Tampilkan postingan dengan label LOKALITAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LOKALITAS. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Desember 2011

Memproduksi Ciu Untuk "Tulak Mlarat"

Bau khas menyengat tercium dari dapur salah satu rumah di Dukuh Bantarmuncang, Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Banyumas. Sebuah tungku kayu bakar terlihat membara. Di atasnya sebuah panci berisi adonan cairan gula kelapa, ketan hitam dan singkong terus dimasak. Sementara di atas panci itu terpasang sebuah pipa yang tersambung dengan sebuah jembangan berisi air yang berfungsi sebagai pendingin.

Di bawah ujung pipa terpasanglah sebuah toples kecil sebagai tempat hasil sulingan uap air. Tetes demi tetas uap air itu dikumpulkan oleh Tini, istri Kartasim perajin ciu dari Desa Wlahar. Puluhan tahun ia menyandarkan hidup dari kerajinan ciu tersebut.

Walaupun usianya sudah senja suami istri Kartasim (77) dan Tini (67) ini masih memproduksi arak tradisional tersebut. Pengelihatan Kartasim yang sudah lama berkurang tak menciutkan semangat hidup orang tua itu untuk menggantungkan hidup kepada anak-anaknya. Di rumah itulah suami istri renta itu menjalani setiap periode jaman dengan menggantungkan hidup dari kerajinan ciu warisan nenek moyangnya.

"Yah untuk "tulak mlarat" lah mas, kita membuat ciu. Kita bisanya kerja seperti ini dari jaman dulu hingga sekarang. Saya bisa menghidupi anak-anak, iuran lingkungan, membayar pajak juga dari sini. Yah walaupun kondisi saya seperti ini saya membuat ciu. Dengan meraba peralatan karena memang telah terbiasa sejak dulu" kata Kartasim yang memang sudah terganggu pengelihatannya sejak puluhan tahun lalu. Dengan kondisinya yang terbatas ia tetap memproduksi ciu bersama isterinya Tini (67) yang setia menemaninya.

Kartasim sudah mengenal ciu sejak kecil. Bapak dan ibunya juga dulu pembuat ciu. Bahkan jaman 'Landa'
(kolonial Belanda,Red) ayahnya ditangkap dan dihukum kerja paksa karena membuat ciu ini. Terpaksa bapak saya harus kerja paksa sesuai dengan keinginan Landa karena tidak sanggup membayar denda. Ibunyapun juga terpaksa dihukum satu bulan karena ketahuan membuat ciu tersebut.

Di jaman penjajahan Belanda yang sengsara itu keluarganya ihidup dengan membuat ciu. Penangkapan perajin ciu dan perampasan peralatannya oleh Belanda disebabkan karena harga ciu yang lebih murah dibandingkan dengan minuman alkohol Junewer produksi Belanda. Produksi ciu dianggap membuat penurunan pemasaran minuman beralkohol kegemaran sebagian bangsa Landa waktu dulu.

Kejadian serupa juga terjadi ketika pemerintah Jepang tiba. Para perajin ciu ditangkapi oleh pemerintah Jepang. Pembuatan ciu tersebut juga dibuat secara sembunyi-sembunyi. Tidak hanya itu penjualan ciu juga dilakukan dengan cara tertutup. Semua dilakukan agar tidak diketahui pemerintah Jepang. Kartasim mengaku sejak ayahnya meninggal di jaman Jepang ia mulai membuat ciu bersama ibunya. Dengan membuat ciu itulah ia bersama ibunya bertahan hidup. Waktu itu harga 1 liter ciu hanya sekitar 5 ketip atau 50 sen.

"Saya masih ingat saya sunat dengan berpakaian karung goni. Saat itu kita memang sangat kekurangan makan. Apapun kita lakukan agar bisa makan termasuk membuat ciu. Karena dilarang, dulu membuat ciu tersebut di hutan. Ketika datang Jepang, api langsung kita matikan. Sedangkan kalau menjual kita jual ke babah di Pasar Ajibarang. Kalau sedikit ciu kita tempatkan pada botol namun kalau banyak ciu kita tempatkan di impes (kantong kencing kerbau, Red) biar muatannya lebih banyak" cerita Kartasim.

Dihitung sejak Jaman Jepang hingga sekarang, kakek 5 orang cucu telah menjadi perajin ciu sekitar 50 tahunan. Ia telah banyak mengalami peristiwa razia kerajinan ciu ini sampai dengan sekarang. Tak terkecuali peristiwa razia besar-besaran pada perajin ciu di Wlahar sekitar tahun 1993-1994.

Sebagai ayah yang sudah pengelihatannya berkurang ia bersyukur bisa membesarkan anak-anaknya, walaupun dengan usaha membuat minuman yang dihukumi haram oleh agama yang dipeluknya. Namun tidak bisa dipungkiri tidak hanya Kartasim, puluhan perajin ciu di Wlahar juga menjadikan ciu sebagai topangan hidup di tengah kesulitan dan keterbatasan ekonomi yang membelit mereka.

Dibanding dengan juragan, tengkulak ataupun pedagang penampungnya, pendapatan perajin memang sangat jauh berbeda. Dengan produksi yang panjang hingga mencapai seminggu, ciu produksi perajin hanya bisa dihargai Rp 7.000-8.000 per liter. Sedangkan di pasaran harga miras oplosan yang berasal dari ciu bisa dihargai mulai dari Rp 20 ribuan. Bisa dibilang kehidupan perajin ciu dari dulu memang biasa-biasa saja.

Sebagaimana perajin ciu yang lain iapun mengetahui bahwa pada dasarnya hasil kerajinanya itu melanggar aturan agama dan hukum positif. Namun memang dari keterbatasan pekerjaan, kemampuan dan keterampilan ia tak berdaya untuk bisa beralih ke pekerjaan lainnya. Sampai dengan sekarang dengan membuat ciu itulah ia bisa menghidupi dirinya dan keluarganya. Iapun menyatakan bahwa ciu hasil kerajinannya memang sebenarnya tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk hal negatif saja. Dengan dosis dan takaran tertentu, ciu bisa menjadi jamu yang menyehatkan.

Kartasim juga mengalami pengalaman yang serupa dengan perajin ciu lain di desanya. Untuk memproduksi ciu, tidak jarang ia harus berhutang dulu kepada juragannya. Harga gula kelapa yang tinggi seringkali menjadi kendala pasokan bahan baku mereka. Selain gula kelapa, ia juga harus mencari ketan hitam dan singkong sebagai tambahan bahan baku pembuatan ciu tersebut. Proses perendaman adonan cair gula kelapa dan tape ketan hitam ini mencapai seminggu. Baru setelah seminggu itulah ia menunggu pembeli atau tengkulak yang memberinya modal. Posisi tawar mereka dalam menentukan hargapun rendah. Harga ditentukan oleh para tengkulak dan pedagang besar. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membuat dan membuat terus ciu untuk bisa menghidupi mereka.

