Tampilkan postingan dengan label aforisma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aforisma. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2012

seperti

seperti langit yang berucap lewat hujan
seperti senja yang berkata lewat semburat mega

terlalu indah untuk dikatakan
kata tak cukup untuk mengatakan semua
?:[???????)

A: Rasa kasihan itu sering membunuh perasaan...
Saya terjebak tak mampu berbalik, atau berbelok, terkekang rasa kasihan. saya terlalu rapuh untuk berkata tidak. meski dengan begitu rasaku terbunuh.
B:Dinikmati saja, Bismillah
A:Sepertinya kita sama-sama....semoga diberikan yang terbaik/Bismillah
B:.....
Kita lihat aja nanti....

26 februari 2012

Senin, 01 Februari 2010

sudut pagi di sudut jalanan Kampus

sudut hatiku masih kelu mngingat hari di sebuah sdut jalan Kampus, Purwokerto. hari ketika tangan mungil bocah perempuan itu menjumut gelas plastik di tengah gunungan sampah itu. ingusnyapun seperti tak pernah dipedulikan. sementara neneknya mengusap keriput usia yang menempel di kening dengan tangan kirinya yang hitam..dua gelas plastik yang kotor diterima dari tangan mungil cucunya..waktu itu msih jam 05.30 pagi

Kamis, 21 Januari 2010

Gethek Untuk Angkutan Kayu Menilik Kerja Para Pengangkut Kayu di Sungai Tajum


AJIBARANG-Warga Duku...h Kalibeber Darmakradenan masih mempergunakan gethek atau rakit bambu sebagai sarana angkutan. Walaupun jembatan Kalibeber telah dibangun, ternyata gethek masih tetap digunakan oleh warga sekitar untuk berbagai keperluan aktifitas sehari-hari. Diantara mereka ada yang mempergunakan rakit untuk mengambil pasir, menyeberang sungai dan juga untuk mengangkut kayu.

Seperti yang dilakukan oleh Rikun (48). Ia bersama beberapa rekan kerjanya mempergunakan gethek sebagai sarana untuk mengangkut gelondong kayu. Gethek dipergunakan oleh Rikun dan kawan-kawannya untuk mengangkut kayu-kayu yang berat dari arah udik Sungai Tajum. Sedangkan untuk kayu-kayu yang ringan, mereka hanya menghanyutkannya lewat Sungai Tajum. Dengan cara seperti itu dipandang dapat meringankan pekerjaannya membawa kayu.
"Untuk kayu yang kecil dan ringan kita hanyutkan lewat sungai. Sedangkan untuk kayu yang bisa tenggelam karena besar dan berat kita pergunakan rakit ini secara bersama-sama. Memang kondisi sungai yang berliku sejak di atas sampai ke bawah sini membuat kami harus bekerja keras. Kedalaman sungai di beberapa sekitar lima tempat lubuk ada sekitar 4 meter mungkin. Terbukti galah bambu yang kami pergunakan masuk ke dalam air semua. Kita harus hati-hati ketika itu" kata Rikun menceritakan sedangkan teman-temannya yang lain sedang asyik menyantap sarapan yang dimakan sekitar pukul 11.00 siang kemarin.

Para pekerja-pekerja pengangkut kayu itu terbagi menjadi dua. Sekitar 12 orang itu terbagi menjadi dua. Beberapa diantara mereka menghadang kayu-kayu yang dihanyutkan dari sungai bagian atas sambil menunggu datangnya gethek pembawa kayu.

"Kita harus cepat-cepat mengangkut kayu-kayu itu supaya tidak hanyut ketika ada banjir di Sungai Tajum ini. Jika sudah banjir pasti kayu-kayu itu bisa terbawa arus air Sungai Tajum yang besar ini. Makanya mumpung masih terang dan belum hujan kita harus secepatnya membawa kayu-kayu ini ke darat untuk dibawa ke penggilingan kayu di perbatasan Darma-Karangbawang" kata Rikun menambahkan.

