jika kau setuju hidup adalah sebaris kata dalam sejumput paragraf kisah
ada tokoh, alur dan ada masalah yang terkadang tak selesai bahkan terpotong sebelum klimaks menyeruak karena ada sebaris kata itu terkoyak dan seringkali hilang oleh sesuatu yang tak nampak.
jika kau sepakat manusia adalah setetes tinta yang tumpah hingga menjadi rupa dan abjad
namun terkadang tinta itu tidak sampai tertetes karena terburu kering oleh tiupan angin yang selalu menjadikan malam tertuduh penyebab sebaris sajak menggigil di antara jeda dan koma
sebelum sampai pada tujuan titik penghabisan rima
jika kau menolak hidup akan tetap menjadi hidup setidaknya hanya menjadi sebaris kata tanpa makna hanya rupa abjad yang tak terbaca oleh alur cerita
manusia akan tetap menjadi manusia setidaknya seperti sajak tanpa rima hanya menjadi sebaris pantun yang tanpa isi hanya sampiran yang membuat pembaca menjadi kebingungan
jika kau menolak
toh, semua telah tergurat dalam dalam lontar masa lalu dan ketika kau mencarinya ia telah hilang di persimpangan kenangan yang terkoyak
purwokerto, 26 mei 2009
selasa wage, ketika malamnya tahlil weton dan tafrijiyah perdana
"mengisi ruang antara ada dan tiada" tempat menuang catatan jati diri, sosial budaya, agama, keseharian lokalitas wong penginyongan.
Senin, 25 Mei 2009
Selasa, 05 Mei 2009
geni jora
ketika sebuah nama di atas sebuah judul menarik mataku meletakkan pikirku untuk mencoba menyelami dalam tentang perempuan bukan lewat dirinya langsung melainkan melalui lembaran-lembaran putih karyanya selalu muncul tanya tentang apa yang ada pada sosoknya sampai segenap rahasia selalu menyekat semua tanyaku menyingkap tabir disela-sela merah bibir..
kadang bahkan sering aku takut untuk melukir wajahnya, apalagi mengukir gurat-gurat keindahannya sungguh terlalu indah untuk dirupakan, aku tak mampu melukis realisme meski kuberhasrat persembahkan surealisme. hanya dalam fantasikku dan fikirku kucoba melukis potret senyummu seperti kumelihat remang-remang film negatif
cinta kesetiaan penghianatan menjadi dzikir dan wirid sang pencinta, beserta taburan airmata serupa kembang yang mekar ketika kumbang menjadi sari-sarinya. dibawah payung langit malam limabelas putri malam dan bintang kejora ketika cinta menjadi sebab dan akibat kita terdiam kehilangan kata karena terlalu bungkam oleh banyaknya keinginan
banyak kata yang keluar tak sadar kita lisankan hanya sekedar tugas mulut berkata mungkin, menghitung mencerca mencaci mencinta memuji seperti api membakar suluh kayu ibarat ari yang diam sejuk menghidupkan ibarat bah yang tanpa permisi membinasakan, mulutku berhenti ketika kupertanya apa itu wanita apa itu geni jora yang tak bisa penuh aku sepertikan tak mampu aku definisikan dan kuibaratkan secara utuh
mungkin tugas lelaki untuk menguasai wanita tanpa harus mengerti semua rahasianya...
(5 mei 2009 ketika senja di purwokerto utara masih bising oleh mudamudi yang berkendara)
kadang bahkan sering aku takut untuk melukir wajahnya, apalagi mengukir gurat-gurat keindahannya sungguh terlalu indah untuk dirupakan, aku tak mampu melukis realisme meski kuberhasrat persembahkan surealisme. hanya dalam fantasikku dan fikirku kucoba melukis potret senyummu seperti kumelihat remang-remang film negatif
cinta kesetiaan penghianatan menjadi dzikir dan wirid sang pencinta, beserta taburan airmata serupa kembang yang mekar ketika kumbang menjadi sari-sarinya. dibawah payung langit malam limabelas putri malam dan bintang kejora ketika cinta menjadi sebab dan akibat kita terdiam kehilangan kata karena terlalu bungkam oleh banyaknya keinginan
banyak kata yang keluar tak sadar kita lisankan hanya sekedar tugas mulut berkata mungkin, menghitung mencerca mencaci mencinta memuji seperti api membakar suluh kayu ibarat ari yang diam sejuk menghidupkan ibarat bah yang tanpa permisi membinasakan, mulutku berhenti ketika kupertanya apa itu wanita apa itu geni jora yang tak bisa penuh aku sepertikan tak mampu aku definisikan dan kuibaratkan secara utuh
mungkin tugas lelaki untuk menguasai wanita tanpa harus mengerti semua rahasianya...