Tak mengherankan ketika harga miras melambung di pasaran, ciu menjadi salah satu alternatif pengganti miras yang dipandang murah. Melambungnya pasaran miras bermerek di pasaran melambung, produksi ciu cikakak itulah menerima dampaknya. Ciu produksi para perajin laris manis. Melihat harga ciu yang gila-gilaan itulah, perajin yang semula tak memproduksipun tertarik untuk memproduksi ciu lagi. Namun panen perajin ciu itu hanya sebentar, karena dua orang perajin tertangkap oleh pihak berwajib.

"Yyah memang seperti itulah pasang surut perajin ciu di sini sejak jaman dulu hingga sekarang. Sebagai perajin kita hanya hidup pas-pasan dari membuat ciu ini. Tapi mau tidak mau saya bisanya bergantung dari sini, karena dari sinilah dari dulu saya hidup. Membuat ciu adalah tulak mlarat bagi saya" pungkas Kartasim seperti menunjukkan kepasrahannya. Anehnya walaupun telah puluhan tahun ia memproduksi ciu, Kartasim mengaku belum pernah setetespun ia merasakan ciu buatannya sendiri.

Sekretaris Desa Wlahar Kadiwan juga membenarkan bahwa tidak hanya Kartasim, sebagian warga Wlahar memang menggantungkan hidup dari pembuatan minuman beralkohol tersebut. Pemberian alat penyulingan dan pelatihan memproses ciu menjadi bioetanolpun pernah diterima oleh para perajin di desa Wlahar. Namun memang dari pengalaman pembuatan dan hasilnya memang belum maksimal. Perbandingan penghasilan dari proses membuat ciu dan bioetanol memang selisihnya sangat sedikit. Padahal prosesnya memakan waktu lagi.

"Perbandingan dari hasil membuat ciu dan etanol ini memang tidak jauh berbeda. Perbandingan dari pembuatan ciu dengan etanol kemarin sekitar 2:1 padahal perlu proses dan waktu lagi. Harga etanolpun tentunya harus tidak jauh berbeda dengan harga BBM seperti bensin. Mungkin dari situlah para perajin belum bisa mempraktikkan hal itu. Sesuai informasi yang ada katanya dalam peraturan yang ada katanya pembuatan etanol ini tidak boleh menggunakan bahan makanan. Padahal di sini orang membuat ciu dengan gula jawa. Jadi perlu pencarian solusi yang tepat untuk permasalahan ini agar para perajin atau warga secara umum bisa terus hidup"jelas Sekretaris Desa Wlahar Kadiwan. *

::memory untuk mengenang perajin ciu yg telah tiada...::
17 Desember 2012

Jumat, 12 November 2010

Suran di Tlaga Gumelar

Membingkai Budaya Dengan Agama

Tlaga, sebuah desa jauh dari kota Purwokerto. Dengan relief tanah pegunungan namun mempunyai peradaban sendiri. Peradaban tradisi yang masih menjunjung tinggi sikap gotong royong. Bermacam budaya asli rakyat masih tumbuh subur di sana. Berbagai kelompok seni tetap ada di sebuah desa yang sebagian besar penduduknya berpencaharian sebagai penderes getah pinus. Dari 784 hektar luas desa hampir separuh lebih (412 hektar) yang merupakan wilayah kehutanan menjadi berkat kehidupan mereka.

Berbeda dengan desa-desa yang lain, Tlaga masih memiliki aneka rupa kesenian rakyat yang eksis. Kesenian tertua yang hidup di Tlaga adalah lengger. Kesenian lengger yang di masa lalu sangat erat kaitannya dengan ritus penghormatan upacara kesuburan tanah ini masih berkembang. Selain lengger atau ronggeng terdapat pula kesenian sintren, ebeg, krindhil, bentha-benthi, rindhing dan thek-thek. Semua masih eksi s tanpa kecuali.

Terlebih di bulan Sura menurut tahun Jawa dan Muharam menurut tahun Hijriyah, Keramaian akan dijumpai di desa Tlaga. Ritual Suran bagi mereka seperti telah menjadi kewajiban bagi mereka. Gotong royong untuk menyelenggarakan terlihat secara apik di anatara mereka. Bagi mereka Suran bukan hanya peringatan terhadap tahun baru Jawa atau Islam. Suran adalah sarana penghormatan dan sarana unjuk bakti kepada leluhur Tlaga.

Mereka percaya bahwa leluhur Tlaga yaitu Eyang Rebo atau Ranukertawijaya adalah leluhur desa Tlaga. Ialah orang pertama yang membuka hutan menjadi desa Tlaga. Keyakinan penduduk setempat menyatakan bahwa tampuk kepemimpin desa atau Lurah akan selalu dipegang oleh anak keturunan Eyang Ranukeriwijaya. Walaupun di jaman demokrasi sekalipun ternyata konsep kepemimpinan menurut keturunan dan kharisma ini masih berlaku di sini. Di jaman ketika semua orang berkesempatan untuk melakukan mobilisasi vertikal, ternyata tetap saja anak cucu Eyang Ranukertawijaya yang tetap ampuh dan unggul menduduki puncak pemerintah di desa Tlaga.

Amin Ismaraton, Kepala Desa Tlaga yang menurut penduduk setempat masih keturunan ke -13 dari Eyang Ranukertawijaya menceritakan identitas Eyang Rebo atau Ranukertawijaya. Menurutnya Eyang Rebo ini berasal dari Selogiri (Sekarang masuk Wonogiri) dulu masih termasuk Kerajaan Mataram Islam. Karena bangsa “mata kucing” telah mulai melanglang ke Jawadipa yaitu Mataram, maka Eyang Rebo bersama kedua orang temannya yaitu Eyang Mimbar bersama isteri, Eyang Rentug bersama isteri memberontak. Diceritakan bahwa mereka pindah dari Selogiri menuju ke barat yaitu daerah Panggungwangi. Panggungwangi adalah tempat pertama kali Eyang Ranukertawijaya singgah dan akhirnya dimakamkan. Panggung wangi ini la yang nantinya berkembang menjadi Dukuh Tengah karena merupakan letaknya di tengah dan kelilingi oleh hutan.

Karena di Panggungwangi ini terdapat banyak telaga maka suatu saat kemudian desa ini dikenal dengan nama Tlaga. Sedangkan untuk menenangkan diri dan semadi mendekatkan diri kepada Sang Hyang Tunggal, Eyang Ranukertawijaya menyepi di sebuah tempat yang kelak dikenal dengan Candi Banyumudal. Tempat inipun sampai sekarang masih terjaga dengan baik.

