Senin, 21 April 2008

cerpen (non) fiktif


KUN FAYAKUN : NIKAH/LULUS

Sementara aku sedang bercinta dengan komputer di dalam sebuah bilik mesjid. Aku meraba-raba tuts-tuts huruf dalam sebuah papan keyboard komputer yang hitam. Sementara mataku terus menatap setiap rangkaian huruf yang aku ciptakan lewat hentakan jari jemariku saat menyentuh tuts-tuts keyboard yang hitam. Yah…mungkin kun fayakun…jadilah tulisan, dalam benakku. Kun fayakun jadilah kata. Kun fayakun jadilah kata, jadilah kalimat, paragraph hingga jadilah sebuah karya ilmiah yang aku rasa tak pernah selesaikan dengan baik.

Sementara aku sedang bercinta dengan komputer, aku mendengar pembicaraan yang cukup serius di beranda masjid dekat bilik suci masjid yang telah aku tempati bersama sahabatkau sekitar empat tahun. Pembicaraan mereka sepertinya begitu serius. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku tak peduli yang penting, aku sedang ngetik meneruskan tugas akhirku yang sudah hampir tiga semester belum selesai. Suara pembicaraan ketiga orang itu ternyata begitu membuatku penasaran. ingin rasanya aku mengikuti dan bergabung dengan mereka bertiga. Benarlah…sungguh benar. Akhirnya aku tak kuat bercinta dengan komputer di dalam bilik suci itu. aku keluar meninggalkan percintaanku dengan tuts-tuts keyboard yang belumlah mencapai klimaks birahi. Aku menjadi tak peduli dengan diriku sendiri yang sampai hari ini belum menyelesaikan tugas akhir. Entah kenapa, aku menjadi lebih peduli dan tertarik untuk bergabung dengan tema pembicaraan ketiga sahabatku di beranda masjid itu. Tema skripsiku seolah menjadi sudah usang dan membosankan dari pada tema pembicaraan ketiga sahabatku yang sebenarnya belum aku ketahui.

Aku menuju beranda tempat mereka bertiga berbincang dengan serius. Aku mencoba duduk bersama mereka bertiga. Aku mencoba mendengar dan mencermati arah pembicaraan mereka yang begitu serius. Aku melihat dua orang laki-laki dan satu orang perempuan berjilbab sedang berbicara begitu serius. Dua laki-laki itu adalah sahabatku bernama Haris dan bagus, satunya lagi adalah Mba Laeli, teman special Mas Salman. Aku mencoba menebak arah pembicaraan mereka. Ternyata benar arah pembicaraan mereka adalah seputar hubungan Mas Salman dengan Mba Laeli yang sama-sama sudah menginjak semester akhir dan sama-sama menginjak usia dewasa untuk menikah. Yah…menigkuti sunah rasul bagi laki-laki konon menikah umur 25 tahun. Mas Salman sudah hampir 25 tahun, maba aini juga. Tapi aku dan Haris juga sama. Bagi Mas Salman dan Mba Laeli sudah lama mereka berhubungan menjalin cinta kasih anak manusia. Mengecap manis dan pahitnya cinta anak remaja dan dewasa. Sementara kalau aku piker aku hanya pernah merasakan pahitnya cinta karena kebodohankku sebagai seorang laki-laki. Lain dengan Haris yang banyak pilihan wanita yang selalu mengejarnya, sampai-sampai sulit melepaskannya.

