlandaskan karpet waktu itu. Padahal siapapun tahu kalau waktu itu GusDur dengan pengaruhnya adalah orang yang ditakuti oleh Orde Baru waktu itu" cerita Ahmad Tohari menjelaskan.

Pelajaran spiritual dan sosiologis yang dapat ditarik dari GusDur yang tidur di tanah hanya berlandaskan karpet lanjut Ahmad Tohari ialah "dadi wong kuwe aja merasa diri mulia di hadapan orang lain". Ketika seseorang sudah merasa mulia dibandingkan dengan orang lain maka yang terjadi ialah seseorang tersebut akan menjadi susah untuk bersilaturahmi atau membangun hubungan baik bagi sesamanya. Sikap humanisme dan egalitarian yang dicontohkan Gus Dur inilah yang memudahkan putra Wahid Hasyim ini dapat menjalin hubungan dengan berbagai kalangan tanpa memdedakan SARA.

"GusDur tidur di karpet itu saya tafsirkan kalau Gus Dur itu konsisten dengan Syahadatnya. Analoginya yaitu ketika Umar Bin Khotob yang sewaktu menjadi amirul mukminin waktu itu rela berkeliling memanggul gandum untuk diberikan kepada janda yang sedang kelaparan. Yang sering tidak kita tanyakan adalah landasan moral kenapa Umar yang seorang amirul mukminin rela berbuat seperti itu. Dari situ kita bisa mengambil pelajaran bahwa Umar yang seorang amirul mukminin tidak merasa lebih mulia dibandingkan dengan si janda yang keluarganya kelaparan tersebut. Sikap Gus Dur yang tidak merasa mulia di hadapan siapapun tersebut memang patut ditiru. Jika orang sudah merasa dirinya mulia di hadapan orang lain itu sudah mulai menjadi penyakit yang mengotori Syahadatnya" jelas Kang Tohari mulai menguraikan tafsir-tafsirnya terhadap perilaku Gus Dur.

Ahmad Tohari menekankan bahwa sikap merasa penting dan mulia di hadapan orang lain memang bisa membatasi seseorang untuk bisa menjalin relasi dan komunikasi dengan orang lain. Sikap merasa penting di hadapan orang lain mengakibatkan silaturahmi seseorang menjadi terganggu dan sangat membahayakan bagi syahadat yang telah diikrarkan oleh setiap muslim. Padahal syahadat memang bukan hanya diikrarkan lewat lisan dan diyakini dengan hati. Namun syahadat memang juga harus diimplementasikan lewat perilaku sehari-hari. Tindakan Gus Dur yang tidur seadanya di atas karpet juga menunjukkan kalau GusDur juga tidak mementingkan kepentingannya diri sendiri. Gus Dur bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi dimanapun dan kapanpun.

Kekonsistenan GusDur dalam menjaga dan mengimplentasikan syahadat dalam kehidupan sehari-hari merupakan bukti Gus Dur menunjukan Islam sebagai agama yang diturunkan sebagai penyempurna akhlak di dunia. Dengan merangkul berbagai kalangan tanpa memperhatikan suku agama ras dan antar golongan Gus Dur menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Selain tidak merasa dirinya mulia di hadapan orang lain Ahmad Tohari juga menekankan bahwa Gus Dur juga tidak merasa dirinya di hadapan orang lain. Hal ni dibuktikan dengan sikapnya yang berani berhubungan, mengkritik, memberi masukan dengan siapapun 'tanpa tedheng aling-aling'. Tidak mengherankan bahwa jika dalam sikap hidupnya selain mengundang pro dari salah satu kalangan, juga tidak jarang dapat mengundang kontra dari berbagai pihak dari orang lain. Sebagai contoh sikap GusDur yang menjalin kerjasama dengan negara Yahudi Israel yang notabene selama ini menjadi musuh 'umat Islam'. Waktu itu ia menghadiri konferensi agama-agama se dunia.
Ahmad Toharipun merasa prihatin kalau sekarang ini jarang pemimpin yang mewarisi sikap-sikap Gus Dur dalam kepemimpinannya. Iapun berharap kalau generasi-generasi sekarang dapat kembali sikap-sikap GusDur. Terlepas dari kelebihannya, sebagai manusia GusDur juga tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan. Sebagai pemimpin Gus Dur patut ditiru lewat sikapnya yang santun dan sederhana dalam menanggapi segala persoalan yang dihadapi bangsanya. Walaupun terkadang sikap dan pemikirannya memang sulit ditafsirkan namun ternyata secara empiris ternyata banyak sikap dan pernyataan Gus Dur yang terjadi dan terbukti kebenarannya.