Di tempat yang masih merupakan dukuh Tlaga, ritual Sura berupa penyembelihan kerbau dilaksanakan. Dulu Dukuh Tlaga merupakan pemukiman penduduk. Namun karena bencana longsor tahun 1985 terjadi, Dukuh Tlaga ini dikosongkan. Relokasi penduduk Telagapun dilakukan ke tempat yang lebih aman. Menurut cerita terjadinya longsor tersebut karena manusia telah melupakan ajaran dan ritual-ritual lama seperti ritual sedekah bumi dan sudah melupakan leluhur Tlaga.

Sejak peristiwa longsor itulah penduduk mulai menggiatkan kembali ritus-ritus lama yang telah mereka tinggalkan. Sedekah bumi setiap bulan Apit atau Dulkongidah mulai digiatkan kembali. Hewan kurban disembelih sebagai penghormatan dan rasa terima kasih kepada ibu bumi yang telah memberi penghidupan kepada mereka. Selain bulan Apit, peringatan surapun masih dilakukan. Kesenian wajib ronggeng atau lengger ditampilkan karena kesenian lengger ini erat kaitannya dengan masa lalu desa Tlaga.

Lengger Jadi Kesenian Wajib

Menurut cerita kesenian lengger ini merupakan kesenian wajib yang harus dipentaskan dalam peringatan apapun. Sedangkan kesenian yang lain menjadi sebuah sunah. Menurut kepala Desa Amin Ismaraton atau yang disebut oleh masyarakat setempat lurah menceritakan bahwa kesenian lengger ini pertama kali dibawa ke Tlaga oleh Eyang Ajeng. Eyang Ajeng adalah adik dari Eyang Ranukertawijaya yang menjadi penari lengger pertama di Desa Tlaga. Eyang Ajeng menyusul, selepas Eyang Rebo pergi dari Selogiri. Sementara kedua teman Eyang Rebo pindah ke Karangdelima (Sekarang wilayah desa Petahunan, Pekuncen).

Sebagai lengger, Eyang Ajeng sangat terkenal di mana-mana. Bahkan ia sering ditanggap di daerah Pegadungan, Sunda. Bahkan ada cerita selepas ditanggap, Eyang Ajeng diberikan hadiah oleh seseorang berupa pakaian harimau. Sehingga konon ceritanya ketika Eyang Ajeng mengenakan pakaian tersebut Eyang Ajeng bisa langsung berubah wujud menjadi harimau. Orang setempat menyebut bahwa yang memberi pakaian harimau tersebut bukanlah lurah bangsa manusia, melainkan bangsa “mejajaran” makhluk serupa manusia tapi bukan manusia. Menurut kepercayaan masyarakat setempat mejajaran merupakan makhluk serupa manusia tapi tidak mempunyai tungkai kaki dan lekuk dibawah hidung serupa manusia. Sampai sekarangpun konon bekas tapak kaki merekapun sering masihkelihatan di hutan-hutan setempat.

Terlepas dari semua mitologi tersebut, kenyataannya sampai sekarang di Tlaga masih eksis berbagai seni budaya lokal setempat. Untuk lengger sendiri, telah turun temurun merupakan warisan dari keluarga. Eksisnya lengger tersebut dimungkinkan juga tidak lepas dari cerita lengger pertama di Tlaga alias Eyang Ajeng. Bahkan sampai sekarangpun Lengger Tlaga sering ditanggap oleh orang Cilacap, dan Brebes. Dalam slametan suran, pentas lengger adalah hal yang wajib. Kewajiban ini sebagai penghormatan dan darma bakti kepada Eyang Ranukertawijaya dan Eyang Ajeng. Dari cerita-cerita tersebut dapat diambil asumsi bahwa cerita mitologi yang berkembang di masyarakat sangat mempengaruhi eksisnya budaya di masyarakat.

Kepercayaan terhadap laknat dan prahara karena melupakan sesuatu yang gaib di luar dirinya merupakan sarana kendali masyarakat yang gaib dan sakral itulah yang membuat kelestarian dan keaslian budaya dan tradisi setempat tetap terjaga. Adanya mitologi Eyang Ajeng sebagai leluhur para lengger di Desa Tlaga semakin mengokohkan posisi lengger di masyarakat. Sebagai masyarakat agraris, masyarakat Tlaga juga tidak bisa lepas kesenian bentha-benthi atau rinding. Rinding merupakan upacara dalam rangka meminta hujan. Sampai saat inipun ketika kemarau berlangsung lama, seni bentha-benthi alias rinding dipentaskan.

Penyembelihan kerbau di awal Sura juga merupakan tradisi yang telah turun-temurun dilaksanakan oleh Desa Tlaga. Penanaman kepala kerbau dan tulang-belulangnya ini tidak hanya semata ritual semata, semua ritual yang dilaksanakan tersebut erat kaitannya dengan makna lewat simbol yang dibawanya. Penanaman Kepala kerbau dimaksudkan sebagai simbol penguburan sifat nafsu serakah manusia sedalam-dalamnya agar akal dan nurani manusia tetap terjaga, tidak seperti kerbau yang semaunya sendiri menggunakan tanduknya tanpa menggunakan otak di kepalanya. Sedangkan pada upacara sedekah laut, sifat serakah nafsu itu dibuang sejauh-jauhnya lewat kepala kerbau yang dihanyutkan ke laut. Tulang belulang yang dikubur juga menasehati manusia agar tidak suka “rebut balung tanpa isi” atau berebut tulang tanpa isi. Masih banyak hal yang baik untuk dimanfaatkan di dunia.

Yang menarik prosesi Suran yang dilaksanakan di Tlaga ini mengambil hari Jum’at Kliwon dan lokasinya berdampingan dengan masjid. Dari sini Kepala Desa Tlaga menjelaskan bahwa hal itu sengaja dilakukan dalam rangka mendekatkan masyarakat dengan tempat dan waktu ibadat. Secara tidak langsung, dengan Suran ini dimaksudkan untuk mendekatkan masyarakat dengan Islam. Suatu bentuk pendekatan budaya dengan mengakomodasi berbagai kesenian yang ada di masyarakat. Sebuah strategi islamisasi yang apik, lewati strategi budaya.

Agama sebagai pil pahit obat permasalahan manusia memang tidaklah langsung dapat ditelan manusia. Dengan bingkai seni budaya lewat simbolisasi bentuk pentas, syair, bahasa, tembang dan ritual Suran diharapkan agama dapat disisipkan sehingga dapat masuk ke dalam tubuh manusia. Namun yang disayangkan seringkali orang tua karena keterbatasan pengetahuannya belum dapat maksud simbolisasi dan maksud ritus-ritus Jawa yang dijalankan sejak dulu. Sehingga lebih banyak orang Jawa seringkali bertindak secara tradisional, atau atas dasar kebiasaan, bukan kesadaran. Padahal kesadaran atau nalar logis merupakan salah satu pangkal pondasi keyakinan dan kepercayaan beragama.