Aku melihat mata Mba Laeli dan Mas Salman memandang Haris yang sedang berbicara “ada cerita dari orang tua saya, bahwa dulu ibu saya tahu-tahu diberitahukan bahwa ada yang akan melamarnya, yang tiada lain adalah bapak saya. Yah…ibu saya dijodohkan oleh orang tuanya akhirnya menikahlah dengan bapak saya dan lahirlah saya dan saudara-saudara saya sampai sekarang. Memang, menikah hasil perjodohan itu dalam proses rumah tangganya juga sering terjadi cekcok atau pertengkaran. Tapi…ternyata yang sudah lama pacaran, yang notabene sudah mengenal pasangannya dari awal juga tidak menjamin keharmonisan rumah tangga. Buktinya tetangga saya juga seperti itu. banyak yang mempengaruhi keharmonisan rumah tangga. Jadi yang penting dalam proses berumah tangga itu harus ada komunikasi antara suami isteri. Begitu juga sebelum proses berumah tangga”. Mas Salman dan Mba Laeli memperhatikan apa yang disampaikan Haris layaknya seorang pasien mendengar petuah dari dokter pribadinya.
Aku bisa menebak apa yang sebenarnya sedang menjadi tema pembicaraan begitu serius diantara mereka bertiga. Aku tahu dari cerita Haris tadi siang menjelang sholat duhur tiba yang membicarakan tentang hubungan lak-laki dan perempuan dewasa yang tak lain adalah Mas Salman dan Mba Laeli. Mereka berdua sebenarnya lebih dikenal bisa disebut mantan aktivis mahasiswa di tahun-tahun belakang. Namun jumlah semester yang semakin banyak dan pergantian struktur yang tak bisa dihindari membuat mereka harus lengser dari keprabon sebuah organisasi mahasiswa yang bisa dibilang sangat militan dalam menegakkan idealismenya. “Yah…masih mahasiswa masih idealis, coba nanti kalau sudah seperti saya tua, butuh duit ya….pasti menjadi pragmatis” aku ingat perkataan itu datang dari bibir seorang politisi mantan aktivis ketika masih mahasiswa di kampus. Ketika aku ingat perkataan politisi itu, timbul pertanayaan bagiku apakah nanti Mas Salman juga akan menjadi seorang pragmatis ketika menghadapi situasi dan persoalan saat ini yang menyangkut kisah percintaannya dengan Mba Laeli. tapi entahlah….

Aku coba ikuti pembicaraan mereka, dengan duduk berdekatan dengan mereka bertiga. Aku lihat dari sorot mata mereka yang tajam, menandakan keseriusan membicarakan masa depan mereka. Membicarakan permasalahan yang sedang menimpa mereka. Tantangan hidup bahkan mungkin pilihan hidup yang mereka jalani, walaupun mereka masih kuliah. Semester akhir, yah….mudah-mudahan segera lulus. Aku terus coba ikuti setiap alur pembicaraan lewat kata dan kalimat yang dilontarkan mereka bertiga.
“Ngapain kamu anak kecil” kalimat itu tertuju padaku yang baru saja bergabung dengan mereka. Tapi aku pikir, aku bukan anak kecil. Umurku juga sebaya dengan mereka. Tapi aku tak peduli dengan perkataan itu.
“Kalau orang tuaku belum setuju, seandainya kita menikah”kata Mas Salman sambil memandang mata Mba Laeli dengan tatapan tajam.” Maunya orang tuaku, aku harus lulus dulu kuliah. Baru setelah itu kita boleh menikah. Coba kamu mengerti posisi aku, aku masih tergantung orang tua.aku masih tinggal dengan orang tuaku”
“sebenarnya itu tergantung kamunya, bagaimana kamu menjelaskan pada orang tuamu. Kalau kamu tegas pada orang tua sebenarnya orang tua pasti akan ikut kamu. Buktinya aku, keluargaku welcome terhadap pilihanku dan welcome juga kepada kamu. Sebenarnya kamu serius apa tidak sih dengan aku”
Masalahnya bukan serius atau tidak, bukan berani atau tidak berani untuk menikah. Aku serius dengan kamu, kapan aku main-main. Masalahnya pernikahan itu bukan untuk main-main. Banyak yang harus dipersiapkan.