"GusDur rawuh Senen sore terus kondur Rebo. Dan yang menjadi perhatian saya ialah sewaktu berangkat sampai pulang Gus Dur tetap memakai baju yang sama. Baju lengan batik yang sama. Ini menunjukkan Gus Dur sikap hidup yang sederhana" cerita Ahmad Tohari menuturkan. Waktu itupun GusDur yang notabene berada di pucuk pimpinan PBNU pusat ia hanya menggunakan mobil Espas. Berbeda dengan fenomena sekarang, di mana banyak kyai-kyai yang menggunakan mobil mewah. Berbeda dengan pemimipin-pemimpin sekarang, Gus Dur memang risih dengan hal-hal yang berbau mewah. Seperti terlihat di Muktamar NU beberapa waktu banyak sekali mobil mewah yang dipergunakan oleh para pemimpin-pemimpin agama dan negara. Sementara di sisi lain, madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah di desa kondisinya banyak yang rusak dan memprihatinkan.*

Tiga Kata dengan Tiga Titik di Belakangnya

pada 11 Oktober 2010 jam 20:16

Nit nit..nit nit...ponselku berbunyi dengan getar mengirinya. Sambil mengucek mata, kubuka tanda bintang untuk bisa membaca pesan singkat yang meluncur itu. 'Shlt mlm Mz...tiga kata dengan tiga titik di belakangnya. Di bawah pesan itu kulihat jelas sederet nomor ponsel. Entahlah, kenapa aku harus tak menuliskan namanya. Itu rahasiaku dengan diriku sendiri, tak terkecuali dengan dia yang tak kusebut namanya. Sang waktupun baru menunjukkan pukul 03.04 WIB.

Membaca pesan singkat itu, entah kenapa seperti ada semangat yang membangunkanku. Tiga kata itu seolah menjadi pelecut bagi kemalasanku selama ini. Entah nanti. Mendapatkan pesan singkat itu, aku langsung kembali ke masa setahun yang lalu. Tiap lima waktu ada saja pesan singkat yang dikirimkan oleh seseorang untukku. Mengingatkanku untuk bangun di subuh hari. Bedanya, pengirim pesan itu sudah jelas kutuliskan namanya. Namun itu sudah setahun yang lalu, bahkan sudah menjadi masa lalu. Dan kini aku mengalaminya lagi.

Kokok ayam terus saja berbunyi. Beranjak dari kursi panjang tempat tidurku, akupun membalas pesan itu. Spontan kutulis 'ya wis kita sholat bareng aja, ta' imami dari sini" balasku singkat. Aku dan dia di tempat berbeda, 15 KM jarak yang memisahkan kami. Usai bangun aku seperti kembali kembali ke masa lalu, kembali mengambil air suci di tengah dinginnya dini hari. Tak ada beban sepertinya, seperti ada yang tengah memperhatikanku. Tapi pikirku bukanlah Rakib Atid di kanan kiri pundakku. Entahlah apa yang menyebabkan aku mau menyentuh air dini hari tadi.

Sarung, kemeja, peci telah rapi melekat di badanku. Akupun kembali menjalankan ritual sebagaimana di masa lalu aku pernah melaksanakannya. Telah lama ku tak menyentuh sajadah itu. Padahal sudah sering terlihat terhampar seperti menanti sujudku. Tapi dengan berbagai alasan dan kemalasan nanti sering aku melewatkannya. Tapi tidak untuk saat ini usai pesan singkat tiga kata dengan tiga titik di belakangnya itu muncul.