Menjalankan ritus budaya secara sadar berarti mengerti maksud dan hakikat sebuah ritus dilaksanakan. Dengan mengerti hakikat tujuan dari simbolisasi dari berbagai ritus, manusia akan semakin bijaksana memandang terhadap sesuatu hal. Tidak seharusnya semua dipandang dengan pola oposisi binner. Manusia tidak akan serta merta menganggap ritus suran itu bertentangan dengan syariat Islam. Ritus suran justru dapat diartikan sebagai upaya untuk senantiasa menyelaraskan dan mengharmonisasikan hubungan manusia dengan manusia, dan manusia dengan semesta dengan bertumpu pada satu tujuan yaitu Tuhan Sang Hyang Tunggal.

19 desember 2009, 00.20 wib

Sebagian teks pernah dimuat di rubrik Kloyong,
Suara Banyumas-Suara Merdeka 12 November 2010

Ahmad Tohari : "GusDur Sare Ning Lemah" Mengambil Pelajaran Dari Perilaku Gus Dur


Susanto-Karanglewas

100 Hari lebih Abdurahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur meninggalkan kita semua. Namun pembicaraan, cerita, kenangan tentangnya masih hangat terdengar di telinga kita. Berbagai buku yang mengulas tentang keseharian, sikap dan pemikiran Mantan Presiden RI ke-4 ini bertebaran mengisi rak-rak buku di toko-toko buku. Semasa hidup tokoh yang pernah menjadi pucuk pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini, sikap, pemikiran dan tindakannya selalu mengundang pro dan kontra berbagai pihak. Setelah wafatnyapun jasa-jasanya masih dikenang, sampai-sampai gelar pahlawanpun mencoba diusulkan oleh berbagai pihak kepada pemerintah. Sepeninggal GusDur, orang-orang yang semasa hidupnya dekat dengan cucu Hadrotusyaikh Hasyim As'ari ini selalu diundang di berbagai diskusi, refleksi, do'a bersama mengenang Gus Dur. Sahabat dekat Gus Dur yang juga budayawan asal Banyumas salah satunya adalah Ahmad Tohari.

Memperingati 100 hari GusDur di Balai Desa Jipang Kecamatan Karanglewas yang dihadiri oleh ribuan jam'iyah Nahdlatul Ulama beberapa waktu lalu, Ahmad Tohari menceritakan sekelumit perngalamannya sewaktu dengan Gus Dur. Pengalaman Kang Tohari begitu ia lebih senang disapa berawal ketika ia menjadi salah satu redaktur di salah satu majalah di Jakarta yaitu sekitar tahun 1981 silam. Ketika itu GusDur masih duduk di pucuk pimpinan di struktural PBNU pusat.

Pengalaman pengarang Novel Ronggeng Dukuh Paruk ketika berhubungan dengan Gus Dur antara lain ketika suatu hari Gus Dur yang singgah menginap di rumahnya. Sewaktu menginap itulah berbagai perilaku Gus Dur yang waktu itu menjadi pembesar NU dan orang yang ditakuti oleh Orde Baru menjadi pelajaran bagi Ahmad Tohari dan keluarganya. Memang banyak yang tidak bisa diterka dari perilaku GusDur ketika menginap di rumah Ahmad Tohari.

"Saya masih ingat kata para Kyai, kalau "polah tingkahe wong sing sugih ilmu kuwe dadi pelajaran". Yah itulah ketika Gus Dur menginap di rumah saya. Waktu itu sudah saya sediakan kamar yang terbaik untuk Gus Dur. Ee....ternyata Gus Dur malah meminta saya karpet dan ternyata "GusDur sare ning lemah" hanya berlandaskan karpet waktu itu. Padahal siapapun tahu kalau waktu itu GusDur dengan pengaruhnya adalah orang yang ditakuti oleh Orde Baru waktu itu" cerita Ahmad Tohari menjelaskan.

Pelajaran spiritual dan sosiologis yang dapat ditarik dari GusDur yang tidur di tanah hanya berlandaskan karpet lanjut Ahmad Tohari ialah "dadi wong kuwe aja merasa diri mulia di hadapan orang lain". Ketika seseorang sudah merasa mulia dibandingkan dengan orang lain maka yang terjadi ialah seseorang tersebut akan menjadi susah untuk bersilaturahmi atau membangun hubungan baik bagi sesamanya. Sikap humanisme dan egalitarian yang dicontohkan Gus Dur inilah yang memudahkan putra Wahid Hasyim ini dapat menjalin hubungan dengan berbagai kalangan tanpa memdedakan SARA.

"GusDur tidur di karpet itu saya tafsirkan kalau Gus Dur itu konsisten dengan Syahadatnya. Analoginya yaitu ketika Umar Bin Khotob yang sewaktu menjadi amirul mukminin waktu itu rela berkeliling memanggul gandum untuk diberikan kepada janda yang sedang kelaparan. Yang sering tidak kita tanyakan adalah landasan moral kenapa Umar yang seorang amirul mukminin rela berbuat seperti itu. Dari situ kita bisa mengambil pelajaran bahwa Umar yang seorang amirul mukminin tidak merasa lebih mulia dibandingkan dengan si janda yang keluarganya kelaparan tersebut. Sikap Gus Dur yang tidak merasa mulia di hadapan siapapun tersebut memang patut ditiru. Jika orang sudah merasa dirinya mulia di hadapan orang lain itu sudah mulai menjadi penyakit yang mengotori Syahadatnya" jelas Kang Tohari mulai menguraikan tafsir-tafsirnya terhadap perilaku Gus Dur.

Ahmad Tohari menekankan bahwa sikap merasa penting dan mulia di hadapan orang lain memang bisa membatasi seseorang untuk bisa menjalin relasi dan komunikasi dengan orang lain. Sikap merasa penting di hadapan orang lain mengakibatkan silaturahmi seseorang menjadi terganggu dan sangat membahayakan bagi syahadat yang telah diikrarkan oleh setiap muslim. Padahal syahadat memang bukan hanya diikrarkan lewat lisan dan diyakini dengan hati. Namun syahadat memang juga harus diimplementasikan lewat perilaku sehari-hari. Tindakan Gus Dur yang tidur seadanya di atas karpet juga menunjukkan kalau GusDur juga tidak mementingkan kepentingannya diri sendiri. Gus Dur bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi dimanapun dan kapanpun.

