Di tengah kesibukan persiapan para seniman calung dan lengger lain untuk mengikuti Festifal Lengger dan Calung di Fatmaba beberapa waktu lalu. Terdengar alunan calung sederhana dengan dua lengger dengan pakaian biasa. Mereka sedang me...ngamen di sebuah emper rumah seorang warga di tepi jalan Kracak Ajibarang.
"mengisi ruang antara ada dan tiada" tempat menuang catatan jati diri, sosial budaya, agama, keseharian lokalitas wong penginyongan.
Sabtu, 23 Januari 2010
Tak Ingin Anaknya Jadi Lengger-Menyorot Nafas Kehidupan Lengger dan Calung Keliling
Di tengah kesibukan persiapan para seniman calung dan lengger lain untuk mengikuti Festifal Lengger dan Calung di Fatmaba beberapa waktu lalu. Terdengar alunan calung sederhana dengan dua lengger dengan pakaian biasa. Mereka sedang me...ngamen di sebuah emper rumah seorang warga di tepi jalan Kracak Ajibarang.
Kamis, 21 Januari 2010
Gethek Untuk Angkutan Kayu Menilik Kerja Para Pengangkut Kayu di Sungai Tajum
AJIBARANG-Warga Duku...h Kalibeber Darmakradenan masih mempergunakan gethek atau rakit bambu sebagai sarana angkutan. Walaupun jembatan Kalibeber telah dibangun, ternyata gethek masih tetap digunakan oleh warga sekitar untuk berbagai keperluan aktifitas sehari-hari. Diantara mereka ada yang mempergunakan rakit untuk mengambil pasir, menyeberang sungai dan juga untuk mengangkut kayu.
Seperti yang dilakukan oleh Rikun (48). Ia bersama beberapa rekan kerjanya mempergunakan gethek sebagai sarana untuk mengangkut gelondong kayu. Gethek dipergunakan oleh Rikun dan kawan-kawannya untuk mengangkut kayu-kayu yang berat dari arah udik Sungai Tajum. Sedangkan untuk kayu-kayu yang ringan, mereka hanya menghanyutkannya lewat Sungai Tajum. Dengan cara seperti itu dipandang dapat meringankan pekerjaannya membawa kayu.
"Untuk kayu yang kecil dan ringan kita hanyutkan lewat sungai. Sedangkan untuk kayu yang bisa tenggelam karena besar dan berat kita pergunakan rakit ini secara bersama-sama. Memang kondisi sungai yang berliku sejak di atas sampai ke bawah sini membuat kami harus bekerja keras. Kedalaman sungai di beberapa sekitar lima tempat lubuk ada sekitar 4 meter mungkin. Terbukti galah bambu yang kami pergunakan masuk ke dalam air semua. Kita harus hati-hati ketika itu" kata Rikun menceritakan sedangkan teman-temannya yang lain sedang asyik menyantap sarapan yang dimakan sekitar pukul 11.00 siang kemarin.
Para pekerja-pekerja pengangkut kayu itu terbagi menjadi dua. Sekitar 12 orang itu terbagi menjadi dua. Beberapa diantara mereka menghadang kayu-kayu yang dihanyutkan dari sungai bagian atas sambil menunggu datangnya gethek pembawa kayu.
"Kita harus cepat-cepat mengangkut kayu-kayu itu supaya tidak hanyut ketika ada banjir di Sungai Tajum ini. Jika sudah banjir pasti kayu-kayu itu bisa terbawa arus air Sungai Tajum yang besar ini. Makanya mumpung masih terang dan belum hujan kita harus secepatnya membawa kayu-kayu ini ke darat untuk dibawa ke penggilingan kayu di perbatasan Darma-Karangbawang" kata Rikun menambahkan.
Beberapa pekerja sempat mengeluh menceritakan pekerjaannya. Ia menyatakan bahwa pekerjaan mengangkut kayu di sungai ini termasuk pekerjaan yang berat dengan resiko yang tidak ringan. Namun mereka tidak ada pilihan lain untuk mengambil pekerjaan itu, di tengah-tengah kesulitan memperoleh pekerjaan dan pendidikan yang pas-pasan dewasa ini. Tidak bisa dibayangkan ketika rakit atau gethek yang membawa kayu itu terbalik di sungai, tambahnya menceritakan.
Selama kayu belum terangkut semua maka mereka akan bolak-balik menjalankan rakitnya dengan arah hilir mudik. Mereka harus berjuang beradu kecepatan dengan tidak menentunya cuaca. Hujan yang bisa membuat Sungai Tajum banjir adalah musuh terbesar mereka ketika pekerjaan mengangkut gelondong kayu belum rampung. Dengan resiko bertaruh nyawa menyeberangi lubuk-lubuk dalam Sungai Tajum, mereka harus bolak balik membawa rakit dengan atau tanpa isi gelondong kayu. Demi terisinya perut anak isteri mereka.
Selasa, 17 November 2009
dakhirin

seorang anak seusia adikku mungkin, bergelut dengan lumpur. yang dipegangnya cemethi. bersekolah di sawah bersama kedua kerbau sang bapa. hari ini belajar 'megawe''meluku'. meratakan sawah bersama kedua pamannya.'Dakhirin' jawabnya dengan senyum sahaja ketika kutanya namanya pagi itu, ketika kusempatkan rehat sejenak di tepi jalan Rancamaya...
