Tampilkan postingan dengan label penjaga masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penjaga masjid. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Maret 2009

perjalanan lelaki tua

tertatih lelaki tua itu berjalan
menuju rumah berkubah di pagi buta
teramat pagi malah
jamaknya ia datang pada terakhir sepertiga malam
karena di kota tak ada kokok jago berbunyi sekali
tak jarang ia menggenjot sepeda bututnya

dulu ketika aku masih tinggal di masjid
tak jarang aku melihatnya
seringnya aku mendengar kedatangannya
duduk bersimpuh dengan kaki encok rematiknya
do'a untuk mengalir dari lisannya
malaikat turun menjemput do'anya
sambil kepakan sayap cahaya
panjatkan do'a lelaki tua untuk Sang Penjaga Malam

(untuk Pak Seno, Grendeng yang tak lain bapak dari sahabatku Udin
semoga selalu istiqimah membangunkan jama'ah di pagi buta)

Jumat, 13 Juni 2008

Debu-Debu Sajadah

Tertulis ramadhan ke-13
Oleh tinta malam yang begitu pekat
Jalan Kampus bising, kendaraaan menangis
Meraung-raung entah apa yang dikejar
Muda-mudi bertarung melawan angin jalanan
Debu itu masih melekat pada sajadah
Tarawih yang delapan raka’at, rampung tepat pukul delapan
Wajah-wajah putih “sumringah”
Dalam Ramadhan yang tinggal setengah

Jamaah tarawih yang gigih
Tak kebagian bersujud dalam rumah Entah
menggelar sajadah di luar masjid, terpaksa
menutupi Jalan Kampus dengan sajadah bersih
Berharap tak ada debu yang masuk
Ketika sujud menyembah Entah

Selesai niat puasa dan tarawih
Sajadah diangkat dan dikebutkan
Debu-debu itu beterbangan dalam remang
Terasa menusuk hidung yang telanjang

Sungguh..sayang
Mungkinkah setelah ruku dan sujud
Sang Entah juga ditinggalkan
Hilang terbang bersama debu malam
Malam ramadhan kemarau yang tak hujan

15 Ramadhan 1429 H
18 Juni 2007

Minggu, 25 Mei 2008

entah...

dulu
kau mengunjungiku hampir setiap pagi
bercerita tentang hangat surya, sejuk embun, dan hijau daun

kau suapi aku ketika siang menjelang
nasi putih, ayam bakar pedas, stroberi merah
tak pernah kau lupakan semangkuk hidangan cinta sebagai penutupnya

kau hibur aku ketika malam tiba
bercengkerama dengan sinar bintang, senyuman putri malam
selaksa surga menyatu rasa

kini...
kau mendatangiku dengan embun pagi yang beku
kau suapi aku dengan secawan dendam yang menyesakkan dadaku
kau tutupi bintang dan rembulan dengan sumpah serapahmu

tak pernah ada lagi malam yang benderang
tersisa badai yang tak kunjung usai
kenang musnah, hilang entah

pekat tinta tak mampu menghapus pupus
patah pecah
tak seperti dulu

Sabtu, 24 Mei 2008

do'a


munajat malam

malam diam bungkam kelam
hitam
seolah bismilah
mendengkur syukur
terpanjat sholawat


bersila
menangisperih

mengaispedih

merintihtasbih


menengadah
sujud toyibah
gemetar istighfar

bersimpuhsubuh
luruh luluh
penuh
Amin

24 meri 2008
setelah pendadaran

tebal kabut itu....

Kebetulan aku seorang penjaga masjid

Jum’at pagi ini seperti biasa berusaha untuk bekerja keras untuk membersihkan karpet yang terpasang di masjid. Entah kenapa semenjak malam tadi kabut begitu tebal menutupi jalanan di sudut kecil kota purwokerto. Yah….kabut begitu tebal. Menjelang subuh aku tidak begitu memperhatikan cuaca alam, yang aku perhatikan mungkin karena aku sudah kesiangan bangun untuk adzan subuh. Kebetulan entah kenapa tadi malam aku juga mimpi cukup indah hingga membasahi sedikit bagian dari tubuhku. Mungkinkah ini karena kabut yang tebal yang menutupi malam.ah….aku tak tahu, aku tak peduli. Yang aku pedulikan adalah aku begitu ingin mengurangi mimpi yang hangat ini. Aku ingin mengulangi lagi mimpi malam tadi. Tapi….mungkinkah ketika aku tidur kembali aku akan bermimpi yang sama seperti tadi malam. Ah….lagi-lagi aku berkhayal.