Kekonsistenan GusDur dalam menjaga dan mengimplentasikan syahadat dalam kehidupan sehari-hari merupakan bukti Gus Dur menunjukan Islam sebagai agama yang diturunkan sebagai penyempurna akhlak di dunia. Dengan merangkul berbagai kalangan tanpa memperhatikan suku agama ras dan antar golongan Gus Dur menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Selain tidak merasa dirinya mulia di hadapan orang lain Ahmad Tohari juga menekankan bahwa Gus Dur juga tidak merasa dirinya di hadapan orang lain. Hal ni dibuktikan dengan sikapnya yang berani berhubungan, mengkritik, memberi masukan dengan siapapun 'tanpa tedheng aling-aling'. Tidak mengherankan bahwa jika dalam sikap hidupnya selain mengundang pro dari salah satu kalangan, juga tidak jarang dapat mengundang kontra dari berbagai pihak dari orang lain. Sebagai contoh sikap GusDur yang menjalin kerjasama dengan negara Yahudi Israel yang notabene selama ini menjadi musuh 'umat Islam'. Waktu itu ia menghadiri konferensi agama-agama se dunia.
Ahmad Toharipun merasa prihatin kalau sekarang ini jarang pemimpin yang mewarisi sikap-sikap Gus Dur dalam kepemimpinannya. Iapun berharap kalau generasi-generasi sekarang dapat kembali sikap-sikap GusDur. Terlepas dari kelebihannya, sebagai manusia GusDur juga tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan. Sebagai pemimpin Gus Dur patut ditiru lewat sikapnya yang santun dan sederhana dalam menanggapi segala persoalan yang dihadapi bangsanya. Walaupun terkadang sikap dan pemikirannya memang sulit ditafsirkan namun ternyata secara empiris ternyata banyak sikap dan pernyataan Gus Dur yang terjadi dan terbukti kebenarannya.

"GusDur rawuh Senen sore terus kondur Rebo. Dan yang menjadi perhatian saya ialah sewaktu berangkat sampai pulang Gus Dur tetap memakai baju yang sama. Baju lengan batik yang sama. Ini menunjukkan Gus Dur sikap hidup yang sederhana" cerita Ahmad Tohari menuturkan. Waktu itupun GusDur yang notabene berada di pucuk pimpinan PBNU pusat ia hanya menggunakan mobil Espas. Berbeda dengan fenomena sekarang, di mana banyak kyai-kyai yang menggunakan mobil mewah. Berbeda dengan pemimipin-pemimpin sekarang, Gus Dur memang risih dengan hal-hal yang berbau mewah. Seperti terlihat di Muktamar NU beberapa waktu banyak sekali mobil mewah yang dipergunakan oleh para pemimpin-pemimpin agama dan negara. Sementara di sisi lain, madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah di desa kondisinya banyak yang rusak dan memprihatinkan.*

Jumat, 19 September 2008

Aboge punya hisab tersendiri 3 September = awal Ramadhan tahun ini

Tidak (akan pernah) menunggu ketetapan dan pengumuman tentang tanggal satu Ramadhan 1429 Hijriyah. Begitulah sikap para pengikut kalender Aboge ketika bulan ramadhan menjelang.
Pengikut kalender jawa atau yang sering disebut Wong Aboge di daerah banyumas, memang tidak akan rebut dan sibuk menunggu keputusan pemerintah dalam menentukan satu Ramadhan. Dengan berpedoman dengan kalender Jawa warisan Sultan Agunglah, mereka secara mandiri dan kukuh menentukan awal setiap bulan termasuk bulan Ramadhan tahun ini.

Adapun Ramadhan tahun ini menurut perhitungan atau hisab mereka jatuh pada hari RABU WAGE tanggal 3 september 2008 sehingga selisih tiga hari dengan ketetapan pemerintah yang resmi menentukan 1 ramadhan yang jatuh pada tanggal 1 september 2008 besok.
Perbedaan ini didasarkan pada tahun Jawa kali ini diyakini oleh pengikut Aboge ini sebagai tahun Jim Awal. Adapun satu Sura atau Muharam pada tahun Jim Awal tersebut adalah jatuh pada hari Jemuah Pon. Sehingga bulan Ramadhan dengan rumus donemro/sanemro (akronim: Romadhon/Puasa Enem Loro) jatuh pada hari Rabu Wage.

Secara singkat hari Rabu Wage ini didapat dari hitungan Ramjiji (Muharam Siji Siji) sebagai pathokan hari menentukan tanggal bulan selanjutnya. Sedangkan Rabu Wage dengan rumus Donemro/Sanemro ini berasal dari hari keenam setelah Jum’at dan Pasaran kedua setelah Pon.
Bagi Pengikut Aboge bulan puasa atau Ramadhan tetap harus dihitung tigapuluh hari genap. Tidak ada dalam kamus mereka bulan ganjil. Sejak sekarangpun sampai kapanpun pengikut aboge ini bisa memastikan awal bulan apa saja hanya dengan berdasarkan dengan perhitungan atau hisab aboge yang mereka yakini.

Pengikut aboge ini masih berkembang di daerah banyumas termasuk di desa cibangkong, kecamatan pekuncen. Selain di cibangkong pekuncen, di desa-desa kecamatan ajibarang, wangon, dan jatilawangpun masih banyak pengikut aboge yang memegang teguh hisab aboge ini. Bagi mereka sebagai orang Jawa, Hisab Aboge adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar.” Angger jenthikku esih bisa nekuk, inyong tah esih tetep kenceng nyekeli kiye” begitu ungkap Bapak Santibi, tokoh Pengikut Aboge di dukuh Gandusari, desa Cibangkong Pekuncen Banyumas.

Bagaimana dengan anda?
Apakah anda akan mencoba Hisab Aboge ini?
Semua terserah anda?
Tanpa anda toh mereka masih ada?

Sabtu, 23 Agustus 2008

sedulur papat kelima pancer

jere termasuk ngelmu tuwa
utamane bagi wong jawa
yen dilentrehake dawa critane
kabeh mau anu kepercayaan atawa keyakinan
mistis jawa sing wis kasebut wiwit jaman ganu

sing apik pancen seimbang
imbang dunya karo akhirat
sarengate dienggo
tur jawane ora mblodro

Selasa, 05 Agustus 2008

SESAJI

kupat lepet, wedhang kopi sepet, wedhang teh, wedang bening, banyu kembang, jajanan pasar, kembang, godhong salak, jampang pias, godhong burus, tempe bongkrek, rokok bangdjo, dages, endhog ayam jawa, menyan lan liya-liyane esih akeh....

ser ser thut

ser ser thut sira sira sing ngentut
jejeli awu burut sruwut jekathut jeput

JONJANG DOMINO SOLO

jonjang domino solo
babu londo momong sinyo
sinyone nangis bae
didolani motor mabur
motor mabur mabur ning duwur
numpak sepur mudun ning kroya
...................

