Selasa, 30 Juni 2009

perempuan cantik yang pacarnya jelek sekali


dengan amat sadar aku pulang menenteng buku "kebebasan pengarang dan masalah tanah air" IWAN SIMATUPANG. kuturuni tangga berjalan menuju parkir Sriratu, tempat perbelanjaan modern di purwokerto.entahlah kenapa dinamakan Sriratu bukan sri baginda raja, mungkin karena sriratu itu mengidentikkan perempuan yang doyan belanja, yang punya banyak uang tentunya....

setelah sampai di parkir, aku melihat sebuah fenomena ada seorang perempuan yang amat cantik, setidaknya menurut ukuranku. semampai, berhidung mbangir dan berambut panjang. kulitnyapun serupa bengkoang yang telah dikupas. senyumnya membuat lisanku memuji nama-Nya, subhanalloh...bolehlah kalau dibayangkan seperti Diansas..
keindahan yang membuat segala sesuatu disekitarnya menjadi lupa dan tak sadar. untung sahabatku menepuk pundakku.dari saat itulah aku tersadar."hei, ayo pulang ke Grendeng" kata Ipul, seperti panggilan nama sahabatku yang sama dengan mantan suami si pemilik goyang gergaji.

"ayo..." sambil kuterima helm dari Ipul sambil kupasangkan ke kepalaku. akupun membonceng motor supra XXnya. mataku masih menyapu pandang parkir itu. masyaalloh, aku terkaget, hingga tak sengaja kubenturkan helmku ke helmnya Ipul.
"ada apa sih, ribut amat" kata ipul.
"pul, lihat itu" sambil kutolehkan kepalaku ke arah perempuan cantik yang sedang memegang helm merah. dia mulai membonceng sebuah motor Tiger 2000.betapa cantik dan serasinya dia, memakai jin biru dan baju putih ketat agak tipis dan transparan bahannya.
tiba-tiba, kedua bola mata ipul melotot dan tak disangka jatuh ke tanah.untung segera dipungutnya dan dipasangkannya kembali. "kenapa, Pul?"aku juga terkaget.
sambil membenarkan kedua bola matanya ipul menjawab, "perempuan itu cantik, tapi pacarnya jelek sekali"....

Minggu, 14 Juni 2009

Kamilayan

Tak ada mendung menggantung di atas langit pedukuhan Gandasari. Perbukitan yang kerontang dengan pepohonan berdaun jarang dan meranggas. Tunas-tunas mudapun tak nampak apalagi sulur umbi gadung yang tumbuh di pekarangan rumah, padahal ketika lengkung sulur gadung nampak warga dukuh percaya itulah pertanda alam bahwa musim penghujan segera tiba. Yang sering terdengar mengiris hati hanya suara batang bambu bergesekan yang dipermainkan angin kering dari utara. Setelah itu akan nampak daun-daunnya yang kering berputar-putar di udara sebelum jatuh mencium tanah berdebu tebal. Kemarau di bulan Agustus ini sepertinya masih panjang.

Pada musim ketiga ini, air menjadi begitu berharga warga dukuh itu. Entahlah, kini sumur-sumur dan sumber air hampir semuanya kering, hanya mata air di balik bukit Wadaskelir yang masih mengalir. Itulah mata air satu-satunya. Sepanjang hari nampak pemandangan warga berbondong-bondong seperti semut, menyusuri jalan setapak perbukitan yang curam menuju arah dua pohon jati raksasa. Di bawah dua pohon jati raksasa itulah ada sumber air menggenang pada sebuah ceruk kecil. Orang-orang menyebut ceruk itu, Belik Eyang Riyong. Jaman dulu orang-orang menggunakan tempurung buah Maja untuk mengambil airnya. Dulu di atas belik1 itu juga selalu ada sesaji jajanan pasar, aneka wedang2, rokok kemenyan klembak, kembang dan kepulan asap dupa. Konon di situ tempat pesugihan celengkarung3. Kini di situlah manusia-manusia dukuh Gandasari berkerumun dan bergantian mengambil air untuk dibawa pulang.
Matahari siang itu membuat bumi serasa terpanggang. Orang-orang di perbukitan itu banyak berteduh di bawah dua pohon jati raksasa sambil menunggu bergantian mengambil air. Tak ada tempat berteduh kecuali dua pohon jati itu. Namun Murdi, pria lima puluhan tahun itu melangkah menjauh. Jligen dan pikulan pengangkut air ditinggalkannya. Ia lalu duduk berselonjor kaki. Tanpa berteduh dibiarkannya tubuhnya dipeluk terik matahari, peluhnya kelihatan mengkilat mengalir halus dari kening melewati wajah sebalum menetes ke dadanya. Sesekali rongga dadanya kembang kempis menarik dan menghembuskan nafas panjang. Pandangnya kosong, padahal di depannya terhampar lereng perbukitan ilalang kering yang berombak-ombak disapu angin. Desau angin itu begitu panjang, sayup hilang-terdengar menyusuri panjangnya Bukit Wadaskelir. Suara ribut orang saling mencaci dan menyalahkan temannya yang menumpahkan air, tak mampu mengisi kosong pandangnya. Jligen-jligen dan ember penampung air berserakan, bahkan ketika keributan dua orang itu semakin menjadi Murdi tak peduli. Murdi masih hanyut dalam lamunan panjangnya.