Sementara kabut masih tebal menutupi sisi jalan kampus setelah subuh ini. “wahai saudaraku, kabut begitu tebal pagi ini bahkan akhir-akhir ini. Kenapa ya?” aku bertanya dengan spontan kepada sahabatku ketika memasuki bilik suci tempat tinggal kami berdua bahkan bertiga. “kata pak kyai ini lah tanda-tanda jaman akhir”jawaban yang tak disangka-sangka keluar dari lisan sahabatku, yang sedari tadi ada di kamar setelah melanjutkan tahlil dan wirid bersama pak kyai.” Ah…benarkah seperti itu?”tanpa sadar aku merasa gelisah, setelah mendengar jawaban dari sahabatku tadi.

Jaman akhir, jaman mendekati kiamat. Bumi sudah tua, sudah banyak bencana, sudah banyak musibah besar silih berganti menerpa negeri ini. Kalau kata pak kyai, semua ini karena banyak umat yang telah meninggalkan ulama, banyak laku maksiat. Tapi kalau kata mbah buyutku ini jaman akhir jaman edan, jaman orang gila yang serakah dengan harta, tahta dan wanita. Semua cara dihalalkan dan semua yang haram dihalalkan.tapi katanya nanti kata mbahku aka nada ratu adil. Tapi katanya pak kyai di jaman akhir akan datang sang penyelamat dunia, pembawa risalah kebenaran untuk orang-orang yang sesat. Mungkinkah sang penyelamat ini atau ratu adil ini adalah orang yang sama, tapi siapakah dia?dimanakah dia dan kapan dia akan datang untuk memperbaiki semangat jaman yang sudah edan ini.

Sementara kabut masih tebal namun sorot sinar matahari pagi selalu beranjak naik dan berusaha menerobos kabut tebal yang menutupi jalan. Ketika aku melihat sinar matahari pagi aku ingat pada kasih ibuku yang sepanjang nafasku selalu mendo’akanku. Aku tahu bahwa setiap jam empat pagi ibuku dan mbahku yang sudah tua dan bungkuk telah bangun dan memasak air.

Sementara kabut masih tebal aku juga teringat bapakku. Sepanjang kuliahku ia selalu berusaha bekerja semampu tenaga untuk menghidupiku. Sementara aku juga sangat ingat ayahku yang mungkin di saat kabut masih tebal, pastinya ia sudah berjalan menelusuri panjangnya pematang sawah yang masih berembun. Aku bisa bayangkan kalau dipundaknya sudah ada cangkul kesayangannya. walaupn bapakku punya banyak cangkul namun aku melihat hanya cangkul itu yang selalu dibawa bapakku ke sawah. Kalau cangkul-cangkul lain bisa dipinjam oleh tetanggaku atau pamanku, tapi cangkul ini sangat berat dan larangan untuk dipinjamkan.

Aku bisa menebak kenapa bapaku begitu sayang dengan cangkulnya yang satunya itu. Mungkin karena selama inilah dengan cangkul itu bapakku menghidupiku menghidupi adikku, menafkahi ibuku. Cangkul itulah yang telah menyemaikan benih-benih padi disawahnya untuk tumbuh subur. Padi itulah harapan baginya. Ketika panen tiba, selalu aku melihat senyumnya dan tarikan dan hembusan nafasnya yang panjang menandakan kelegaan dan kebahagiaan.Namun aku masih ingat ketika musim kemarau kemarin bapakku tidak bisa menanam padi, ia begitu pontang-panting menjual segala macam hasil bumi untuk keperluan kuliahku bahkan ditambah ongkos transport adikku yang masih SMP.


dibawah naungan rumah Tuhan, 16 maret 2006

kuncupnya mulai mekar

Kebetulan aku seorang penjaga masjid.
Sore hari selalu dari kami mengepel bergantian dan kadangkala bersama-sama. Yah katanya biar masjid ini kelihatan bersih mengkilap. Katanya sebagian dari iman itu kebersihan. Eh mungkin kebalik ya…kebersihan sebagian dari iman. Memang telah lama aku mengalami gejala keterbalikan dan serba berbeda dari biasanya. Aku seringkali terbalik-balik dalam menyusun kata-kata dalam setiap harinya. Arah tidurpun selalu sangat kontra arah dengan sahabat sekamarku, kepalaku dibagian kepalanya dan kepalanya di depan kakiku. kebetulan aku tidur dengan sesame pria setipa malamnya.

Ketidakberesan dan kekacauan pikiranku ini aku tidak tahu pasti apa penyebabnya. Pernah aku berpikir sebab semua ini mungkin karena aku kebetulan kuliah di sosiologi,efek dari kuliah dari dekonstruksi Derida atau Foucault. Ah…tapi….setelah aku amati ternyata teman-teman sosiologi juga normal-normal saja, berarti hipotesisku bisa saja salah. Aku selanjutnya mencari jawaban lain yang lebih logis.

Tapi lagi-lagi aku tak pernah puas, selalu saja aku merasa jawabanku sangat irrasional. Sementara aku pernah berkesimpulan mungkin karena aku tinggal di mesjid. Ka
rena konon katanya mahasiswa yang tinggal di masjid berbeda dengan mahasiswa yang tinggal di kos-kosan. Lagi-lagi katanya. orang yang tinggal di masjid terkendali imannya, tapi sekali lagi pernyataan itu aku serta merta kusangkal dengan keras. Yah….tapi mungkin juga ada benarnya juga sih….jadi ngelantur ceritanya.

Kebetulan aku seorang penjaga masjid.
sore itu aku mengepel dengan temanku bertiga. Sementara udara dingin dan gerimis hujan seolah sangat kerasan dan betah mengguyur kota kecil ini. Kami bertiga berbagi tugas, sahabatku yang satu membenahi karpet di dalam masjid yang berantakan karena ulah anak-anak TPA yang bermain sewaktu mengaji, belajar membaca huruf Hijaiyah dan Al Qur An.

Sahabatku yang satunya dengan gagah memegang sapu yang telah pendek gagang sapunya. Sementara aku memegang tongkat pel dengan ember air yang berisi setengah saja. Aroma pewangi lantai dalam ember itu seolah menjadi shock terapi bagiku yang baru saja kuliah dengan dosen killer yang menjemukan tadi siang. untuk mahasiswa dengan intelegensia pas-pasan seperti aku, nilainya pelit, tugas-tugasnya berbelit-belit dan terlampau sulit,

Kebetulan aku seorang penjaga masjid
Masjid yang aku tempati bersama kedua sahabatku di pinggir jalan, bahkan sangat dekat dengan jalan yang selalu ramai dengan lalu lalang kendaraan dan juga pedagang makanan yang setiap sore selalu berjajar berjualan melayani mahasiswi-mahasiswa cantik berkulit putih yang selalu menjadi impian lamaku dan selalu menjadi impian terbaruku. Bagiku waktu dulu atau sekarang itu tak ada bedanya, karena menurutku aku masih saja seperti dulu, tetap sama. Tetap sama sebagai mahasiswa yang tinggal di masjid bersama kedua sahabat setiaku. Sama-sama sebagai santri pak kyai. Sama-sama sebagai mahasiswa yang sudah semester sepuluh tapi belum lulus-lulus.

Impianku memang dari dulu ialah cukup sederhana. Mempunyai seseorang yang bisa memotivasiku ketika aku sedang lemah dan patah semangat. Tapi entahlah, aku belum menemukan orang tersebut. Aku harap seseorang itu adalah seorang gadis atau perawan yang cantik baik hati, bukan seorang lelaki konyol seperti sahabat-sahabatku di masjid yang ketika tidur senang sekali melingkarkan kakinya di pinggangku.

Kebetulan aku seorang penjaga masjid
Aku terus saja mengepel lantai yang kotor oleh kaki-kaki sang ahli ibadah yang rajin ke masjid. Walaupun bersandal dan berpayungan kaki mereka tetap saja ngeres. Entah semangat apa yang menjadi rajin ke masjid untuk sembahyang pada tuhan sang pemberi hujan. Tapi aku tak peduli dengan mereka yang rajin sholat di masjid yang aku tempati. Yang penting waktu itu dalam pikiranku adalah menyelesaikan pekerjaan mengepel lantai itu rampung dengan secepatnya karena keburu waktu maghrib tiba.

Sambil cepat-cepat mengepel lantai masjid, sambil cepat-cepat pula aku mencuri-curi pandang ketika melintas mahasiswi-mahasiswi pemburu makanan sore di deretan penjual makanan di jalan kampus. Kebetulan setelah lama aku mengamati satu persatu orang melintas di depan mesjidku. Kebetulan aku melihat seorang gadis. Kebetulan pula seperti gadis impianku. Kebetulan pula dia menengok ke arahku dan melihatku yang keren dengan pegangan tongkat pel, berkaos dan bersarung.

Kebetulan aku seorang penjaga masjid
Alam khayalku muncul dihadapanku setelah melihat wajah manis yang melintas di depan masjidku. Wajahnya manis seperti madu penawar sariawanku. Rambutnya mengombak seperti ombak lautan sore hari yang menenangkanku ketika aku melihat matahari tenggelam. Alisnya yang kata orang jawa nanggal sepisan semakin menambah jelas jernih matanya dan lentik bulu matanya yang telah membuaiku terbang ke langit biru yang amat tinggi dengan menutup mata. Ya… TUHAN bibirnya begitu indah, melebihi indah bibir para bidadari syurga mungkin….

