Senin, 25 Mei 2009

tafsir hidup

jika kau setuju hidup adalah sebaris kata dalam sejumput paragraf kisah
ada tokoh, alur dan ada masalah yang terkadang tak selesai bahkan terpotong sebelum klimaks menyeruak karena ada sebaris kata itu terkoyak dan seringkali hilang oleh sesuatu yang tak nampak.

jika kau sepakat manusia adalah setetes tinta yang tumpah hingga menjadi rupa dan abjad
namun terkadang tinta itu tidak sampai tertetes karena terburu kering oleh tiupan angin yang selalu menjadikan malam tertuduh penyebab sebaris sajak menggigil di antara jeda dan koma
sebelum sampai pada tujuan titik penghabisan rima

jika kau menolak hidup akan tetap menjadi hidup setidaknya hanya menjadi sebaris kata tanpa makna hanya rupa abjad yang tak terbaca oleh alur cerita
manusia akan tetap menjadi manusia setidaknya seperti sajak tanpa rima hanya menjadi sebaris pantun yang tanpa isi hanya sampiran yang membuat pembaca menjadi kebingungan

jika kau menolak
toh, semua telah tergurat dalam dalam lontar masa lalu dan ketika kau mencarinya ia telah hilang di persimpangan kenangan yang terkoyak

purwokerto, 26 mei 2009
selasa wage, ketika malamnya tahlil weton dan tafrijiyah perdana

Selasa, 05 Mei 2009

geni jora

ketika sebuah nama di atas sebuah judul menarik mataku meletakkan pikirku untuk mencoba menyelami dalam tentang perempuan bukan lewat dirinya langsung melainkan melalui lembaran-lembaran putih karyanya selalu muncul tanya tentang apa yang ada pada sosoknya sampai segenap rahasia selalu menyekat semua tanyaku menyingkap tabir disela-sela merah bibir..

kadang bahkan sering aku takut untuk melukir wajahnya, apalagi mengukir gurat-gurat keindahannya sungguh terlalu indah untuk dirupakan, aku tak mampu melukis realisme meski kuberhasrat persembahkan surealisme. hanya dalam fantasikku dan fikirku kucoba melukis potret senyummu seperti kumelihat remang-remang film negatif

cinta kesetiaan penghianatan menjadi dzikir dan wirid sang pencinta, beserta taburan airmata serupa kembang yang mekar ketika kumbang menjadi sari-sarinya. dibawah payung langit malam limabelas putri malam dan bintang kejora ketika cinta menjadi sebab dan akibat kita terdiam kehilangan kata karena terlalu bungkam oleh banyaknya keinginan

banyak kata yang keluar tak sadar kita lisankan hanya sekedar tugas mulut berkata mungkin, menghitung mencerca mencaci mencinta memuji seperti api membakar suluh kayu ibarat ari yang diam sejuk menghidupkan ibarat bah yang tanpa permisi membinasakan, mulutku berhenti ketika kupertanya apa itu wanita apa itu geni jora yang tak bisa penuh aku sepertikan tak mampu aku definisikan dan kuibaratkan secara utuh

mungkin tugas lelaki untuk menguasai wanita tanpa harus mengerti semua rahasianya...

(5 mei 2009 ketika senja di purwokerto utara masih bising oleh mudamudi yang berkendara)

berkoh-unsoed


jarum jam dinding tunjukkan 06.45 ketika awan mendung menggantung begitu hitam di langit pagi, tak secerah hari kemarin , kukeluarkan sepeda balap butut berwarna merah yang kubeli di pasar wage pewete, kutinggalkan sahabatku menutup mata lelap memeluk guling di kasur tanpa ranjang

kukayuh sepeda menapaki medan menanjak ke kampus grendeng, lalu lintas begitu sibuk, belum sampai jarak satu KM kukayuh pedal sepeda, ketika itu di sekitar air mancur Berkoh saat roda sepedaku kubelokkan ke arah utara menuju jalan MAN 2, tiba-tiba rantai sepedaku putus, bersamaan itu mendung di langit pecah menjadi hujan deras

tanpa mantel aku basah kuyup, berjalan tertatih menuntun sepeda, dengan tangan belepotan olie memegang rantai di stang kiri sepeda, baru saja aku berpikir untuk terpaksa bolos kuliah tak kuduga cipratan air tanah kuning mencuci wajahku yang sudah basah, setelah kusaputkan telapak tanganku ke muka kulihat mobil toyota kijang mewah perlahan semakin melaju dengan cepat melewati kubangan yang ada di tengah jalan itu

kulanjutkan langkah untuk mencari bengkel di pinggir jalan
terpaksa hari itu aku tidak masuk kuliah