alhamdulillah.lagi wis pirang dina kepengin mangan jengkol nemen. golet ning warung ora ana bae.jebule bareng digolet, ning wit jengkol nduwur umah esih ana lima mata jengkol nyempil.akhire nganggo gantar karo arit, jengkol mau dipet.
Biyungku sing eman.ning ngisor wit nuturna jengkol sing lagi dadi kelangenanku.Jian bareng wis mudun sekang menek. atiku langsung marem. mlebu ngumah, golet ciri lemah karo muthu. golet lombok ijo karo brambang go dikumbah. karo sepucuk sendok uyah thok, lombok karo brambang kuwe tek gerus dadi sambel...
Sambel smentlep, jere batirku Mahbub sing ora doyan pedhes nyebut jeneng sambel ng umahku. jengkol kulite wis dibuang deng biyungku. baru kuwe aku nyidhuk sega ning panci mejikjer. soale wis pirang wulan kiye biyungku seringe nganggo listrik olih ngesap sega. tapi sering juga nganggo cething.
Sepiring mlengkan aku madhang.tapi limang mata jengkol mung dipangan loro thok.sing telu tek pendhem kon dari beweh.jian...rasane nikmat nemen mangan jengkol karo sambel tlenjeng. pokoke puas bisa madhang wareg kepedhesen ngasi ndhase kemringet gatel....fuh.,..
2 aGUSTUS 2010
"mengisi ruang antara ada dan tiada" tempat menuang catatan jati diri, sosial budaya, agama, keseharian lokalitas wong penginyongan.
Senin, 02 Agustus 2010
Sepenggal waktu yang terabadikan
kiriman foto dari slamet..alias papa ivan.suatu ketika masih SMA sewaktu masih gagah-gagahnya jadi dewan ambalan gatsu (gatot subroto) tapi di foto cuma ada satu cut nyak dien..itupun tak lengkap gambarnya..wah...akujadi pengin lihat lagi foto-fot yang lainnya. lagi...foto di masa SMA...tinggal menunggu waktu.foto inipun akan jadi kenangan.suatu ketika.foto mengabadikan waktu yg tak abadi.walaupun benda mati tapi ia hidup ketika ditafsirkan.
Selasa, 18 Mei 2010
Dokar Ajibarang Tinggal Delapan
Bertahan Di Tengah Persaingan Transportasi ModernMelihat Eksistensi Penarik Dokar Ajibarang
Susanto-Ajibarang
Siang itu empat orang kusir dokar itu terlihat terkantuk menunggu penumpang. Berbeda dengan tahun-tahun dulu, ramainya pasar ternyata tak menjadi jaminan bagi penarik dokar untuk mendapat banyak penumpang. Alat transportasi tradisional sejak jaman nenek moyang tersebut ternyata kini mulai semakin tersisih keberadaannya.
Salah satu kusir dokar asal Tipar Kidul, Kasid menuturkan bahwa di Pasar Ajibarang jumlah dokar yang masih beroperasi di Pasar Ajibarang kini tersisa delapan buah saja. Dari tahun ke tahun jumlah dokar semakin menurun. Penghasilan yang minim dan semakin banyaknya kendaraan bermotor membuat kendaraan tradisional ini semakin menurun jumlahnya.
"Sampai saat ini yang masih bertahan tinggal delapan dokar ini. Setiap tahun semakin berkurang jumlahnya. Mungkin karena penghasilan narik dokar memang tak bisa ditentukan. Waktu masih jaman Pasar Ajibarang masih di sebelah utara jumlah dokar tahun 1980an mencapai 50 buah. Dulu ramai dan laris memang, mobil dan ojekpun belum banyak seperti sekarang ini" kata Kasid yang telah narik dokar di Pasar Lama Ajibarang sejak tahun 1976.
Di jaman yang serba modern ini, sebagian orang mulai berpikir tentang aspek efektifitas dan efisiensi dalam mobilitas sehari-hari. Tak mengherankan sebagian orang telah beralih menggunakan sepeda motor, atapun mobil untuk kelancaran dan kecepatan dalam beraktivitas. Sontak dokar yang nota bene ditarik dengan tenaga kuda lebih tepat dipandang sebagai alat transportasi alternatif ketika mereka sedang santai ataupun untuk mengulangi romantisme sejarah alat transportasi tradisional yang pernah berjaya di masa lalu.
Kusir dokar lain, Admo (53) mengatakan pendapatan mereka setiap harinya rata-rata Rp 25 ribu. Untuk pakan kuda membutuhkan sekitar 5 kg pakan kuda. "Sehari rata-rata kita dapat Rp 35 ribu, Rp 15 ribu kita gunakan untuk membeli dedak dan selebihnya untuk kita. Padahal untuk kalau kita narik menumpang itu tidak pasti. Kadang kala satu penumpang langsung jalan, kadangkala menunggu dokar penuh dulu sehingga ongkos bisa tidak bisa ditentukan" katanya.