Beberapa pekerja sempat mengeluh menceritakan pekerjaannya. Ia menyatakan bahwa pekerjaan mengangkut kayu di sungai ini termasuk pekerjaan yang berat dengan resiko yang tidak ringan. Namun mereka tidak ada pilihan lain untuk mengambil pekerjaan itu, di tengah-tengah kesulitan memperoleh pekerjaan dan pendidikan yang pas-pasan dewasa ini. Tidak bisa dibayangkan ketika rakit atau gethek yang membawa kayu itu terbalik di sungai, tambahnya menceritakan.

Selama kayu belum terangkut semua maka mereka akan bolak-balik menjalankan rakitnya dengan arah hilir mudik. Mereka harus berjuang beradu kecepatan dengan tidak menentunya cuaca. Hujan yang bisa membuat Sungai Tajum banjir adalah musuh terbesar mereka ketika pekerjaan mengangkut gelondong kayu belum rampung. Dengan resiko bertaruh nyawa menyeberangi lubuk-lubuk dalam Sungai Tajum, mereka harus bolak balik membawa rakit dengan atau tanpa isi gelondong kayu. Demi terisinya perut anak isteri mereka.

Selasa, 17 November 2009

dakhirin


seorang anak seusia adikku mungkin, bergelut dengan lumpur. yang dipegangnya cemethi. bersekolah di sawah bersama kedua kerbau sang bapa. hari ini belajar 'megawe''meluku'. meratakan sawah bersama kedua pamannya.'Dakhirin' jawabnya dengan senyum sahaja ketika kutanya namanya pagi itu, ketika kusempatkan rehat sejenak di tepi jalan Rancamaya...

Sabtu, 17 Oktober 2009

perempuan itu ternyata....

suatu hari bbrp th lalu, ktika kubrgkt pgi skali,
dduk di jok bus reyot jursan Tegal-Pwt.
kumlihat di sblhku prempuan bpakaian sderhana,
bju mode 70an dgn tas cngklong dibahu knanya.
rmbutnya diikat hampir ekor kuda tapi tak jadi.
aku trun mnuju daerh kampus.
siang hariny kulihat prmpwn dg wjah sm
di muka toko yg sdg kubeli alat tulis,
tapi pnmpilannya sdh brubah
tangannya menengadah
wajah itu seperti orang tiga hari tidak makan
mungkinkah ada salon yg mmermak wjh dan
pnmpilannya hingga sdmikian myakinkan?
ah....
18 oktober 2009

anak sekecil itu di sepagi itu

seperti yang terlihat dulu, seorang anak perempuan kecil yang kini berumur lima tahunan itu pagi ini masih saja berwajah kusut dan terlihat rambutnya yang jarang terjamah Samphoo. ia masih saja mengikuti entah siapa, emak atau neneknya yg tangan kiri...nya memanggul plastik hitam besar dan tangan kanannya memegang kait panjang untuk mengorek entah apa di bak-bak sampah di tepi jalan kampus Unsoed...
18 oktober 2009

Rabu, 07 Oktober 2009

teruskan

malam hari oktober ke7 hujan turun deras sepanjang sokaraja ajibarang, tapi aku bertekad melewatinya untuk sampai di rumah. di perjalanan kubelah kubangan air sepanjang jalanan karang lewas cilongok. redup lampu membuatku memperlambat laju motor bututku ketika kulewati jalan sepi tertutup rimbun pepohonan dan rumpun bambu di daerah pageraji.lap....sebuah lampu sorot bis besar mengagetkanku saat ku lalui jalan yang agak menanjak menjelang cilongok.kukendarai motor pemberian Bapa'ku yang entah bagaimana dibelinya. sampai di Kracak, getar ponsel membuatku berhenti tepat di atas jembatan kali kawung. hujan semakin deras, kubaca pesan singkat yg ternyata dari adikku.yah...aku sudah sampai di kracak demikian kutulis jawaban pesan singkat itu. menjelang sampai di desaku, kulalui jalan-jalan berlubang yang entah kapan akan diperbaiki oleh dinas pekerjaan umum.sampai diperbatasan desaku aku terkaget. tanpa listrik desaku bagaikan desa mati. kutelusuri setapak menanjak, menuju rumah bapak biyungku.ban yang gundul membuat jalan motorku tertatih dan terpleset-pleset. akhirnya kusampai dirumah dengan basah kuyup walaupun mantel menempel di tubuhku. segera biyungku membuka tudung saji dan kukusan anyaman bambu untuk menyediakan makanan untukku. "nih ada sate, tapi dihangatkan dulu ya.."katanya sambil memegang pelita kecil yang kelap-kelip bergoyang dibawa menuju tungku batu yang menyisakan bara untukku. "lho kok ada sate, ayam dari mana"tanyaku sambil membuka jaket yang basah. ternyata beberapa hari ini ada ayam yang mati."Untung ketahuan, kalau ga pasti dah dikubur"katanya menjelaskan. yah...itulah adat orang desa, makan ayam menunggu ayamnya sakit atau menjelang mati. paginya kudengar banyak ayam mati, setelah sorenya sehat walafiat. "sungguh sebenarnya saya takut, jangan-jangan flu burung datang lagi" kata bapaku sambil mengepulkan asap dari rokok linting yang dibuatnya. remang-remang masih menjadi warna desaku malam itu. kulihat keadaan di luar rumah dari balik kaca. hanya ada daun pohon pisang yang kelihatan remang-remang pucat menghilang sambil bergoyang perlahan. hujan deras itu berganti gerimis tipis entah sampai kapan. ternyata dalam gerimis itu bapaku nekad keluar rumah untuk menyalurkan hobinya. nonton wayang dalang Gino di parakan, dengan jalan kaki dengan seorang tetangganya Man Kasoni namanya. paginya kudengar jam setengah dua ia baru pulang....

Senin, 05 Oktober 2009


awan kelabu
dua wajah
indah
sajadah
kaki langit kota
selimut panjang
jemari
tangan
kaki
menunduk
menengadah

bukan fatimah al zahra

_kadya sukma manjing reca malik sampurnaning jalma_
----
seketika aku telah menjadi arca ketika melihat paras itu
dengan sapamu sontak aku kembali menjadi manusia
***
kuraih seraut wajah ketika hari pertama bulan hujan, air dalam wajah itu telah menyapu bersih tandus fikirku di akhir masa ketiga ini, tanpa sengaja aku menemukan belahan jiwa Ali dengan tambahan keindahan nama di belakangnya, padahal yang kutahu sejak dulu namanya selalu bertabur bunga, tapi aku hanya bisa melihat, berkatapun aku terbata, jauh dari fikirku untuk menafsirkan sesuatu di balik penanda yang tajam di matanya...


Selasa, 25 Agustus 2009

tentang seseorang










ku lari ke hutan kemudian menyanyiku
ku lari ke pantai kemudian teriakku
sepi sepi dan sendiri aku benci
aku ingin bingar aku mau ke pasar
bosan aku dengan penat
dan hanya saja kau pekat
seperti berjelaga jika ku sendiri
pecahkan saja gelasnya biar ramai
biar mengaduh sampai gaduh
aih..ada malaikat menyulam jaring laba laba belang ditembok keraton putih
kenapa tak goyangkan saja loncengnya?
biar terdera
atau aku harus lari ke hutan
belok ke pantai..?

bosan aku dengan penat
dan hanya saja kau pekat
seperti berjelaga jika ku sendiri..

bosan aku dengan penat
dan hanya saja kau pekat
seperti berjelaga jika ku sendiri..