(5 mei 2009 ketika senja di purwokerto utara masih bising oleh mudamudi yang berkendara)
berkoh-unsoed
jarum jam dinding tunjukkan 06.45 ketika awan mendung menggantung begitu hitam di langit pagi, tak secerah hari kemarin , kukeluarkan sepeda balap butut berwarna merah yang kubeli di pasar wage pewete, kutinggalkan sahabatku menutup mata lelap memeluk guling di kasur tanpa ranjang
kukayuh sepeda menapaki medan menanjak ke kampus grendeng, lalu lintas begitu sibuk, belum sampai jarak satu KM kukayuh pedal sepeda, ketika itu di sekitar air mancur Berkoh saat roda sepedaku kubelokkan ke arah utara menuju jalan MAN 2, tiba-tiba rantai sepedaku putus, bersamaan itu mendung di langit pecah menjadi hujan deras
tanpa mantel aku basah kuyup, berjalan tertatih menuntun sepeda, dengan tangan belepotan olie memegang rantai di stang kiri sepeda, baru saja aku berpikir untuk terpaksa bolos kuliah tak kuduga cipratan air tanah kuning mencuci wajahku yang sudah basah, setelah kusaputkan telapak tanganku ke muka kulihat mobil toyota kijang mewah perlahan semakin melaju dengan cepat melewati kubangan yang ada di tengah jalan itu
kulanjutkan langkah untuk mencari bengkel di pinggir jalan
terpaksa hari itu aku tidak masuk kuliah
Jumat, 24 April 2009
parodi
pada suatu ketika
luka masih menganga berbuah kemanisan
saat kenangan menjadi buah mata ketika itu senyum mengembang membayangkan apa yang telah terjadi sebuah parodi tawa terhentak serentak ketika otak gila mulai mendidih bersama darah muda yang selalu rindu eksistensi dan popularitas membungkus diri menjadi sebuah gambar maya mengabadikan yang fana dan memutlakan yang nisbi berharap arti suatu saat menyeruak dalam derak-derak pijak kapal kehidupan yang selalu menjadi misteri setiap diri
ketika daun menguning menunggu saat-saat jatuh merindu sapuan angin pagi berhasrat menyatu dengan embun pagi yang bening dua orang serupa guru dan murid yang tak lain adalah parodi nyata nyata-nyata parodi dalam sebuah rumah Tuhan yang penuh dengan pemuda-pemuda yang (terpaksa)hatinya tergantung di masjid
tak ada kepura-puraan dan kebenar-benaran
tak ada beda antara parodi dengan hidup real
ketika guru dan murid menjadi parodi....
(untuk yuli dan faris yang selalu gila)
luka masih menganga berbuah kemanisan
saat kenangan menjadi buah mata ketika itu senyum mengembang membayangkan apa yang telah terjadi sebuah parodi tawa terhentak serentak ketika otak gila mulai mendidih bersama darah muda yang selalu rindu eksistensi dan popularitas membungkus diri menjadi sebuah gambar maya mengabadikan yang fana dan memutlakan yang nisbi berharap arti suatu saat menyeruak dalam derak-derak pijak kapal kehidupan yang selalu menjadi misteri setiap diri
ketika daun menguning menunggu saat-saat jatuh merindu sapuan angin pagi berhasrat menyatu dengan embun pagi yang bening dua orang serupa guru dan murid yang tak lain adalah parodi nyata nyata-nyata parodi dalam sebuah rumah Tuhan yang penuh dengan pemuda-pemuda yang (terpaksa)hatinya tergantung di masjid
tak ada kepura-puraan dan kebenar-benaran
tak ada beda antara parodi dengan hidup real
ketika guru dan murid menjadi parodi....
(untuk yuli dan faris yang selalu gila)
Kamis, 23 April 2009
Perlahan

Perlahan butir-butir kristal kesedihan keluar dari dua biji mata yang bening mengalir membasahi pipi putih halus yang merona meluncur cepat melewati hidung mancung menuju lengkung bibir indah yang merah jambu, wajah itu redup tertutup kerudung hitam sambil duduk jongkok dengan jemarinya yang lentik terus menyeka kristal-kristal bening yang terus menerus membuat pipinya semakin merah merona langit berawan menyambut kabut yang menyelimuti pemakaman itu dengan gerimis tipis yang rintiknya membasahi tungkai kaki indah sang gadis yang pucat malas untuk beranjak meninggalkan nisan baru kekasihnya yang baru saja tiada
Di jalan tepat depan halaman rumah bercat hijau muda tiga anak usia belasan putus sekolah sibuk berbicara tentang merpati sejak siang tadi kian kemari diterbangkannya sementara di dalam rumah itu seorang anak sekolah tingkat pertama sedang hanyut dalam keindahan sastra selepas maghrib hingga terdengar adzan isya polos bernotasi lurus polos jauh terdengar lamat-lamat seperti membuat malam merambat lambat bersama pekat yang melahirkan kesenyapan dan kerinduan sepasang kekasih
24 april 2009
Senin, 20 April 2009
kayu kesambi apa ketungkul?
sendhean karo ngiup
tumrape wong urip sawektu udan gedhe utawa barat gedhe
samangsa ora ana godhong lumbu amba utawa songsong
"ngiyuba utawa sendheana maring kayu kesambi
aja pisan-pisan sendhean utawa ngiyup ning ngisore kayu ketungkul"
tumrape wong urip sawektu udan gedhe utawa barat gedhe
samangsa ora ana godhong lumbu amba utawa songsong
"ngiyuba utawa sendheana maring kayu kesambi
aja pisan-pisan sendhean utawa ngiyup ning ngisore kayu ketungkul"
sedulur
sedulur
sedulur
sedulur
sedulur
pancer
sedulur papat kelima pancer
sehat papat lima sempurna
arah kiblat papat
arah jimat berkat
bumi ibu mami
sapa ngrumat bakal slamet
sapa sembrana bakal kwalat
untuk tahun delapan
bulan duabelas
hari tujuh
pasaran lima
sa'at duapuluhempat
20 april 2009
sedulur
sedulur
sedulur
pancer
sedulur papat kelima pancer
sehat papat lima sempurna
arah kiblat papat
arah jimat berkat
bumi ibu mami
sapa ngrumat bakal slamet
sapa sembrana bakal kwalat
untuk tahun delapan
bulan duabelas
hari tujuh
pasaran lima
sa'at duapuluhempat
20 april 2009
Langganan:
Postingan (Atom)