Kusadari bahwa memang bukan karena pesan itu. Mungkin inilah keajaiban Tuhan atau kebenaran Tuhan. Antara khauf dan roja' kepada sesama makhluk, manusia malah lebih tunduk kepada sesamanya. Pesan singkat itu kupandang sebagai mediasi Sang Pencipta Cinta mengantarkan simpul-simpul kepada hambaNya. Naluri lelaki yang mempunyai cemas dan harap kepada perempuan ataupun sebaliknya mungkin sengaja diciptakan oleh Tuhan untuk manusia.

Di sepertiga malam terakhir itu, aku coba kembali merenungi diri sebagai salah satu makhluk kerdil di tengah hamparan bumi yang luas ini. Kubayangkan di tengah sepi, aku duduk di tengah hampaan langit hitam dengan kerlip bintang i atas sana. Rasa ini sudah lama tak kurasakan. Semua hampir habis dengan lahapan-lahapan dunia yang tiada pasti isinya. Fuuuuuh..ku hela nafas panjang usai memanjatkan do'a. Kubaca doa demi doa, yang menjadi rahasiaku kepadaNya. Tiap doa adalah proposal yang akan berlomba dengan proposal lain untuk mendapatkan ACC sang pengabul doa. Terlintas, di benakku begitu dahsyat efek tiga kata dengan tiga titik di belakangnya itu membuat aku tersungkur bersujud ke dalam sajadah yang tiap kali digunakan sujud ibuku.

Akupun harus jujur pada diriku sendiri, entah benar atau tidak. Rupanya telah terjadi sesuatu antara aku dengan pengirim pesan singkat itu. Entah rasa ataupun apa. Bagiku ini adalah anugrah yang tak bisa ditawar-tawar apalagi dibuang. Terlepas dari semuanya, aku hanya ingin jujur pada diriku dan pemilik sederet nomor dan sengaja tak kutulis namanya bahwa ada rasa yang berbeda dengan rasa yang sebelumnya. Naif memang sepertinya, tapi ini nyata.

Corong-corong masjid itu berlomba menyuarakan panggilan subuh. Akupun akhirnya mengetik pesan balasan singkat untuk sederet nomor itu. Mendeskripsikan perasaan ataupun mungkin penafsiran perasaan bahkan ketergesaan dengan sepotong pesan singkat. Aku sadar ketika kukirim pesan itu berbagai konsekuwensi akan menunggu di belakangnya. Tapi subuh hari telah tiba, dan kita harus menjalankan rutinitas seperti semula. Tinggal waktu nanti yang menentukan kelanjutan kisah itu seperti apa. Waktulah yang akan menunjukkan apa ada kelanjutan tiga kata dengan tiga titik di belakang berikutnya atau tidak...

Tapi tak kupungkiri akhir-akhir ini aku tengah butuh tiga kata dengan tiga titik di belakangnya. Karena tiga kata dengan tiga titik di belakangnya bukanlah sekedar kata semata..tapi ada serentetan kisah panjang yang bisa saja tengah mungkin menguntit di belakangnya..atau penilaianku salah tiga kata dengan tiga titik di belakangnya itu hanya sebuah pesan singkat dan hanya terluncur sekali saja di dini hari buta ketika seorang pemalas tak sengaja bangun dari tidurnya..entahlah......

11 Oktober 2010 07.30

tulisan ini untuk pengirim pesan singkat tiga kata dengan tiga titik di belakangnya

dan untuk teman-temanku yang tngah menderita Penyakit gila no.20 karena Cinta...


16 Oktober 2010

Tergop0h-gopoh aku mengirim berita untuk harian lokal tempat setahun lebih aku bekerja. sampai dengan jam 9 aku mendekam di bilik warnet untuk mencari sebuah foto...entah karena apa, ada untuk membuat sebuah sketsa tentang wajah seorang setahun sudah tak ada perasaan apa-apa hingga menjadi ada apa-apa...