“Aku siap terima kamu apa adanya, aku tidak menuntut banyak dari kamu. Yang penting kamu punya komitmen dengan aku. Komitmen dengan hubungan kita. Masalah persiapan aku siap membantu bersama-sama. Aku lihat kamu itu sering mempersulit diri. Sebenarnya kamulah yang bisa memutuskan semuanya. Pasti orang tua kita akan nurut sama kita kok”
Pembicaraan mereka semakin lama semakin tegang. Aku dan Haris hanya bisa mendengarkan mereka, walaupun kami juga sebenarnya punya mulut untuk ngomong. Tapi aku pikir, asal bicara itu bukan cara menyelesaikan masalah bahkan mungkin malah bisa menambah masalah lebih runyam. Yah…aku lihat mereka berdua sejenak diam. Diamnya mereka mungkin untuk berpikir atau berpikir untuk diam. Ah sudahlah aku tak bisa menebak pikiran mereka. Yang aku tahu bahwa Mas Salman memang posisinya berbeda dengan posisi Mba Laeli dalam keluarga. Mas Salman dalam keluarga masih tergantung dengan bapaknya, dari mulai isi bensin sampai biaya kuliah masih diberi oleh gaji bapaknya. Sehingga mungkin bapaknyapun masih belum menerima ketika anaknya menikah sambila kuliah. Sementara lain soal dengan Mba Laeli. Dari segi ekonomi, siapapun melihat bahkan mengakui kalau Mba Laeli itu termasuk wanita yang mandiri. Selama kuliah dia sudah bekerja. Kesehariannya telah dipenuhi dengan gajinya sendiri. Mulai dari isi bensin dan segala tetek bengek kebutuhan kehidupan, bahkan dia konon sering mengirim uang pada orang tuanya di semarang. Bapaknya Mba Laeli konon sakit. Dia telah terbiasa mengambil keputusan sendiri. Keputusannya pasti disetujui oleh orang tuanya. Bahkan masalah pilihan hiduppun, orang tuanya manut-manut saja.

“Ah sudah dulu lah ya…besok saja kita lanjutkan” Mba Laeli tiba-tiba berkata pada Mas Salman.”lho…ini belum selesai, aku ingin masalah ini diselesaikan dulu” Mas Salman membalas. Namun Mba Laeli sudah terlanjur dari beranda masjid menuju parkiran motor. Setelah itu Mba Laeli langsung memasukkan kunci motor untuk menyalakan mesin motornya. Mas Salman Cuma bisa mematung seraya memandangi kepergian Mba Laeli dengan motornya sampai hilang dari pandangan. “huh…dasar wanita” kata-kata itu terucap dari bibir Mas Salman sambil memandangi kami yang masih belum beranjak dari beranda masjid. Sementara kami saling berpandangan satu sama lain melihat kejadian itu.
…………………..
Kami bertiga kemudian masuk kembali ke dalam bilik masjid yang kami tempati. Suara instrumen gitar milik John Lenon masih terdengar dari komputer Haris yang tadi kutinggalkan tapi terus menyala. Ternyata pembicaraan Haris dan Mas Salman berlanjut. Sementara aku melanjutkan percintaanku dengan computer, dengan memainkan jari jemariku untuk meraba-raba tuts keyboard hitam computer. Mataku tetap memandangi monitor computer sementara telingaku tetap kupasang untuk mendengar lpembicaraan Haris dan Mas Salman setelah kepergian Mba Laeli.

“Masalahnya aku masih tinggal dengan orang tuaku. Orang tuaku itu seolah belum percaya dengan kemampuanku. Bapakku tetap aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu. Baru setelah itu aku boleh menikah. Itupun kalau aku sudah bekerja. Kalau aku pikir benar juga sih nasehat bapakku. Walaupun keras bapakku itu sangat perhatian padaku”

“Yah memang tidak ada orang tua yang ingin anaknya susah, menderita. Semua orang tua pasti ingin anaknya bahagia, anaknya sukses dalam kuliahnya dan keluarganya. Terlebih lagi pada situasi sekarang di jaman yang serba susah. Pasti orang tua ingin anaknya bisa mandiri dan bahagia..”