***

Tujuh bulan yang lalu. Di rumah. ‘Murdi, sebagai suami masa kaubiarkan isterimu itu kembali akan merantau ke luar negeri ’ tegur ibunya yang telah renta.
Murdi hanya duduk termangu di atas lincak4 bamboo. Sementara ibunya terus membenamkan kayu bakar ke dalam mulut tungku. Api di dalamnya menjilat-jilat. Air nira di dalam kuali besar itu nampak mendidih. Namun sedikit bahkan terlampau sedikit. ‘Biyung5, kemarin jadi berapa kilogram gula merahnya?’ Murdi bertanya mencoba mengalihkan tema pembicaraan. Ralem perempuan tua yang sudah bongkok itu ngeloyor ke luar rumah mengambil daun kelapa kering. Tak memedulikan Murdi. Murdipun sebenarnya tahu, jauh sebelum kemarau ini, pohon kelapa yang disadapnya tak lagi mengeluarkan nira yang melimpah. Pendapatannya sebagai penderes kian hari kian tak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Apalagi ketiga anaknya masih bersekolah.

‘Memang Murdi itu terlalu berani, sudah tahu orang melarat. Berani-beraninya menyekolahkan semua anaknya’ buat apa sekolah tinggi-tinggi toh nanti yang jadi priyayi hanya orang-orang kota saja’ tidak jarang selentingan dari tetangganya. Terlebih lagi ketika hutangnya semakin lama semakin menumpuk pada tauke gula kelapa. Tiga bulan ini sewa pohon kelapa yang disadapnyapun belum dibayar. Sering ketika memanjat pohon kelapa, terasa pusing sekali kepalanya sehingga seringkali ia berhenti dan istirahat sambil duduk bersandar pada batang pohon kelapa.
‘Kang, kalau begini terus. Anak-anak bisa putus sekolah. Utang kita terus bertambah. Bagaimana kalau aku ikut Uwak6 Gino jadi TKI di Brunei. Kalau di Brunei ga usah bisa bahasa Inggris-ingrisan juga tidak apa-apa, terus uang berangkatnya dibayar dengan potong gaji tujuh bulan kerja’ tariah berkata sambil menatap mata cekung murdi.
‘Tar, apa kamu tidak ingat waktu kamu kerja tujuh bulan di Kalimantan bersama Kang Wasrip, Bapakmu itu kena kamilayan7, sakit sebab kepergianmu dan kehilanganmu. Terus kamu pulang setelah dikabari bahwa Bapak sakit dan obat kesembuhannya adalah ketemu kamu. Ternyata kepulanganmu bukannya menjadi obatnya, tiga hari setelah itu penyakitnya tambah parah sampai akhirnya meninggal. Apa kamu ingin hal itu terjadi lagi pada Biyungmu?’ murdi mencoba mengingatkan isterinya.