Sabtu, 07 November 2009
Saka Tunggal Butuh Perhatian!
WANGON-Objek wisata masjid Saka Tunggal dan Taman Kera Cikakak membutuhkan pengembangan aset wisata. Demikian diungkapkan oleh kepala Desa Cikakak Suyitno Jum'at (6/11) kemarin. Objek wisata ini merupakan situs peninggalan dari Kyai Tolih (Mustolih) yang merupakan salah satu tokoh Islam sejak jaman Majapahit. Di Cikakak sendiri selain ada Masjid Saka Tunggal, Taman Kera, makam Kyai Tolih juga terdapat wisata budaya yang lain. Namun potensi ini kurang tergarap karena masih minimnya perhatian dari pemerintah daerah.
"Pengembangan sarana prasarana dan aset wisata juga perlu diadakan jika ingin kawasan wisata Saka Tunggal maju. Penambahan aset wisata yang menunjang bisa menarik pengunjung. Adanya penambahan aset wisata seperti tempat bermain anak-anak, gazebo dan lain-lain bisa menarik pengunjung untuk datang ke Saka Tunggal. Jembatan Kali Asahan juga perlu diprioritaskan. Pakan satwa (kera) juga hendaknya ditambah supaya mencukupi kebutuhan. Jika pengunjung datang banyak, pendapatan wisata dan retribusi akan semakin banyak. Itu sangat menguntungkan untuk kita semua" ungkap Suyitno Jum'at (6/11) di rumahnya. Menurutnya selama ini pemerintah baru mengalokasikan dana sekitar Rp 150 ribu perbulan untuk membeli pakan satwa berupa ubi.
Pemerintah Desa Cikakak bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) meminta kepada pemerintah daerah untuk semakin memperhatikan keadaan komplek objek wisata Masjid Saka Tunggal dan Taman Kera. Pihak desa mengharapkan agar sarana dan lingkungan di sekitar objek wisata ziarah ini semakin dibenahi. Letak jalan menuju komplek wisata yang berada di bawah lereng Perbukitan Wadaskelir perlu dibuatkan tanggul dan drainase sehingga komplek wisata semakin aman dan nyaman bagi para pengunjung. Jembatan Kali Asahan di depan masjid Saka Tunggal yang merupakan sarana penghubung jalan desa menuju tempat wisata Masjid Saka Tunggal juga perlu dibangun secara permanen. Jembatan ini sangat membantu kelancaran kegiatan ekonomi, sosial dan ibadah warga setempat.
"Kamipun belum berani pasang tarif masuk ke wisata Saka Tunggal karena aset wisata belum ditambah" kata Suyitno. Perlu diketahui bahwa tarif masuk ke objek wisata Saka Tunggal Cikakak hanya Rp 1000 padahal pendapatan objek wisata ini dibagi kepada tiga pihak, yaitu pemerintah daerah, pihak desa dan juga untuk para pekerja.
Menurutnya kompleks wisata Saka Tunggal memang banyak yang perlu dibenahi dari segi sarana jalan dan aset wisata. Terlebih lagi kompleks wisata ini sudah merupakan aset pemerintah daerah. Sejauh ini Kompleks wisata Saka Tunggal ini terkenal dengan wisata peninggalan seperti Masjid Saka Tunggal, Taman Kera, dan Makam Mbah Kyai Tolih. Padahal selain itu masih ada ritual budaya Jaro Rajab, dan kehidupan religius warga setempat yang kental dengan nuansa Islam Jawa yang sangat pantas menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.Jadi sudah sepantasnyalah semua pihak terutama pemerintah daerah memperhatikan keberadaan kompleks wisata Saka Tunggal di Cikakak.(ap5)
pasar pagi ajibarang
Kamis, 22 Oktober 2009
srengenge mlethek
"srengenge mlethek ana ing wetan,manuke ngoceh ana ing wit-witan, kewane njenggut ana pasekuten, ya prakanca padha maju balapan2" tembang itu masih lekat dlam ingatanku ketika kukecil, sayang tembang2 dalam permainan jonjang yg diajarkan b...iyungku sdah lama takkuingat, padahal banyak filosofinya...
kemesraan dalam kesedehanaan
karena ban motor inggit bocor, cerita ini tercipta.
di sela sibuk menambal ban motor,
tukang tambal ban menenangkan anak perempuannya yang nangis.
dgn tangannya yg kasar ia gendong anak permpwn itu dgn lembut.
di antara temaram lampu teplok di bengkel,
isterinya rela menanti duduk di lincak bambu.
"lupa5 lagi syairnya" tkg tambal mgjreng gitarnya.
sementara api pemanas tambal ban masih menyala.
"pulang3" rengek anakny yg kini tgl digendongan istrinya.
"Jln kaki sja ya, tu..ban speda ayah sdg bocor" katanya pada anaknya sambil
mmgang ban Spm inggit yg bru sja ditmbal.
keindahan kbrsamaan kluarga tukang tambal ban
di dpn hotel jln sokaraja.
walaupn kutak mnanyakan siapa nama ankny,
yg pnting aku thu nma ankny psti Cindy..
tahu kenapa?
krna kulihat tulisan di atas gubuk tambal bannya Cindy motor..
Sokaraja, Kamis 22/10 2009
Langganan:
Postingan (Atom)