Dimulai dari pukul 21.00 hingga 00.01 akhirnya kusudahi pula proses menuangkan serbuk-serbuk pensil 2B yang telah lama tak kujamah. Beruntung beberapa saat lalu telah kubeli satu rim kertas kwarto untuk lamaran dan portofolio untuk lamaran itu. Akhirnya jam 1 kuputuskan untuk merebahkan tubuh, menelan gundah, memaksa sudah...

17 Oktober 2010

Pagi, aku kembali dipusingkan memilih bingkai untuk goresan tiga jam semalam. bersama rekan seprofesi aku mencoba mencari bingkai untuk itu, kuselipkan kertas setengah halaman itu di sebuah buku novel itu. Kucari-cari dengan segala keterbatasan waktu dan deadline waktu untuk liputan akhirnya dapat juga sebuah bingkai selebar setengah buku besar, tepatnya sebesar buku novel. Dibungkuskan oleh pelayan, tepatnya pramuniaga. Kni gambarmu ada di bingkai itu.

Siang itu ku bungkus gambar beserta novel itu dengan koran saja. Sederhana saja, karena aku ingin mencintaimu dengan sderhana (meminjam puisi SPA), seperti kata yang tak bisa disampaikan olehku kepadamu.setidaknya dengan sebuah goresan tiga jam apapun hasilnya itu...

sebentar saja aku ke rumahmu dan menyerahkan itu....



Senin, 13 September 2010

Terpengaruh Ajaran Tarekat Satariyah Sosialisasi Nilai Keberagamaan Pengikut Aboge Dilaksanakan Bertahap

BANYUMAS-Ada fenomena menarik ketika melihat perayaan lebaran pengikut Aboge di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Sabtu (11/9) lalu. Di tengah ratusan jamaah sholat Idul Fitri, ternyata diperkirakan separuh dari pengikut Aboge yang ada adalah generasi muda. Tak mengherankan kalau Desa Cikakak masih terkenal sebagai basis pengikut Aboge di Banyumas.

Walaupun telah memasuki dunia pendidikan formal dan lingkungan kehidupan modern yang sarat akan pengetahuan dan teknologi, ternyata sebagian generasi muda Desa Cikakak masih teguh mengikuti lebaran versi perhitungan Aboge. Padahal dibandingkan dengan generasi muda muslim secara umum, mereka akan menjadi sangat berbeda dan menjadi minoritas. Pasalnya mereka merayakan lebaran lebih akhir dibandingkan dengan lebaran yang ditetapkan oleh pemerintah.

Jono (21) pemuda asal Desa Cikakak, yang sudah tiga tahun merantau di Jakarta, tiap tahun harus bisa pulang mudik untuk berlebaran di kampung halamannya. Mengerjakan sholat Idul Fitri sesuai dengan perhitungan Aboge seperti sudah menjadi hal yang wajib baginya. Untuk itulah dengan berbagai cara, iapun harus bisa pulang dan lebaran di tiap tahunnya.

"Walaupun di sana (Jakarta) ada sholat Idul Fitri tapi itu kan berbeda. Tidak seperti di sini, menggunakan perhitungan Aboge. Jadi mau tidak mau saya harus pulang untuk bisa berlebaran dengan saudara-saudara kita di desa. Karena memang perhitungan Aboge di sini sudah turun temurun seperti ini. Makanya kita sudah seharusnya menjaga tradisi leluhur ini" ungkap Jono kemarin (11/9).

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Wahyu (16). Meskipun sebagian besar teman-temannya di sekolah merayakan lebaran hari Jumat, ia mengaku tidak masalah. Bahkan karena mengikuti perhitungan Aboge, di saat teman-temannya lebaran ia masih merampungkan ibadah puasa hari terakhirnya.