“Aku sih ga masalah ketika aku menikah sekarang atau besok. Tapi masalahnya ketika orang tua belum setuju apakah kita harus kawin lari. Bukankah itu sangat bertentangan dengan prinsipku. Ridho orang tua itu ridho alloh, dan sebaliknya. Bukankah kamu tahua itu kan…Haris”

“Aku juga laki-laki, setelah menikah pastinya aku kan menjadi kepala keluarga yang harus menafkahi isteriku. Masa…aku harus bergantung pada isteriku nanti setelah aku menikah. Yah walaupun isteriku ikhlas tapi kan…bagaimana coba perasaan kita”

“Yah mungkin itulah sifat perempuan yang ketika sudah punya keinginan harus dituruti. Terlebih lagi mungkin bagi Mba Laeli, permasalahan ekonomi kan baginya tidak masalah.yang penting sahnya suatu hubungan antara laki-laki dan perempuan. Memang baik untuk menghindari fitnah bahkan zina, pernikahan itu sebaiknya cepat dilaksanakan. Seandainya semuanya sudah mantap dan serius. Tapi memang bagi njenengan berdua memang ada sedikit masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh dalam mengambil keputusan. Yah…keputusan untuk menikah, walaupun belum lulus kuliah. Niat baik memang, bagusnya tidak ditunda-tunda sih..he he he he….”sambil senyum Haris mencoba menanggapi kegundahan sahabatnya itu.”

“yah memang, kalau aku lihat…dia itu sepertinya cepat sekali mengambil keputusan. Sangat simple sekali menyimpulkan. Dia sering menganggap aku kurang serius, mempersulit diri. Apakah setiap wanita itu sama ya seperti dia. Terlalu banyak menggunakan perasaannya dan emosinya. Padahal aku terkenal dengan orang yang sangat rasional. Aku tak pernah menangis ketika menghadapi masalah seperti ini. Kalau dia sebentar-sebentar menangis…berabeh kan. Tapi masalahnya aku sudah terlanjur saying padanya. Lebih tepatnya aku sudah cocok sama dia…”

“kalau begitu permasalahannya adalah di orang tua njenengan mas…masalahnya adalah bagaimana anda berkomunikasi dengan orang tua, bagaimana meyakinkan keluarga. Dan memantapkan keluarga agar bisa menerima kenyataan bahwa njenengan harus menikah walaupun belum lulus kuliah. Anda juga harus mempersiapkan pasca setelah menikah dan kuliah nanti,walaupun…Mba Laeli itu sudah bekerja mulai dari sekarang. Kalau aku sih, pendapatnya kaya gitu mas…masalahnya komunikasi….

“Yah bagi dia itu menikah di bulan desember, ketika aku telah diwisuda mungkin sudah terlalu lama. Mungkin kalau bisa dipercepat kenapa harus diundur atau diperlambat? Kaya iklan saja yah…yah mungkin masukan kamu boleh juga. Permasalahannya adalah komunikasi dengan orang tua…”

Ya…kalau gitu njenengan nanti pulang. Ngomong ke orang tua baik-baik. Semua masalah harus dicerahkan biar nanti ga ada yang mengganjal. Permasalahan anda dengan Mba Laeli juga harus dijelaskan. Jelaskan pada orang tua, apa yang sebenarnya njenengan rasakan kepada Mba Laeli. Jelaskan bahwa Mba Laeli pengin kejelasan tentang hubungan selama ini. Jelaskan pula posisi Mba Laeli dalam keluarganya. Jelaskan rencana njenengan setelah menikah dan kuliah bersama Mba Laeli. Pasti orang tua mau mengerti, demi kebaikan njenengan…

Memang seperti ini, aku seringkali masih tidak enak kepada bapak yang sudah susah payah membiayaiku kuliah. Dalam keluargaku belum ada kasus ketika kuliah belum kelar, terus kuliah atau kuliah sambil nikah. Itu belum ada pakemnya dalam keluargaku. Yang ada itu lulus kuliah dulu, bekerja terus baru berumah tangga. Seandainya aku harus menikah sambil kuliah berarti aku melanggar pakem yang ada. Walaupun sebenarnya menikah itu ibadah dan sunah. Bagaimanapun belum ada kesimpulan. Insyaalloh saya akan dating ke orang tuamu di semarang. Modal nekat sih ayooo