‘Kang, tapi kalau aku tidak berangkat, kita mau mengandalkan apa? Sawah yang sepetak kecil itu telah tergadai selama setahun pada Pak Darso sejak Kasno awal masuk SMP. Untung Kasno tinggal di rumah Uwaknya. Tini juga setahun lagi akan lulus SMP dan butuh biaya besar. Si bungsu Ripto setahun lagi akan lulus SD. Masa kita tidak bisa menyekolahkan mereka. Kasihan mereka. Biar kita yang sengsara asal mereka bisa tetap sekolah’ tariah terus mendesak murdi. Dan murdi tak dapat menjawabnya. Semua yang dikatakan tariah memang semuanya benar. Tak ada yang dapat disangkalnya. Dadanya semakin sesak. Kepalanya serasa berputar. Tanpa berkata ia langsung bangkit sambil terhuyung meninggalkan kamarnya. Ia merasa semakin berat pundaknya tertimpa beban yang kian bertambah. Dibiarkannya tariah duduk termangu sendiri. Di luar rumah ia berbaring di atas lincak, matanya lurus memandang langit. Di atas sana bintang berkerdipan. Angin malampun masuk ke dalam rumahnya lewat celah-celah dinding anyaman bambu yang lama tak terganti.

Seminggu setelah malam itu, dengan tekad bulat isterinya jadi pergi. Tinggallah Sanmurdi di rumah bersama ibunya yang renta dan ripto yang sudah kelas enam SD. Sementara dua anaknya kasno dan tini, pasti akan ketemu tariah di rumah Uwak Gino. Murdi masih teringat pesan menjelang kepergian isterinya ‘ Kang, aku titip anak-anak’. Setelah itu ia bersalaman dengan Ralem, ibu mertuanya. ‘ Do’akan aku Biyung biar dapat hasil’. Tariah lalu melangkah pergi sambil menunduk. Tas besar dijinjingnya. Tinggallah kedua orang yang dicintainya terpatung di pelataran rumah di pagi buta. Sementara si bungsu Ripto masih tidur. Hanya ciuman Tariah yang ditinggalkannya ketika ia masih nyenyak bermimpi mengejar layang-layang di sawah.

***

‘Kang Murdi, rika sida ngangsu apa ora kiye?8’ suara kartim, membangunkan lamunannya. Matahari sudah mulai tergelincir ke barat. Murdi hanya mengangguk membalas teguran Kartim yang sudah memikul dua jligen air dan siap-siap menuruni jalan curam perbukitan Wadaskelir untuk pulang. Murdi mencoba bangkit tapi kakinya serasa begitu gemetar, lemas tak mampu menopang tubuhnya. Terasa perbukitan itu bergoyang-goyang dan berputar seperti ada gempa. Setelah itu yang dilihatnya hanya gelap dan gelap. Ia ambruk pingsan.

Setelah bangun, ia sudah ada di rumah. dan telah beberapa minggu ini ia di rumah. Ia tak lagi mampu memanjat pohon kelapa untuk mengambil nira. Pekerjaan menyadap nira diwakilkan Kartim adiknya. Yang dirasa Murdi, hanya lemas dan serasa ada yang menggerogoti seluruh persendian tubuhnya. Tubuhnya kurus, tidak enak makan, wajahnya kuning layu. Tak ada gairah lagi dalam hidupnya. Keadaannya kini sama seperti Kasnawi, almarhum bapak mertuanya. Kemudian tersiar kabar di seluruh pedukuhan itu tentang murdi. Murdi kena kamilayan. Kamilayan karena kehilangan Tariah.

juni 2009
ketika musim tak jelas ternamai

Cerita negeri Sastra

Ini cerita yang terjadi di sebuah negeri Sastradireja. Sebuah negeri yang tak mungkin kau temukan di peta manapun. Jika ke sana engkau akan menemui raja Sastranegara dan jika engkau lelaki sejati engkau pasti akan jatuh cinta dengan Puteri Sastrawati dan jika engkau perempuan sejati niscaya engkau akan jatuh hati akan seorang pangeran bernama Pangeran Sastrawarman. Memang nama-nama mereka mirip dengan nama-nama tokoh sejarah kerajaan di negerimu mungkin? Tapi sudahlah. Perlu kau ketahui negeri ini konon hanya dapat ketahui ketika dirimu menjadi orang-orang terpilih. Untuk menjadi orang terpilih engkau harus menjadi orang yang punya fantasi gila dan otomatis dalam anggapan umum engkau akan dianggap orang gila. Dengan menjadi gila engkau kelak akan bisa mengunjungi negeri tersebut.