"Saya puasa lebih akhir dan lebaran lebih akhir. Teman-teman saya di sekolah juga tahu itu. Tapi tidak masalah, karena memang di sini sejak dulu seperti itu. Kita ikuti saja kebiasaan di sini, apalagi perhitungan Aboge ini konon warisan dari Mbah Toleh yang mendirikan Masjid Saka Tunggal di sini" ujar siswa SMK di Purwokerto ini. Menurut perhitungan Aboge, di Tahun Dal ini, puasa sebulan penuh kemarin dilaksanakan mulai hari Kamis Pahing karena berpedoman pada Sanemro (Puasa Enem Loro) atau jatuh pada hari ke-6 dan pasaran ke-2 dari Sabtu Legi (Manis).

Walaupun mengikuti lebaran menggunakan versi perhitungan Aboge namun ternyata kebanyakan generasi muda pengikut Aboge di Desa Cikakak belum sepenuhnya mengetahui secara pasti sejarah, asal usul dan perhitungan Aboge mereka. Mereka lebih banyak menurut dan taat dengan petunjuk orang tua dan sesepuh masyarakat setempat. Hal ini dikarenakan bahwa sosialisasi nilai-nilai beragama bagi generasi muda pengikut Aboge dilaksanakan melalui tingkatan atau tahapan.

Sulam, tokoh pengikut Aboge di Cikakak menyatakan bahwa sosialisasi nilai-nilai dan perhitungan Aboge ini di Cikakak ini memang dilaksanakan secara bertahap kepada generasi penerusnya. Namun untuk mempelajari berbagai inti hakikat beragama memang diberlakukan sejumlah syarat dan tahapan kepada para generasi penerusnya.

"Mereka akan dikasih tahu tentang hakikat beragama ini secara bertahap termasuk juga perhitungan Aboge ini. Mereka yang bisa mempelajari adalah mereka yang biasanya telah berkeluarga. Karena mereka yang masih muda apalagi masih sekolah biasanya belum bisa mengikuti secara penuh" ungkap Sulam usai melaksanakan ibadah Idul Fitri kemarin.

Tahapan dan persyaratan pembelajaran pendidikan akidah Islam yang diterapkan untuk generasi penerus pengikut Aboge setempat ini memang tidak lepas dari pengaruh ajaran tarekat Satariyah yang diikuti oleh sebagian pengikut Aboge. Sebagai pengikut tarekat memang tidak semua hal bisa dibicarakan dan diajarkan secara terbuka kepada masyarakat umum. Pembelajaran dan sosialisasi nilai akidah agama ini biasanya dilakukan secara eksklusif di kalangan para pengikut tarekat bersama gurunya yang disebut sebagai 'mursyid'. Selain kepada orang tua, para murid punya kewajiban untuk berbakti, taat dan 'takdim' kepada gurunya.

Melalui tradisi keberagamaan yang terpengaruh tarekat atau tasawuf inilah, para pengikut Aboge melaksanakan keberagamaannya. Merekapun bersikap dan bersifat toleran dengan kondisi di sekitarnya. Tak mengherankan dalam keberagamaan dan kesehariannya para pengikut Aboge ini sangat kental dengan pola akulturasi Islam dan kejawen. Penghormatan terhadap arwah leluhurpun merupakan tradisi yang tak dapat ditinggalkan oleh mereka. Pola keberagamaan ini terjadi mayoritas pada pengikut Aboge di Banyumas baik itu di desa-desa, pengikut Bonokeling yang menggelar Perlon Unggah-unggahan di Bulan Sadran dan pengikut Aboge Cikakak yang menggelar Jaro Rojab dan ziarah kubur tiap Senin dan Kamis.(san)

Sabtu Pahing, Pengikut Aboge Lebaran

BANYUMAS-Meski pemerintah lewat Kementrian Agama telah menetapkan bahwa Hari Raya Lebaran jatuh hari Jumat (10/9), namun ribuan pengikut Aboge di Kabupaten Banyumas tetap kukuh melaksanakan ibadah Idul Fitri, Sabtu (11/9). Berdasarkan perhitungan Aboge yang mereka yakini, 1 Syawal 1431 Hijriyah jatuh pada hari Sabtu Pahing kemarin.