Aku semakin ga tega ketika ia sudah mulai menangis. Yang sering membuatku kesal, dia sepertinya sudah mempunyai persepsi awal yang menyatakan aku kurang serius. Penginnya mungkin, aku secepatnya melamarnya dengan orang tua ataupun sendiri. Kekesalanku bertambah ketika dia menyatakan kalau mau dia sudah dilamar oleh anak fakultas pertanian. Biasanya ketika hal itu terjadi kami berdua, untuk beberapa lama tidak berhubungan. Tapi setelah beberapa lama salah satu diantara kami berdua biasanya berbaikan kembali. Yah… mungkin itulah yang dinamakan sudah terlanjur cinta…


Orang tuaku merasa dikendalikan oleh aku ketika aku melanggar pakem jawa. Intinya dalam keluargaku ga ada kamusnya kebo nusu gudel. Yang ada itu anak manut orang tua. Walaupun si anak juga punya pertimbangan.

Di satu sisi aku harus manut orang tua di satu sisi hatiku tidak bisa berbohong tidak mau kehilangan dia. Bagi orang tua aku dikira kurang banyak pertimbangan. Bagi dia aku malah terlalu banyak pertimbangan.

Ternyata tanpa terasa aku semakin asyik mendengarkan pembicaraan atau mungkin yang tepat curhatannya Mas Salman pada Haris. Sementara ketikanku jadi ga karuan, banyak kesalahan ketikan. Kayaknya aku harus memperbaiki redaksional tugas akhirku seperti saran dosen pembimbingku yang sudah sangat sibuk membimbing mahasiswa-mahasiswanya yang terlalu lama tertunda lulus. Ketika aku mendengar pembicaraan tadi, aku jadi berpikir bahwa kasusnya Mas Salman dengan Mba Laeli ini agak mirip dengan kasusnya fachri dan aisha dalam ayat-ayat cintanya kang abik. Tapi kalau fachri itu hanya ada dalam novel dan film, tapi Mas Salman dengan Mba Laeli ini adalah temanku sendiri. Ada persamaan antara fachri dengan Mas Salman keduanya masih sama-sama kuliah. Keduanya masih ragu untuk menikah sebelumnya dengan wanita yang sudah kadung dicintainya. Keduanya mempunyai wanita yang siap menjadi tempat bergantung, namun pada prinsipnya laki-laki atau suami ini adalah pencari nafkah. Jadi ada pertimbangan psikologis yang membuat laki-laki menjadi tanggungan perempuan. Apalagi ketika gaji isteri lebih tinggi dari gaji suami. Yah…mungkin bagi kalangan bangsa timur, konsep gender itu belum sepenuhnya tepat diterapkan di sini. Tapi dari sisi agama, menikah itu banyak hukmahnya, bisa membuat orang belajar hidup, bisa juga menyatuakan dua keluarga.

Sebagai sahabat yang sudah lama aku mengenal Mas Salman sebagai aktivis dakwah yang cukup militant dalam mempertahankan dan menyebarkan idealisme ke kalangan mahasiswa bahkan masyarakat. Namun dalam soal percintaan, apalagi pacaran itu soal tabu bahkan haram baginya. Oleh karena itu semenjak Mas Salman ketemu Mba Laeli yang seorang guru playgroup, dia merasa Mba Laeli cocok untuk menjadi ibu dari anak-anak yang akan meneruskan jejak langkah dan estafet perjuangan idealismenya.tapi..lagi lagi manusia mau ga mau sepertinya harus terpaksa sepakat bahwa kepentingan ekonomi adalah masalah yang urgen bagi siapa saja yang ingin menikah di waktu sekarang ini, apalagi bagi lelaki yang belum berpenghasilan.

Retorika Mas Salman yang sedemikian lihai dan memukau ketika dalam forum debat ternyata tidak mempan dan berlaku untuk menaklukan hati orang tuanya yang sedemikian keras mempertahankan prinsip kejawaanya. Malah orang tua seringkali ngomong ke Mas Salman bahwa “ kamu itu pintarnya teori”. Teknik lobi yang sedemikian massif yang dipelajari dan dipraktikan untuk membentuk kader militan ternyata tidak bisa membuat luluh hati seorang wanita yang dicintainya. Pemaparan konsep yang jelas dan sistematispun ternyata tidak mampu meyakinkan pemikiran Mba Laeli untuk menunggu dinikahi setelah bulan desember atau ketika sudah lulus.