Kamis, 24 Juli 2008

DOLANAN GOTRI

gotri ala gotri nagasari ri
riwul awul awul jaka mentul tul
tulen mbesuk gedhe dadi opo po
bodem mbako enak mbako sedheng dheng
dhengklok engklak engklok dadi kodok


syair dolanan ini sudah lama tak kudengar dengan riuh berisik anak-anak desa. bermain dengan serpihan genteng ditumpuk sejumlah pemainya, yang diletakkan daam sebuah lingkaran di atas tanah. berkumpul melingkar, memutar, dan mendapat giliran apes ketika mendapat kodok yang disimbolkan dengan sebuah batu yang besarnya segenggam tangan.

penunggu kodok selalu menginjak kodoknya.
mencari teman-temannya yang ngumpet di sela-sela semak ataupun belakang rumah-rumah
memanggil nama teman yang telah ketemu dan menginjak kodok batu, sampai terpanggil dan ketemu semua atau kalau tidak ketemu dia akan menjadi penunggu lagi dan terus menunggu,
malah kadang sampai nangis karena bosan atau ingin ngumpet tapi tak berkesempatan

dolanan itu dulu dimainkan seusai kami pulang sekolah
malam purnama itu sangat dinantikan kami, kebetulan dulu tetanggaku punya halaman luas
kini halaman itu telah ditanami bangunan rumah megah
dan kami sudah dewasa sedangkan otak kapitalisme telah menyulap dan menciptakan permainan-permainan yang serba baru elektronik, duit, listrik, dan sebagainya.

yang menyedihkan generasi sekarang
suka produk luar negeri, dolanan dalam negeri yang sarat akan kegotong royongan, kerjasama, toleransi, kerja keras, belajar strategi, kecermatan, ketelitian, kecepatan seperti salah satunya dalam dolanan GOTRI ini telah hilang bahkan tidak dikenal

SUDAH SAATNYA KITA ANGKAT KEMBALI LOKALITAS YANG KIAN TERPURUK DAN MUMPUNG BELUM HILANG DAN MASIH ADA GENERASI SEPERTI KITA

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI?

GO TO HELL CAPITALIST!!!!!!

wong gemiyen ndeleng terangan

mangsa terangan kaya siki pancen gawe susah wong sing ning desane ora sugih banyu. mangsa terang nyebabna banyu-banyu ning kali, sumur, utawa tuk kuwe pada cilik malahan akeh sing wis padha garing juga, padahal banyu kuwe banget pentinge tumerape wong urip.

siki sing dadi pitakonan kuwe, sebab apa deneng banyu-banyu ning mangsa terang siki banget angele?
aku dadi kemutan karo biyung niniku sing nyeletuk ngomong kaya kiye
"jaman gemiyen tah mboka mangsan terang kaya kiye, apa maning nembe telung wulan kuwe banyu esih akeh.angger jaman siki kuwe aneh. mbuh kepriwe? alame wis owah ndean? apa wonge sing padha kekehen polah merekna dadi kaya kiye..."

"jaman ganu kuwe rampunge mangsa terangan mlebu mangsa rendeng kuwe akeh pertandane misale
1. wit gadhung pada lung
2. gemiyen kuwe ana manuk rangkok sing mabur maring gunung Slamet sekang kidul kuwe pertandane arep udan...
tapi jaman siki kuwe angel, medheke. sebabe wit gadhung wis jarang sing nandur apa maning manuk rangkok sing cucuke dawa, malah wis ora ana ndean"

Rabu, 14 Mei 2008

adik kakak

senyum itu
belum mengerti akan arti kesulitan ekonomi yang sering menggerogoti orang tuanya....
keluguan mereka berdua
patut dipertahankan demi terjaganya negeri ini
sebuah negeri yang tercerabut
sebuah bangsa di mana kejujuran adalah barang langka

seperti manusia

seperti manusia
manusia seperti
semua terkumpul dalam bentuk nyata
berjajar kulit sapi yang telah terukir tangan perajin
wayang telah tertata dalam pertunjukkan
semua diam menunggu tindak dan perilaku sang dalang

semua terserah dalang
semua terserah wayang
tapi manusia bukan wayang
wayanglah bayangan manusia

seperti inilah ketika wayang berjajar
semua terdiam sepi
menunggu gerak tangan sang niyaga
memainkan irama dalam tabuh gamelan yang bertalu-talu
dalam sebuah lakon kehidupan tanpa nama

dari jejer hingga gara-gara
semua mata terpana
namun bukan pada keahlian pada sang dalang
melainkan pada sang setan yang bertahta
berkuasa pada lingkaran nafsu manusia
bukan pada gunungan wayang
yang dipegang dalang

semua terserah manusia

Kamis, 01 Mei 2008

"Jerene wong aboge"


"TAJUG RUJUG, SANTRI MREBES MILI"

(Mushola banyak, banyak santri menangis)

Ungkapan ini keluar dari lisan Bapak Sanmuklas. Ungkapan ini dalam bahasa Indonesia berarti semakin banyak mushola, semakin banyak santri yang menangis. Ungkapan Jawa Banyumas konon diperoleh dari orang tua jaman dulu yang sudah mewanti-wanti kepada orang Jawa agar terus kuat menjaga kejawaannya. Jangan sampai orang Jawa hilang keJawaanya, karena di masa sekarang banyak orang Jawa yang tidak tahu asal usul kejawaannya.

Ungkapan tajug rujug lebih khusus berisi prediksi bahwa nanti setelah banyak tempat ibadah berdiri sebagai simbol semakin berkembangnya santri atau agamawan mengembangkan Islam atau kata rujug berarti sudah semakin banyaknya pemikiran dan golongan Islam di bumi Jawa ini nantinya akan terjadi santri mrebes mili atau banyak santri meneteskan air mata. Ini merupakan simbol dari kebingungan santri atau orang Islam yang mencari pegangan ajaran yang benar dan membawa keselamatan. Diyakini oleh informan bahwa ketika fenomena chaos karena kebingungan beragama ini terjadi maka akan muncul seorang Jawa yang akan mengembalikan bumi Jawa ini ”menjadi Jawa kembali”. Menurutnya datangnya Ratu Adil penyelamat Jawa ini adalah suatu keniscayaan yang akan terjadi.

Berkaitan dengan ungkapan filosofi tajug rujug santri mrebes mili, pengikut Aboge-Syattariyah atau Wong Aboge Cirebonan meyakini bahwa nantinya agama yang sekarang dipegang oleh ahli-ahli agama yang dengan berapi-api berdakwah di masjid-masjid atau mushola akan mengalami penurunan karena banyak umat yang mengalami kegalauan, keragu-raguan bahkan kebingungan dalam menjalankan dan mengamalkan ajaran Islam. Pada saat itulah nanti akan muncul ”seorang Jawa” yang bisa menjadi penyelamat (mesias) yang memberi petunjuk tentang agama Islam yang benar yang harus dijalankan oleh umat manusia.

Walaupun tidak menyebutkan nama aliran atau paham yang benar namun pengikut Aboge ini menyebut-nyebut bahwa nanti agama Islam yang sejati adalah agama Islam yang ada di Jawa yang dimiliki oleh orang Jawa. Diyakini bahwa orang pilihan yang kelak menjadi penyelamat dan penunjuk kebenaran itu sekarang belum muncul namun sedang bertapa mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi jaman akhir.

di sela adzan-iqomat

allahumma sholli wassallim 'alaa

sayyidina wamaulana muhammad


wajib ngaji wiwit ana ing bandulan

tumeka denselehake ning kuburan

aja ngemungaken isi isen weteng

mbesuk mati nemu kubur luwih peteng


ora liya kang madhangi ing kuburmu

ngamal soleh, ati resik tuwin ilmu


ayo konco, ayo konco padha ngaji

mbok menawa sue-sue bisa ngerti

yen wis ngerti nggo nglakoni

angabekti maring Gusti

Selasa, 22 April 2008

turki (pitutur si kaki)


1.Pandangan terhadap Ketentuan Tuhan

Mengenai ketentuan Tuhan dan kehendak manusia hendaknya manusia menyadari dan menerima setiap ketentuan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Pada hakekatnya segala peristiwa dan kejadian adalah atas kekuasaanNya. Perjalanan manusia baik bahagia, celaka, begja, apes bilahi wis ginawe dening Sing Kewasa. Manusia harus menyadari bahwa segala ketentuan seperti bahagia, celaka, rejeki itu datangnya tengah malam. Jadi manusia tidak bisa mengelak dan menghindar dari segala ketentuan Tuhan. Segala ketentuan akan diterima manusia, menungsa mung kari ngadhangi. Oleh karena itu manusia harus selalu percaya pada Yang Maha Pembuat Hidup.

Ada cerita lisan dari Bapak Tirtaja yang berjudul Maling Pandunga Guna. Maling Pandunga Guna adalah cerita lama yang sudah jarang orang ketahui dan ingat. Ceritanya tentang kisah hidup seorang maling.1 Maling pandungan guna adalah maling yang sakti punya ilmu sirep yang luar biasa hebatnya. Diceritakan ilmu sirepnya bisa mengendalikan tidur orang-orang. Dia mencuri untuk dibagikan kepada orang yang melarat. Ceritanya berawal ketika si maling ini mau menyatroni seorang penduduk di sebuah desa. Setelah sampai di rumah salah satu penduduk itu, si maling mengendap-ngendap masuk ke rumah. Akhirnya dia berhasil masuk, namun rencananya untuk mencuri barang-barang berharga di rumah salah satu penduduk ini diurungkan setelah melihat kejadian aneh di rumah tersebut.

Rupanya ketika si maling mau memasuki senthong2si empu rumah, istri empu rumah ini sedang hamil besar dan mau melahirkan. Malam itu adalah tepat malam melahirkan bagi isteri si empunya rumah. Aksi pencurian ini urung dilakukan dan bahkan si maling malah melihat kejadian aneh ketika si isteri empunya rumah melahirkan seorang anak. Si maling mengamati proses kelahiran si jabang bayi dari atas atap rumah. Ia tersentak kaget ketika bersamaan dengan lahirnya bayi perempuan itu terdengar suara gaib yang entah dari mana asalnya. Yang aneh adalah hanya dia yang mendengar suara itu. Suara itu mengatakan bahwa kelak si bayi yang baru lahir itu akan menemui ajal ketika menikah dan matinya disebabkan oleh gigitan ular saat akan memasuki kamar pengantin.

Peristiwa gaib malam itu selalu terngiang-ngiang dalam ingatan si Maling Pandunga Guna dan secara tidak sadar rupanya ia berusaha untuk niteni,meneliti dan membuktikan kebenaran pernyataan gaib tentang sebab matinya si bayi perempuan yang baru lahir kelak di malam pertama perkawinan. Semenjak si bayi perempuan itu lahir sampai dewasa si Maling Pandunga Guna mengamati perjalanan hidup bayi perempuan itu sampai dewasa. Kemudian tibalah saat pernikahan anak perempuan tersebut. Karena mendengar anak perempuan tersebut menikah, Maling Pandunga Guna penasaran ingin membuktikan kebenaran perkataan suara gaib yang dulu didengar ketika calon penganten perempuan lahir.

Akhirnya Maling Pandunga Guna mendatangi pernikahan tersebut, dan dia hadir bukan sebagai maling seperti dulu. Dari awal sampai akhir prosesi pernikahan penganten perempuan diamati tanpa terlewat satu sesipun. Akhirnya berakhirlah prosesi pernkahan dan tibalah pengantin masuk ke kamar penganten. Maling Pandunga Guna mengikuti kedua pengantin yang sedang menuju tempat peraduan pengantin dari belakang. Saat-saat menuju ke kamar pengantin semakin dekat dan benar tepat di atas pintu kamar sang pengantin, ada seekor ular yang menanti sang pengantin wanita untuk masuk ke kamarnya.

Pikiran Maling Pandunga Guna semakin gelisah dan sambil memegang keris di belakang bajunya ia terus mengamati dengan sigap setiap langkah pengantin wanita yang semakin mendekati pintu kamar. Tepat di depan pintu kamar itu sang pengantin wanita berusaha untuk membuka pintu. Saat pengantin wanita memegang daun pintu, ular yang melilit di atas pintu itu jatuh dan berusaha untuk mematuk si pengantin wanita. Seketika itu Maling Pandunga Guna langsung menebas ular dengan kerisnya. Ular itu mati dan malam pertama pengantin berjalan lancar dan pengantinpun selamat. Pikiran dan hati Maling Pandunga Guna lega bahwa kejadian yang telah dititeni atau diperkirakan akan terjadi, ternyata benar-benar pengantin wanita tidak mati karena ular. Walaupun suara gaib itu benar terjadi tetapi kecelakaan dan kematian itu dapat dihindarkan malam itu.

Pagi hari tiba setelah malam pertama pengantin wanita berlalu. Maling Pandunga Guna pagi itu kaget ketika mendengar bahwa si pengantin wanita mendadak meninggal. Setelah mendengar berita tersebut Maling Pandunga Guna menyelidiki kembali sebab si pengantin wanita itu meninggal. Setelah bertanya-tanya kronologis kejadian yang dialami si pengantin wanita sejak tadi malam sampai dia meninggal setelah membuang sampah. Maka setelah diamati dan dipikirkan dengan seksama oleh Maling Pandunga Guna. Maling Pandunga Guna berkesimpulan bahwa si pengantin wanita itu tetap saja mati karena sebab musabab berhubungan dengan ular. Kejadiannya adalah ketika si pengantin wanita membuang sampah bersama suaminya3, bayangan si pengantin wanita itu tepat mengenai kuburan ular mati yang tadi malam gagal membuat mati sang pengantin. Saat bayangannya tepat mengenai kuburan si ular dan seketika itulah si pengantin wanita itu terjatuh lemas dan meninggal seketika.

Cerita Maling Pandunga Guna tersebut sebenarnya mengajarkan tentang berkuasanya suatu kekuatan di luar manusia yang menguasai hidup manusia. Tuhan mempunyai kuasa dan kehendak (qudrat iradat) terhadap makhluknya. Secara doktrinal dalam Islam sejak masih di dalam kandungan manusia telah melakukan kontrak perjanjian dan sumpah setia kepada Sang Maha Hidup. Di sana telah ditentukan lama waktu hidup di dunia dan tujuan hidup di dunia. Umur, rejeki, jodoh dan mati telah ditentukan oleh Tuhan semenjak manusia dalam kandungan. Manusia hanya menjalani hidup dan wajib berusaha untuk hidup sesuai dengan peraturan Tuhan diatas bumi ini sebagai kholifah fil ardl. Dapat dikatakan bahwa badan dan roh ini adalah titipan Tuhan kepada manusia untuk selalu dijaga dan dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik utamanya beribadah. Karena titipan maka setiap saat bisa diambil dan oleh karena itulah setiap saat seharusnya siap untuk diambil dengan ikhlas. Kekuasan Tuhan selalu di atas kehendak manusia. Sekuat apapun manusia tidak mungkin menandingi kekuasaan Tuhan sehingga manusia sudah sepatutnya lila legawa nerima ing pandum Sing Gawe Urip.

(sumber:sub bagian BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN
DRAFT SKRIPSI: RELIIGUSITAS KOMUNITAS ABOGE DI DESA CIBANGKONG-PEKUNCEN BANYUMAS
SUSANTO F1A003064 SOSIOLOGI FISIP UNSOED)

tentang desaku

babad CIBANGKONG

Dahulu ada seorang pemuda yang telah mengenal agama di negeri Pasundan. Dia jatuh hati kepada seorang gadis yang ternyata anak seorang garong atau maling. Karena saling mencintai akhirnya mereka menikah dan menjadi suami isteri. Setelah menjadi suami isteri, mereka tinggal di rumah orang tua isteri yang setiap harinya berpekerjaan sebagai maling atau pencuri. Mertuanya sangat terkenal sebagai garong yang lihai dan sakti. Namun pada suatu hari mereka diusir oleh mertuanya untuk pergi dari rumah. Hal ini dikarenakan selama mereka tinggal bersama mertuanya suami isteri itu tidak mau memakan makanan hasil jerih payah curian/garong.

Mereka meninggalkan negeri Pasundan, berjalan tak tentu arah. Lelaki itu mengembara melewati dan menelusuri hutan belantara (nglangsur ing wana) bersama isterinya. Akhirnya lelaki itu dikenal dengan (Mbah) Surawana. Panas terik dan hujan dihadapi mereka selama dalam perjalanan. Karena merasa letih akhirnya mereka memutuskan (ngundur) untuk beristirahat (liren) di bawah sebuah pohon yang teduh. Pohon itulah yang akhirnya disebut pohon durian (duren). Duren berasal dari kerata basa ngundur-liren. Di sekitar tempat itulah akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal. Mereka akhirnya membabad hutan (babad alas) dan membangun tempat tinggal.

Setelah lama diusir dan meninggalkan keluarganya di Pasundan, rupanya Surawana dan isterinya dicari-cari oleh keluarga dan kerabatnya. Para keluarga dan kerabat akhirnya mencari Surawana dan isterinya ke arah Timur. akhirnya mereka tiba di daerah tempat Surawana dan isterinya tinggal. Dalam perjalanan mereka melewati kali. Salah satu dari mereka melihat hewan di dalam air. Karena tidak tahu apa nama hewan yang ada di air itu, akhirnya dia bertanya, ” Eta naon di cai?” (apa itu yang ada di air?). Yang lainnya menjawab ”eta bangkong” (itu bangkong1). Dari dua kata itulah (cai=ci dan bangkong) akhirnya tempat Surawana dan isterinya tinggal dinamakan Cibangkong.

Akhirnya keluarga dan kerabat Surawana dan isterinya bertemu dengan Surawana dan isterinya. Rupanya isteri Surawana belum lama melahirkan seorang anak. Kerabat Surawana membawakan uthuk (anak ayam) sebagai oleh-oleh bagi si bayi. Kemuadian anak ayam tadi di kurung dalam sebuah gondek (keranjang ayam). Konon dari situlah anak pertama Surawana diberinama (Mbah) Gandek. Dipercaya bahwa kuburan Mbah Gandek sampai sekarang masih ada dan terletak di daerah Pekuburan Munthuk (salah satu pekuburan yang terdapat di daerah Cibangkong sebelah utara yang masih ada). Anak kedua dari Surawana ini bernama (Mbah) Padar. Dibanding Gandek, Padar lebih kurang ajar dan bandel. Anak ketiga dari Surawana bernama Mbah Melir, karena dia punya kebiasaan bangun siang (wis awan nembe ngelilir. Kedua anak Surawana yang lain bernama (Mbah) Kerticelili dan (Mbah) Pratin. Mbah pratin adalah salah satu dari anak Surawana yang senang menjalankan laku prihatin dan tirakat.Mbah Kerticelili dikenal sebagai garong yang sakti. ilmu garongnya ini dipelajari dari kakeknya yang merupakan seorang garong.

Diceritakan bahwa suatu hari kerticelili mencuri seekor kerbau milik orang Ciberung. Kerbau itu bertanduk nyamplang (mangarah ke atas, seperti tanduk kerbau pada umumnya). Namun berkat kesaktian Kerticelili tanduk kerbau itu dibalik menjadi ndhungkul (mengarah ke bawah seperti tanduk kambing gibas). Sehingga walaupun kerbau yang dicuri itu diperikasa oleh pemiliknya, sang pemilik tidak bisa mengenali. Selama diperiksa oleh pemiliknya, Kerticelili yang sedang menggembalakan kerbau itu hanya celala-celili (senyum-senyum) sambil melihat kebingungan sang pemilik kerbau yang tidak mengenali kerbau yang dicurinya.
Sampai sekarang makam Mbah Pratin dan Mbah Padar masih ada. Kedua makam itu berdampingan. Sedangkan makam Mbah Kerticelili itu berada tepat dipinggir jalan. Tepatnya arah pojok barat daya pemakaman Cibangkong bagian selatan (arah dukuh Gandusari). Makam Mbah Pratin ini masih sering dikunjungi masyarakat setempat untuk berziarah ketika bulan Syawal tiba atau juga sebagai sarana ijin, bertawasul agar hajat dan kepentingannya terlaksana. Dari sinilah pekuburan/pemakaman di Cibangkong masih dianggap ampuh, sampai-sampai segala macam pohon yang berbuah di pekuburan (kelapa. pisang, pucung dsb) tidak pernah diambil oleh warga sekitar untuk dimakan apalagi dijual.