Di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon seikitnya 500 orang pengikut Aboge terdiri dari orang dewasa dan generasi muda terlihat khusyuk melaksanakan sholat Idul Fitri di area Masjid Saka Tunggal Baitussalam. Bahkan karena ruangan masjid penuh, separuh lebih Pengikut Aboge melaksanakan sholat di halaman depan dan samping masjid yang disebut-sebut masjid tertua di Jawa Tengah tersebut.

Berpakaian jubah putih dengan 'iket wulung' di kepala, Eyang Sopani, sesepuh Pengikut Aboge setempat memimpin sholat Idul Fitri sekitar pukul 06.30 WIB. Usai sholat dilaksanakan, khutbahpun dilaksanakan. Berbusana serupa seperti Eyang Sopani, Sulam bertindak membacakan khutbah Idul Fitri. Seluruh isi khutbah dibacakan menggunakan Bahasa Arab dan tanpa pengeras suara. Dalam mimbar yang tertutup tirai kain, Sulam membacakan khutbah pertama Idul Fitri. Namun saat pembacaan khutbah kedua hingga selesai, mimbar khutbah dibuka.

Usai pelaksanaan ibadah Idul Fitri, jamaah melaksanakan pembacaan takbir, ratib, tahlil dan sholawat bersama-sama. Suara beduk dan terbang mengiringi prosesi itu. Setelah berdoa bersama-sama, prosesi silaturahmipun dilaksanakan. Jamaah yang semula berada di dalam masjid kemudian mencair dan melebur dengan warga yang berdatangan ke area kompleks Masjid Saka Tunggal. Membentuk barisan yang panjang mengelilingi area kompleks masjid, merekapun akhirnya saling berjabat tangan untuk saling memaafkan. Usai prosesi silaturahmi, sebagian pengikut Aboge mengadakan acara kenduri slametan di dalam masjid. Usai didoakan, merekapun bersama menyantap makanan yang dibawa menggunakan 'tenong' dan rantang.

"Kita sudah turun temurun melaksanakan lebaran menurut perhitungan Aboge ini. Semua ini merupakan warisan dari Mbah Toleh yang dulu mbangun masjid ini. Kalau lebaran tahun ini jatuh pada hari Sabtu Pahing ini" ungkap Sulam di sela kesibukan silaturahmi kemarin (11/9).

Sesuai dengan perhitungan Aboge, tahun ini merupakan tahun Dal. Sementara untuk pedoman awal tahun Dal adalah Daltugi atau 1 Muharam jatuh pada Sabtu Legi. Pedoman untuk menentukan 1 Syawal, adalah Waljiro- 'Syawal Siji Loro' atau Syawal jatuh pada hari 'siji' (pertama) dari hari Sabtu dan pasaran 'loro' (kedua) dari pasaran Legi maka 1 Syawal Tahun Dal akan jatuh pada hari Sabtu Pahing.

Diketahui bahwa dalam Perhitungan Aboge dikenal siklus delapan tahunan (satu windu) yang masing-masing tahun terkenal dengan tahun Kuruf (Asal dari Bahasa Arab: Huruf). Tahun Kuruf terdiri dari Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir.

Selain di kompleks Masjid Saka Tunggal, pada hari yang sama pengikut Aboge di Desa Kracak, Cibangkong, Tambaknegara, Petahunan, Semedo, dan "Pengikut Bonokeling" Pekuncen juga merayakan Idul Fitri. Dari sejumlah tetua pengikut Aboge yang ditemui Radarmas di lapangan menyebutkan kesamaan rumus yang dipakai dalam menentukan tanggal, bulan dan tahun Jawa Hijriyah. Selain itu, walaupun ada yang menyebut bahwa perhitungan Aboge ini ditetapkan secara formal oleh Sultan Agung sejak abad 17 Masehi namun sejumlah pengikut Aboge menyatakan bahwa perhitungan Aboge ini telah ada sejak abad 14-15 Masehi yang disebarkan oleh sejumlah wali dan pengikutnya di daerah Banyumas.