Orang tua Mas Salman sepertinya masih menganggap Mas Salman belum dewasa. Mas Salman sering ngomong kepada aku dan Haris bahwa kedewasaan itu diukur dari mana? Apakah dari kemapanan ekonomi, penghidupan materi untuk isteri. Itu kan hanya salah satunya…yang lain masih banyak.

Sambil tiduran di karpet masjid beralas kasur tipis. Mas Salman berkali-kali menghembuskan nafas panjang. Bola matanya bergerak-gerak dan memandang tajam langit-langit eternit. Eternit itu berwarna putih, namun sudah bayak yang terkelupas catnya. Semantara aku masih saja memandangi monitor computer yang berada di samping kasur temapt Mas Salman berbaring berpikir. Haris duduk bersila di tepi kasur tepat di belakangku. Haris sesekali mamandang Mas Salman sambil membolak-balik majalah computer yang baru saja dibelinya kemarin. Beberapa saat kami bertiga diam. Yang kudengar hanyalah hentakan tuts-tuts computer yang baru saja aku tekan. Semantara di luar masjid hari semakin terik menandakan waktu duhur semakin dekat. Sepertinya Udara siang ini meningkatkan suhu tubuh kami. Kaos yang aku pakaipun telah basah oleh keringat. Tiba-tiba Mas Salman berkata lagi:
“setelah aku pikir-pikir akhirnya aku putuskan. Apapun yang terjadi dalam diri saya adalh konsekuensi sendiri. Ya saya berani ke orang tua Mba Laeli. Dengan restu atau tidak dengan orang restu orang tua…walaupun aku harus melanggar pakem orang tua”

Haris akhirnya menimpali perkataan Mas Salman. “mbok yaooo jangan terburu-burur mengambil keputusan. Alangkah baiknya dikomunikasikan dulu dengan orang tua di rumah. Setuju tidak setuju njenengan harus ngomong dengan orang tua. Njenengan harus bisa meyakinkan mereka dengan kemantapan njenengan untuk menikah dengan Mba Laeli. Sepedas apapun kata orang tua harus didengarkan. Yang namanya orang tua itu tetap orang tua, omonge temamah temenan…Disitu setidaknya kita bisa lihat kedewasaan kita
Tapi ketika njenengan merasa bahwa keputusan untuk menikah sambil kuliah itu yang terbaik maka itu terserah njenengan. Yang penting njenengan bukan main-main sekarang.
Ini bisa disebut sebagai sebuah tes cash yang cukup berani bagi njenengan dan maba aini sebgai seorang perempuan….

Stelah mendengar Haris berbicara akhirnya Mas Salman beranjak dari tidurannya. Kedua tangannya berjabatan sambila memeluk dua kakinya yang memangku dagunya yang membelah dua. Seorang lelaki mau berusia 24 tahun bulan agustus nanti, masih menatap kosong ke luar pintu bilik masjid yang aku diami. Tatapannya yang seolah kosong tak menghalangi mulutnya untuk berbicara lagi…
“Aku bisa, aku butuh…dukungan. Aku butuh dukungan bukan larangan. Sudah saatnya aku bisa memutuskan sendiri. Tidak hanya dalam teori-teori tapi dalam keberanianku mengambil pilihan hidup. Thank you, sukron sedulur…”

Aku dan Haris Cuma bisa mengangguk menandakan persetujuanku dengan pernyataanya dan permintaannya. Memang mungkin bagi Mas Salman memang sedang menghadapi pilihan-pilihan yang sangat menggiurkan sekaligus rumit.
Kuliah sambil nikah atau lulus kuliah baru nikah? atau tidak kedua-duanya?

Pembicaraan kami terhenti ketika mendengar kumandang adzan duhur dari masjid sebelah timur. Haris bangkit dari karpet untuk mengambila air wudlu bersama Mas Salman. Aku masih larut bercinta dengan tuts-tuts keybord computer, hingga tak dengar kumandang adzan pertanda waktu bercinta dengan Sang Maha Cinta telah tiba.

Tidak ada komentar: