Selasa, 18 Mei 2010

Dokar Ajibarang Tinggal Delapan

Bertahan Di Tengah Persaingan Transportasi Modern

Melihat Eksistensi Penarik Dokar Ajibarang

Susanto-Ajibarang

Siang itu empat orang kusir dokar itu terlihat terkantuk menunggu penumpang. Berbeda dengan tahun-tahun dulu, ramainya pasar ternyata tak menjadi jaminan bagi penarik dokar untuk mendapat banyak penumpang. Alat transportasi tradisional sejak jaman nenek moyang tersebut ternyata kini mulai semakin tersisih keberadaannya.

Salah satu kusir dokar asal Tipar Kidul, Kasid menuturkan bahwa di Pasar Ajibarang jumlah dokar yang masih beroperasi di Pasar Ajibarang kini tersisa delapan buah saja. Dari tahun ke tahun jumlah dokar semakin menurun. Penghasilan yang minim dan semakin banyaknya kendaraan bermotor membuat kendaraan tradisional ini semakin menurun jumlahnya.

"Sampai saat ini yang masih bertahan tinggal delapan dokar ini. Setiap tahun semakin berkurang jumlahnya. Mungkin karena penghasilan narik dokar memang tak bisa ditentukan. Waktu masih jaman Pasar Ajibarang masih di sebelah utara jumlah dokar tahun 1980an mencapai 50 buah. Dulu ramai dan laris memang, mobil dan ojekpun belum banyak seperti sekarang ini" kata Kasid yang telah narik dokar di Pasar Lama Ajibarang sejak tahun 1976.

Di jaman yang serba modern ini, sebagian orang mulai berpikir tentang aspek efektifitas dan efisiensi dalam mobilitas sehari-hari. Tak mengherankan sebagian orang telah beralih menggunakan sepeda motor, atapun mobil untuk kelancaran dan kecepatan dalam beraktivitas. Sontak dokar yang nota bene ditarik dengan tenaga kuda lebih tepat dipandang sebagai alat transportasi alternatif ketika mereka sedang santai ataupun untuk mengulangi romantisme sejarah alat transportasi tradisional yang pernah berjaya di masa lalu.

Kusir dokar lain, Admo (53) mengatakan pendapatan mereka setiap harinya rata-rata Rp 25 ribu. Untuk pakan kuda membutuhkan sekitar 5 kg pakan kuda. "Sehari rata-rata kita dapat Rp 35 ribu, Rp 15 ribu kita gunakan untuk membeli dedak dan selebihnya untuk kita. Padahal untuk kalau kita narik menumpang itu tidak pasti. Kadang kala satu penumpang langsung jalan, kadangkala menunggu dokar penuh dulu sehingga ongkos bisa tidak bisa ditentukan" katanya.

Sementara harga dokar beserta kudanya minimal mencapai Rp 13 juta yang terbagi atas harga kuda Rp 8 juta dan kereta sekitar Rp 5 juta. Selain harga dokar dan kuda yang cukup mahal, perawatan terhadap dokar dan kuda inipun memang berbeda dengan perawatan kendaraan bermotor.

Hadi yang juga kusir dokar asal Cibangkong menyatakan bahwa ia harus membeli tapel kuda dan memperbaiki kereta kudanya di bengkel khusus puluhan kilometer dari Ajibarang. Mereka harus menuju ke daerah Pasir, Karanglewas. Namun kalau sedang terpaksa iapun harus bisa memasang sendiri tapel kuda pada kudanya.

"Memang butuh perawatan berbeda kalau kita punya dokar ini. Karena memang bukan benda mati. Tapi kuda itu benda hidup" jelas Hadi. Lebih lanjut Hadipun memberikan sedikit trik agar kuda yang menjadi penarik dokar tersebut bisa dapat terus dikendalikan oleh kusir. Proporsi makan kuda adalah kuncinya. Kuda menurutnya tidak boleh terlalu kenyang dan tidak boleh terlalu lapar. Ketika kuda kenyang maka tenaga kuda akan lebih besar dan itu akan sulit dikendalikan. Sebaliknya kuda juga tidak boleh kelaparan karena tenaga mereka digunakan untuk menarik kuda.


Biaya perawatan kuda dan kereta yang tidak sedikit memang cukup membuat mereka harus bisa membagi dan mencari strategi untuk mendapatkan tambahan. Salah satu upaya untuk mendapatkan penghasilan ialah dengan memanfaatkan dokar untuk penumpang di hari libur di rumahnya. Selain itu mereka juga kerap menerima pesanan penyewaan kuda ketika ada upacara 'pengantin sunat' di kampung-kampung. Namun hal itu memang tidak bisa dipastikan.

Di tengah kesulitan dan ketidakpastian penghasilan yang diperoleh dari narik dokar, delapan kusir dokar di Pasar Ajibarang ini mengaku akan terus mempertahankan dokar ini semampu mereka. Melestarikan kendaraan tradisional jaman dulu dan bangga mempunyai kendaraan tradisional ini menjadi mereka untuk bisa bertahan sampai saat ini. Entah sampai kapan mereka akan terus bertahan. Akankah akumulasi kebutuhan material akan mengikis idealisme mereka untuk mempertahankan kendaraan tunggangan para raja Jawa ini?Entahlah hanya waktu yang mampu menjawabnya.*

Ajibarang, 17 Mei 2010