"Turun temurun telah seperti ini dan pantang kami mengubahnya. Selama kita masih hidup kita akan terus mempertahankan perhitungan warisan leluhur dan para wali ini. Dalam perhitungan Aboge ini kita bisa menghitung secara cepat dan tepat pada hari dan pasaran apa, lebaran satu windu ke depan sekalipun" ungkap Santibi (65), tetua pengikut Aboge di Desa Cibangkong Kecamatan Pekuncen.(susanto-Wangon)

Senin, 02 Agustus 2010

kesembadan

alhamdulillah.lagi wis pirang dina kepengin mangan jengkol nemen. golet ning warung ora ana bae.jebule bareng digolet, ning wit jengkol nduwur umah esih ana lima mata jengkol nyempil.akhire nganggo gantar karo arit, jengkol mau dipet.

Biyungku sing eman.ning ngisor wit nuturna jengkol sing lagi dadi kelangenanku.Jian bareng wis mudun sekang menek. atiku langsung marem. mlebu ngumah, golet ciri lemah karo muthu. golet lombok ijo karo brambang go dikumbah. karo sepucuk sendok uyah thok, lombok karo brambang kuwe tek gerus dadi sambel...

Sambel smentlep, jere batirku Mahbub sing ora doyan pedhes nyebut jeneng sambel ng umahku. jengkol kulite wis dibuang deng biyungku. baru kuwe aku nyidhuk sega ning panci mejikjer. soale wis pirang wulan kiye biyungku seringe nganggo listrik olih ngesap sega. tapi sering juga nganggo cething.

Sepiring mlengkan aku madhang.tapi limang mata jengkol mung dipangan loro thok.sing telu tek pendhem kon dari beweh.jian...rasane nikmat nemen mangan jengkol karo sambel tlenjeng. pokoke puas bisa madhang wareg kepedhesen ngasi ndhase kemringet gatel....fuh.,..

2 aGUSTUS 2010

Sepenggal waktu yang terabadikan

kiriman foto dari slamet..alias papa ivan.suatu ketika masih SMA sewaktu masih gagah-gagahnya jadi dewan ambalan gatsu (gatot subroto) tapi di foto cuma ada satu cut nyak dien..itupun tak lengkap gambarnya..

wah...akujadi pengin lihat lagi foto-fot yang lainnya. lagi...foto di masa SMA...
tinggal menunggu waktu.foto inipun akan jadi kenangan.suatu ketika.foto mengabadikan waktu yg tak abadi.walaupun benda mati tapi ia hidup ketika ditafsirkan.

Selasa, 18 Mei 2010

Dokar Ajibarang Tinggal Delapan

Bertahan Di Tengah Persaingan Transportasi Modern

Melihat Eksistensi Penarik Dokar Ajibarang

Susanto-Ajibarang

Siang itu empat orang kusir dokar itu terlihat terkantuk menunggu penumpang. Berbeda dengan tahun-tahun dulu, ramainya pasar ternyata tak menjadi jaminan bagi penarik dokar untuk mendapat banyak penumpang. Alat transportasi tradisional sejak jaman nenek moyang tersebut ternyata kini mulai semakin tersisih keberadaannya.

Salah satu kusir dokar asal Tipar Kidul, Kasid menuturkan bahwa di Pasar Ajibarang jumlah dokar yang masih beroperasi di Pasar Ajibarang kini tersisa delapan buah saja. Dari tahun ke tahun jumlah dokar semakin menurun. Penghasilan yang minim dan semakin banyaknya kendaraan bermotor membuat kendaraan tradisional ini semakin menurun jumlahnya.

"Sampai saat ini yang masih bertahan tinggal delapan dokar ini. Setiap tahun semakin berkurang jumlahnya. Mungkin karena penghasilan narik dokar memang tak bisa ditentukan. Waktu masih jaman Pasar Ajibarang masih di sebelah utara jumlah dokar tahun 1980an mencapai 50 buah. Dulu ramai dan laris memang, mobil dan ojekpun belum banyak seperti sekarang ini" kata Kasid yang telah narik dokar di Pasar Lama Ajibarang sejak tahun 1976.