Tapi apakah engkau mau gila? Itu pertanyaanku kepada semua orang yang berhasrat untuk menapakkan jejak ke negeri Sastradireja. Aku yakin sebagian besar orang tak mungkin berani menjadi gila hanya untuk bisa masuk ke negeri yang tak ada dalam peta manapun walaupun di sana engkau akan menemui banyak cerita yang tak mungkin engkau lupakan dan tak mungkin sependek cerita yang nanti aku ceritakan nanti. Makanya aku berkeyakinan hanya orang-orang yang benar-benar gilalah yang mau dan dapat berkunjung ke negeri Sastradireja.

Suatu hari aku berkunjung ke negeri itu sehingga orang tuaku dan tetangga-tetanggaku mengira aku hilang sehingga mereka mencariku ke hutan seberang desa. Yah mereka mengira aku telah raib diselong oleh jin, setan mrekayangan dan siluman penunggu hutan. Sungguh tak dapat disalahkan karena aku kecil senang sekali naik pohon Asemkamal sehabis pulang sekolah sampai petang. Bahkan tidak jarang aku ketiduran di dahan pohon yang serupa kursi sampai larut malam. Dengan susah payah bapak dan paman menurunkanku yang tidur dengan menggendongnya dengan sarung. Ketika aku sudah tidur aku memang susah sekali dibangunkan. Tidur seperti mayat. Setelah dua hari aku kembali ke rumah, semua orang menanyaiku dari mana dan kujawab dengan cerita ini tapi mereka tidak tidak percaya dan aku yang kecil dibilangnya sudah pandai berdusta. Entah kamu nanti mau mengatakan apa padaku setelah membaca ceritaku ini.

***

Akupun tak tahu kenapa aku bisa sampai bisa berkunjung ke negeri itu. Entahlah, yang pasti suatu petang aku naik pohon asem kamal dan aku ketiduran di sana dan tahu-tahu ketika aku sadar aku telah berada di sebuah beranda rumah khas Joglo jaman kuno dan orang-orang berpakaian kain khas Jawa seperti aku lihat dalam film Tutur Tinular. Dan akulah anak yang berpakaian paling aneh, pikiranku akulah anak yang datang dari masa depan menuju masa lalu. Lalu aku bertanya kepada orang-orang di sana namun ternyata aku tak terlihat oleh mereka. Suara tanpa rupa, tapi anehnya mereka tak mengiraku hantu. Hal itu sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Suara tanpa wujud bisa jadi adalah wangsit leluhur yang selalu mereka nanti-nantikan. Ketika aku lapar aku mengambil beraneka sesaji yang ada di setiap bangunan wajar dan pohon besar di sana.

Setelah lama aku berkeliling sebuah desa di negeri itu aku mampir di sebuah rumah dimana sekerumunan anak sedang duduk melingkar dengan seorang kakek tua duduk diantara mereka sambil bercerita tentang negeri mereka yang dulu tak seperti sekarang. Akupun dengan santainya duduk di antara mereka, toh mereka tak melihatku. Namun aneh, kakek tua itu melihat kedatanganku dan mempersilahkanku duduk diantara mereka dengan bahasa isyarat. Akupun mengikuti jalan cerita kakek tua itu dari awal sampai selesai. Dari situlah aku menjadi mengerti bahwa negeri itu adalah negeri Sastradireja dengan penduduk sebagian besar berpekerjaan sebagai pujangga. Pangan sandang dan tempat tinggal sudah bukan lagi masalah bagi mereka. Kegemaran mereka adalah bersastra. Tapi ternyata sebelum itu negeri sastra tertimpa sebuah krisis yang amat dahsyat akibat kemarau panjang. Krisis itu amat mengguncangkan persediaan pangan, sandang, papan.

Namun yang tak kalah menjadi masalah justeru dalam kemarau itu mereka kekurangan krisis daun lontar. Daun lontar adalah media dimana mereka paling suka untuk menulis segala karya sastranya. Anehnya, kemarau itu tanaman lontar hanya bisa berbuah dan berpelepah tanpa daun. Padahal daunlah lontarlah yang menjadi amat penting bagi mereka.