Sementara harga dokar beserta kudanya minimal mencapai Rp 13 juta yang terbagi atas harga kuda Rp 8 juta dan kereta sekitar Rp 5 juta. Selain harga dokar dan kuda yang cukup mahal, perawatan terhadap dokar dan kuda inipun memang berbeda dengan perawatan kendaraan bermotor.
Hadi yang juga kusir dokar asal Cibangkong menyatakan bahwa ia harus membeli tapel kuda dan memperbaiki kereta kudanya di bengkel khusus puluhan kilometer dari Ajibarang. Mereka harus menuju ke daerah Pasir, Karanglewas. Namun kalau sedang terpaksa iapun harus bisa memasang sendiri tapel kuda pada kudanya.
"Memang butuh perawatan berbeda kalau kita punya dokar ini. Karena memang bukan benda mati. Tapi kuda itu benda hidup" jelas Hadi. Lebih lanjut Hadipun memberikan sedikit trik agar kuda yang menjadi penarik dokar tersebut bisa dapat terus dikendalikan oleh kusir. Proporsi makan kuda adalah kuncinya. Kuda menurutnya tidak boleh terlalu kenyang dan tidak boleh terlalu lapar. Ketika kuda kenyang maka tenaga kuda akan lebih besar dan itu akan sulit dikendalikan. Sebaliknya kuda juga tidak boleh kelaparan karena tenaga mereka digunakan untuk menarik kuda.
Biaya perawatan kuda dan kereta yang tidak sedikit memang cukup membuat mereka harus bisa membagi dan mencari strategi untuk mendapatkan tambahan. Salah satu upaya untuk mendapatkan penghasilan ialah dengan memanfaatkan dokar untuk penumpang di hari libur di rumahnya. Selain itu mereka juga kerap menerima pesanan penyewaan kuda ketika ada upacara 'pengantin sunat' di kampung-kampung. Namun hal itu memang tidak bisa dipastikan.
Di tengah kesulitan dan ketidakpastian penghasilan yang diperoleh dari narik dokar, delapan kusir dokar di Pasar Ajibarang ini mengaku akan terus mempertahankan dokar ini semampu mereka. Melestarikan kendaraan tradisional jaman dulu dan bangga mempunyai kendaraan tradisional ini menjadi mereka untuk bisa bertahan sampai saat ini. Entah sampai kapan mereka akan terus bertahan. Akankah akumulasi kebutuhan material akan mengikis idealisme mereka untuk mempertahankan kendaraan tunggangan para raja Jawa ini?Entahlah hanya waktu yang mampu menjawabnya.*
Ajibarang, 17 Mei 2010
Senin, 01 Februari 2010
sudut pagi di sudut jalanan Kampus
sudut hatiku masih kelu mngingat hari di sebuah sdut jalan Kampus, Purwokerto. hari ketika tangan mungil bocah perempuan itu menjumut gelas plastik di tengah gunungan sampah itu. ingusnyapun seperti tak pernah dipedulikan. sementara neneknya mengusap keriput usia yang menempel di kening dengan tangan kirinya yang hitam..dua gelas plastik yang kotor diterima dari tangan mungil cucunya..waktu itu msih jam 05.30 pagi
Sabtu, 23 Januari 2010
Tak Ingin Anaknya Jadi Lengger-Menyorot Nafas Kehidupan Lengger dan Calung Keliling
Di tengah kesibukan persiapan para seniman calung dan lengger lain untuk mengikuti Festifal Lengger dan Calung di Fatmaba beberapa waktu lalu. Terdengar alunan calung sederhana dengan dua lengger dengan pakaian biasa. Mereka sedang me...ngamen di sebuah emper rumah seorang warga di tepi jalan Kracak Ajibarang.
"Saya tak ingin anak saya jadi lengger" kata Dede (32) seorang seniman lengger suatu saat. Bersama Dewi (32) saudara kembarnya, Dede kini menjadi seniman lengger 'ideran' (keliling, red). Diiringi oleh tiga orang yaitu penabuh calung dan kendang, Dede dan Dewi setiap hari harus berkeliling mengamen ke kota untuk menyambung nafas kehidupan keluarganya.
Tembang Bendrong Kulon sayup-sayup terdengar dari mulut dua orang seniman lengger dari depan emper sebuah rumah di Ajibarang. Suara calung pengarep dan calung penerus yang ditabuh oleh Ridun dan Yamanpun terdengar mengalun. Sementara Gino dengan lincahnya menepak-nepak alat musik kendang dari pipa paralon. Mereka seperti tidak memedulikan deru mesin kendaraan bermotor yang sibuk lalu lalang melintas di jalan depan rumah itu. Seniman-seniman jalanan itu hanya peduli pada rupiah-rupiah yang nanti akan mereka terima setelah memainkan tembang-tembang yang dipesan oleh penanggapnya.