Di jaman yang serba modern ini, sebagian orang mulai berpikir tentang aspek efektifitas dan efisiensi dalam mobilitas sehari-hari. Tak mengherankan sebagian orang telah beralih menggunakan sepeda motor, atapun mobil untuk kelancaran dan kecepatan dalam beraktivitas. Sontak dokar yang nota bene ditarik dengan tenaga kuda lebih tepat dipandang sebagai alat transportasi alternatif ketika mereka sedang santai ataupun untuk mengulangi romantisme sejarah alat transportasi tradisional yang pernah berjaya di masa lalu.

Kusir dokar lain, Admo (53) mengatakan pendapatan mereka setiap harinya rata-rata Rp 25 ribu. Untuk pakan kuda membutuhkan sekitar 5 kg pakan kuda. "Sehari rata-rata kita dapat Rp 35 ribu, Rp 15 ribu kita gunakan untuk membeli dedak dan selebihnya untuk kita. Padahal untuk kalau kita narik menumpang itu tidak pasti. Kadang kala satu penumpang langsung jalan, kadangkala menunggu dokar penuh dulu sehingga ongkos bisa tidak bisa ditentukan" katanya.

Sementara harga dokar beserta kudanya minimal mencapai Rp 13 juta yang terbagi atas harga kuda Rp 8 juta dan kereta sekitar Rp 5 juta. Selain harga dokar dan kuda yang cukup mahal, perawatan terhadap dokar dan kuda inipun memang berbeda dengan perawatan kendaraan bermotor.

Hadi yang juga kusir dokar asal Cibangkong menyatakan bahwa ia harus membeli tapel kuda dan memperbaiki kereta kudanya di bengkel khusus puluhan kilometer dari Ajibarang. Mereka harus menuju ke daerah Pasir, Karanglewas. Namun kalau sedang terpaksa iapun harus bisa memasang sendiri tapel kuda pada kudanya.

"Memang butuh perawatan berbeda kalau kita punya dokar ini. Karena memang bukan benda mati. Tapi kuda itu benda hidup" jelas Hadi. Lebih lanjut Hadipun memberikan sedikit trik agar kuda yang menjadi penarik dokar tersebut bisa dapat terus dikendalikan oleh kusir. Proporsi makan kuda adalah kuncinya. Kuda menurutnya tidak boleh terlalu kenyang dan tidak boleh terlalu lapar. Ketika kuda kenyang maka tenaga kuda akan lebih besar dan itu akan sulit dikendalikan. Sebaliknya kuda juga tidak boleh kelaparan karena tenaga mereka digunakan untuk menarik kuda.


Biaya perawatan kuda dan kereta yang tidak sedikit memang cukup membuat mereka harus bisa membagi dan mencari strategi untuk mendapatkan tambahan. Salah satu upaya untuk mendapatkan penghasilan ialah dengan memanfaatkan dokar untuk penumpang di hari libur di rumahnya. Selain itu mereka juga kerap menerima pesanan penyewaan kuda ketika ada upacara 'pengantin sunat' di kampung-kampung. Namun hal itu memang tidak bisa dipastikan.

Di tengah kesulitan dan ketidakpastian penghasilan yang diperoleh dari narik dokar, delapan kusir dokar di Pasar Ajibarang ini mengaku akan terus mempertahankan dokar ini semampu mereka. Melestarikan kendaraan tradisional jaman dulu dan bangga mempunyai kendaraan tradisional ini menjadi mereka untuk bisa bertahan sampai saat ini. Entah sampai kapan mereka akan terus bertahan. Akankah akumulasi kebutuhan material akan mengikis idealisme mereka untuk mempertahankan kendaraan tunggangan para raja Jawa ini?Entahlah hanya waktu yang mampu menjawabnya.*

Ajibarang, 17 Mei 2010