(diambil dari syair puisi dian sastro - tentang seseorang)

sandyakala ramadhan









di sebuah dukuh
ayah ibu dan dua anak kurusnya
di bilik bambu rapuh
di atas tikar pandan lusuh
tergeletak empat gelas air putih dan rebusan singkong pucat
menanti jingga langit, tak ada sayup angin,
hanya hikmat pepohonan dan tenang alam pedukuhan
didaulat suara gemetar qira' dari surau sebelah makam
bedug maghrib tak kunjung bertalu
menunggu pukulan seorang renta yang istiqomah
menunggu badan rebah terkubur dalam tanah merah


ramadhan ke-3

kembali di pertigaan traffict light ajibarang,
selalu tak sama tak seperti dulu,
puasa tahun ini dengan tahun yang silam
pada ramadhan hari ketiga
aku merasa kehilangan banyak hal
aku merasa mendapatkan banyak hal
kemarin aku kehilangan citra seorang perempuan
kemarin aku mendapatkan wajah seorang yang baru
kulihat redup parasnya jauh dari cahaya
seperti kembang layu kehilangan sarinya
"semoga prasangkaku salah" batinku berucap

Senin, 25 Mei 2009

tafsir hidup

jika kau setuju hidup adalah sebaris kata dalam sejumput paragraf kisah
ada tokoh, alur dan ada masalah yang terkadang tak selesai bahkan terpotong sebelum klimaks menyeruak karena ada sebaris kata itu terkoyak dan seringkali hilang oleh sesuatu yang tak nampak.

jika kau sepakat manusia adalah setetes tinta yang tumpah hingga menjadi rupa dan abjad
namun terkadang tinta itu tidak sampai tertetes karena terburu kering oleh tiupan angin yang selalu menjadikan malam tertuduh penyebab sebaris sajak menggigil di antara jeda dan koma
sebelum sampai pada tujuan titik penghabisan rima

jika kau menolak hidup akan tetap menjadi hidup setidaknya hanya menjadi sebaris kata tanpa makna hanya rupa abjad yang tak terbaca oleh alur cerita
manusia akan tetap menjadi manusia setidaknya seperti sajak tanpa rima hanya menjadi sebaris pantun yang tanpa isi hanya sampiran yang membuat pembaca menjadi kebingungan

jika kau menolak
toh, semua telah tergurat dalam dalam lontar masa lalu dan ketika kau mencarinya ia telah hilang di persimpangan kenangan yang terkoyak

purwokerto, 26 mei 2009
selasa wage, ketika malamnya tahlil weton dan tafrijiyah perdana

Selasa, 05 Mei 2009

berkoh-unsoed


jarum jam dinding tunjukkan 06.45 ketika awan mendung menggantung begitu hitam di langit pagi, tak secerah hari kemarin , kukeluarkan sepeda balap butut berwarna merah yang kubeli di pasar wage pewete, kutinggalkan sahabatku menutup mata lelap memeluk guling di kasur tanpa ranjang

kukayuh sepeda menapaki medan menanjak ke kampus grendeng, lalu lintas begitu sibuk, belum sampai jarak satu KM kukayuh pedal sepeda, ketika itu di sekitar air mancur Berkoh saat roda sepedaku kubelokkan ke arah utara menuju jalan MAN 2, tiba-tiba rantai sepedaku putus, bersamaan itu mendung di langit pecah menjadi hujan deras

tanpa mantel aku basah kuyup, berjalan tertatih menuntun sepeda, dengan tangan belepotan olie memegang rantai di stang kiri sepeda, baru saja aku berpikir untuk terpaksa bolos kuliah tak kuduga cipratan air tanah kuning mencuci wajahku yang sudah basah, setelah kusaputkan telapak tanganku ke muka kulihat mobil toyota kijang mewah perlahan semakin melaju dengan cepat melewati kubangan yang ada di tengah jalan itu

kulanjutkan langkah untuk mencari bengkel di pinggir jalan
terpaksa hari itu aku tidak masuk kuliah

Jumat, 24 April 2009

parodi



pada suatu ketika
luka masih menganga berbuah kemanisan
saat kenangan menjadi buah mata ketika itu senyum mengembang membayangkan apa yang telah terjadi sebuah parodi tawa terhentak serentak ketika otak gila mulai mendidih bersama darah muda yang selalu rindu eksistensi dan popularitas membungkus diri menjadi sebuah gambar maya mengabadikan yang fana dan memutlakan yang nisbi berharap arti suatu saat menyeruak dalam derak-derak pijak kapal kehidupan yang selalu menjadi misteri setiap diri

ketika daun menguning menunggu saat-saat jatuh merindu sapuan angin pagi berhasrat menyatu dengan embun pagi yang bening dua orang serupa guru dan murid yang tak lain adalah parodi nyata nyata-nyata parodi dalam sebuah rumah Tuhan yang penuh dengan pemuda-pemuda yang (terpaksa)hatinya tergantung di masjid
tak ada kepura-puraan dan kebenar-benaran
tak ada beda antara parodi dengan hidup real
ketika guru dan murid menjadi parodi....