Akhirnya diselenggarakanlah konggres sastrawan di negeri Sastradireja. Semua sastrawan datang. Konon konggres itu diadakan di sebuah desa dengan alasan para sastrawan sudah bosan melakukan konggres di kotaraja. Terlebih dari itu tujuannya adalah untuk mengenal keindahan desa dan memperkenalkan sastra kota kepada orang desa. Di desa diharapkan para sastrawan bisa menemukan banyak kosakata, cerita, setting dan alur yang baru atau yang telah lama mereka tinggalkan. Begitulah bunyi seruan dalam poster-poster dan media masa yang tidak lain berupa rangkaian daun lontar yang tersebar di pelosok negeri itu. Entah siapa yang membuatnya dan menyebarkannya. Tapi yang pasti hal itu serentak terjadi pada hari yang sama tepatnya sejak sepekan sebelumnya, kongres sastrawan muda negeri itu telah dimulai.
Pendek cerita, berdatanganlah para pujangga ke desa itu. Mulai dari penyair muda, pujangga muda , penulis roman, suluk dan babad menampakkan batang hidungnya. Mereka berumur antara sepuluh samapi dupuluh lima tahun. Umur itulah yang konon menurut data Badan Pusat Statstik negeri Sastradireja masuk kategori muda. Ada dari mereka yang dari mereka datang dengan kudanya , delmannya, gerobagnya bahkan dengan jalan kaki. Mungkin di sana belum (saatnya) ada mobil atau kendaraan bermotor lainnya, di sana hanya ada kendaraan berhewan. Penampilan merekaun bermacam-macam . ada yang memakai sepatu, sandal, ada juga yang telanjang kaki. Kebanyakan dari mereka memakai ikat kepala baik itu yang berambut panjang diurai dan yang digelung. Saking bayaknya gaya merka aku tak dapat menguraikannya satu persatu, pokoknya mereka tak seperti aku lihat sebelumnya di jaman kita.

Satu persatu mereka daatang dari berbagai kota da n desa namun setelah sampai pada lokasi mereka kebingungan. Kngres sastrawan mud ibarat kongres dalam cerita, kongres fiktif. Di lokasi meeka tak pernah disambut panitia bahhkan tak pernah tahu sipa panitia. Tak ada administrasi untuk penyai atupun sastrawan muda. Mereka banyak meluapan darah mudanya. Berbicaara, meggerutu, mengupat dengan puisi, memarahi dengan syair, menggerutu dengan kidung lagu dan sajak entah pada siapa. Orang-ornag desa sekitar stu hanya melongo melihat tingkah mereka. Sampai suatu saat muncullah serorang pemuada muncul di tenagtah kekacauan itu. ‘selamat datang wahai para sastraawn muda di kongres sastrawa n muda di desa Sesaksajak ini’ suaranya demikian jernih padahal yang berkata itu hanyalah seorang anak kecil.

Para sastrawan muda yang telah datang hanya kaget dan tak mengira hanya disambut seorang anak kecil bertelanjang dada berambut ikal. Mendengar ucapan selamat datang , ereka haya diam sesaat namun stelah itu mereka memberondong anak lelaki kecil itu dengan berbagai pernyataan.

‘anak kecil kau mau apa disini, kalu kau tau dimana kami bisa bertemu dengan teman paitia kongres ini dan dimana kai tinggal selama tiga hari di di desa ini. Dimana kami makan, dimana tempat baca puisi membuat sajak merangkai syair, dimana, bagaimana…………dan seterusnya dan seterusnya mengapa semua ini terlihat kacau balau?’
Mendengar itu semua pertanyaan itu seorang anak kecil itu hanya duduk mematung. Beberapa saat kemudian para sastrawan muda itu puas memberondong pertanyaan itu, tubuh anak kecil yang tadinya mematung diam. Namun lama-kelamaan terlihat berbagai macam sajak cacian, syair kedengkian dan puisi kemuakan mengalirkan huruf-hurufnya masuk kedalam kepala anak kecil itu dan setelah itu anak kecil itu seperti berat menahan kepala hingga akhirnya rebah di tengah kerumunan kemarahan para sastrawan muda.

***

Akhirnya dimulailah kongres sastrawan muda dipimpin oleh seorang anak kecil bersuara jernih itu. Disebut-sebutlah bahwa anak kecil itu adalah titisan dari seorang pujangga negeri Sastradireja, bernama Sastraatmaja pendiri dari desa Sesaksajak yang moksa setelah lama meninggalkan kotaraja akibat tidak terima keitka sastra dipergunakan untuk konsprasi kuasa dan alat untuk menindas rakyat. Dialah pengusung genre sastra nglawan kuasa. Rupanya keturunannya yang dikira oleh kakek raja Sastranegra telah mati diburu itu masih hidup sampai sekarang. Entahlah kenapa para sastrawan muda itu begitu takjub dan patuh kepada anak kecil itu yang ternyata bernama Sastrapinunggul.

Sambil duduk santai di lelumutan kerak di bawah rumpun bambu ampel gading semua sastrawan berkumpul. Anak kecil itu menjelaskan bahwa menjelaskan bahwa panitia penyeleggara kongres itu tak lain dia senridri tanpa orang lain. Semeentra para sastrawan muda selaama melakukan kongres dipersilahkan tingal di mana saja dan makan apa saja. Anak kecil itu tahu bahwa para sastrawan hanya berbekal puisi, cerita, dongeng , dan syair pada lembaran lontar dan pada mulut mereka yang telah dihafalkan.

Dalam tiga hari itulah para sastrawan peserta kongres itu ada yang bertahan dan kabur karena tak yakin akan bisa bertahan hidup hanya berbekal karya sastra mereka. Daun lontar berisi sajak tak mungkin mengenyangkan mereka. Sedangkan para penduduk desa Sesaksajak sedang kekurangan pangan akibat kemarau panjang ini dan mereka telah muak dan trauma dengan sajak yang hanya berjejaring dengan penguasa lalim seperti dulu.
Sastrawan muda yang tersisa hanya tinggal sebelas orang dari sekitar seratus sebelas orang. Mereka masih duduk di lelumutan kerak di bawah rumpun bambu ampel gading membahas masalah sastra dan kehidupan negeri Sastradireja. Anak kecil itu kemudian berkata dengan kidung lagu. Suaranya mirip dengan suara orang dewasa. Para sastrawan meyakini bahwa yang menyanyikan kidung mistis itu bukan anak kecil itu, melainkan eyang Sastraatmaja yang sedang merasuk ked alam jasad cucunya.

Dalam kidung itu sastraatmaja menutrukan bahwa keamrau panjang iini tak lain karena kesalahan manusia sendiri yang membuat murka Dewata akibat telah menyalahgunakan sastra bukan lagi sebagai alat penyampai kebajikan namun telah menjadi alat pengadu domba manusia dan alat mencapai kekuasaan. Barangsiapa yang ingin wilyahnya makmur kembali maka merke ak harus berkerja keras tidak hanya menyembah raja lalim dan menjadikan sastra sebagau dewata baru. Begitulah pesan sastraatmaja yang dapat ditangkap waktu itu yang ditangkap dari anak kecil itu. Bersamaan nyanyian kidung selesai terjadilah gemuruh angin besar yang meluruhkan daun-daun kering ampel gading. Semua sastrawan menutup menoleh dan sontak menutupkan jemarinya untuk melindungi mata dari luruhan daun dan kepulan debu. Setelah itu anak itu telah hilang pergi bersama angin yang menyapu tempat itu.

Tanpa anak kecil itu kongres sastra terus berlangsung. Sebalas sastrawan ituoupn menjalankan tirakat menugrangi makan minum selama kongres sastrawan berlangusng. Keitka siang mereka berkumpul di temapat tu, namun mketika malam datang mreka berpencar di berbagai tempat. Mencari inspirasi, duduk di pinggir kali menghayati keheningan tanpa suara gemericik air. Menghayati dingin malam kemarau panjang. Merenungi wangsit dan pesan eyang sastraatmaj tentang musibah kemarau panjang. Ada pula yang duduk bersila di tengah rekah tanah sawah di bawah remang bulan sabit. Ada yang merangkai bait-bait syair dan lagu lewat suara miris tangis anak kecil yang tak lagi bisa menyusu karena air susu ibunya telah kering. Malam membuat mereka merenungi semua, memahami teka-teki sepi dalam kekeringan yang belum diketahui ujungnya.

Selama kongres tidak ada penduduk yang mengikuti dan melihat, mereka telah muak dengan sajak. Desa mereka telah sesak dengan sajak. Mereka tidak peduli dengan adanya pentas syair, puisi dan sajak dan apresiasi sastra apapun. Mereka akan menghargai sastra ketika sastra bisa berguna. Puisi dan syair akan lebih indah ketika mampu menghidupkan tanaman, sajak akan rancak berirama merdu mampu mengundang gemericik air kehidupan. Dan seterusnya dan seterusnya……..sastra akan berguna ketika mampu memanusiakan manusia dan harmoni dengan alam semesta di sekitarnya. Selama itu belum terjadi mereka tidak akan percaya pada sastra.

Suatu siang setelah berdebat cukup lama akhirnya sebelas orang sastrawan itu bersepakat untuk bertaubat pada Dewata atas semua kesalahan yang pernah dilakukan. Menginsyafi kekeliruan dan kemusyrikan, menghindari bid’ah-bid’ah yang jelas-jelas merugikan umat manusia dan alam semesta.
Malamnya, di bawah remang bulan sabit mereka berangkat menyusuri jalan penduduk desa menuju mata air Belik Banyumumbul mereka naik terus menuju sebuah bukit. Di atas bukit Pamujan tempat petilasan Eyang Sastraatmaja moksa itulah, akhirnya mereka bersebelas bersujud meminta wangsit Dewata untuk meminta petunjuk dan memanjatkan pinta agar kemarau panjang segera usai.

Siang terakhir akhirnya disepakati bahwa sastra yang baik adalah sastra yang menyuarakan kebenaran bukan sastra yang melindungi kepentingan penguasa yang lalim. Sebelas sastrawan menyetujui bahwa bersastra tidak harus berebut lewat media masa sebagai lahan satu-satunya penyair untuk hidup. Mereka bersepakat bahwa sastrawan sejati adalah semua orang mampu menggunakan bahasanya untuk kebenaran, kebaikan umat manusia dan alam semesta. Sastra harus memayu hayuning bawana. Semua orang bisa jadi sastrawan.
Tersebutlah setelah beberapa tahun kemudian, bahwa kesebelasan sastrawan itu menjadi pelopor petani sastrawan, pandita yang pujangga, ahli tatanegara yang ahli sastra, pedagang yang benar menggunakan neraca dan bijak menggunaka katanya dan ada pula yang menjadi guru bahasa dan sastra yang tidak membebek pada kata penguasa.

Tersebutlah Revolusi sastra negeri Sastradireja itu bermula. Dari desa Sesaksajak sebelas sastrawan itu bersusah payah membuat saluan air dari sambungan panjang batang bambu dari belik Banyumumbul menuju pemukiman penduduk. Penduduk yang awalnya enggan berangsur-angsur penduduk sadar akan kemanfaatan usaha para sastrawan itu. Mereka mulai belajar kembali sastra di jeda bertani dan berdagang mereka. Mereka ajarkan anak mereka syair dan cerita sebelum anaknya terlelap. Mereka rasakan dengan sastra keindahan hidup, Mereka dan percaya sastrawan tidak hanya bisa berdusta dan menyihir kata-kata. Sastrawan juga mampu berbuat yang bermanfaat bagi manusia. Setelah beberapa lama di desa Sesaksajak itu, sebelas sastrawan itu tak terekam jejaknya. Kemudian tersiar kabar bahwa mereka moksa padahal sebenarnya mereka telah dibunuh oknum penguasa yang resah dengan genre sastrasejati. Sastra yang menampilkan segalanya apa adanya tanpa ada prasangka dan kuasa angkara.

***

Setelah mendengar cerita itulah, si kakek tua itu menghampiriku. Menyalamiku dan berkata ‘akulah Sastrapinunggul, anak kecil dalam cerita itu’ setelah itu aku ditepuknya dan aku tak sadar. Ketika aku bangun aku sudah berada di atas dahan pohon Asemkamal. Kuceritakan semua ini berulang kali tapi mereka tidak percaya. Termasuk kau juga mungkin akan mengatakan bahwa semua yang telah kukisahkan ini bohong. Saranku jika engkau tak percaya sering-seringlah engkau tidur di atas dahan pohon Asemkamal. Barangkali Eyang Sastrapinunggul akan membawamu menuju negeri Sastradireja itu.

(terinspirasi pada acara SASTRA BALIK DESA, GUNUNG PATI SEMARANG bersama kang Nyaman yang kini entah bagaimana kabarnya.....)
Purwokerto, Senen Kliwon 1 Juni 2009