"Satu lagu Rp 2000, dan kalau pakai 'ngibing' (menari, red) bayarannya Rp 5000. Kalau hujan, ya...kita panen tangis" kata Dewi saudara kembar Dede seusai nembang. Beruntung cuaca hari Jum'at itu cerah. Bagi mereka, mendung yang menggelayut hitam menjadi pertanda suram bagi rejeki mereka. Ketika hujan bisa dipastikan tanggapan mereka akan sepi. Jika sepi mereka mengakui hanya kebagian Rp 5000 untuk setiap orangnya.
"Kami biasa mengamen keliling sampai ke daerah Bumiayu. Kalau ada ongkos ya kita naik kendaraan, tapi kalau ga ya kita terpaksa jalan kaki. Kita sudah terbiasa seperti itu. Kita ngamen karena memang kalau sekarang tanggapan lengger itu sepi, kalah dengan permainan organ dan hiburan lain" kata Dede menjelaskan keadaan seni lengger dan calung sekarang ini.
Menurutnya seniman lengger asal Desa Rancabanteng, RT 1/5 wangon ini, lengger memang dulu pernah berjaya. Namun sepeninggal ayahnya dan seiring perkembangan jaman kesenian tradisional asli Banyumas ini tidak hanya semakin terpinggirkan bahkan menurut mereka lengger dan calung semakin tertutup. Kiblat seni generasi muda kebanyakan telah beralih ke barat.
Mereka telah menekuni profesi ini selama puluhan tahun. Selain karena sepinya tanggapan, tidak adanya lahan produksi baik lahan sawah ataupun ladangyang mereka punyai, mereka harus mengamen berkeliling ke luar desa. Ketidakjelasan penghasilan sebagai buruh tani dan buruh lepas membuat mereka tetap mempertahankan kesenian ini sebagai cara untuk menafkahi hidup mereka. Bagi mereka tidak ada pilihan menjadi pengamen lengger dan calung keliling.
"Saya tak ingin anak saya jadi lengger seperti saya. Saya ingin anak saya bisa bersekolah setinggi-tingginya. Saya bingung katanya di sekolah sudah ada dana BOS tapi kok ya anak saya harus membayar buku saja. Padahal ketika sepatunya bolongpun anak saya tidak mau sekolah karena malu. Sementara anak saya yang pertama, sekarang sudah kelas VI. Padahal untuk bisa sekolah ke SMP perlu duit berjuta-juta. Lalu bagaimana anak saya bisa sekolah" keluh Dede yang mengaku mempunyai empat orang anak. Mereka menceritakan pengalaman tetangganya yang harus memasukkan anaknya ke SMP harus membayar Rp 1,7 juta untuk membayar uang pengembagan atau pembangunan. Selain Dede, Yaman juga beranak empat.
Di satu sisi banyak pihak berkoar-koar menghimbau agar seni tradisional termasuk lengger dan calung untuk dilestarikan. Namun di sisi lain terbukti para seniman yang getol berusaha menghidupi seni tradisional ini malah hidup kembang kempis. Seni tradisional seringkali belum sepenuhnya menghidupi mereka secara layak. Untuk menyekolahkan anaknya saja mereka tak mampu. Terlebih lagi pendidikan sekarang sepertinya telah menjadi lahan komodifikasi dan komersialisasi oknum tertentu.
Adalah sebuah tragika, ketika para seniman yang menjadi subjek kesenian justru karena alasan ekonomi mereka tak mengharapkan anaknya jadi generasi penerus seniman seperti mereka. Pandangan miring sementara masyarakat terutama generasi muda terhadap Seni lengger dan calung ini yang dianggap kuno dan kurang gaul semakin membuat kesenian asli Banyumas ini semakin teralienasi.
"Entahlah bagaimana nasib kami ketika nanti orang-orang tua yang biasanya nanggap kami sudah tidak ada. Padahal kebanyakan yang nanggap kami ini orang tua. Kalau anak muda ya sangat jarang" kata Ridun menceritakan. Dalam benak Ridun terbersit kekhawatiran bahwa ketika lengger dan calung sudah tidak lagi mendapat tempat. Kepada siapa mereka akan bergantung.