(untuk yuli dan faris yang selalu gila)

Kamis, 23 April 2009

Perlahan


Perlahan butir-butir kristal kesedihan keluar dari dua biji mata yang bening mengalir membasahi pipi putih halus yang merona meluncur cepat melewati hidung mancung menuju lengkung bibir indah yang merah jambu, wajah itu redup tertutup kerudung hitam sambil duduk jongkok dengan jemarinya yang lentik terus menyeka kristal-kristal bening yang terus menerus membuat pipinya semakin merah merona langit berawan menyambut kabut yang menyelimuti pemakaman itu dengan gerimis tipis yang rintiknya membasahi tungkai kaki indah sang gadis yang pucat malas untuk beranjak meninggalkan nisan baru kekasihnya yang baru saja tiada

Di jalan tepat depan halaman rumah bercat hijau muda tiga anak usia belasan putus sekolah sibuk berbicara tentang merpati sejak siang tadi kian kemari diterbangkannya sementara di dalam rumah itu seorang anak sekolah tingkat pertama sedang hanyut dalam keindahan sastra selepas maghrib hingga terdengar adzan isya polos bernotasi lurus polos jauh terdengar lamat-lamat seperti membuat malam merambat lambat bersama pekat yang melahirkan kesenyapan dan kerinduan sepasang kekasih

24 april 2009

Senin, 20 April 2009

kayu kesambi apa ketungkul?

sendhean karo ngiup
tumrape wong urip sawektu udan gedhe utawa barat gedhe
samangsa ora ana godhong lumbu amba utawa songsong

"ngiyuba utawa sendheana maring kayu kesambi
aja pisan-pisan sendhean utawa ngiyup ning ngisore kayu ketungkul"

Jumat, 13 Maret 2009




untuk dua buah wajah
dengan beribu penafsiran
berawal dari mata aku ingin mengunduhnya
wajah bali dengan harmoni alam

ingatkanku pada percakapan semalam tentang ilmu
tepatnya ngelmu=angel angger urung ketemu
"bibiting ngelmu
asale saka mata karo ati"
untuk seorang paman dengan blaka suta
menceritakan hal-hal yang mistis lagi misteri
PWT 12 MARET 2009
Dalam ikhtiar kirimkan "belalang rumah"

Jumat, 06 Maret 2009

delapan purnama

awalnya tak terkira
apalagi direncanakan
dunia memang tak dapat diterka
tukang nujumpun hanya mengira

ketika kuhitung
delapan purnama sejak wisuda
aku telah mengenal sosoknya
semampai
cerdas
elok

mungkin dialah jawaban
pertanyaanku selama ini
sekedar hipotesis
sekadar apologi
untuk keresahanku selama ini
setidaknya terkurangi

pemilik senyum sesejuk pagi
pemilik kata selembut air gunung
pemilik mata secerah fajar
pemilik keindahan yang belum sempat
pemilik keelokan yang belum...
yang belum....

yang sudah aku lakukan
hanya mengingatnya
mengenangnya
mengenang wisuda yang telah delapan purnama
sedang pesan singkat yang selalu kusapakan padanya
pada telepon genggemnya

delapan purnama
"sudah gawe belum?"
pertanyaan yang selalu diulang
sekedar basa basi
sekedar pengisi hari
atau hanya say hello semata
yang pasti
yang kutahu
hanya satu kata yang mampu menjawabnya
entah
entah dalam delapan purnama
bahkan lebih

7 Maret 2009
untuk RD, seorang yang kukenal saat wisuda