Kebetulan aku seorang penjaga masjid
Sosok impian akhirnya melintas dengan cepat meninggalkan pelataran masjid yang sempit. Yah…seandainya aku bisa menghentikan waktu mungkin akan kulukis dirinya sebelum ia pergi. Sementara mega merah di ufuk barat telah benderang menandakan waktu maghrib segera tiba, aku hentikan mengepel sambil berjalan menaruh kain pel seraya memandangi kepergian sosok impian yang telah hilang bersama angin senja yang menyapa perutku yang keroncongan.

Kebetulan aku seorang penjaga masjid
Maghrib telah tiba, suara adzan temanku menggema menyambut mega merah di langit barat. Sesaat kemudian pujian pada Tuhan dan sholawat Nabi berkumandang dilanjutkan iqomat didengungkan. Kamipun semua bercinta dengan Tuhan lewat gerak takbir, ruku dan sujud kami. Gerak bibir kami senantiasa memujinya, membesarkan namanya dan mensucikan keindahan dan keagungan-Nya.

Selesai sholat aku berdoa pada Tuhan yang maha pemurah untuk mengasihi penjaga masjid. Mendatangkan bidadari-bidadari dari langit untuk sholat berjamaah di masjid ini, hingga aku dapat mencuri mukena milik salah satu bidadari yang ikut sholat jamaah supaya menjadi isteriku. Mungkinkah ketika kupintakan kepada-Mu, terkabulkah? Kebetulan aku hanya bisa berdo’a dan usahaku sebagai seorang penjaga mesjid…..

pwt, maret 2006


Senin, 21 April 2008

suara inyong


AKU BUKAN FACHRI

Aku bukan fahcri
Seperti tokoh karangan kang abik dalam ayat-ayat cintanya
Bahkan akupun mungkin tak hafal narasi ceritanya
Aku hanyalah kenyataan seorang lelaki biasa yang hanya bisa dua bahasa
Akupun bukan mahasiswa al azhar mesir
Aku hanya seorang mahasiswa dari kota kecil

Aku bukan fachri yang begitu sempurna
Hingga dicintai aisya dan maria
Hingga nuro yang begitu cintanya menfitnahnya
Aku hanyalah seorang biasa yang sedang mencari wanita
Wanita Indonesia saja, jawapun tak mengapa
Tak mesti sekaya aisya, dan secantik maria

Aku bukan fachri yang begitu dikagumi gurunya
Aku hanya ingin dimengerti diriku sendiri
Minimal dikenal oleh diriku sendiri
Tak mesti harus lihai berbahasa arab
Yang penting aku terus belajar alif ba ta
Untuk mengerti alif lam mim

Aku bukan fachri
Yang difitnah memperkosa nuro
aku hanya orang sering mendengar berita pemerkosaan dari media
yang aku tanyakan kenapa gadis diperkosa
bukankah wanita itu lebih banyak dari pria
aku sebagai pria semakin tidak faham jalan pikiran para pria
sebegitukah kejamnya birahi haus tubuh seksi

aku bukanlah fachri
yang pastinya aku bukan fachri
akulah kenyataan bagi dirikku sendiri
yang semakin menjadi misteri
seperti hilangnya pelangi di atas telaga
setelah hujan menghapus panas hari

aku bukanlah fachri
yang terpenjara karena fitnah wanita
seperti kisah yusuf dan zulaikha
aku hanya terpenjara oleh diriku sendiri
yang tak mampu ungkapkan pesona pria jawa
dengan kejawaannya

aku bukanlah fachri
anak seorang juragan tape di kampungnya
yang begitu cerdas hingga dapat beasiswa
aku hanya seorang biasa yang sudah terlanjur tua
untuk meniru kisah sang fachri mengungkapkan ayat-ayat cinta Tuhan
aku hanya orang jawa yang ingin menunjukkan ayat-ayat semar
di jaman yang semakin samara- samara
tak jelas rimba, tak terpandang dimana tepi samudra

aku bukanlah fachri
yang setiap waktu bisa bertahajjud dan berpuasa untuk-Nya
aku hanyalah seorang jawa yang ingin tunjukkan tirakatnya jawa
yang semakin hilang oleh pesona Timur tengah sana
aku hanyalah anak jawa
yang miris melihat gaya seorang kali jaga dihina
dihujat dan diragukan kemuliannya mengangkat agama

aku bukanlah fachri
seorang aktivis islam yang fasih berbagai bahasa
aku hanya seorang yang ingin menjawakan risalah Nya
kepada orang-orang biasa yang tak sempat belajar bahasa
mereka hanya sempat memikirkan rasa lapar anaknya
biarkan agama dimengerti oleh orang biasa dengan kebiasaanya
biarkan akhlak itu mengalir sederhana dalam kesederhanaan orang biasa