Sebagai seniman kecil yang hidup dari lengger dan calung, mereka berharap agar pemerintah memperhatikan mereka. Memperhatikan kehidupan seniman lengger berarti menambah umur panjang dan kelestarian seni lengger dan calung di masyarakat. Seperti orang lain mereka juga ingin anak-anak mereka bersekolah setinggi-tingginya. Perhatian pemerintah dan berbagai pihak untuk para pahlawan kesenian itu sangat diperlukan. Jangan sampai kesenian lengger dan calung Banyumasan ini, hidup segan dan matipun enggan. Ironis.(Januari 2010)
Kamis, 21 Januari 2010
Gethek Untuk Angkutan Kayu Menilik Kerja Para Pengangkut Kayu di Sungai Tajum
AJIBARANG-Warga Duku...h Kalibeber Darmakradenan masih mempergunakan gethek atau rakit bambu sebagai sarana angkutan. Walaupun jembatan Kalibeber telah dibangun, ternyata gethek masih tetap digunakan oleh warga sekitar untuk berbagai keperluan aktifitas sehari-hari. Diantara mereka ada yang mempergunakan rakit untuk mengambil pasir, menyeberang sungai dan juga untuk mengangkut kayu.
Seperti yang dilakukan oleh Rikun (48). Ia bersama beberapa rekan kerjanya mempergunakan gethek sebagai sarana untuk mengangkut gelondong kayu. Gethek dipergunakan oleh Rikun dan kawan-kawannya untuk mengangkut kayu-kayu yang berat dari arah udik Sungai Tajum. Sedangkan untuk kayu-kayu yang ringan, mereka hanya menghanyutkannya lewat Sungai Tajum. Dengan cara seperti itu dipandang dapat meringankan pekerjaannya membawa kayu.
"Untuk kayu yang kecil dan ringan kita hanyutkan lewat sungai. Sedangkan untuk kayu yang bisa tenggelam karena besar dan berat kita pergunakan rakit ini secara bersama-sama. Memang kondisi sungai yang berliku sejak di atas sampai ke bawah sini membuat kami harus bekerja keras. Kedalaman sungai di beberapa sekitar lima tempat lubuk ada sekitar 4 meter mungkin. Terbukti galah bambu yang kami pergunakan masuk ke dalam air semua. Kita harus hati-hati ketika itu" kata Rikun menceritakan sedangkan teman-temannya yang lain sedang asyik menyantap sarapan yang dimakan sekitar pukul 11.00 siang kemarin.
Para pekerja-pekerja pengangkut kayu itu terbagi menjadi dua. Sekitar 12 orang itu terbagi menjadi dua. Beberapa diantara mereka menghadang kayu-kayu yang dihanyutkan dari sungai bagian atas sambil menunggu datangnya gethek pembawa kayu.
"Kita harus cepat-cepat mengangkut kayu-kayu itu supaya tidak hanyut ketika ada banjir di Sungai Tajum ini. Jika sudah banjir pasti kayu-kayu itu bisa terbawa arus air Sungai Tajum yang besar ini. Makanya mumpung masih terang dan belum hujan kita harus secepatnya membawa kayu-kayu ini ke darat untuk dibawa ke penggilingan kayu di perbatasan Darma-Karangbawang" kata Rikun menambahkan.
Beberapa pekerja sempat mengeluh menceritakan pekerjaannya. Ia menyatakan bahwa pekerjaan mengangkut kayu di sungai ini termasuk pekerjaan yang berat dengan resiko yang tidak ringan. Namun mereka tidak ada pilihan lain untuk mengambil pekerjaan itu, di tengah-tengah kesulitan memperoleh pekerjaan dan pendidikan yang pas-pasan dewasa ini. Tidak bisa dibayangkan ketika rakit atau gethek yang membawa kayu itu terbalik di sungai, tambahnya menceritakan.
Selama kayu belum terangkut semua maka mereka akan bolak-balik menjalankan rakitnya dengan arah hilir mudik. Mereka harus berjuang beradu kecepatan dengan tidak menentunya cuaca. Hujan yang bisa membuat Sungai Tajum banjir adalah musuh terbesar mereka ketika pekerjaan mengangkut gelondong kayu belum rampung. Dengan resiko bertaruh nyawa menyeberangi lubuk-lubuk dalam Sungai Tajum, mereka harus bolak balik membawa rakit dengan atau tanpa isi gelondong kayu. Demi terisinya perut anak isteri mereka.
Selasa, 17 November 2009
dakhirin

seorang anak seusia adikku mungkin, bergelut dengan lumpur. yang dipegangnya cemethi. bersekolah di sawah bersama kedua kerbau sang bapa. hari ini belajar 'megawe''meluku'. meratakan sawah bersama kedua pamannya.'Dakhirin' jawabnya dengan senyum sahaja ketika kutanya namanya pagi itu, ketika kusempatkan rehat sejenak di tepi jalan Rancamaya...
Langganan:
Postingan (Atom)